
Bab. 132.
Suasana Hotel mendadak menjadi ramai dan tegang, karena yang turun dari Mobil semua berbadan tinggi tegap, kaca mata Agent menghiasi Wajah Mereka. Lebel XPostOne menempel di Baju Kaos hitam
Mereka, menambah penampilan Mereka keren. Yang membuat orang berdecak kagum karena Mereka memakai Hoslter di paha berisi Pistol Revolver 229.
Duuhhh.....semua mata ingin memiliki. Mereka menjadi tontonan di Lobby Hotel, Dy sebagai primadona XPostOne ikut
sibuk, beberapa tamu yang kebetulan mau Chek In minta ber selfie ria dengan Dy dan Anggota XPostOne yang lain.
"Selamat siang Nona, apa ada yang bisa
saya bantu?" kata Manager Front Offece
dengan hormat.
"Kami mau ke Restoran" sahut Dy tersenyum.
"Saya akan mengantar Nona,"
"Trimakasih," sahut Dy mengikuti Manager F.O menuju Restoran.
Hampir jam dua siang, Restoran sudah
sepi. Para tamu dan karyawan sudah selesai makan siang. Seorang Waitress menyambut Dy dengan ramah.
"Silahkan Nona, hidangan hari ini memakai konsep Continental food dan Kami melayani Prasmanan dan ada
A la Carte menu," sambut seorang Waitress tersenyum ramah.
"Kami prasmanan saja," kata Dy menuju
Buffet. Semua Staf Restoran melayani
Dy serta Anggota XPostOne dengan dada berdebar, maklumlah yang datang Owner
Hotel. Mereka sengaja duduk dengan posisi melingkar.
"Aku sangat berterimakasih kepada Nona
Dy, yang banyak membantu XPostOne,"
kata Agung sambil makan.
"Aku juga berterimakasih karena kalian
selalu setia menemani Aku, kalian adalah
saudaraku," sahut Dy tersenyum.
"Aku ingin tahu kenapa Dilan menjadi
Pembunuh, Aku sampai saat ini dibuat penasaran," Faizal yang duduk didepan Yudha ikut nimbrung.
"Kalau Aku cerita mood makan kalian
jadi berkurang," sahut Yudha.
"Ceritain aja, Kita lagi enjoy koq," kata Putra memandang Yudha.
"Sebenarnya akar permasalahannya terjadi pada saat Dilan sakit. Waktu itu Admes dan Aby ingin sekali membunuh Dilan supaya bisa mendekati Dy.
Disitulah Admesh mulai merencanakan pembunuhan lewat racun yang di taruh di bunga mawar. Kebetulan Aby pernah
menyumbangkan darahnya kepada Dilan.
Kedatangan Admesh ke Rumah Sakit
tidak pernah membuat Dokter dan yang
lain curiga. Wajah Admesh yang mirip Aby membuat Admesh leluasa menemui Dilan.
Suatu hari terjadi Perubahan di Hidung Dilan, akhirnya dibuat kesepakatan supaya Dilan dirawat ke Songapore. Untuk itu perlu ada pengganti supaya
musuh Dilan berhenti bertindak.
Akhirnya Akulah yang menggantikannya
dan Dilan di bilang meninggal untuk
mengelabui Anggota XPoir
Perasaan Ibu sangat sedih melihat
Putra kesayangannya tergeletak tidak berdaya dengan muka hancur, racun
itu perlahan menggerogoti Wajah Dilan. Bathin Ibu terguncang mengakibatkan
Ibu ingin memusnahkan XPostOne.
Untuk merealisasikan keinginannya Ibu
tinggal disini bersama kalian. Ketika Ibu
pertama kalinya minta tolong untuk ke
pergi ke Markas XPostOne Aku tidak
curiga. Ntah bagaimana caranya Bibi supari bisa mengambil 2 pucuk pistol dan memberikan kepada Ibu, kemudian Ibu memberikan kepada Mila dan Mila memberikan kepada Ghama, kemudian Ghama mengupah Cleaning Service untuk menaruh di Meja Aby, begitulah
ceritanya sehingga Aby dan Admesh
bisa saling bunuh.
Setelah Aby dan Admesh meninggal,
Ibu kembali pergi ke Markas menyuruh Dilan menghabiskan Bibi Supari. Disitu awal dari pembunuh berantai ini. Kata
Ibu Perasaannya sangat puas kalau bisa memutilasi tubuh orang.
Sampai Ibu ketagihan mencincang tubuh orang. Kalau tidak dapat mangsa wajah Ibu akan pucat dan tubuhnya sakit Akhirnya Dilan terpaksa mencari mangsa
untuk Ibu. Aku sudah bilang Ibu harus
ke Dokter tapi Ibu tidak mau.
