
Berhari-hari sudah Zeva tinggal di rumah mertuanya, dan selama dirinya di sana. Rio tak lagi mengirimkan paket aneh padanya, mungkin karena Rio belum mengetahui keberadaannya. Atau justru, pria itu tengah menyiapkan rencana yang lebih bahaya untuk Zeva.
Zeva belum merasa tenang, bisa saja Rio datang kembali dan membuat hubungannya dan sang suami kembali retak.
"Zeva, kau sedang apa?" Seseorang menepuk bahunya, membuat Zeva tersadar dari lamunannya.
"Eh, kakak ipar." Sahut Zeva.
Adinda sudah berdiri lama di samping adik iparnya yang berada di ayunan kayu. Namun, Zeva tak merespon kehadirannya dan membuat Adinda memilih menepuk bahu adik iparnya itu.
"Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Adinda dan turut duduk di sebelah Zeva.
Ayunan itu bergerak pelan, semilir angin menerpa lembut wajah mereka.
"Enggak, enggak ada," ujar Zeva dengan senyum di bibirnya. Dia menutupi kegelisahannya di hadapan Adinda.
"Apa Aaron kembali menyakitimu?" Tebak Adinda.
Zeva segera melambaikan tangannya, "Enggak! Enggak! Mas Aaron sudah kembali seperti dulu, dia begitu perhatian dan baik. Selama sebulanan ini, mas Aaron benar-benar mengobati Anger issue nya. Dia lebih bisa menahan emosi, dan ketika dia marah. Dia akan memilih pergi, untuk menenangkan diri dari pada meluapkannya." Terang Zeva
"Oh, syukurlah. Aku tidak akan terima kalau Aaron menyakitimu, bagaimana pun juga ... kamu perempuan. Kekuatan perempuan tidak sebanding dengan kekuatan pria. Aku tak membenarkan perbuatan di masa lalu, tapi kekerasan bukan solusi segalanya," ujar Adinda.
Mendadak, Zeva murung kembali. Melihat perubahan ekspresi Zeva. Adinda pun mengelus bahu adik iparnya itu.
"Ada yang kamu pikirkan? ceritakanlah, siapa tahu kakak bisa memberikan solusi," ujar Adinda.
"Haaahh," Zevanya menghela nafasnya pelan, "Kak, apakah aku pantas menjadi istri dari mas Aaron?" Tanya Zeva dengan sendu.
"Tentu saja pantas, kenapa tidak?" Sahut Adinda cepat.
"A-aku merasa tidak pantas, dia lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Namun, aku tidak mau mas Aaron pergi dariku. Apa aku egois? kenapa mas Aaron harus memiliki istri sepertiku?" Lirih Zeva.
Adinda merasa, adik iparnya sedang berada di titik terendahnya. Dimana wanita itu tak lagi merasa pede dengan dirinya dan merasa tak pantas untuk di miliki.
"Syuutt, kata siapa? Kamu pantas, kamu pantas mendapatkan suamimu kembali. Kamu berhak mendapatkan pintu maaf dari suamimu, jangan memandang rendah dirimu. Cukup kamu mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Rumah tangga kalian pasti akan baik-baik saja," ujar Adinda berusaha menenangkan Zeva.
"Bunda."
Zeva menghapus air katanya, dia tersenyum lebar menatap Marsha yang mendekatinya dengan tatapan sendu.
"Bunda nanis?" Tanya Marsha setelah berada di hadapan Zeva.
"Enggak, bunda enggak nangis. Marsha ada apa cari bunda hm?" Zeva mengelus pipi putrinya.
Marsha tak menjawab, justru nafasnya terdengar cepat. Mata jernihnya berkaca-kaca, serta hidung yang kembang kempis.
"Hei, kenapa?" Bingung Zeva.
"Hiks ... bunda nanis hiks ... bunda nanis." Air mata Marsha tak terbendung lagi, dia pun akhirnya menangis. Matanya menyipit di sertai dengan bibir yang melengkung ke bawah.
Adinda dan Zeva bingung, mereka berusaha untuk menenangkan Marsha. Namun, tatapan Adinda justru terfokus pada kedua bocah yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Ariel, Azka." Panggil Adinda.
"HIKS HUAAA!!"
"E-eh?!"
Bukan hanya Marsha yang menangis, bahkan si kembar pun menangis. Apakah ketiganya memiliki ikatan batin? satu menangis yang lain pun turut menangis?
"Kenapa jadi begini sih?" Bingung Adinda sembari memijat pelipisnya, kepalanya sangat pusing mendengar tangisan tiga bocah itu.
***
Aaron tengah berada di sebuah pelelangan, dia bersama Asistennya Fajar mengikuti pelelangan tersebut.
