
Zeva mendekati suaminya yang sedang duduk di ranjang sambil memangku laptopnya, dengan ragu-ragu Zeva pun memberanikan dirinya.
"Ma-mas, aku mau izin ke mini market sebentar."
Tarian jari Aaron di atas keyboardnya terhenti, dia mengangkat wajahnya dan menatap tajam tepat di mata sang istri.
"Mini market? untuk apa? semua kebutuhan ada di rumah, apa yang perlu kamu beli lagi?" Selidik Aaron.
Zeva meremas jarinya, hal itu membuat Aaron semakin curiga dengan tingkah istrinya.
"A-aku ngidam mi korea, di rumah enggak ada. Jadi aku pergi keluar sebentar saja, yah." Zeva kembali memberi alasan lain, dengan harapan Aaron akan mengabulkannya.
Aaron menyingkirkan laptop dari atas pangkuannya, dia beranjak dari kasur dan meraih kunci mobilnya.
"Yasudah, ayo aku antar." Ajak Aaron.
Zeva panik, dia ingin bertemu dengan Rio dan menyelesaikan semuanya. Jika Aaron ikut, dia akan menghancurkan rencana Zeva.
"Aku sendiri aja, gak papa. Mas pasti lagi sibuk kan, kembali lah bekerja." Ujar Zeva dengan tersenyum canggung.
Aaron memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, dia berbalik menghadap istrinya dengan tatapan datar.
"Apa yang kanu sembunyikan dari ku?" Tanya Aaron.
Seketika, Zeva menelan ludahnya kasar. "A-apa? enggak ada, aku hanya ingin sendiri saja." Ujar Zeva dengan gugup.
Aaron mengeluarkan tangannya dari dalam saku celananya. Lalu, dia menyerahkan sebuah kertas yang entah dia temukan dimana.
"Kamu mau bertemu dengan Rio?" Tanya Aaron dengan ekspresi dingin.
Mata Zeva terbelalak kaget, sekaligus takut dengan tatapan suaminya. Dari mana suaminya dapat kertas yang ia simpan itu? Zeva merutuki dirinya, kenapa kertas itu tidak dia bulan sedari awal.
"Mas, ini tidak yang seperti kamu pikirkan. AKu hanya ingin hidup tenang, aku ingin menemuinya untuk terakhir kali. Setelah itu, sudah! Kita akan tenang." Ujar Zeva.
Aaron melangkah mendekati Zeva, dia menatap lekat mata sang istri. "Kamu pikir, aku tidak tahu jika selama ini RIo mengancam mu? di mulai dari memberikan foto tentang kalian, dan surat ini?"
"Mas. ...." Zeva benar-benar tak menyangka jika Aaron mengetahuinya.
"Aku langsung memasang CCTV di kamar, setelah kamu di kabarkan hamil. Aku bernisiatif memasangnya agar aku bisa memantaumu, takut terjadi apa-apa dengan kehamilanmu sekarang. Tapi, justru yang aku dapat adalah sebuah kejutan."
Zeva meraih tangan Aaron, dia benar-benar takut Aaron berpikir negatif tentangnya.
"Aku tidak mau kamu marah padaku, aku takut. Aku takut kamu pergi meninggalkan aku sama seperti saat aku hamil Marsha." Isak Zeva.
Aaron memeluk istrinya, seketika tangisan Zeva terpecah. Keduanya kini saling menguatkan cinta mereka.
"Maafkan mas, kali ini. Biarkan mas yang menemuinya, dan memberinya pelajaran berharga. Kita berjuang bersama-sama hm." Zeva menanggapi perkataan suaminya dengan anggukan kepala, sedangkan tangannya mengeratkan pelukannya pada perut sang suami
.
.
.
Rio telah menunggu kedatangan Zeva, tangannya memegang sebuah kotak berwarna biru yang di isi oleh cincin berlian yang dia beli.
"Setelah ini, kita akan hidup bahagia Anya. Aku akan kembali memasangkan cincin ini di jarimu, dan kita kembali merajut hubungan kita." Gumam Rio.
Rio sudah memesan tempat private untuknya dan Zeva, bahkan sudah ada lilin serta buket bunga mawar merah.
Rio melirik ke arah arlojinya, jam menunjukkan pukul tujuh malam.
Sedangkan di depan kafe, seorang pria berdiri tegak. Tatapannya menajam, tangannya terkepal disisi tubuhnya. Rahangnya mengeras di sertai matanya yang memerah.
Dengan tatapan penuh kilatan marah, dia berjalan memasuki kafe itu.
"Tuan, apakah tamu anda sudah datang?" Tanya seorang pelayan yang sedang menyiapkan kue berbentuk hati.
"Belum, mungkin sebentar lagi dia da ...,"
BRAAK!!
Rio sontak berdiri, setelah menyadari siapa yang menggebrak mejanya. Yah, mantan sahabatnya berdiri di hadapannya.
Kerah kemeja Rio di tarik oleh Aaron, sehingga kini netra keduanya berjalan sangat dekat.
