
Bab.112.
Teriakan Dy membuat Yudha dan
Agung kaget, serta merta Mereka
melompat. Dengan sigap Yudha
mengangkat tubuh Dy yang jatuh.
dan kembali membaringkannya
di Sofa. Agung bingung apa yang
terjadi, padahal Dia sedikitpun
tidak memejamkan matanya.
"Agung Dy tidak sadar, hubungi
Dokter Peter," seru Yudha panik.
"Gendong ke Mobil Ambulance,
Aku akan membangunkan Jelita,"
Teriak Agung berlari ke Tenda.
"Jelita cepat bangun, hee...semua
bangun, kalian molor saja," teriak
Agung kesal.
Jelita bangun sambil mengucek
matanya, Dina juga ikut bangun.
"Kalian Agent, harusnya berjaga,
Ini malah ikut tidur, cepat bantu
Yudha di Mobil Ambulan," kata
Agung lagi.
"Jefry bangun!! Kamu memberi
contoh jelek kepada anak-anak
Kata Agung kembali. Tapi Jefry
seperti tidak bisa bangun.
"Kalian ini kenapa? Dina, Jelita
jangan merem lagi," teriak Agung
lagi. Agung lari ke Ambulance,
Yudha bersandar di body Mobil.
"Yudha , bagaimana Dy? Kenapa
Kamu diluar?," tanya Agung heran.
"Sudah di tangani Dokter, katanya
Dokter peter tidak ada....," belum
usai Yudha bicara Mobil Ambulance
itu sudah bergerak.
"Kamu bodoh..bodoh..itu musuh,"
teriak Agung mengejar Mobil.
Tanpa menunggu komando Yudha
lari ke Mobilnya. Ternyata semua
Ban Mobil dan Motor kempes.
Yudha cepat lari mengambil pistol
dan keluar Markas. Agung kembali
berlari ke tenda, membangunkan
Jelita dan Dina.
Agung mengambil alkohol 70%
dan kapas, dengan cara itulah
Agung bisa membuat Jelita dan
Dina sadar. Kemudian Agung
menyodorkan Susu kemasan
untuk Mereka berdua.
"Kalian ini kenapa sih, Aku sangat
panik. Waspadalah, koq bisa kena
obat tidur," kata Agung keras.
"Maaf Gung Aku gegabah," sahut
Jelita mulai bisa membuka mata
nya dengan normal.
"Dy dalam bahaya, tadi di larikan
oleh penjahat, tapi sudah ada Yudha
yang mengejar. Tolong bangunin
yang lain, Aku akan menelusuri lewat GSM kemana Dy dibawa," perintah
Agung.
"Kenapa bisa begitu?,"suara Jelita
mulai bergetar.Terbayang tubuh
Bibik Supari yang mengerikan.
"Karena kalian berdua tidak becus
menjaga, beginilah jadinya," bentak
Agung kesal. Belum.pernah Agung
semarah ini, perasaan bersalah
kepada Dy membuat rahang Agung
mengeras.
Dina ciut nyalinya melihat mata
Agung melotot, buru-buru Dia
mengambil Kapas dan Akohol
untuk menyadarkan Jefry.
"Apa yang membuat Kita seperti
terbius?, seingatku Kita cuma di
kasi Kopi oleh Rina," kata Jelita
"Jangan-jangan Kita minum kopi
campur racun Sianida," sahut Dina.
"Yang jelas Kopi itu bercampur
obat tidur, supaya Kita tidak bisa
menjaga Dy," sahut Jelita.
"Makin hari suasananya semakin
ngeri, Aku yakin semua ini ada
Wadahnya yang teroganisir. Bisa
saingan XPostOne atau musuh
Beck," Kata Dina berspekulasi.
"Jef, minum susunya, bantu Aku
menyadarkan yang lain," kata
Jelita.
"Jelita...loe pegang deh Kaki Rina,
dingin banget, dan Esta juga. Koq
gue ngerasa aneh ya," kata Dina
membuat Jelita merinding.
"Jiwa Agentku mengkerut, jangan
sampai terjadi pembunuhan lagi,"
sahut Jelita mendekati Rina.
"Tolong senternya Jef, supaya
muka Rina kelihatan lebih jelas,"
kata Dina.
"Aku merasa sesuatu telah terjadi,
Kita pasti di pecat sama Bos," kata
Jefry mengambil senter.
"Jef loe jangan banyak bacot deh,
gue lagi nervous," sahut Dina
berusaha membalikan tubub Rina.
"Astaga!!, cepat panggil Bos,"
teriak Jelita memandang wajah
Rina. Akhirnya satu persatu tubuh
yang terbaring itu wajahnya di
senter. Agung yang di panggil
Jefri datang dengan wajah kalut.
