
Bab.13.
Ini hari ke enam Dy menjadi Bodyguard. Tidak ada kemajuan yang berarti bagi Dy. Yang ada malah curahan Cinta Jojo yang semakin gencar. Sebenarnya bukan masalah buat Dy untuk menghadapi Jojo.Yang membuat Dy mumet adalah ke kecerobohan Jojo yang keluar malam. Seperti sekarang, Jojo mengajak Dy ke Diskotek.
Masuk diskotek dan menjadi bagian
dari kehidupan malam yang serba aneh menjadi pengalaman yang pertama di Negeri Orang. Musik keras dalam ruangan yang gelap di penuhi aroma parfum, minuman dan rokok. Banyak orang berjoget mengikuti dentumam musik, dalam sorot lampu Disko yang temaram
menghidupkan suasana "ajeb-ajeb".
Untuk beberapa saat Dy terpekur melihat gelihat kehidupan malam, laki-laki dan perempuan melintas di depan Dy.
Gelas-gelas minuman dan gelak tawa memenuhi Ruangan. Mungkin mereka inilah yang di namakan Aktivis kehidupan malam sejati. Yang punya Hobby
"ajeb-ajeb".
" Jo...kendalikan dirimu, jangan Kamu banyak minum". Kata Dy memperingati Jojo yang sangat gembira bertemu teman sesama pemabuk bukan peminum.
Bagi Dy pemabuk adalah sedikit minum sudah mabuk, tapi peminum walaupun banyak minum tapi tidak mabuk.
" Jangan khawatir Aku masih waras.
Kamu adalah cinta sejatiku, harapanku dan calon istriku". Sahut Jojo ngawur karena sudah hampir sepaneng.
" Jo...kita pulang, Kamu hampir mabuk". Bisik Dy di kuping Jojo.
" Aku tidak mabuk, siapa bilang Aku mabuk". Sahut Jojo keras.
Untuk mengantisipasi keadaan terpaksa Dy memeluk Jojo dan mengajaknya berdiri. Jangan sampai Jojo mabuk.
Musik keras terus mengalun membuat tubuh Jojo bergoyang mengikuti irama musik.
Jojo berontak diajak pulang, tapi Dy tetap memeluk jojo dan menyeretnya ke parkiran. Belum sampai di Mobil, terlihat klebatan sinar mengarah ke Badan Jojo.
Dy menendang tubuh Jojo sampai jatuh dan Dy cepat berkelit.
Sebuah Shuriken atau senjata bintang hampir mengenai tubuh Jojo.
Dengan cepat Dy mencabut Senjata Revolvernya.
Suasana sangat gelap membuat Dy harus menajamkan penglihatannya.
Kaca matanya meng Zoom sekitar tempat parkir sejauh 200 meter.
Tidak ada pergerakan apa, kemungkinan lawan menunggu. Dy yakin Iawan sembunyi di belakang mobil yang di parkir.
Untung Jojo tidak protes diajak merayap menuju Mobilnya.
Suara sensor Bom dari jam tangan Dy berbunyi, pertanda Mobil di pasangi Bom.
Dy mengajak Jojo merayap menjauhi Mobil.
" Aku capek ". Bisik Jojo berhenti.
Nafas Jojo ngos-ngosan. Dy memeluk Jojo dan mengecup pipinya.
" Lagi sedikit ". Bisik Dy.
Uuhh..Jojo langsung punya tenaga baru karena di kecup pipinya.
Akhirnya Dy berhenti setelah merasa aman.
" Jo Kamu diam disini, jangan kemana-mana". Kata Dy berusaha membujuk
Jojo supaya tetap sembunyi.
"Aku takut..". Sahut Jojo gemetaran.
Dy memeluk Jojo sebentar, kemudian Dy berlari membungkuk di antara deretan Mobil yang terparkir.
Terdengar suara kaki berlari diatas Kap-kap Mobil. Sebuah bayangan laki-laki berkelebat mendekati tempat Dy.
Sekali loncat Dy sudah berada di Kap Mobil. Dy menyambut bayangan itu dengan tendangan beruntun.
Laki-laki itu berkelit sempurna dan mengayunkan pukulan ke tubuh Dy.
Dy meloncat ke atas dan memutar badannya, kemudian kaki kirinya menendang tubuh lawan.
Tendangan mengenai sasaran, tapi cepat laki-laki itu bangun dan jumplitan.
Dy meloncat ke tanah yang agak lapang, di ikuti oleh laki-laki itu.
Kembali Dy menyerang lawan dengan tendangan dari samping.
Keseruan perkelahian itu tidak ada yang menyaksikan karena orang-orang sibuk berjoget di dalam.
Disamping itu Ruangan Diskotik ada peredam suaranya dan tertutup rapat.
Jarang ada yang keluar kecuali orangnya sudah mabuk.
Dy sungguh mendapat lawan yang seimbang. Beberapa kali pukulan hook mengenai laki-laki itu. Tapi laki-laki itu tidak apa-apa.
Ini pasti pesilat dari sebuah perguruan yang terkenal. Pikir Dy.
Sebuah tendangan hampir mengenai dada Dy, untung Dy cepat menjatuhkan diri nya dan kakinya langsung menendang ************ laki-laki itu.
