Find Me Daddy

Find Me Daddy
Kepolosan Nathan saat di dokter kandungan (S2)



"PERMISI!! PAKET!!"


Javier yang tengah meminum susunya bergegas berlari menuju pintu utama, di sana sudah berdiri tukang paket tengah menunggu sang pemilik keluar.


"Paket bang?" Tanya Javier menaruh botol susunya di lantai dan bergegas mengulurkan tangannya.


"Ibunya, ada dek?" Tanya tukang paket itu.


"Ada, di kamal cama daddy. Katana, nda boleh ganggu. Udah cini, mana paketnya!" Cerocos Javier.


Tukang paket itu mengerti, dia terpaksa memberikan paket itu pada Javier di karenakan Zeva tak bisa mengambilnya.


"Tapi, minta fotonya yah dek." Pinta tukang paket.


"Poto na? bayal dulu, celatus libu." Linta Javier mengadahkan tangannya.


"Ha? kok gitu? saya cuman minta foto adek sama paketnya doang." Bingung kang paket.


Javier kembali menarik tangannya dengan tatapan kesal.


"Celatus doang! poto Viel itu mahal. Abang na nda kenal Viel ciapa?" Sewot Javier.


Tukang paket itu menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, dia baru hari ini bekerja sebagai pengantar paket. Sehingga, dirinya tidak tau siapa itu Javier.


"Saya kasih dua ribu yah, nih." Tukang paket itu memberikan uang dua ribu rupiah pada Javier, membuat Javier melotot tak percaya.


"Uang apa ini? memangna laku? kele kali! dikit uangmu, tapi banak kali maumu. Nda! buat citu aja." Ketus Javier dan berlalu pergi.


Tukang paket itu menatap cengo kepergian Javier.


"Anak siapa sih bang dia?" Tanya Tukang paket tersebut pada bodyguard yang berjaga.


"Anak si bos, biasa. Emang cempreng mulutnya."


"Ciapa yang cempleng mulutna hah?!"


Keduanya hampir tersedak lud4h mereka saat suara cempreng itu kembali terdengar. Keduanya menatap ke arah bawah, dimana Javier menatap mereka dengan tajam.


"Cembalangan!" Sewot JAvier, dia kembali karena botol susunya yang ketinggalan.


Setelah itu, Javier berlalu pergi. membuat keduanya menghela nafas lega.


"Tahan bang kerja disini?" Tanya tukang paket itu, sembari meringis.


"Gajinya gede bang, jadi tahan. Cobaannya yah cuman satu, tuh anak doang." Balas bodyguard itu.


.


.


.


Marsha tengah berada di ruangan dokter kandungan, dia merebahkan dirinya di sebuah brankar.


"Angkat bajunya sedikit yah bu, saya akan mengoleskan gell pada perutnya." Titah dokter.


Marsha mengangguk, dia mulai membuka bajunya. Dokter pun mengoleskan Gell pada perut Marsha.


Nathan setia duduk di samping istrinya, dia memperhatikan apa yang di lakukan oleh dokter.


"Isshh." Marsha meringis saat Gell itu menyentuh perutnya, terasa sangat dingin.


"Wah, udah ada kantungnya ini. Janinnya masih kecil banget yah,"


Nathan langsung melihat layar monitor yang menampilkan gambar hitam putih. Dia mengerutkan keningnya, berusaha mencari sang anak.


"Anak saya mana dok?" Tanya Nathan dengan polosnya.


"Ini pak, yang titik ini janinnya " Unjuk sang dokter.


"Mana? kepalanya mana? kok gak keliatan?"


Pertanyaan Nathan, membuat dokter terkekeh gemas. Sedangkan Marsha, dia terlihat malu dengan kepolosan suaminya.


"Usia janinnya masih delapan minggu pak, masih sangat kecil."


"Delapan minggu? kita buatnya baru bulan kemarin kok dok," ujar Nathan dengan kepolosannya.


"Nathan!" Kesal Marsha.


Dokter tertawa kecil, "Di hitungnya dari menstruasi terakhir pak, bukan dari kapan buatnya." Trang sang dokter.


Nathan pun mengangguk sembari membulatkan mulutnya, dia mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan momen dimana janinnya bergerak di layar monitor.


"Detak jantungnya, apa sudah ada dok?" Tanya Marsha.


"Coba kita dengarkan yah." Gumam sang dokter, segera memencet sebuah tombol di monitor.


Dug! dug! dug! dug!


Nathan terbengong, air matanya jatuh begitu saja. Pertama kalinya, dia mendengar jetak jantung seorang janin. Dan itu, adalah anaknya sendiri.


