
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"
Dokter keluar dari ruang UGD, Nathan harap-harap cemas menunggu kondisi istrinya yang belum kunjung sadar setelah di bawa ke rumah sakit.
"Semuanya baik, hanya saja sepertinya istri anda mempunyai riwayat magh. Jangan sampai telat makan, usahakan untuk makan tepat waktu. Apalagi istri anda sedang hamil,"
Nathan mengerutkan keningnya,"Dok, istri saya makan terus loh, apa masih kurang asupan?"
"Kripik kentang?Mana kenyang hahaha." Canda dokter itu buat senyum Nathan mengembang.
"Nanti di arahkan ke dokter kandungan yah, untuk melihat keadaan bayinya." Nathan mengangguk, sekalian dia ingin melihat keadaan anak-anaknya.
Selepas kepergian dokter, NAthan segera mengurus semuanya. Marsha yang sudah sadar, langsung Nathan pindahkan ke kursi roda agar segera mendapat penanganan dari dokter kandungan.
"Sudah ngantri belum Than!" Tegur Sofia.
"Sudah mi, habis ini kita masuk." Sahut Nathan.
Selang beberapa lama menunggu antrian, akhirnya nomor mereka terpanggil. Bersamaan dengan seseorang yang membuka pintu ruangan dokter kandungan.
"Kan! aku bilang juga apa! Kamu sih! minta terus! jadi lagi kan! Mana dua lagi! aku tuh udah tua!"
Marsha dan Nathan mematung melihat Aaron dan Zeva keluar dari ruang dokter kandungan.
"Bunda?"
Zeva yang tadinya mengomeli sang suami seketika menatap kaget ke arah putri dan juga menantunya. Netranya beralih menatap sang besan yang sepertinya sama halnya yang terkejut melihatnya.
"E-eh, ka-kalian disini." Kejut Zeva.
"Ya aku disini mau periksa kandungan, lah bunda yang ngapain disini?" Pekik Marsha.
Zeva menggaruk keningnya, dia menatap suaminya yang menatap ke arah lain.
"Mas! ngomong! tanggung jawab kamu!!" Pekik Zeva.
Aaron menghela nafas nya, dia pun menatap putrinya dengan pandangan lesu.
"Bundamu hamil lagi,"
"APAA?!"
marsha menatap tak percaya pada Zeva, bagaimana bisa ibunya hamil lagi padahal anaknya juga sedang hamil.
"Bun, kok bisa?"
"Bisa lah! Orang ada pendonornya kok ya!" Seru Aaron membuat mereka menatap nya dengan tatapan melotot sempurna.
_____
7 bulan kemudian.
Kandungan Marsha sudah memasuki usia 9 bulan, hanya hitungan hari saja dia akan melahirkan bayi triple nya.
Nathan mulai bertambah posesif, dia tak mengizinkan Marsha banyak berjalan. Padahal, mendekati waktu lahir. Di sarankan seorang ibu hamil melakukan banyak gerakan agar lahirannya lancar.
Namun, apa kata Nathan? Dia berkata, jika istrinya akan melahirkan secara sesar. Jadi tidak butuh jalan lahir.
Seperti saat ini, keduanya tengah berdebat mengenai cara Marsha melahirkan.
"Aku maunya lahiran normal!" Kekeuh Marsha, menatap suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Apa sih Sweety, cari masalah terus. Heran! kita kan sudah bahas kemarin, kamu bakalan di operasi di tanggal ulang tahunku nanti."
"Terserah! aku mau bilang sama dokternya kalau aku mau lahiran normal! bodo amat!" Seru Marsha.
Nathan menghela nafas pelan, dia mendekati Marsha yang duduk di tepi ranjang. Lalu, menangkup wajah istrinya itu.
"Sayang, kamu itu hamil anak kembar tiga. Dokter bilang, panggul kamu itu kecil. Kamu akan kesulitan melahirkan mereka, bagaimana kalau kamu pingsan di tengah proses melahirkan?"
Marsha terdiam, dia membenarkan apa yang suaminya katakan.
"Lagian, ketiga anak kita gak peduli. Mereka mau di lahirkan dengan cara caesar atau normal. Yang mereka tahu, mereka lahir dari ibu yang hebat."
Marsha tersenyum, suaminya selalu bisa membuat dirinya tenang. "Baiklah." Lirih Marsha.
Nathan tersenyum, dia mengecup singkat kening istrinya sebelum berbalik berniat untuk memakai pakaian. Sebab, dirinya sedari tadi hanya mengenakan handuk saja.
Marsha yang melihat suaminya sedang memilih pakaian, berniat untuk membantunya. Namun, saat dirinya beranjak. Sebuah air meluncur dengan deras hingga menimbulkan bunyi yang cukup kuat.
BRESS!!
Tubuh Marsha dan Nathan seketika menegang, keduanya langsung menatap ke bawah kaki Marsha.
"Ke-ketuba ... ketubannya pe-pecah." Lirih Marsha.
Nathan bingung harus apa, dia pin berteriak memanggil Sofia.
"MIIII!! MAAAMIIII!!! MARSHA KETUBANNYA PECAH!!!" Teriak Nathan memanggil sang ibu.
Cklek!
"Apaan sih teriak ...,"
"Itu loh mi! menantunya pecah ketuban!" Pekik Nathan menunjuk ke arah Marsha.
Tanpa menunggu lama, mereka langsung berangkat ke rumah sakit.
