
Maaf jika part sebelumnya banyak typo, lupa author koreksi🥲.
...
"Nathan, ada di rumah. Selama tiga hari ini, dia tidak mau keluar. Dia marah pada kami semua, bahkan fisiknya lemah karena tidak ada asupan sama sekali."
"Dan tujuan kami kesini, selain ingin meminta padamu agar tidak meminta Nathan untuk menceraikan Marsha."
Raut wajah Aaron berubah datar, netranya menajam menatap Kenan yang sedari tadi menjelaskan tentang keadaan Nathan.
Tak sedikit pun Aaron merasa kasihan dengan keadaan Nathan.
"Tuan Alexander, kami mohon. Nathan penerus kami satu-satunya. Kami gak tega melihat dia seperti itu." Sahut Nyonya Anggun dengan tatapan sendunya.
"Aaron, kami mohon. Bisa saja Nathan mengakhiri hidupnya jika seperti ini."
"Kenapa Nathan mi?!"
Mereka semua terkejut dengan suara seorang wanita, tatapan mereka pun beralih menatap Marsha yang berjalan menghampiri mereka dengan tatapan bingung.
Melihat Marsha, nyonya Anggun langsung beranjak dari duduknya. Dengan langkah pelan, dia mendekati Marsha.
"Kamu Marsha?" Tanya nya dengan lembut. Tangan keriputnya terangkat, dan menyentuh rahang Marsha.
"Iya." Jawab Marsha dengan bingung.
"Nyonya siapa yah?"
"Jangan panggil nyonya, panggil Nenek. Saya nenek dari suami kamu. Astaga, kamu cantik sekali nak."
"M-makasih nenek, maaf. Marsha gak tau." Lirihnya.
Anggun tersenyum, saat dia melihat Marsha. Hatinya yakin, jika Marsha adalah anak yang baik.
"Marsha, masuk kamar." Titah Aaron dengan suara dinginnya.
"Daddy?" Marsha benar-benar terkejut dengan permintaan sang daddy. Disini ada tamu, dan dia di suruh masuk ke dalam kamarnya.
"DADDY BILANG MASUK YAH MASUK!" Tegas Aaron, bahkan sampai beranjak dari duduknya.
Tubuh Marsha bergetar, dia tak pernah di bentak oleh sang daddy hingga seperti ini.
"Marsha gak mau masuk, Marsha ingin tahu keadaaan Nathan." Lirih Marsha dengan suara bergetar.
"Kamu mulai membantah daddy?"
Aaron bergegas menghampiri putrinya, dia mencengkram lengan Marsha dan menariknya menjauh.
"DADDY LEPASKAN!! AKU BERHAK TAHU KEADAAN NATHAN!! AKU INGIN TAHU KEADAANNYA!! HIKS ... TOLONG, JANGAN SEPERTI INI HIKS ...,"
"AARON!! BERHENTI!!" Laras ikut berteriak, dia panik melihat amarah sang putra.
Mendengar ada suara keributan, Zeva keluar dari kamarnya. Netranya membulat saat melihat suaminya menyeret putri mereka dengan kasar menuju kamarnya.
"Mas!" Sentak Zeva bergegas ke kamar sang putri.
Belum juga masuk, Aaron sudah mendorongnya. Pria itu mengunci pintu kamar Marsha dari luar.
BRAK!
"DADDY!! BUKA PINTUNYA HIKS ... MARSHA MAU TAHU KEADAAN NATHAN!! DADDY!!"
"Mas! apa-apaan kanu hah!! buka pintunya!!" Sentak Zeva, berusaha merebut kunci dari tangan suaminya.
Aaron menepis tangan Zeva, wajahnya memerah menahan amarah. Istri dan putrinya melawannya, dia paling tidak suka di lawan.
"Jangan membuat mas marah Zeva!" Sentak Aaron.
"Jika Marsha ingin tahu keadaan Nathan apa salahnya?! Mereka belum bercerai, Marsha masih milik Nathan! kamu sendiri yang menikahkan mereka dengan tanganmu. Apa kamu lupa hah?!"
Aaron memejamkan matanya sejenak, dan kembali membukanya.
"Aku terpaksa menikahkan mereka saat itu!" Sentak Aaron.
"Tapi hal itu tidak membuat pernikahan mereka tidak sah!! bahkan kamu ada di sana! Memangnya, Nathan salah apa?! yang salah itu kakaknya. Kenapa dia juga ikut kamu hukum!!" Zeva turut ikut kesal dengan sikap suaminya.
Zeva memejamkan katanya sejenak, dan kembali membukanya. Kini dia tidak kuat untuk menahan kemarahannya.
