Find Me Daddy

Find Me Daddy
Memberimu nama



Aizha tengah mengipas dirinya, bukan hanya cuaca yang panas. Tapi otaknya juga panas, dia bingung bagaimana caranya dia bisa mengetahui identitas pria yang di tolongnya.


"Istriku, bisa tolong ambilkan ...,"


"Istri dagumu! Aku bukan istrimu! Harus berapa kali aku bilang!!" Greget Aizha sembari menatap tajam pria itu.


"Tapi kata dokter tadi kamu istriku." Ujar pria itu dengan takut.


"Heh! Jamal! Udah aku bilang, aku bukan istrimu! Kok ngeyel sih! Aku nih masih ting-ting, jodohku saja masih debut di korea." Seru Aizha dengan kesal.


Tampak, pria itu menggaruk belakang lehernya. Dia menatap wajah cantik Aizha, sekilas dirinya tersenyum tipis menatap raut wajah kesal yang sangat menggemaskan dari wanita itu.


"Jadi namaku Jamal?" Tanya pria itu yang mana membuat Aizha menganga tak percaya.


"Helahdalah! Heh! Nanti aku ngomong namamu comberan juga percaya kah?!" Pekik Aizha.


"Jadi yang benar mana? Namaku jamal atau comberan."


Brugh!!


Aizha menjatuhkan dirinya ke lantai, matanya menatap langit-langit ruang rawat itu dengan tatapan kosong. Sedangkan pria itu, dia terkejut ketika melihat Aizha terjatuh. Berniat ingin menolong Aizha, dia sudah mengangkat tangannya duluan.


"Syuutt, diam. Aku sedang mempertahankan jantungku agar tak melayang karenamu." Lirih Aizha yang mana membuat pria itu kembali merebahkan dirinya.


Aizha beranjak duduk, dia menatap pria bule itu dengan seksama. "Di lihat dari wajahmu ini ... kamu bukan dari sini yah? Mata birumu itu, sangat terlihat kalau kamu orang asing. Tapi, kok bisa bahasa negara ini? Atau, kamu memang warga lokal tapi bapakmu bule."


Pria itu mengerjapkan matanya pelan, yang mana membuat Aizha memekik gemas.


"Jangan seperti itu!! Aku bisa meleleh." Seru Aizha.


"Kenapa?" Ujar pria itu.


"Ish, diamlah! Begini saja, mulai saat ini aku panggil kamu ... Agus. Kan dari kata bagus!" Seru Aizha dengan tersenyum kebar.


"Jangan, itu terdengar sangat buruk." Ujar pria itu tidak suka.


Aizha menghela nafas lelah, "Terus siapa? Jamal? Asep? Bambang? Romeo? Pangeran? Langit? Ervin? Biru? Rojali? Haish ... mama yang bagus?!" Pekik Aizha dengan kesal.


"Ervin, aku suka nama Ervin."


Raut wajah kekesalan Aizha berubah menjadi terkejut, dia langsung beranjak berdiri dan mendekati brankar pria itu


"Waahh pilihanmu sangat baik! Ervin, yah kebetulan aku suka nama itu." Seru Aizha dengan menepuk tangannya.


Pria yang sudah di beri nama itu tersenyum melihat tingkah Aizha yang sangat menggemaskan.


"Lalu istri, siapa namanya?" Ujar Ervin dengan kening mengerut.


Senyum Aizha seketika luntur, "Istri lagi! Aku bukan istrimu! Dokter itu hanya salah paham," ujar Aizha dengan mendudukkan dirinya di kursi sebelah brankar.


"Aku lebih percaya dokter itu," ujar Ervin.


"Apa?!" Pekik Aizha dengan melongo.


Cklek!


Tatapan keduanya beralih, seorang dokter muda masuk sembari menaikkan kaca matanya. Seketika, Aizha tertegun sejenak. Tubuhnya tak mampu ia gerakkan saat melihat orang itu.


"Aizha? Ngapain kamu disini?" Pekik dokter muda itu.


Aizha cengengesan, dia mendekati dokter muda itu dengan raut wajah yang sedikit canggung. Dokter muda itu mengamati Aizha dengan kening mengerut.


"Om Vier, Aizha cuman nemenin pasien kecelakaan aja. Tadi Aizha tolo ...,"


"Istri ngapain dekat-dekat sama dia?!" Pekik Ervin yang mana membuat dokter muda itu mengarahkan pandangannya pada Ervin.