"Sudah ku peringatkan, jangan ganggu istriku! Don't touch my wife! Tetapi kamu malah mengirimnya ancaman-ancaman menjijikkan itu! Kamu pikir aku bodoh?! apa kamu pikir bahwa aku tidak tahu apa yang telah kamu perbuat pada istriku hah?! KAMU MENGANCAMNYA BR3NGS3K!!".
Bukannya balik marah, Rio malah tersenyum Entah mengapa, raut keterkejutannya sudah hilang entah kemana.
" Oohh, sudah tahu. Baguslah, rencanaku akan semakin berjalan lancar tanpa membuatku sulit." Ujar Rio dengan tatapan datar.
"Kau tahu, bukan Zeva yang aku tunggu. Tapi kau." Ujar Rio menatap lekat pada mata sahabatnya.
Derrt!!
Dertt!!
Ponsel Rio berdering, dia segera mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Sebelum mengangkat nya, dia lebih dulu melihat siapa yang menelponnya.
Senyuman menyeringai terpatri di bibirnya, dia segera menggeser icon hijau dan menempelkannya pada daun telinga nya.
"Bagaimana? apa semua aman?" Tanya RIo dengan ekspresi mengejek ke arah Aaron yang terdiam dengan bingung.
"Beres bos."
"Bagus."
"Jaga dia sampai aku datang."
DEGH!!
Seketika Aaron baru tersadar dengan arti kata dan ekspresi mantan sahabatnya itu. Mengetahui rencana Rio, Aaron lemas seketika.
"Zeva." Lirih Aaron.
Melihat tatapan kosong Aaron, Rio pun angkat suara. "Kamu tahu apa hal yang paling Zeva tidak sukai? keributan. Dia pasti berniat menyusulmu dan ...,"
Ponsel Aaron berdering, ternyata Adinda yang menelponnya. Aaron menatap Rio sebentar, lalu dia memutuskan untuk mengangkatnya.
"Ha ...,"
"HALO! AARON! ISTRIMU DI BAWA PERGI!" teriak Adinda.
"Ha? pergi, pergi maksudnya?" Bingung Aaron, tatapannya mengarah pada Rio yang malah menyeringai terhadapnya.
"Dan, aku menculiknya." Ujar Rio dengan penuh kemenangan.
Ponsel Aaron terjatuh, tangannya terkepal kuat. Dia berniat akan memukul wajah Rio dengan keras, dia sudah yakin jika itu adalah ulah dari Rio.
"KAU!! HEI!! LEPASKAN!! LEPASKAN!!"
Namun, sayang sekali. Rio sudah merancang dengan rapih, dia mendekat pada Aaron yang di pegang oleh para anak buah yang sudah dirinya siapkan sejak tadi.
"Apa tadi lo bilang, 'jangan berpikir aku itu bodoh?' sayangnya lo gak sepintar itu Bro!"
Rio mengambil buket bunga dan juga kotak cincinnya. Sebelum beranjak pergi, dia lebih duku mendekati Aaron yang sedang berusaha lepas dari cengkraman Rio.
"Bye payah." Rio memberi salam perpisahan pada Aaron. Tangannya menepuk bahu Aaron dengan pelan.
"Kami akan kembali dengan keluarga kecil kami." Bisik Rio dan pergi meninggalkan Aaron yang berusaha lepas dari anak buah Rio.
"RIO!! SAMPAI KAU MENYENTUH ISTRIKU ... AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!! ARGH!!"
"LEPASKAN!!"
Lima lawan satu, tentu saja Aaron kalah. Dia harus berpikir keras, bagaimana caranya dia bisa lepas dari mereka.
"AARON!!"
Aaron mendengar suara Jacob, seketika dia langsung merasa lega. Orang-orang yang menahannya segera berlari karena Jacob membawa banyak polisi.
"Kita pulang sekarang!" Ajak Jacob.
"Istri Aaron bang! Aaron harus selamatkan istri Aaron," ujar Aaron berusaha lepas dari cengkraman Jacob.
"Percuma! kamu akan menghabisi emosimu saja. Lebih baik kita pulang dan memikirkan solusinya sebelum matahari terbit!"
Aaron menggeleng lemah, Zeva adalah kekuatannya. Air matanya pun luruh, Zeva bukan hanya membawa dirinya sendiri. Tapi, buah hati mereka.
"Istriku sedang hamil bang, dia sedang mengandung. Kalau Rio menyakiti istriku, bagaimana. Zeva dalam bahaya, aku gak bisa tenang."
"Abang tahu, makanya kita pulang dulu. DI rumah, Marsha berteriak dan menangis keras. Temanmu itu licik, dia memiliki banyak cara yang kita tidak bisa tebak. Bisa saja, jika kita gegabah. Dia malah menyakiti istrimu."
.
.
.
Niat mau up banyak, tapi janji jangan skip like yah🥲 kita up sampai permasalahan selesai. Mungkin LIMA bab, TOLONG JANGAN SKIP LIKE😭