
"Mbak Mentari, apa kabar?!" Zeva memeluk mentari, wanita itu kini sudah menjadi istri dari Rio.
"Baik, selamat yah atas pernikahan putrimu." Sambut Mentari.
Zeva melepaskan pelukannya, dia menatap seorang anak yang memegang ujung gaun mentari.
"Wah, siapa ini? cantik sekali," ujar Zeva sembari mencubit pipi anak itu.
"Zea, salam sama Aunty sayang."
Zeva mengambil tangan Zeva dan mengecup nya, Zeva menjadi terharu dengan anak manis seumuran dengan putra bungsunya.
"Haiihh manis sekali, berapa umurnya?" Tanya Zeva.
"Tiga tahun bulan kemarin," ujar Mentari.
Putrinya tampak malu-malu, sesekali dia menyembunyikan wajahnya pada gaun yang di kenakan sang ibu.
"Mamah, mau papah." Pintanya.
"Papah?" Mentari mencari keberadaan Rio, tetapi dia tak melihatnya.
"Suamiku mengajaknya mengobrol di taman samping," ujar Zeva.
"O-oh, Zeva sama mamah aja yah. Nanti ke papah nya." Zea tampak tak ingin, dia mau bersama papahnya.
Zeva yang melihatnya bergegas mencari sang putra, ternyata lagi dan lagi Javier tengah beradu mulut dengan Akash.
"Javier! Akash! sini sayang!" Seru Zeva.
Keduanya menghentikan celotehannya, mereka berdua menghampiri Zeva.
"Nah, Zea main sama bang Vier dan Akash yah. Ayo Vie, ajak main."
Sedangkan keduanya, wajahnya melongo menatap Zea. Bahkan, mulut keduanya sampai terbuka.
"Tantik, bunda. Buat Viel boleh?"
"Eh?!"
Akasha bergegas berlari, dia berlari mencari keberadaan sang ibu.
"MOMMY!!!"
Ayla yang sedang berbincang dengan Adinda pun langsung menatap putranya.
"Apa sih?!" Pekik AYla.
"Itu, Akash mau itu. Mau itu!" Lekik AKash, menunjuk pada Zea yang sudah di gandeng oleh Javier.
"Mau apa?! yang jelas dong!" Lekik AYla dengan kesal.
"Itu, anak tantik yang di gandeng Viel. Akash mau itu!!" Rengek Akas, sembari menarik gaun milik AYla.
"Astaga Akasshh!! itu anak orang! bukan buat rebutan! hadehh!!"
"Ekhee!! pokokna AKash mau dia!!" Lekik Akash.
"Yasudah, ayo! mommy antar."
Terpaksa, Ayla pamit pada Adinda untuk menemani putranya. Padahal dia sedang asik berbincang ria dengan sang kakak ipar.
Sementara di taman belakang, Azka tengah memandang gadis berumur 16 tahun itu. Sudah dua tahun dia tak bertemu, dirinya sangat merindukan gadis itu.
"Apa kabar?" Tanya Azka, mengusir kecanggungan.
"Baik." Cicitnya.
"Aku pikir, kamu tidak akan pernah lagi kesini," ujar Azka.
Azura, langsung memandang Azka, dia menatap pria dewasa itu.
"Aku kesini, hanya untuk menghadiri pernikahan kak Marsha." Perkataan Azura, membuat perasaan Azka tak menentu.
"Apa kamu tidak bisa tinggal disini?" Tanya Azka.
Azura menggeleng, "Daddy masih mengurus kantor nya di Jepang," ujar Azira.
Terdengar, helaan nafas dari Azka. Tak dapat di pungkiri, saat ini jantung Azka berdegup dengan kencang.
"Baiklah, tidak apa-apa. Kabari aku jika kamu sudah lulus sekolah."
"Hah?" Perkataan Azka, mampu membuat Azura bingung.
Melihat wajah bingung Azura yang begitu menggemaskan, membuat Azka tak tahan ingin mencubit pipi gembil itu.
"Kabari saja, dan ingat. Kau tidak boleh menerima pria manapun sebelum aku datang. Mengerti?"
Dengan polosnya, Azura mengangguk lucu. Azka tak tahan lagi, dia menarik gemas hidung mancung milik Azura.
"Kau menggemaskan sekali."
"EKHEM!!"
Azura dan Azka tersentak kaget, keduanya sama-sama menoleh. Terlihat Rio bersedekap dada sambil menatapnya tajam.
"Memangnya, gak boleh?" Tanya Azka.