Melihat istrinya terdiam, Aaron berniat akan beranjak dari sana. NAmun, baru saja dua langkah istrinya kembali membuka suara. Bahkan membuat jantungnya hampir terlepas dari tempat nya.
"BUKAKAN PINTU ITU ATAU KITA CERAI?!"
Jderr!!
Langkah Aaron terhenti, dia benar-benar tak percaya dengan apa yang istrinya lontarkan. Seketika, dia berbalik. Netranya, menatap sang istri dengan kening mengerut.
"Kamu bercanda?"
"Tidak! Siapapun yang menghalangi kebahagiaan putriku, akan berurusan denganku. Termasuk kamu mas! Kamu sudah tidak ada hak atas Marsha! karena putriku, sudah menjadi hak milik suaminya! Nathan belum menceraikannya, putriku masih milik suaminya!" Air mata Zeva luruh saat mengatakan hal tersebut. Antara putri dan suaminya, Zeva tak ingin suaminya menekan putri mereka.
"Mas tidak akan membuka pintu itu, sampai mereka pulang. Setelah ini, keduanya harus bercerai! Nathan bukan pemuda yang baik! dia masih labil! bahkan umurnya lebih muda dari Marsha, bagaimana dia bisa menghidupi putriku!!"
Perdebatan Zeva dan Aaron, terdengar hingga ke ruang tamu. Membuat semuanya berdatangan menghampiri mereka.
"Oke! kalau itu keputusanmu! aku akan urus surat perceraian kita! aku tidak akan membiarkan Marsha dan anak-anakku, memiliki ayah yang egois seperti mu!"
Zeva berbalik menuju kamarnya, membuat Aaron bergegas menyusulnya sembari meneriaki naka istrinya.
"Zeva! apa yang kamu lakukan hah?! kembalikan koper itu!!" Lekik Aaron.
Zeva menulikan pendengarannya, dia membuka kopernya dan memasukkan beberapa bajunya dan juga baju putranya.
"Bunda."
Netra Zeva beralih menatap Varo yang terdiam mematung di ambang pintu.
"Varo, angkat adikmu dan bawa ke mobil."
"JANGAN VARO! KAU TIDAK BOLEH MEMBAWA ADIKMU PERGI DARI SINI!"
Varo bingung, dia mendekati adiknya yang masih pulas tertidur. Kedua orang tuanya bertengkar hebat, dan dia tidak tahu apa masalahnya.
Adinda yang tadinya berada di perpus bergegas keluar ketika mendengar suara keributan dan menghampiri sepasang suami istri tersebut. Saat dia tahu apa yang mereka ributkan, Adinda mencoba menjadi penengah.
"Zeva, pikirkan dengan baik-baik. Jangan membuat keputusan gegabah."
"Aku tidak akan pergi jika dia membuka pintu kamar putriku!" Sentak Zeva.
Aaron menarik koper Zeva dengan kasar, lalu dia membawa koper itu ke balkon dan melemparnya hingga terjatuh ke kolam renang yang berada tepat di bawah kamar mereka.
Mata Zeva terbelalak lebar, tak menyangka jika suaminya memiliki cara seperti ini.
"Kopermu sudah ku buang, kamu tidak bisa pergi kemana-mana!" Desis Aaron.
"Mas pikir, aku gak punya cara huh?!"
Zeva berlalu keluar, dia tak menghiraukan keluarga Nathan. Dia membuka pintu gudang yang berada di sudut ruangan.
Semuanya menatap bingung ke arah Zeva, hingga akhirnya pertanyaan mereka terjawab sudah saat Zeva keluar dengan sebuah kapak di tangannya.
"Zeva kau gil4?!" Pekik Adinda.
Zeva tak menghiraukannya, dia menyeret kapak itu dan terhenti di depan kamar sang putri.
Kapak itu terangkat, Zeva berniat akan menghancurkan gagang pintu dengan kapak itu.
Laras dan Haikal pun tal menyangka dengan apa yang menantu mereka perbuat.
"JANGAAAAANNN!!!" Pekik Laras saat kapak itu akan mendarat di pintu tersebut.
Kapak Zeva terhenti di udara, netranya menatap ibu mertuanya yang panik dan berjalan cepat menghampirinya.
"Jangan Zeva, ganti pintu ini mahal. Itu pintu dari kayu jati asli, kalau kamu rusak gimana? Sebentar, mamah cari kunci cadangannya yah. Kan ada kunci cadangan, ngapain kamu buka pakai kapak." Ringis Laras dan bergegas mencari kunci cadangan. Hal itu, tentu membuat semuanya melongo, termasuk keluarga Alvarendra dan Rafassyah.
____
Maaf yah kalau bab sebelumnya banyak typo, lupa aku koreksi😅
Kalau ngeliat typo, tandai aja yah. Membantu banget🤩