"Selamat pagi , hari ini saya akan membuka pelelangan. Di samping saya, sudah terdapat cincin bertahtakan berlian. Cincin model ini hanya ada dua di dunia, cincin yang di desain khusus sebagai lambang cinta yang tak terhingga. Cinta yang tulus, dan cinta yang kuat."
Cincin itu tampak sederhana, tetapi berliannya sangat langka. Di percaya, cincin itu katanya pernah di pakai oleh seorang perempuan yang mencintai suaminya hingga maut menjemput. Aaron bukan mempercayai hal seperti itu, tetapi dirinya ingin memberikan cincin itu sebagai hadiah kehamilan istrinya.
"Saya akan membuka pelelangan ini, dengan membuka harga delapan ratus juta!"
TOK! TOK!
Palu sudah terketuk, para pelelang sudah mengajukan harga.
"Sembilan ratus juta!" Seru seseorang sembari mengangkat papan nomornya.
"Sembilan ratus lima puluh juta!"
"Cincin begitu doang, ampe ratusan juta. Mereka lihatnya dari apanya sih?" Batin Fajar.
"SEMBILAN RATUS JUTA! ADA LAGI?" Seru MC.
Srek!
Aaron mengangkat papan nomornya, netranya menatap datar ke arah MC.
"Satu miliar."
"SATU MILIAR! WOW! APA ADA LAGI? SAYA HITUNG SAMPAI TIGA, SATU ... DUA ... TI ...,"
Semuanya diam, tak ada yang kembali mengangkat papan nomor mereka. Aaron pun merasa sudah menang, tak akan ada yang mau membayar cincin semahal itu.
" SATU KOMA LIMA MILIAR!"
Seketika semua orang menoleh ke belakang, termasuk Aaron. Dia menatap seorang pria yang berjalan menuju kursi para lelang.
Tersadar dari keterkejutan, MC segera mengetuk palunya
"SATU KOMA LIMA MILIAR! CINCIN INI TERJUAL SEHARGA SATU KOMA LIMA MILIAR!" Seru sang MC.
"SELAMAT UNTUK TUAN RIO EVANDRA YANG BERHASIL MEMENANGKAN LELANG INI!"
Aaron mengepalkan tangannya, dia tak menduga jika Rio akan datang ke pelelangan ini juga.
Rio menatap kemarahan Aaron dari atas panggung, dia menyeringai singkat sesaat setelah tatapan mereka bertemu.
"Selamat tuan, ini barang anda." MC itu memberikan cincin itu pada Rio. Rio melihatnya dengan tersenyum puas.
"Kalau kami boleh tahu, apakah cincin ini untuk kekasih atau istri?" Tanya MC.
Rip tersenyum, dia mengambil mic yang MC sodorkan. Netranya menatap tepat ke arah mata Aaron yang menatapnya nyalang.
"Cincin ini, saya beli khusus untuk wanita pujaan hati saya. Wanita yang sangat saya cintai," ujar Rio.
"Apakah wanita itu adalah istri anda?" Tanya MC.
"Belum, tapi sebentar lagi akan menjadi ostri saya. Saya harus berjuang lebih keras untuk mendapatkannya, karena kami ...,"
Rio melempar senyum sinis pada Aaron, "saling mencintai."
Aaron segera beranjak pergi dari sama dengan penuh emosi, Fajar pun bergegas mengikuti bosnya yang kembali bertemu saingannya.
Aaron berjalan menuju parkiran, hatinya terasa panas ketika kembali melihat mantan selingkuhan istrinya.
"Cincin gitu doang, kenapa malah ngambek." Batin Fajar, kebingungan menyertai pikirannya.
Aaron sampai di tempat dimana mobilnya terparkir, saat dirinya memggapai pintu mobil. Seseorang, memanggil dirinya.
"AARON!"
Gerakan tangan Aaron terhenti, dia segera berbalik dan menatap tajam pria yang dulu menghancurkan rumah tangganya.
"Long time no see, sahabat! eh, bukan sahabat yah? Lama tak jumpa, suami pacarku."
BUGH!!!
.
.
.
***
Bantu like dan komen yah, author lagi ngajuin kontrak. Biar gak tergiur dengan yang lain😭 banyak banget rintangannya loh mempertahankan nih karya😭 Abis tawarannya memggiurkan bange jadi karena takut authornya khilaf yah😌 jadi di kontrakin aja deh biar gak mabur🥶
Minta dukungannya kawan, selama ada regulasi baru. Banyak yang di tolak🥺, semoga ini enggak yah dan cepet biar kita cepet juga selesai kannya.
Maaf kalau author mampu up seharinya 2 bab😔
JANGAN LUPA LIKENYA, KOMENNYA.
TERIMA KASIH SUDAH MENDUKUNG🥳🥳
Semoga semoga sehat selalu orang baik🥰