
Nathan terbangun dari tidurnya, ketiga bayinya menangis secara bersamaan dengan suara yang cukup keras. Dia bergegas mendekati ketiga bayinya yang berada di dalam box.
"Kenapa sayang, hm? Ini masih malam," ujar Nathan dengan lesu. Dia lelah kerja seharian, dan malam bayinya selalu rewel.
"Haus yah? Sebentar yah, papa ambilkan susu kalian dulu." Nathan bergegas menuju lemari es di kamarnya yang memang tersedia untuk menyimpan asi. Namun, stok hanya sisa satu, sementara bayinya ada tiga.
"Astaga, apa Marsha belum memompa Asinya semalam? Biasanya ada stok lebih disini." Gumam Nathan.
Nathan memanasi susu itu, sembari menunggunya. Dia lalu, mendekati istrinya untuk membangunkannya.
"Marsha, bangun! Anak kita menangis sangat keras, apa kau tidak mendengarnya?" Nathan berusaha membangunkan Marsha. Namun, wanita itu malah menepis tangannya.
"Jangan ganggu aku! aku ngantuk sekali!" Seru Marsha dengan kesal, dia bahkan menutup telinganya dengan bantal.
"Ck, Marsha!! bangun! kau harus menyusui anak kota! Sebelum tidur, kau belum memompa asi kan?! Cepatlah! kasihan mereka!"
Marsha tak kunjung bangun, membuat Nathan yang lelah akhirnya ikut kesal juga.
"MARSHA!!"
Marsha terduduk, dia menatap Nathan dengan mata memerah menahan genangan air mata.
"Kamu pikir aku aja yang capek hah?! Mereka anakmu! kamu yang menghamili ku! aku sudah lelah selama sembilan bukan mengandung mereka! Baru begini saja kamu sudah memarahiku! Kau kasihan pada mereka tapi tidak denganku. AKU LELAH!! KAU DENGAR KAN!!"
Nathan terkesiap, dia seperti bukan melihat Marsha. Istrinya tampak berbeda, menjadi lebih emosional.
Tok!
Tok!
"Nathan! Marsha! Mami masuk yah!
Cklek!
"Astaga, kenapa bayi kalian menangis?" Seru Sofia mendekati box ketiga cucunya.
Sofia bergegas menuju penghangat asi, di ambilnya botol yang sudah Nathan panaskan asi tadi.
"Nathan, panaskan yang lain! Ketiga bayimu kehausan!" Pekik Sofia saat dia menyodorkan dot itu pada Nadia. Sementara Nayara dan Aizha, masih menunggu giliran.
"Bagaimana aku mau memanasi asi yang lain, sementara ibunya tidak mau memompa asi untuk anaknya!" Sentak Nathan.
Sofia mengalihkan pandangannya, dia menatap menantunya yang sedang menangis.
"Marsha, susuin Aizha dan Nayara yah. Mami temani." Bujuk Sofia.
Akhirnya Marsha mengangguk, Sofia bergegas meminta Nathan untuk menggantikannya memegang botol Nadia.
Sofia mengambil Nayara dan bergegas menghampiri menantunya, dia memasang bantal di belakang tubuh Marsha dan juga pangkuan Marsha.
"Biar di sebelah kanan saja," ujar Sofia.
Setelah Nayara menghisap nutrisinya, Sofia kembali membawa Aizha dan di tempatkan di sebelah kirinya. Marsha sedikit meringis, kala hisapan kedua putrinya sangatlah kuat.
"Mami buatkan teh hangat, sebentar yah." Sofia akhirnya keluar untuk membuatkan teh hangat untuk menantunya.
hening, Nathan dan Marsha sama-sama terdiam. Keduanya masih kesal dengan sikap yang mereka terima.
Nadia sudah kembali tidur, susunya juga sudah habis. Nathan menyelimuti putrinya itu hingga setengah badan.
Sofia datang kembali, dia membantu Marsha untuk meminum teh nya. "Aizha sudah lepas isapannya, mami bawa dia ke box nya dulu." Marsha mengangguk, dam membiarkan Sofia membawa Aizha kembali ke boxnya.
Semetara Nathan, dia memilih untuk keluar. Dia duduk di taman belakang rumahnya, sembari menghisap nik0tin. Pikirannya lelah, tubuhnya juga lelah. Sikap Marsha, membuat dirinya kesal.
Puk!
