Find Me Daddy

Find Me Daddy
Terbongkar(S2)



"Sha, kamu ngapain makan nanas sebanyak itu?" Zeva menghampiri putrinya yang sedang duduk di taman samping. Putrinya sedang memakan buah nanas sepiring besar, membuat Zeva bingung di buatnya.


"Marsha lagi pengen bun, cuaca lagi panas nih," ujar Marsha.


Zeva juga merasakan cuaca sedang panas, dia pun turut duduk di samling putrinya dan ikut memakan nanas itu.


"Iya, seger juga," ujar Zeva.


"SAYANG!!"


Zeva hampir saja tersedak setelah mendengar teriakan suaminya, dia buru-buru menyudahi makan nanas itu.


"Aduh, daddy kamu gak bisa apa di tinggal sebentar." Gerutu Zeva dan bergegas menghampiri suaminya.


Marsha hanya terkekeh melihat keromantisan orang tuanya yang tidak habis di makan waktu.


Marsha menatap nanas yang masih banyak di piring, dia kembali memakannya dengan cepat.


Marsha terdiam, dia menatap perutnya dan mengelusnya pelan. "Maaf, bukan maksudku ingin melenyapkan mu. Tapi, aku tak sanggup melihat tatapan kecewa dari keluargaku. Aku harap, kamu mengerti sayang." Lirih Marsha.


Marsha kembali mengambil nanas itu, tetapi saat akan memasukkan ke mulutnya. Dia mendengar adanya keributan.


"HEI!! JANGAN MASUK SEMBARANGAN!!" Terdengar suara bodyguard Marsha yang kian mendekat.


Deghh!!


"Nathan." Buah nanas yang Marsha pegang jatuh ke bawah saat melihat Nathan berdiri di hadapannya dengan wajah memerah menahan amarah.


"Lo mau melenyapkan anak gue hah?!" Sentak Nathan.


Nathan menatap ke arah piring nanas, dia bergegas mengambil piring itu dan melemparnya ke tembok.


PRANG!!


"Aaa!!" Marsha terkejut, tak menyangka jika Nathan akan bereaksi seperti itu.


"Nath, kamu ngapain sih! udah gil4 kamu yah!" Sentak Marsha.


"Lo yang Gil4! lo wanita yang gak punya perasaan! pasti hasil testpack itu positif kan?! makanya lo makan ini karena mau gugurin bayi gue?!"


Mendengar ada keributan, Zeva beserta Aaron bergegas keluar. Varo pun datang dengan membawa Javier.


"Ada apa ini? kamu siapa?" Tanya Zeva setelah berdiri di samping Nathan.


Aaron menggeser istrinya, dia menatap nyalang ke arah Nathan dengan tatapan tajam.


"Kau!! ikut saya!" Aaron menarik lengan Nathan, dia bergegas membawanya ke ruang tengah.


Aaron menghempaskan lengan Nathan begitu saja, netranya menatap tajam Nathan yang sudah lancang masuk ke dalam rumahnya.


"Buat apa kamu kesini hah?!" Sentak Aaron.


"Kalau om lupa, akan saya ingatkan kembali. Saya adalah suaminya Marsha," ujar Nathan tak gentar sedikitpun.


"Sebentar lagi, kamu bukan suami putri saya! Sebaiknya kamu bergegas mengucapkan cerai pada putri saya! sekarang juga!"


"Tidak akan!"


Nathan dan Aaron saling menatap tajam, seperti ada sengatan listrik di mata mereka. Keduanya sama-sama memiliki ego yang tinggi.


"Kamu harus menceraikan putri saya!" Sentak Aaron.


"Saya tidak mau!" Seru Nathan.


"Kau!!!"


"Menceraikan apa maksudnya ini mas?"


Degh!!


Tubuh Aaron menegang kaku, dia berbalik dan menatap istrinya yang berdiri tak jauh darinya. Mata sang istri terlihat memerah, menahan genangan air mata yang akan turun.


Perlahan, Zeva mendekati Nathan. Dia menatap Nathan dengan sorot mata yang sendu.


"Katakan, apa maksud dari perkataan suami saya tadi?" Tanya Zeva.


"Sayang, lebih baik kamu suruh Marsha ke kamar. Dan ..."


"APA?! APA YANG KAMU SEMBUNYIKAN HAH?! MARSHA PUTRIKU! AKU BERHAK TAHU TENTANG NYA!!" Zeva benar-benar marah terhadap suaminya.


Aaron terkesiap mendengar bentakan sang istri, melihat sang istri yang menangis. Membuat Aaron merasa tak tega.


"Kapan aku tidak menurutimu? KAPAN?! Aku selalu mengikuti kemauan mas, untuk kali ini tidak! Sebagai seorang ibu, aku perlu tahu apa yang tidak aku ketahui tentang putriku." Tegas Zeva.


Zeva berbalik, dia berhadapan dengan Nathaniel kembali. Sorot matanya sangat lah teduh, tersirat tatapan kekecewaan.