Laki-laki itu cepat melempar Shuriken
ketubuh Dy sebelum Dia tersungkur di tanah. Serangan yang mendadak tidak bisa Dy hindari. Dy cuma bisa berkelit sedikit dan suara mengaduh dari mulut
Dy terdengar...Membuat Jojo panik.
Bertepatan dengan itu sepasukan team "gegana" atau penjinak Bom datang ketempat Mobil Jojo. Dy cepat meloncat berlari meninggalkan lawan yang tersungkur.Tangannya langsung menarik tangan Jojo supaya menjauh, untung ada Taxi mendekati Mereka. Dy dan Jojo cepat naik ke Taxi. Dy heran siapa yang memanggil Team penjinak Bom??
"Mobilku bagaimana??". Tanya Jojo gemetaran.
" Mobil bisa di beli, yang penting Kamu selamat. Ini akibat Kamu bandel terus minta keluar". Kata Dy ketus.
Nafasnya masih memburu.
" Apa Kamu ada terluka??". Tanya Jojo khawatir.
" Tanganku tergores sedikit, apa Kamu punya Dokter pribadi?". Dy balik bertanya.
" Mana Aku periksa, atau Kita ke Mount elizabeth saja, dekat dari sini ". Usul Jojo langsung menyuruh Taxi ke Rumah sakit.
Terdengar Dy meringis.
" Apa salahnya Kamu menurut, kalau Kamu bandel Aku akan meninggalkan dirimu. Aku akan balik ke Indonesia". Kata Dy tegas.
" Jangan tinggalkan Aku, Aku bisa mati kalau Kamu pergi. Maafkan Aku, kalau tidak ada Kamu Aku mungkin sudah mati". Sahut Jojo merapatkan tubuhnya ke Dy.
" Jangan lebay deh.... kalian para lelaki bisanya ngumbar janji, kalau sudah di tinggal tetap saja nyari yang baru ". Kata Dy ingat dengan Aby yang di peluk Vivi.
Mobil Taxi sudah sampai di Rumah Sakit, Pak sopir dengan cepat membuka pintu dan menolong Dy keluar.
Darah membasahi lengan jaket Dy.
Perasaan khawatir terbayang dari mata Pak Sopir, mungkin kalau Dia tidak memakai Masker, akan tergambar dari raut wajahnya rasa kasihan melihat Dy.
" Pak tunggu, Saya mau ke dalam sebentar ". Kata Jojo kepada Sopir Taxi.
Pak sopir mengangguk.
Sebelum masuk kedalam Rumah Sakit Jojo menutup wajahnya dengan masker, supaya tidak di kenali.
Seorang Nurse menyambut Dy dan membawa nya ke Ruangan Emergency.
Jojo memegang tangan Dy lembut,
ketika seorang Dokter memeriksa tekanan darah Dy. Segalanya berlang-sung cepat. Tidak ada yang perlu di khawatirkan karena lengan Dy cuma tergores sedikit. Lukanya tidak begitu dalam, tidak perlu di jahit.
.
" Trimakasih Dokter ". Kata Dy setelah Seorang Nurse selesai membalut lengannya dengan Supra-tulle (Heochst) yang berisi antibiotika Soframycin.
" Okay get well soon..". Sahut Dokter itu tersenyum. Dy dan Jojo akhirnya pamit.
Jojo mengajak Dy keluar dari Ruangan Emergency setelah membayar biaya Administrasi. Rasa bersalah memenuhi
perasaannya. Dengan lembut Jojo
memapah Dy dan membawa jaketnya
Yang berdarah.
" Apakah kepalamu terasa pusing?".
Tanya Jojo menatap Dy yang pucat.
" Ya.. Aku pusing ". Sahut Dy berusaha tenang.
Sopir Taxi membantu Dy naik ke Mobil.
Kemudian Mobil meluncur kencang menuju ke Condominium.
Mungkin Pak Sopir sudah tidak takut membayar denda atas kenekatannya
mengebut di jalan.
Keringat dingin membasahi tubuh Dy.
" Sepertinya Aku kena racun senjata ". Kata Dy berusaha mengatur nafasnya.
Mendengar perkataan Dy, Jojo panik.
" Pak Sopir tolong kembali ke Rumah sakit. Aduhh...bagaimana ini sepertinya Dy pingsan ". Teriak Jojo.
" Saya akan mengobati nanti. Saya seorang Dokter ". Kata Pak Sopir tambah ngebut.
" Ya...tolonglah Kami...". Sahut Jojo serak.
Matanya sudah berkaca-kaca.
Sampai di Basement Condominium
Pak Sopir membopong tubuh Dy, jojo mengikuti dari belakang.
Bersyukur life sepi. Kesedihan yang sangat terlihat dari wajah Jojo. Ini
akibat dari rasa egonya memaksa Dy untuk mengikutinya ke Diskotek.
Setelah Jojo membuka pintu memakai sidik jari, Jojo mempersilahkan Pak Sopir
Untuk membaringkan Dy di Kamarnya.
" Ini semacam obat bius bukan racun, nanti Dy akan sadar kembali. Saya akan memberi obat penetralisir racun. Anda bisa simpan untuk jaga-jaga ". Kata Pak Sopir memandang Jojo. Kemudian Pak sopir pamit dengan perasaan berat.
Hatinya hancur melihat Dy tergeletak tidak berdaya...
*********