Nathan terkejut ketika seseorang menepuk bahunya, saat dia menoleh ternyata itu adalah papi nya. Kenan datang dan duduk di samping putranya.
"Kenapa merokok? Kamu sudah punya anak Nathan, hilangin kebiasaan burukmu. Anak-anakmu bisa kena nantinya," ujar Kenan.
Nathan menghembuskan kepulan asap dari mulutnya, dia lalu menoleh singkat ke arah Kenan dengan tatapan kesal.
Mendengar hal tersebut, seketika Kenan mengerutkan keningnya. "Sudah berapa lama Marsha seperti ini?" Tanya Kenan dengan pemasaran.
"Sudah sebulanan lebih, bahkan sebelum acara penyambutan kelahiran si kembar." Jawab Nathan dan kembali menghembuskan kepulan asap itu.
"Dia selalu curiga ketika aku pulang terlambat, bahkan hanya terlambat lima menit saja dia tanya aku dimana selama lima menit itu. Bahkan, dia cemburu ketika aku menelpon seseorang dan tidak di dekatnya." Lanjutnya.
Kenan merasa ada yang tidak beres, dia mengetuk jarinya di atas pahanya. Sembari mengingat sesuatu.
"Nathan, besok ajak istrimu ke rumah sakit. Ketemu sama temen papi, dia dokter psikolog."
"Ha? Emang istriku gil4 apa pi! yang ada, aku di gantung sama mertuaku kalau tahu aku bawa anaknya ke sana." Seru Nathan.
Kenan berdecak sebal, ingin dia memukul kepala putranya untuk menyadarkannya.
"Istrimu sedang baby blues bodoh! gitu aja gak tau!"
"Baby blues." Gumam Nathan.
.
.
.
Pagi menjelang siang, Javier tengah duduk di halaman rumahnya. Tak seperti di kediaman Smith yang banyak sekali tukang jajanan lewat, di kediaman Alexander sangat jarang pedagang yang lewat.
"Ih, matahalina mendukung kali buat makan ketoplak." Gumam Javier dengan lesu.
"Minta abang antel ke taman kota caja lah, buat beli ketoplak." Akhirnya Javier bangkit, dia berjalan masuk berniat mencari abangnya.
Namun, Javier malah mendengar ponselnya yang berdering. Bergegas dia mendekati ponsel milik sang bunda yang ternyata ketinggalan di atas sofa.
"Ciapa cih tepon-tepon, kulang keljaan kali lacana." Gumam Javier.
Saat melihat nama sang daddy, Javier berlari ke kamar orang tuanya. Tanpa izin terlebih dahulu, seperti biasa dia langsung membuka pintu.
"Bunda ...." Di lihatnya, Zeva tengah tertidur pulas sembari menyusui pitra bungsunya.
Javier perlahan mendekat karena tak ingin membangunkan sang adik. Dia mencolek lengan sang bunda agar Zeva meresponnya.
"Heum?" Zeva membuka matanya, dan menatap bingung ke arah putranya.
"Daddy tepon-tepon telus." Bisik Javier.
"Di angkat aja sama Vier, bunda ngantuk." Lirih Zeva dan kembali memejamkan matanya.
Javier menggeser icon hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo?"
"Javier, berikan ponselnya pada bunda." Pinta Aaron.
Javier menatap sang bunda dengan raut wajah mulai kesal.
"Daddy bilang culuh bunda yang telima." Sahut Javier sembari menyodorkan ponselnya pada Zeva.
"Javier aja yang wakilin bunda, bunda ngantuk banget." Jawab Zeva tanpa membuka matanya.
Javier berdecak sebal, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan kembali menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan sebelah tangannya yang bertengger di pinggang.
"INI CUDAH JAM BELAPA?! BELUM PULANG JUGA HAH?! KELUYULAN TELUS DI LUAL! AKU KACIH KAMU WAKTU CETENGAH JAM LAGI. PULANG CEKALANG KALAU NDA MAU AKU MAMPIL KE PENGADILAN!! BIAL CIDANG CELAI CEKALIAN!!"
Zeva membuka matanya dengan tatapan melotot, bisa-bisanya putranya hafal caranya berbicara.
Sedangkan Javier, dia yang tadinya berkacak pinggang dengan sebelah tangannya beralih mematikan sambungan ponsel itu sebelum mendengar teriakan sang daddy.
"Menyucahkan cekali jadi olang tua!" Serunya sembari menatap kesal ke arah ponsel sang bunda.