"Tentu tidak boleh, dia putri ku!" Rio bergegas menarik Azura menjauh, membuat Azka menghela nafas pelan.
Melihat Azka yang menundukkan kepalanya, Rio menjadi tersenyum. Dia meminta putrinya untuk masuk terlebih dahulu. Lalu, Rio pun menepuk bahu Azka dengan kuat.
"Datangi om dua tahun lagi, jika kamu benar-benar bersungguh-sungguh ingin memiliki putriku."
Perkataan Rio, membuat senyum Azka terbit.
"Benarkah om? boleh saya lamar sekarang? biar gak di ambil orang?!" Sangking semangatnya, Azka malah ingin mengikat Azura dulu.
Puk!
Rio memukul lengan Azka dengan raut wajah kesal.
"Jangan! enak aja! tunggu dia lulus sekolah! untuk sekarang, fokus saja pada karirmu! mengerti?! om akan meminta mahar besar nantinya,"
"Tenang om, tanpa bekerja saya sudah kaya tujuh turunan." Pekik Azka dengan senyum mengembang.
"Saya gak mau hanya tujuh turunan, saya maunya sampai puluhan turunan. Maka dari itu, bekerja keraslah!"
.
.
.
Resepsi sudah selesai, pasangan pengantin itu memasuki kamar hotel. Marsha yang paling lelah, dia langsung merebahkan dirinya di tempat tidur tanpa melepaskan gaun besarnya.
"Mandi dulu sweety." Tegur Nathan yang kini membuka kemejanya.
"Aku lelah sekali." Lirih Marsha.
Nathan hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia bergegas membuka kemejanya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Marsha, dia melepas aksesoris rambutnya. Saat akan melepas gaunnya, dia merasa kesulitan.
"Aduh, MUA nya sudah pada pulang lagi. Lagian, kenapa tadi gak minta lepasin sekalian yah." Gerutu Marsha.
Marsha ingin menarik resleting belakang gaunnya, tapi dia kesulitan. Hingga dirinya di buat terkejut ketika merasakan kulit yang dingin menyentuh tangannya.
"Nathan."
Natah hanya diam, dia menurunkan resleting gaun Marsha. Jantung Marsh seakan berhenti berdetak saat dia merasakan hembusan nafas di bahu polosnya.
"A-aku ma-mau mandi!" MArsha bergegas memasuki kamar mandi yang sudah kosong.
Melihat Marsha berlari terbirit-birit membuat senyum Nathan muncul.
"Perasaan bukan pengantin baru lagi. Masih aja malu."
Satu jam sudah Marsha ada di kamar mandi, dia sangat malu untuk keluar.
"Bagaimana ini? Nathan sudah tidur belum yah? tunggu sebentar lagi deh, dia pasti tidur." Gumam Marsha, dia sudah kedinginan berada di kamar mandi dengan balutan handuk di tubuhnya.
Selang lima belas menit, Marsha akhirnya memutuskan keluar. Sebelumnya, dia mengintip terlebih dahulu. Dan melihat Nathan yang sudah tertidur dengan membelakangi kamar mandi.
"Pelan ... pelan ... jangan sampai menimbulkan suara." Bisik Marsha.
Marsha berjalan dengan kaki yang berjinjit, dia melangkah perlahan hingga sampai di depan lemari.
Dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Marsha membuka lemari itu. Saat melihat isinya, netra Marsha membulat sempurna.
"Yang bener aja! masa gak ada baju yang normal sih!" Pekik Marsha.
Pasalnya, baju yang ada adalah baju dinas para istri. Tidak ada baju yang lebih tertutup satu pun.
"Mana warnanya hitam dan merah semua lagi, aduh ... gimana nih." Gumam MArsha.
Marsha melirik ke arah Nathan, suaminya itu tidak terusik.
"Gak papa kali yah, kan langsung tidur." CIcit Marsha.
Akhirnya, Marsha memutuskan untuk memakai baju berwarna hitam. Selesai memakainya, perlahan dia menutup pintu lemari.
belum juga berbalik, dia sudah merasakan tangan kekar melingkar pada pinggangnya.
Degh!!
"Kamu mencoba merayuku hm? baiklah, akan aku hargai usahamu ini." Suara berat Nathan, mengalun indah di telinganya. Membuat tubuh Marsha bergetar tak karuan.
"Na-nathan, aku capek. Kamu tahu sendiri kan, aku lelah saat ini." Lirih Marsha.
"Kamu lelah? tapi, aku yang bekerja bukan?"
Degh!!
Malam itu, Nathan tak menyia-nyiakannya. Mereka kembali melakukan malam yang indah bersama.
_____