
Bab.123
Tangan Bibik yang sudah terlatih terus
memijat persendian Dy dengan lembut. Beck dulu sengaja memanggil seorang Tabib yang mengerti persendian untuk mengajari Bibik, sehingga Bibik menjadi
pintar. Maklumlah anak-anak XPostOne sering kali keseleo habis berlatih.
"Bibik, katakan yang terjadi sepanjang Aku pergi," kata Dy berusaha mengintimidasi Bibik ketika Mereka
telah berdua di Kamar.
"Tidak ada yang menarik untuk di ceritakan, semua biasa saja," sahut
Bibik kalm.
"Aku tidak percaya, Bibik tahu sesuatu dan Bibik merahasiakan padaku," sahut
Dy merayu.
"Dari bayi Aku merawatmu, jadi Aku sudah tahu sifatmu. Kamu sekarang ingin memasukkan Aku ke penjara?, begitu maksudmu?!" ucap Bibik
dengan bibir gemetar.
"Bibik bicara apa sih, Bibik adalah
Ibuku mana tega Aku membawa ke Penjara. Malah Aku akan selalu melindungi Bibik dari penjahat yang menekan Bibik,"
" Kalau Kamu sayang sama Bibik
jangan pergi terus, tinggal di Rumah,"
kata Bibik ditengah jeritan Dy yang
merasa sakit kena pijitan Bibik.
"Bibik pelan Aku kesakitan," sahut Dy.
"Kamu cuma lelah dan masuk angin,
tidak ada tulang yang patah dan
keseleo," kata Bibik mulai mengambil
minyak Kayu putih yang Dy bawa.
"Bibik jangan!!, pakai Hand body saja,"
tolak Dy.
"Mana angin bisa keluar kalau hanya
memakai salep wangi," sahut Bibik
heran.
"Bisa Bik," kata Dy kekeh.
"Non...jangan suka ninggalin Bibik
sendiri," tiba-tiba Bibik berkata pelan.
"Bagaimana Aku bisa tinggal diRumah kalau tidak aman begini. Pembunuh
itu mengincar Aku, coba kalau Aku di Rumah pasti nasibku sudah seperti Jelita," sahut Dy.
"Setidaknya Aku merasa aman kalau Kamu di Rumah, Aku bisa melihatmu setiap hari," kata Bibik berharap.
"Bik Aku tahu pembunuh itu," pancing Jelita berharap Bibik bercerita banyak.
"Tangkap saja supaya tidak membunuh lagi," sahut Bibik cepat.
"Aku tidak akan menangkapnya karena Aku tidak mau memenjarakan Bibik,"
kata Dy berusaha melihat perubahan
wajah Bibik. Ada perasaan kaget yang
malah membuat Bibik gemetar.
"Apa Bibik sudah boleh keluar, hari
ini Bibik tidak akan memasak, karena
Mereka pasti tidak mau makan,"
"Aku akan membeli makanan lewat
online, makanan cepat saji," kata Dy
tersenyum.
"Ya terserahlah, kasihan temanmu
belum sarapan," sahut Bibik
"Aku akan melindungimu Bik, kalau
ada yang menekanmu berceritalah,"
kata Dy memandang Bibik.
"Jangan pergi lagi, tidurlah," kata Bibik lalu keluar dari Kamar. Dy lalu bangun
mengunci pintu dan kembali rebahan. Badannya sudah agak mendingan
setelah di urut. Sebenarnya Dy hanya pura-pura keseleo supaya bisa bicara dengan Bibik.
Tendangan tadi tidak begitu keras
dan malah terkesan pelan. Untuk
apa Dy ditendang? apakah untuk
melindungi orang yang berada di
depan Dy atau hanya sekedar
permainan spekulasi.
Dy mumet dan menuju Kamar mandi,
hari ini Dy kembali akan bergelut
dengan PR yang tersisa. Pikirannya tertuju kepada sosok menyeringai
pada saat Dy menodongkan pistolnya. Walaupun wajahnya terlihat berbeda
tapi Dy yakin di balik topeng itu adalah orang yang Dy kenal.
Mungkin orang lain bisa ditipu, kalau
Dy yang biasa memakai topeng latex akan tahu bahwa yang tadi bukan
wajah yang sebenarnya. Dia menyudahi mandinya dan menuju ruang ganti.
Keluar dari kamar mandi Dy menuju ke pintu karena ada yang mengetuk pintu.
"Aku mau mandi, bau banget," kata Yudha menerobos masuk.
"Diatas ada kamar mandi," sahut Dy heran.
"Pakaianku disini, biasa mandi disini," kata Yudha masuk kedalam Kamar mandi.