"Nathan! bawa mobilnya jangan ngebut!" Tegur Marsha.
"Keburu kamu brojol!" Balasnya dengan panik.
Sofia membantu mengelus perut Marsha, karena dia pikir Marsha merasakan sakit.
"Udah sakit banget belum nak?" Tanya Sofia.
Marsha menggeleng, "Gak sakit Mi." Jawab Marsha.
"Gak ada rasa mules gitu?" Heran Sofia.
Marsha menggeleng dengan santai, dia hanya mengelus perutnya itu.
Sesampainya di rumah sakit, Nathan bergegas memanggil dokter. Marsha pun di pindahkan ke brankar, lalu mereka membawanya masuk menuju ruang bersalin.
"Sudah pecah ketiban yah bu?" Tanya dokter, sembari mengecek jalan lahir.
"Iya dok." Sahut Marsha.
"Sudah ada rasa mules?" Tanya DOkternya kembali.
Marsha mengangguk pelan, "Sampai sini langsung mules dok." Jawabnya.
Dokter mengangguk, dia mengecek pembukaan Marsha.
"Eh, ini sudah pembukaan delapan. Mau normal aja?"
Seketika mata Nathan melotot tak terima, "Dok! istri saya gak boleh lahiran normal, dokter kandungannya larang. Katanya panggulnya kecil. Gimana mau melahirkan, tiga lagi!" Seru Nathan. Sofia yang mendengar perkataan putranya bergegas memukul bahunya.
"Sembarangan kamu!" Sinis Sofia.
Bukannya marah, dokter itu hanya tersenyum. Bisa kok pak, bukan di larang. Tapi lebih di arahkan lahiran secara caesar. Ibunya, mau normal atau caesar?" Tanya Dokter pada Marsha.
"Normal dok." Jawab Marsha.
"Swetty!!" Pekik Nathan, dia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikir sang istri.
"Operasi aja dok! kalau normal, gak muat kepala bayinya! nanti robek gimana? kepala bayi kan lebih besar!" Pekik Nathan hingga membuat mereka semua menghela nafas pasrah. Ada-ada saja Nathan ini, pikir mereka.
Akhirnya, Marsha melakukan Caesar. Dia dia dj bius setengah badan, dan tetap sadar. Nathan berada di samping istrinya, untuk menemaninya.
Sedangkan Sofia, Kenan sudah datang menyusul. Begitu lun dengan keluarga Marsha, semuanya turut datang. Termasuk si kembar, ketika di kabari tanpa menunggu lama mereka langsung datang ke rumah sakit.
"Kamu udah cari nama buat baby nya belum?" Tanya Marsha, mengusir ketakutan suaminya. Karema sedari tadi, Nathan hanya dia. Menatap lekat lada sang istri.
"Belum, gendernya kan masih rahasia. Setelah mereka lahir. Aku akan mencarinya langsung," ujar Nathan dan mengelus kening istrinya.
Nathan mengusap wajah istrinya, dia benar-benar tak menyangka jika beberapa menit ke depan dirinya berhasil mendapatkan gelar seorang ayah.
"OEEKK!! OEEKK!!"
Tubuh Nathan menegang, mendadak dirinya tak bisa melakukan apapun setelah mendengar suara itu. Sedangkan Marsha, dia menangis haru, bayi pertama sudah mengeluarkan tangisannya.
"OEEKK!! OEEKK!"
"Sudah dua yah, tinggal satu." Seru dokternya.
Marsha tak sanggup menahan tangis saat kedua bayinya di tempatkan di d4d4 nya. Nathan yang melihat malaikat kecilnya pun menangis haru.
"Pak, ini satunya." Dokter menyerahkan bayi terakhir pada Nathan, pria itu menerimanya dan menempelkannya langsung pada d4danya.
"Kok gak nangis dok?" Bingung Nathan, pasalnya bayi yang terakhir hanya diam menatapnya sembari menggerakkan jari-jari mungilnya.
"Tadi nangis sebentar, langsung diem." Jawab sang dokter yang kini menjahit kembali perut Marsha.
Nathan mendekatkan bayi yang ada di gendongannya itu pada Marsha, seketika Marsha menciumnya dengan air mata yang membasahi pelipisnya.
Merasakan tangisan sang ibu, membuat bayi terakhir menangis keras.
"Selamat yah, sudah mendapatkan putri-putri yang cantik. Kembar, identik yah pak."
"HA?! GAK ADA YANG COWOK APA DOK?!" Pekik Nathan, bahkan dia bergegas melihat sendiri gender bayinya.
"Lah iya, cewek semua. Aduh! gak bisa satu cowok gitu yah dok?!" Seru Nathan.
Marsha pikir, suaminya tak terima anak perempuan, tetapi di liar dugaan. Nathan malah mengatakan satu hal yang membuat Marsha melotot tak percaya.
"Waduh, niatnya habis ini gak bikin lagi. Gak tega liat istri, eh tapi kalau gak ada yang cowok. Gak papa deh yah, buat sekali lagi. Hehe,"
"Nathan!" Geram Marsha, jahitannya lagi di huat dan Nathan malah ingin menghamilinya lagi.
"Apa?" Tanya Nathan dengan polosnya.
Para dokter hanya tertawa melihat tingkah kedua suami istri itu.
____
Hari ini penyelesain karya ini yah, jadi besok. Buat baru🥳🥳🥳