"Dia, wanita di sampingmu adalah istriku." Ketus Ervin.


tatapan javier beralih pada Aizha, matanya menatap Aizha dengan tajam. Sedangkan Aizha, dia menepuk keras keningnya


"Kau bisa jelaskan ini Aizha?"


"Mampus." Batin Aizha.


.


.


.


Seorang gadis tampak sedang fokus dengan laptopnya, jari jemarinya bergerak lancar di atas keyboard. Sedari tadi, gadis itu tampak fokus dengan laptopnya hingga tak menyadari seseorang telah duduk di sebelahnya. Taman yang keduanya huni sangat sepi, sehingga gadis itu tak sadar jika ada seseorang orang ikut duduk di sebelahnya.


"Ekhem, bener yah kata orang. Kalau cowok kurang tampan itu pasti selalu di abaikan."


Gadis itu menoleh, matanya membulat sempurna saat melihat seorang pemuda tampan duduk di sebelahnya.


"MARIO!!" Pekik nya.


Pemuda berlesung pipi itu tersenyum, dia membuka topinya hingga membuat rambut coklatnya di terpa angin.


"Hai Kak Yara, kita bertemu lagi."


Gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Nayara dia tumbuh tak jauh beda dengan kedua saudaranya yang lain. Namun, porsi tubuh Nayara lebih berisi di banding dua saudaranya. Wanita itu tersenyum manis.


"Mario kapan balik dari Australia?!" Pekik Nayara.


"Hari ini." Jawab pria tampan itu.


Mario Evandra, putra bungsu Mario dan mentari. Dia berumur satu tahun lebih muda dari Nayara, maka dari itu pria tersebut memanggil Nayara dengan sebutan kakak. Keduanya cukup akrab, tapi setelah Mario dan keluarganya pindah ke Australia. Nayara tak lagi bisa bersama-sama dengan pria itu.


"Kenapa langsung kemari?! Seharusnya kamu istirahat. Sudah sana, kembali ke hotel atau ke apartemen mu." Ujar Nayara yang kembali melanjutkan kegiatannya.


"Tidak mau, lelahku sudah terbayarkan setelah melihat wajah cantik kak Yara." Ujar Mario dengan santai.


Gerakan Nayara di atas keyboardnya terhenti, dia beralih menatap Mario dengan kening mengerut.


"Gombal!" Ketus Nayara.


Nayara sudah biasa dengan gombalan mario, tetapi anehnya. Jantungnya selalu berdebar kuat saat Mario mengatakan hal semacam itu. Nayara tentu tahu jarak perbedaan umur mereka, walau hanya satu tahun. Tapi tetap saja, keduanya berbeda umur.


"Mana ada gombal, aku ngomong dari hati. Kalau kak Yara gak percaya, malam ini aku minta kak Yara pada om Nathan. Bagaimana?"


Sejenak, Nayara menghela nafas pelan. "Mario, jangan suka membuat wanita terlena dengan gombalanmu. Sudah, cukup yah. Sekarang kembali ke hotel. Kakak juga mau kembali pulang, pasti saat ini papa sedang mencariku." Ujar Nayara sembari mengemasi barang-barangnya


Tampa Nayara sadari, kini Mario menatap Nayara dengan tatapan sulit di artikan. Dia menatap punggung wanita itu yang perlahan pergi semakin menjauh.


"Sampai kapan kamu terus mengelak perasaanku padamu kak? Aku tahu, kau lebih tua dariku. Tapi, aku benar-benar jatuh hati padamu." Lirih MArio.


Nayara memasuki mobilnya, nafasnya terdengar memburu. Dia memegangi jantungnya yang berdegup sangat kuat. Sejenak, Nayara menormalkan nafasnya.


"Kenapa aku jadi deg-degan seperti ini. Padahal, aku tahu jika itu hanya candaan Mario saja." Lirih Nayara


Nayara membuka laci dashboard mobilnya, dia sana terdapat fotonya dan juga Mario saat masih berumur delapan tahun. Keduanya tampak tersenyum ke kamera dengan tangan yang saling merangkul. Tanpa sadar, Nayara melengkungkan senyum di bibirnya.


"Jangan terlaku banyak menggombaliku, nanti aku bisa jatuh cinta padamu. Mario."


Sama halnya dengan Mario, pemuda itu kini menatap langit yang biru. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi taman sembari bersedekap dada.


"Bagaimana aku memberi tahu padamu, jika aku tulus mencintaimu Yara. Aku kembali, untukmu." Lirih Mario.