"Ya Tuhan, dosa apa yang Kami
perbuat sehingga cobaan besar
lirih, ada kegundahan dibalik
ucapan itu.
"Dina hubungi Kantor Polisi, Aku
tidak bisa berpikir lagi, serahkan
kepada Polisi, Kalian priksa satu
persatu siapa tahu ada yang
cuma terbius saja seperti kalian,"
kata Agung.
"Ya Bos...," sahut Dina.
"Aku masih memantau Dy, kalau
Polisi datang anggap Yudha dan
Dy tidak ada. Aku sendiri yang
akan menuntaskan masalah Dy,"
ujar Agung.
"Okee Boss...," sahut Mereka
berbarengan.
DI MOBIL AMBULAN.
Untuk mengejar Ambulan Yudha
memakai jasa Gojek, dengan
alasan ditinggal Ambulan yang
membawa Istrinya sakit. Tidak
peduli dengan tanggapan Pak
Gojek yang penting Yudha bisa
mengikuti Ambulan, walaupun
dari jarak jauh, maklum Pak gojek
ngebutnya setengah hati.
Dy mulai siuman, perutnya terasa
sangat sakit. Tanpa sadar Dy
mengaduh, suaranya membuat
si sopir melirik kaca sepion.
Tangannya meraba gagang pistol
yang terselip di pinggangnya.
"Aku kesakitan, nyawaku seperti
mau melayang," teriak Dy sambil
menangis.
"Jangan menangis, Aku akan
membuat Kamu tenang, setenang
hidupku," suara itu keluar dari
mulut sopir dengan serak.
Seketika Dy merasa kaget dan mengingat. Rasa sakit di Perutnya
tidak di hiraukannya. Otaknya
cepat berpikir, masih berpura-pura menangis Dy membuka
Cardigannya.
"Aku kepanasan seolah.mau mati,
tolong hidupkan AC nya," kembali
Dy membelah pikiran si Sopir.
Dy tidur di Ambulance strettcher, kepalanya sangat dekat dengan
sopir. Mobil Juga larinya tidak
begitu kencang, walaupun sudah
malam jalan raya masih padat.
Maklumlah Kota Denpasar hidup
24 jam.
Rupanya Sopir lupa menghidupkan
Sirine Ambulance sehingga para
pemakai jalan tidak peduli akan
adanya Ambulance. Kebetulan ada
lampu merah, kesempatan itu di
pakai oleh Dy untuk mengalungkan Cardigannya ke leher Sopir. Terjadi perlawanan menyebabkan tangan
Dy kena cakar. Tenaga Dy yang
lemah menguntungkan sopir.
Dengan cepat sopir membuka
pintu mobil dan kabur. Untung
Mobil sudah prei poll.
Kejadian itu cepat dan membuat
orang menggerutu. Sepeda Motor
yang kena pintu mobil memaki.
Dy kembali berbaring diatas Bed
dalam ke gelapan. Harapannya
supaya Agung cepat datang,
sebelum Mobil di amuk masa.
Benar saja ada yang naik ke Mobil
dan menyalakan lampu Mobil.
"Dy. Dy...," panggil Yudha panik.
"Aku kesakitan,"
"Syukurlah Kamu sudah sadar,
bertahanlah," sahut Yudha
mematikan lampu Mobil.
"Bawa Aku ke Rumah Sakit," kata
Dy merintih
"Tenanglah, tarik nafas perlahan,
Aku sekarang akan ngebut," sahut
Yudha tancap gas.
Tidak sampai 15 menit Mobil itu
berbelok ke Rumah Sakit Swasta.
masuk pelan dan berhenti di depan
pintu UGD. 3 orang petugas siap
menurunkan strettcher. Kelihatan
Dy kembali tidak sadarkan diri.
Setelah petugas menurunkan Dy
yudha memarkir Ambulace nya
dan menuju UGD. Yudha merasa
lega Dy sudah di tangani oleh
Dokter.
"Maaf Pak, ini istri Bapak?" tanya
seorang Dokter ketika Yudha ada
di bagaian Administrasi untuk
mendaftar pasien.
"Ya Dok, bagaimana keadaannya?"
"Istri Bapak mengalami keguguran,
untuk itu akan di Kuretase, mungkin
memakan waktu sekitar 15 menit,"
sahut Dokter Kandungan itu.
"Dok...kalau itu memang jalan terakhir
Saya setuju, tapi kalau masih bisa di
selamatkan Saya mohon Dokter bisa
menyelamatkannya," kata Yudha.
"Maaf Pak, tidak ada jalan lain," sahut
Dokter itu.
Setelah terjadi kesepakatan Yudha
menanda tangani Kuretase itu.
Baginya yang ter penting kesehatan
Dy, kalau Bayi bisa di buat lagi...lagi.
Yudha berdoa dalam hati semoga
Dy selamat seperti sediakala.
*******