"I-itu ...." Nathan bergegas memvideokannya dengan ponselnya, betapa terharunya dia mendengar detak jantung calon bayinya.


Marsha pun tersenyum haru, dirinya tak menyangka jika ada nyawa lain di dalam tubuhnya.


Setelah selesai, perut Marsha di bersihkan. Dokter pun bertanya beberapa hal pada Marsha.


"Gak mual yah bu?" Tanya sang dokter.


"Enggak dok, anteng-anteng aja." Jawab Marsha sembari mengelus perutnya.


"Dedeknya pengertian sama mamanya yah."


Marsha tersenyum, dia juga heran. Mengapa dirinya tidak mengalami mual-muntah seperti kebanyakan para ibu.


"Hubungan aktifitas suami istrinya, bagaimana? bapaknya masih sering nengok si dedek?" Tanya Dokter, sembari menatap Nathan.


"Maksudnya gimana dok? Gimana cara tengoknya?" Nathan malah terlihat kebingungan.


Marsha menahan nafas, dia sungguh tidak sanggup dengan kepolosan suaminya.


"Maksudnya, hubungan suami istri pak. Hubungan ranjang,"


Nathan membulatkan mulutnya, tanda mengerti maksud dari sang dokter.


"Baru sekali dok, itu pun langsung jadi. Abis itu, gak lagi. Katanya istri saya, jenguknya kalau ujiannya lulus. Gitu."


Marsha menepuk keningnya, sudah cukup kepolosan suaminya ini. Dia ingin segera pulang saat itu juga.


"Ujian?" Bingung dokter tersebut.


"Aa ... itu apakah saya sudah bisa pulang dok? saya sudah di tunggu orang rumah." Sela Marsha.


"O-oh sudah, vitamin dan penguat janinnya sudah saya resepkan yah. Semoga sehat-sehat selaku,"


Marsha menerima resep dari sang dokter, setelahnya dia bergegas berdiri. Tak lupa, dia berpamitan.


"Baik, terima kasih dok. Kami permisi dulu." Marsha menarik suaminya keluar.


Sedangkan dokter tersebut, menatap mereka dengan pandangan heran.


"Hais, anak muda jaman sekarang." Gumamnya.


.


.


Sebelum pulang, Marsha menginginkan makan steak di restoran dekat rumah sakit. Natha pun menyetujuinya, dia mengabulkan keinginan istrinya itu.


Sehingga disini lah mereka sekarang, di sebuah restoran mahal khusus steak.


"Pokoknya pulang nanti, lo harus banyak istirahat. Vitaminnya jangan sampai di minum telat, dua minggu lagi kita kontrol si dedek lagi."


Marsha menghela nafas kesal, dia sedang memilih menu. Tapi, suaminya malah mencecarnya dengan kandungannya.


"Iya-iya, aku laper. Bahas itu nanti lagi yah." Lesu Marsha.


Nathan tersenyum, "Baiklah, jadi anak gue ... mau makan steak apa? pilih aja." Seru Nathan dengan perasaan bahagia.


Marsha tersenyum, dia memesan beberapa menu di sana. Setelah selesai memesan, Marsha pun menyerahkan pesanan mereka lada pelayan di sana.


"Gue ke kamar mandi dulu." Pamit Nathan sembari mengelus rambut Marsha.


Marsha mengangguk, dia menunggu pesanan mereka sembari bermain ponselnya. Hingga, seseorang datang menyapanya.


"Marsha?"


Marsha menoleh, dia bergegas beranjak.


"Eh, pak Mario?!" Pekik Marsha.


Mario tersenyum, dia duduk di tempat yang sebelumnya Nathan duduki. "Kau sendiri?" Tanya pak Mario.


Marsha yang baru saja duduk menunjuk ke arah belakang, dia bingung bagaimana menjelaskannya.


"Tidak di sangka kita bertemu disini, aku baru tahu jika rencana pernikahanmu dengan putra keluarga Brighton batal."


Marsha tersenyum canggung, dia khawatir Nathan datang dan malah salah paham seperti kemarin.


"Kebetulan sekali, aku juga ingin makan steak. Gimana, kalau kita makan bersama?"


"Pa-pak itu ... saya sedang bersama sese ...,"


BRAK!


"OH! JADI INI KELAKUANMU MAS! BERDUA DISINI SAMA CEWEK GATEL INI HAH!"


____


Setelah baca komenan kalian, katanya ceritanya sudah banyak. Authornya jarang baca novel gaes, gak ada waktu😭 jadi kurang update-an.


Jadi author memutuskan untuk selesaikan cerita ini dulu yah, Javier masih ada kok. AKu usahakan, setiap hari Javiernya nongol yah🤭🤭 takut di serang fans Javier nanti authornya🤧