I'M BODYGUARD

I'M BODYGUARD
DILAN TERTEMBAK.



Bab.94.


Penyisiran yang dilakukan Dilan membuahkan hasil. Di belakang Rumah Induk ternyata masih ada Gudang gate one yang di prediksi


berisi barang-barang haram sejenis Narkoba model baru.


Agung dan Jelita juga ikut merangsek masuk. Pintu ruangan tidak terkunci. Seolah sengaja target melakukan itu, mata Dilan meng "zoom" 100meter ke depan. Tidak terlihat ada bayangan, target yang mencurigakan.


Dilan menuju ke ruang sebelah, disini terlihat beberapa etalase yang berisi ribuan botol Liquid pape dengan Varian rasa yang berbeda.


Dilan langsung merekam isi ruangan dengan Jam sensor dan di kirim ke Aparat untuk di tindak lanjuti. Kemudian Mereka bertiga


mencari target ke gate two, pintu terkunci.


Agung menendang pintu itu dengan kasar. Suara tembakan menyambut kedatangan Mereka. Dilan cepat menjatuhkan dirinya


dan membalas serangan lawan dengan


sigap.


"Kami akan menembak Anda, kalau Anda tidak menyerah." teriak Agung.


"Stop menembak!!" suara laki-laki keluar dari balik pintu yang berada di sebelah kanan.


"Angkat tangan," kata Dilan sambil menendang kakinya, target jatuh terduduk. Cepat Jelita menyuruh target tengkurap. Sebuah borgol sudah dipasang olehJelita, kemudian target diseret keluar.


Tapi bersamaan dengan itu sebuah


Peluru melesat membuat Dilan tumbang.


Dor...dorrr....dorr..


Agung dan Jelita cepat membrondong


target dan teriakan kesakitan keluar dari mulut-mulut Mereka.


Beberapa pasukan Elite telah sampai


dan ikut membantu Agung untuk mengevakuasi korban. Agung dan Jelita setengah berlari menuju mobil Ambulans


di ikuti oleh Aparat. Keadaan betul-betul


panik karena kerumunan warga ikut


membuat suasana tambah kacau.


"Minggir kalian, ini darurat. Jangan merangsek, Mobil Ambulans akan berjalan." teriak seorang aparat kepada Warga.


"Aku akan menemani Dilan di Ambulans, Kamu bawa Lamborghini ikuti dari belakang." Ujar Agung dengan wajah sedih.


Jelita tidak menjawab air matanya jatuh membasahi pipinya.


Dengan perarasaan cemas dia naik ke Mobil mengikuti Ambulans yang mulai melaju dengan kecepatan tinggi.


Suara sirine membuat perasaan Jelita semakin sedih.


Sekitar 25 menit perjalanan sampailah mereka di Rumah sakit Bhayangkara.


Terlihat Dina dan Dy sudah menunggu,


tentu mereka sudah tahu karena mereka


pasti sudah nonton di layar. Apapun yang


terjadi dalam Misi Mereka akan cepat mengetahuinya larena sensor berhubungan.


Ketika tubuh Dilan di pindah dari Ambulan ke Stretcher terdengar tangisan Dy sangat pilu. Beberapa perawat dan Aparat ikut mengantar sampai di depan Kamar Operasi.


Dy dipapah oleh Dina yang hampir oleng.


Dina merasa sangat kasihan kepada Dy


yang selalu dirundung malang.


"Sabar Dy, Kita doakan semoga semuanya berjalan dengan lancar dan Dilan bisa melewati masa kritis ini."


Hibur Dina sambil memeluk Dy.


"Kita duduk di ruang tunggu." Ajak Agung. Mereka lalu menuju ruang tunggu. Dua orang aparat mengajak Agung mengobrol tidak jauh dari mereka duduk.


"Agung, lebih baik Kamu ganti baju dulu. Ada darah di bajumu," kata Dina menyerahkan Baju Kaos Agent.


"Trimakasih Din." sahut Agung sambil mengambil Baju Agent.


"Dy, Kamu adalah seorang Agent, jangan perlihatkan kerapuhanmu di depan umum, disini banyak Wartawan." kata Jelita sambil melirik Wartawan yang menunggu berita dari hasil Operasinya Dilan.


Dikamar Operasi.


Dokter kemudian melakukan CT-Scan dan rontgen untuk mengetahui lokasi peluru.


Tim dokter Rumah Sakit berhasil mengangkat peluru yang bersarang di dada korban. Peluru ukuran 1 x 1,5 sentimeter itu juga menembus paru-paru korban.