"Owh...begitu rupanya, kasian banget
Dilan, gue lihat wajahnya sangat rusak
dan mengerikan,: kata Dina.
"Apa rencana kedepanmu, apa masih
mau jadi Agent atau mau Bisnis," tanya
putra.
"Untuk sementara Aku akan tetap di
XPostOne, setelah itu Aku mungkin
mau cari kerja lain," sahut Yudha
matanya melirik Dy.
Mereka terus berbincang-bincang dan
membahas XPostOne. Dy hanya menjadi
pendengar saja pikirannya masih
tertuju dengan Dilan. Rasa kasihan sama
Dilan membuat mata Dy berkaca-kaca.
Setelah puas makan Mereka akhirnya
pulang, tidak lupa Dy memesan 2 orang
cleaning service untuk membersihkan
Rumah.
"Kalau sudah selesai mari Kita pulang,"
kata Dy berdiri.
"Aku akan langsung ke Home Stay,"
"Aku ke Rumah, masalahnya Cleaning Service datang untuk bersih-bersih,:
sahut Dy.
"Aku ikut ke Rumah," sahut Yudha.
"Mari Kita pulang, sampai ketemu
besok," kata Agung .
Siang beranjak Sore, Dy memacu Jeep
wranglernya dengan kecepatan sedang.
Yudha duduk disampingnya tanpa suara
Dy merasa Yudha sangat terpukul atas
kematian Dilan dan Ibunya.
"Apakah Kamu tidak ingin pulang ke
Rumahmu?" tanya Dy menoleh kepada
Yudha yang duduk terpekur disamping
nya. Wajah ganteng nya kelihatan kusut.
"Rumahku adalah Rumahmu," sahut
seolah malas menjawab.
"Asal Kamu tidur di tempat Ibu tidak
masalah," kata Dy tegas.
"Ya.. Aku tidur di Ibu kalau siang, kalau
malam pindah ke Kamarmu," sahut Yudha
membuat Dy tersenyum.
"Kita belum menikah, tidak baik tidur
berdua, jangan memberi contoh jelek
kepada generasi penerus,"
"Dy lebih baik Kamu jual Rumahmu, Aku
tidak nyaman kalau disitu. Pikiranku
akan terganggu," ucap Yudha.
"Aku juga ber pikir begitu, apakah untuk
sementara waktu Kamu mempunyai
solusi. Kalau Kita terus tinggal di Home
Stay ibagamana?"
"Aku ada Rumah, asal Kamu mau tinggal
disitu. Bagiku lebih baik Kamu tinggal
denganku sebelum rumahmu laku.
Setelah laku kamu mau beli baru tidak masalah," kata Yudha.
"Dimana Rumahmu?" tanya Dy ingin tahu.
"Dekat sini, di jalan Arjuna, apa Kamu mau melihatnya?" sahut Yudha.
"Nanti saja, Aku mau menunggu orang
cleaning service dari Hotel. mungkin
malam ini Kita ke Home Stay dulu, besok
Aku akan selesaikan bayarannya, dan
Anggota kembali semua," kata Dy.
Mobil membelok ke Rumah Dy dengan
mulus, Ada perasaan ngilu mengoyak
perasaan Dy. Bayangan kejadian yang
terus menerus terjadi di Rumah ini
membuat hatinya sedih.
"Aku akan langsung mandi," kata Yudha
turun dari Mobil.
"Mandilah...Aku akan duduk di Meja Bar,"
sahut Dy melangkah ke Meja Bar.
"Jangan minum, Aku merasa Ibu ada
menaruh sesuatu di Kulkas," kata Yudha
menuju Kulkas.
"Coba keluarin semua minumannya,
pasti ada obatnya Dilan," kata Yudha
membantu Dy. Benar saja ada
bungkusan kecil didalam Kulkas.
"Lebih baik Kita tidak minum disini
masalahnya Ibu suka menyuntikkan?racun ke botol," kata Dilan mengambil
satu botol dan memperlihatkan bekas
suntikan yang sangat rapi.
"Berarti selama ini Kita minum racun,
kenapa Kamu diam tidak memberi
tahu Aku," kata Dy kesal.
"Aku serba salah, kalau Aku katakan,
semua akan terbongkar," sahut Yudha
menatap Dy.
"Setidaknya Kamu jujur sama Aku,"
kata Dy duduk di Meja makan.
"Biarkan semuanya berlalu menjadi
kenangan yang indah
TAMAT
********
HALO GUESS SELAMAT MEMBACA
TLONG LIKE DAN KOMEN NYA.
TRIMAKASIH.
"