"Bisa kamu jelaskan dengan apa yang suamiku katakan tadi?" Tanya Zeva dengan suara bergetar.


"Jadi, ayah Marsha merahasiakan ini dari istrinya." Batin Nathan, dirinya pun syok dengan apa yang terjadi.


"Tolong jelaskan." Mohon Zeva.


NAthan bingung ingin menjawab apa, dia lalu menatap Aaron seakan bertanya. Sedangkan Aaron, dia menggelengkan kepalanya.


"Saya adalah ibu kandung Marsha, saya yang melahirkannya. Saya kecewa dengan apa yang tidak saya ketahui tentang putri saya. Maka dari itu, tolong ... tolong beritahu saya tentang kebenarannya." Nathan tak tega melihat Zeva yang memohon padanya.


"Marsha ... Marsha adalah istri saya."


JDERRR!!


Aaron mengusap wajahnya kasar, dia merutuki Nathan karena membocorkan hal yang dirinya sembunyikan.


"Saya sudah menikah dengan Marsha baru sebulan." Lanjut Nathan.


Aaron pikir, masalah akan selesai ketika Nathan menceraikan putrinya tanpa ada yang tahu termasuk istrinya. Aaron tak mau membuat istrinya bertambah beban pikiran, apalagi Marsha adalah putri kesayangan sang istri. Dia tak tega melihat raut wajah sedih istrinya.


"A-apa, mas ... kamu tahu tentang hal ini?" Tanya Zeva dengan suara bergetar, menatap suaminya dengan sorot mata kekecewaan.


"Zeva, maafkan aku. Maaf,"


"Kamu menikahkan putriku, tanpa persetujuanku." Tanya Zeva dengan tatapan tak percaya.


Aaron berlutut di hadapan istrinya, dia mencium tangan istrinya dengan perasaan bersalah.


"A-aku ibunya ... aku berhak tahu tentang putriku. Aku yang berjuang untuk melahirkannya, bukan kamu. Kamu tidak tahu, bagaimana hancurnya perasaanku saat ini hiks ... aku merasa gagal menjadi seorang ibu hiks ...,"


Aaron berdiri, dia langsung menggelengkan kepalanya.


"Enggak sayang, kamu tidak gagal. Aku terpaksa menikahkan mereka, karena paksaan dari kepala desa. Mereka kepergok warga tidur berduaan, hingga kepala desa memaksa mereka untuk menikah dan. ..."


Aaron menceritakan kejadian yang sebenarnya, Zeva di tambah menangis saat mendengar cerita itu.


"Putriku, kasihan sekali putriku hiks ... kenapa kamu tidak memberitahuku?! putriku pasti ketakutan, dia pasti ketakutan hiks ...."


Marsha mendekat ke arah mereka dengan langkah ragu, Nathan yang melihat Marsha segera mendekat.


"Urusan kita belum selesai!" Sentak Nathan.


"Urusan apalagi? sudah puas kamu membuat keluargaku seperti ini hah!!" Bentak Marsha.


Aaron dan Zeva bergegas mendekati keduanya, tatapan Zeva menatap kearah Nathan dengan datar.


"Kalian menikah bukan karena cinta, hanya sebuah paksaan. Masa depan kalian masih panjang, jadi lebih baik ... kamu menceraikan putri saya. Urusan akan selesai, kamu bisa melanjutkan kehidupan mu," ujar Zeva.


"Enggak! urusan di antara saya dan putri tante belum selesai!" Sentak Nathan.


Zeva mengerutkan keningnya, dia menatap putrinya yang tertunduk. Dan kembali menatap Nathan dengan tatapan bertanya.


"Marsha sudah hamil anak saya tante,"


DEGHH!!


Hati Aaron dan Zeva langsung teriris pilu, mereka menatap Marsha seakan bertanya. Zeva lalu beralih menatap suaminya.


"Kamu bilang mereka hanya menikah, dan hanya satu malam. Setelah itu, mereka tidak bertemu. Apa yang kamu sembunyikan dariku lagi mas?"


Aaron dengan cepat menggeleng, dia juga tidak tahu satu hal ini. Aaron bergegas menghampiri putrinya dan memegang kedua bahunya.


"Marsha." Aaron menarik nafas sejenak.


"Malam itu, apa kamu melakukannya?" Tanya Aaron dengan keadaan hati yang sakit.


Marsha hanya diam, membuat Nathaniel akhirnya angkat suara.


"Apa dia memaksamu untuk memberikan haknya?" Tanya Aaron dengan suara bergetar.


"Maaf daddy, aku hanya ingin pulang dengan menunjukkan jika aku masih lah virgin. AKu ingin mematahkan omongan mereka yang memfitnahku. Karena itu, aku bis pulang sebelum kau menjemputku. Maaf daddy, maafkan aku."


Aaron benar-benar tak percaya dengan apa yang putrinya katakan. Dia memundurkan langkah, dan menatap putrinya dengan tatapan sendu.