Dy hanya bisa pasrah saja melihat kelakuan Yudha. Memang benar
ucapan Yudha tempo hari bukan
Dy yang salah tapi dirinya yang
tidak bisa membedakan antara
Yudha dan Dilan. Mengingat itu
Dy merasa sangat bodoh.
"Yank, Kamu tidak keluar?, kasihan teman-teman belum pada makan,"
kata Yudha ketika kluar dari Kamar mandi.
"Mari Kita keluar, Aku akan pesan
sahut Dy membuka WA nya.
Banyak WA masuk, ada nomor
pribadi. Dy hampir menjerit setelah membuka WA itu Wajah menyeringai
tadi malam terpampang di WA.
dengan caption "AKU BANGKIT UNTUKMU".
"Ada apa Yank," tanya Yudha heran.
"Tidak ada apa, cuma kaget aja ada
poto lucu di IG ku," sahut Dy bohong.
"Mari Kita keluar," ajak Yudha .
Mereka berdua keluar dari Kamar
tapi sebelumnya Mereka ke Meja
makan untuk mengambil air
mineral sekalian mengecek dapur.
Selama Bibik berada di Bali Dy
tidak pernah menginjak dapur.
Terlihat Bibik duduk di Dapur dengan kepala tengkurap diatas Meja.
Dy cepat menghampiri Bibik merasa kasihan.
"Bibik, tidur di Kamar," Dy menggoyang punggung Bibik, tiba-tiba kepala Bibi jatuh terkulai. Seketika Dy memeriksa urat nadi Bibik. Owhh....
Mata Dy langsung melotot kepada
Yudha. Dengan cepat kakinya
terayun menendang Badan Yudha,
tapi Yudha berkelit dan memutar Badannya, kemudian tangan Yudha
menggamit pinggang Dy dari
belakang, dan serentak mendorong
Dy ke tembok. Yudha menahan tubuh
Dy menghadap tembok.
"Apa yang Kamu ragukan dari
Suamimu sayank?" bisik Yudha di
Kuping Dy membuat Dy merinding.
"Bunuh Aku!!, Aku tidak tahan dengan semua ini," teriak Dy marah.
"Tidak sayank, tolong buang pikiran
negatifmu. Aku terlalu mencintaimu," sahut Yudha menempelkan bibirnya
di tengkuk Dy. Napas Yudha yang memburu sangat jelas terdengar.
"Aku akan membuat Kamu menyerah," bentak Dy sambil menangis. Hatinya sangat sedih melihat Bibik. Yudha membalikkan tubuh Dy dan memeluk
nya dengan erat.
"Aku tidak bisa menghiburmu karena istriku sangat mencurigaiku," sahut
Yudha lembut.
"Pergi Kamu dari kehidupanku, Aku
benci denganmu," bentak Dy kesal.
"Aku akan pergi setelah urusanku
selesai," sahut Yudha berteka teki.
Dy serta merta mendorong Badan
Yudha tapi kalah kuat. Malah Yudha Kembali mendorong Dy ketembok
dan Badan Yudha menekan Badan
Dy Bibir Yudha berlabuh dengan
mesra dalam gelora asmara.
Dy terpaksa pasrah Tidak harus
berontak dan memaki, karena
semua itu terjadi dengan cepat.
"Aku terlalu ambisius untuk bisa
memilikimu, sampai Aku tidak
mengerti kehendakku," kata Yudha matanya berkaca-kaca.
"Aku tidak mengerti maksudmu,
dan Aku tidak peduli," kata Dy
berusaha lepas dari dekapan
Yudha.
"Kamu hebat dan selalu mengerti,"
sahut Yudha melepaskan
pelukannya.
"Aku akan ke Kamar Ibumu," kata
Dy keluar dari Dapur.
"Biarkan Dy tidur," sahut Yudha.
Tapi Dy tidak peduli dan membuka
pintu Kamar sebelah. Terlihat
Ibunya Dilan tidur dengan nyenyak. Nafasnya sangat teratur. Tidak ada
tanda-tanda yang mencurigakan.
Semua barangnya diatur rapi.
Dy ke Kamar mandi dan tidak ada
baju bekas darah atau bercak darah
di lantai. Dy keluar Kamar dengan kecewa. Akhirnya Dy membuka
ponselnya dan menghubungi Dina.
"Din cari gue di dapur ajak anak-anak,
Mereka pasti sudah lapar,"
"Ya...gue turun," sahut Dina menutup ponselnya.
Mereka turun Bersamaan dengan
datangnya paket makan dari
Restoran cepat saji. Mereka semua duduk di Meja makan, Dy dan Yudha keluar dari Dapur dan membiarkan
Dina dan yang lainnya makan dulu.
******