
"Dia mahasiswaku,"
Bagai di sambar petir Claudia mendengar dari mulut suaminya sendiri, dia tak sanggup untuk mendengar lebih lanjut.
"Aku menyukainya, sejak pertama kali kita bertemu. Aku mencoba melamarnya pada orang tuanya, tetapi lamaranku di tolak sebab dia tengah proses bertunangan dengan seseorang." Terang Mario.
Claudia memejamkan matanya, lalu dia menghapus kasar air matanya yang terus mengalir.
"Terus, kenapa kamu masih menyimpan fotonya hah?! apa sampai saat ini, kamu masih mencintainya?" Sentak Claudia dan kembali membuka matanya.
Dengan ragu, Mario mengangguk. Dia tak ingin menyembunyikannya lagi, bahwa dia masih mencintai mahasiswinya.
Perasaan Claudia hancur, dia menatap suaminya dengan lekat.
"Lalu, aku ... cinta kamu padaku itu palsu?" Tanya Claudia dengan suara bergetar.
Mario menggeleng, dia ingin meraih tangan sang istri. Namun, Claudia malah menepisnya dengan kuat.
"Tidak, kamu menempati ruang lain dalam hatiku. Aku tetap mencintaimu Claudia, percayalah itu. Aku ... aku sudah berusaha untuk melupakan cinta ku padanya. Tapi, sangat sulit." Lirih Mario.
Claudia menatap tak percaya pada suaminya. Lalu, dirinya beranjak pergi kembali ke kamarnya. Meninggalkan Mario yang terdiam di ruang kerjanya merenungi kesalahannya.
Claudia memakai cardigannya, lalu dia mengambil tas dan juga ponselnya dan bergegas keluar dari rumahnya.
Mendengar suara mobil, Mario buru-buru keluar. Dia melihat istrinya pergi dengan mobilnya.
"CLAUDIA! CLAUDIA!! MAU KEMANA KAMU!!" percuma saja, mobil Claudia sudah pergi jauh.
"Argh!! si4l! kenapa harus ketahuan sih! ck,"
Claudia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, air matanya tak berhenti mengalir.
"Tega sekali dia, hatiku sangat sakit. Apa dia lupa, jika aku tengah hamil anaknya. Kenapa dia masih memikirkan wanita itu, sebenarnya siapa dia." Gumam Claudia dengan perasaan yang sedih.
Mobil Claudia terparkir di halaman Alvarendra, dia bergegas keluar dan mendekati pintu.
Saat Claudia akan memencet bel, seseorang memanggilnya dari arah belakang.
"Claudia?"
Claudia bergegas berbalik, air matanya kembali turun saat tahu siapa yang memanggilnya.
Sofia dan Kenan yang baru saja pulang dari kediaman Alexander tentu saja di buat terkejut dengan kehadiran Claudia di rumah mereka saat tengah malam Seperti ini.
"Mami." Isak Claudia.
Claudia memeluk erat Sofia, dia tumpahkan segala tangisnya di pelukan sang ibu. Sedangkan Sofia, dia menatap suaminya dengan raut wajah yang bingung.
Sofia mengajak Claudia masuk, angin malam tak baik untuk ibu hamil. APalagi, putrinya sedang hamil muda. Sofia khawatir akan terjadi sesuatu dengan kandungan sang putri.
"Ada apa? kenapa kamu malam-malam kesini, dan menangis seperti ini? dimana Mario? kenapa dia membiarkanmu keluar sendirian?" Tanya sofia dengan lembut ketika mereka sampai di ruang tengah.
Kenan menyodorkan air pada Claudia, putrinya itu menerimanya dengan baik. Di rasa sedikit lega, barulah Claudia bercerita.
"Tadi, aku sudah tidur. Dan saat aku terbangun, aku mencari mas Mario. Dan saat aku menemukannya, dia ...,"
Claudia menceritakannya sedetail mungkin, tentang masalah yang terjadi pada rumah tangganya.
"Kurang ajar!" Geram Kenan.
"Seenaknya dia mencintai perempuan lain, bahkan sampai menyimpan fotonya."
Claudia masih menangis sesenggukan di pelukan sang ibu, sampai dirinya perlahan pun tenang.
"Sudah tenang?" Tanya Sofia.
Claudia mengangguk, dia menghapus air matanya. Matanya terlihat sangat sembab.
"Oh ya, mami habis dari mana? kenapa pulangnya malam sekali?" Tanya Claudia.
Sofia menatap suaminya, keduanya saling tatapan membuat Claudia menatap mereka bingung.
"Tadi kami habis, dari rumah temen papi kamu. Iya, putri mereka sedang hamil. Jadi, kami berniat menjenguknya," ujar Sofia dengan alasan yang masuk akan untuk putrinya.
Claudia mengangguk pelan, dia menatap lantai atas. Tepat pada pintu kamar Nathan yang masih tertutup.
"Nathan gak ikut?" Tanya Claudia dengan suara seraknya.