Dilan kena tembak di dada sebelah kanan. Peluru berhasil diangkat setelah korban menjalani operasi selama dua jam. Proses operasi melibatkan dua dokter bedah, satu dokter anestesi dan empat perawat.


Agung, Dy dan Dina cepat berdiri menghampiri Dokter Yogi yang baru keluar dari Ruang Operasi.


"Maaf Dok, bagaimana keadaan pasien saat ini?" tanya Agung diantara kekhawatirannya.


"Kondisi peluru sudah tidak utuh lagi,


beruntung korban tidak terlalu banyak keluar darah, sehingga meringankan jalannya Operasi. Kondisi korban juga sekarang sudah semakin membaik, walaupun belum sadar.


Mungkin dalam dua tiga hari ini korban sudah bisa dirawat jalan," ungkap dr Yogi.


"Apakah pasien perlu darah, Saya siap mendonorkan," kata Agung.


"Korban butuh darah 0, tapi tadi sudah ada yang menyumbang." kata Dokter Yogi membuat Mereka heran.


Mereka saling pandang, sepertinya tidak ada yang datang. pikir mereka dalam hati.


"Kalau boleh tahu siapa yang menyumbang darah Dok, apakah dari XPostOne?" tanya Agung penasaran.


"Maaf itu privasi, orangnya tidak ingin di publikasikan." sahut DokterYogi.


"Dimana kena tembak Dok," tanya Jelita ingin tahu.


"Proyektil ada di rongga dada sebelah kanan dan sudah berhasil kita angkat," kata dokter yogi delanjutnya.


"Kami sangat berterimakasih Dok, semoga Dilan cepat sembuh." ucap


Dina pelan.


"Kita bantu dengan doa juga." sahut Dokter Yogi tandas.


Setelah Dokter Yogi pergi mereka kembali saling pandang. perasaan mereka agak lega karena Operasi Dilan berjalan dengan lancar.


"Siapa yang mendonorkan darah kepada Dilan," pertanyaan itu keluar dari mulut Agung. Karena pikiran mereka hampir sama.


"Apa istrinya Dilan?, tapi Kita belum memberi khabar kepada Ibunya dan Istrinya, tidak mungkin mereka tahu apa yang terjadi," jelas Agung.


"Apa teman dari XPostOne atau dari Aparat," kata Dina.


"Tapi kalau dari Agent Kita, pasti dia akan menemui Kita dulu, begitupun dari aparat," sahut Jelita.


"Mengapa dia harus merahasiakan dirinya?, dan kenapa Kita tidak melihatnya?, padahal Kita terus berada disini." Kata Agung hampir berbisik.


"Aku tidak bisa berpikir, siapapum itu Aku sangat berterimakasih." sahut Dy lirih. Hatinya hancur seperti debu.


"Kita nanti lihat CCTV Rumah Sakit, pasti Kita mengenalinya, walaupun dia memakai masker," sahut Jelita.


"Bagaimana kalau Kita pulang dulu untuk


mandi, nanti Kita giliran kesini. Kita juga


tidak boleh masuk ke ruang ICU," saran


Agung memandang Dy.


"Aku mau disini saja, Aku tidak tega meninggalkan Dilan," sahut Dy.


"Dy...Kamu harus pulang, kasihani bayimu


yang berada dalam perutmu. Ada aparat yang bergiliran jaga." kata Agung memberi pengertian.


Akhirnya Dy mau juga pulang dengan berat hati. Seolah separuh jiwanya melayang meninggalkan raganya.


Dina naik ke Mobil Mclaren sedangkan Agung


dan Jelita membawa Mobil Lamborghini.


"Apa gue yang setir Dy?" tanya Dina menatap Dy yang wajahnya pucat.


""Gue bisa, tidak apa-apa," kata Dy mulai menghidupkan mesin Mobil.


Tangan Dina lalu memencet playlist Mobil dan terdengar suara Calum Scott yang


berjudul You Are The Reason.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, kembali air mata Dy membasahi pipinya.


"Loe lagi nyetir, hapus air matanya" Kata


Dina menyodorkan tissue.


"Gue sangat sedih Din, lue tahu sendiri kalau gue sangat mencintai Dilan," kata Dy menghapus air matanya.


"Gue tahu, semoga Dilan cepat sembuh." kata


Dina berharap.


Merekapun diam dengan pikiran masing-masing.


*********