"Dia sedang ada di rumah temannya, biasa. Adikmu kan selalu jarang di rumah," ujar Sofia.
Claudia mengangguk mengerti, adiknya memang jarang di rumah. Apalagi, semenjak Claudia menolaknya. Nathan berubah 180° padanya, dan jarang sekali ada di rumah. Bahkan, adiknya itu sama sekali tak menyapanya.
"Ayo, mami antar ke kamarmu. Kasihan bayimu, tidak usah pikirkan hal lain. Besok kita bicarakan lagi." Ajak Sofia, membayar putrinya ke kamarnya.
"Nathan! geser sana, gerah tau!" Kesal Marsha.
Apalagi, semenjak hamil Marsha gampang sekali merasakan gerah.
"Lo enggak kasihan sama gue? gue lagi sakit," ujar Nathan dengan raut wajah memelas.
Marsha memutar bola matanya malas, akhirnya dia hanya pasrah di peluk Nathan seperti itu.
.
.
.
Pagi hari, di saat Claudia dan kedua orang tuanya sedang sarapan. Terdengar suara mobil terhenti di halaman rumah mereka.
Ketiganya menghentikan makan mereka saat tahu siapa yang datang.
"Claudia, ayo kita bicara." Pinta Mario.
Nafsu makan Claudia menghilang, dia ingin beranjak pergi. Namun, Mario malah menghentikannya.
"Lepaskan! urus mahasiswa yang kamu cintai itu!!" Bentak Claudia.
"Kamu salah paham, aku memang masih mencintainya. Tapi, aku juga mencintai kamu! aku berusaha untuk menghapus rasa itu, kamu ngertiin aku dong! Menghilangkan rasa cinta, gak semudah itu Clau!!" Sentak Mario.
"MARIO!"
Suara berat milik Kenan membuat Mario berhenti memaksa Claudia. Netranya menatap ayah mertuanya yang menatapnya tajam.
"Clau, masuk ke kamarmu!" Titah Kenan.
Claudia bergegas ke kamarnya, meninggalkan Mario yang akan di sidang oleh Kenan.
"Kau telah menyakiti putriku." Geram Kenan.
"Papi gak berhak ikut campur! ini urusan Mario dengan Claudia! semuanya hanya salah paham, aku memang masih menyimpan fotonya. Foto itu ada dari sebelum aku menikahi Claudia. Aku Lupa menghapusnya, tolong mengerti aku!"
Kenan mengepalkan tangannya, dia merasa marah dengan apa yang Mario ucapkan. Bergegas, dirinya mendekati Mario dan mencengkram kerahnya.
"Yang kamu sakiti itu putriku! jika kamu masih mencintai wanita lain, bagaimana bisa kamu menikahi putriku saat itu hah?! Pergilah! dan kembali saat hatimu hanya terisi nama putriku!" Sentak kenan.
Mario melepaskan cengkraman Kenan, dia balik menatap tajam Kenan. Mario pun memutuskan untuk pulang, dan berniat akan kembali untuk membujuk istrinya pulang.
Brugh!
Mario berjalan tergesa-gesa hingga menabrak Nathan yang sepertinya baru saja sampai. Tanpa menyapa Nathan, MAroo bergegas memasuki mobilnya. Raut wajahnya, terlihat sangat marah.
"Ada apa dengannya?" Batin Nathan, menatap bingung ke arah Mario yang pergi dari sana dengan mobilnya.
Nathan tak memperdulikan hal itu, dirinya lalu memasuki ruang makan. Matanya melihat sang mami yang sepertinya sedang banyak pikiran.
"Mi." panggil NAthan.
"Eh, kamu sudah pulang? Apa kamu sudah membaik?" Tanya Sofia menghampiri putranya.
Nathan mengangguk singkat, "Aku ada ujian di sekolah, aku harus berangkat." TErang Nathan.
"Kalau kamu belum sehat betul, sebaiknya jangan di paksakan. Sekolah itu milik kakekku, biar mami yang bicara padanya." Bujuk Sofia, dia mengkhawatirkan kondisi putrinya. Mudah baginya mengizinkan Nathan membolos sekolah, karena sekolahan Nathan. Milik keluarga Rafassyah.
"Tidak apa-apa mi, aku sudah membaik. Lagi pula, sepulang sekolah. AKu ingin menemani Marsha untuk periksa,"
"Siapa Marsha?!"
Degh!!
Nathan terkejut dengan suara itu, dia berbalik dan menatap kaget ke arah Claudia. Mengapa kakaknya bisa ada di rumahnya, sepagi ini?
"Siapa Marsha?" Tanya Claudia.
Raut wajah tegang Nathan berubah menjadi datar setelah melihat Claudia yang berjalan mendekat padanya.
"Siapa Marsha, tidak ada urusannya dengan kakak."
Claudia akan kembali berbicara, tetapi mulutnya kembali tertutup rapat saat matanya melihat sebuah tanda merah di leher adiknya.
"Nathan, kamu habis dari mana hah?! kenapa ... kenapa bisa ada tanda merah itu di lehermu!!"
____