
Andre keluar dari mobilnya, dia menatap gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Di gendongannya, sudah ada Aizha. Bayi gembul yang memakai dress bayi berwarna biru dengan bando di kepalanya membuat kesan gemoy padanya.
"Aizha, senang jalan-jalan sama opa?" Tanya Andre menatap Aizha yang tengah memperhatikan tempat yang menurutnya asing.
"Tuan, apa kami harus membawa stroller baby Aizha juga?" Tanya seorang baby sitter yang Andre bawa.
"Oh iya, kalian berdua. Bawa stroller nya, dan jangan sampai ada barang Aizha yang tertinggal." Pinta Andre pada keduanya.
Andre melangkah memasuki perusahaan, wajahnya terlihat sangat datar. Namun, semua karyawan perusahaan itu langsung memfokuskan tatapan mereka pada Aizha.
"Bayi itu lincah sekali,"
"Kau benar, dia lincah dan cantik."
"Ku dengar, pria itu adalah keluarga Rafassya. Pembisnis sukses di indonesia,"
"Oh iya, aku pernah melihat dia di berita. Apa bayi itu cucu nya?"
"Cucunya sudah besar, apa mungkin anak cucunya?"
Andre hanya menghiraukan obrolan mereka, selama itu tak mengganggunya. Sementara Aizha, dia menghentakkan kaki gemuknya kala seorang karyawan melambaikan tangan padanya. Anak itu benar-benar bisa membuat orang jatuh hati padanya hanya dalam sekali lihat.
"Hoayaaa!!"
"Astaga!! Lucunyaaa!!" Pekik seorang karyawan wanita.
"Ehee!!" Aizha tertawa saat Andre memasuki lift.
Saat pintu lift tertutup, Andre membenarkan posisi Aizha di gendongannya. Dia menciumi pipi bayi cantik itu dengan gemas.
"Sepertinya Aizha senang yah di ajak jalan-jalan hm?"
Aizha memasukkan jarinya ke dalam mulutnya, membuat Andre spontan langsung mengeluarkannya.
"Berikan biskuitnya." Pinta Andre pada baby sitter yang ia bawa.
Baby sitter itu menyerahkan biskuit bayi pada Aizha, agar bayi itu tak lagi memasukkan jarinya.
Ting!
Pintu lift terbuka, Andre kembali melangkah keluar. Aizha tak menanggapi para karyawan yang ada di lantai ini, sebab dia sibuk memakan biskuit bayi miliknya.
Langkah Andre terhenti di meja seorang sekretaris, membuat seorang karyawan pira segera berdiri.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Tanya nya.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Erwin Aldrich. Apakah dia ada di ruangannya?" Tanya Andre.
"Apa sudah memiliki janji?" Tanya Sekretaris itu.
"Bilang padanya, jika Andre Rafassyah datang menemuinya." Jawab Andre, dengan tatapan datar.
"Ba-baik."
Sekretaris itu langsung menghubungi atasannya, tak butuh waktu lama atasannya mengangkat. Setelah beberapa menit mengobrol, sekretaris itu langsung menutup telponnya.
"Silahkan langsung ke ruangannya tuan, tuan Aldrich menunggu di ruang CEO. Dari sini lurus saja, ruangannya ada di sebelah kanan."
Andre mengangguk, tak lupa dia mengucapkan terima kasih. Lalu, Andre pun segera bergegas menuju ruangan yang sekretaris itu maksudkan.
Cklek!
Terlihat, seorang pria seumuran dengan Andre tengah duduk di kursi kebesarannya. Matanya yang tadinya fokus menatap laptop kini beralih menatap pintu.
"Andre?!" Serunya sembari beranjak dari duduknya.
Raut wajah Andre berubah, dia tersenyum sembari melangkah masuk mendekati pria itu.
"Kau membawa cucu rupanya?!" Seru Erwin.
Andre dan Erwin berjabat tangan, keduanya saling melempar senyum. Erwin Aldrich, merupakan teman lama sehingga Andre akrab dengannya. Bertahun-tahun mereka tak bertemu, dan kini mereka kembali bertemu.
"Cucu Arash?" Tebak Erwin, karena dia mengingat anak pertama dari Andre.
Andre menggeleng, "Bukan, ini cucu Sofia."
"Apa? bukankah cucu dari sofia baru berumur ..."
"Nikah muda." Seru Andre membuat Erwin terkekeh.
Erwin mengajak Andre duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan itu, kedua baby sitter pun duduk di sofa depan keduanya. Sementara Aizha, dia di biarkan duduk di pangkuan Andre.
"Bis ... pa!! bis!!" Seru Aizha sembari menarik dasi Andre. Lalu menunjukkan tangan mungilnya.
"Oh habis, minta pada kakak." Pinta Andre.
Seperti mengerti apa yang di maksudkan sang opa, Aizha menoleh pada kedua baby sitter itu. Dia mengadahkan tangannya sembari dengan tatapan lucunya.
"Nta! Nta!" Seru Aizha.
Kedua baby sitter itu speechless sata melihat bayi itu meminta biskuit pada mereka. Tanpa berlama-lama, mereka pun langsung mengambilkan biskuit untuk Aizha.
Setelah menerimanya, Aizha menatap keduanya sebelum memakannya. "Aci."
Sontak, keempatnya langsung terdiam dengan tatapan terkejut. Bahkan, Andre tak menyangka dengan apa yang Aizha katakan tadi. Sudah berapa lama dia melewati perkembangan cicitnya itu?
Andre yang masih terkejut menatap temannya itu, "Makasih." Jawab Andre.
Erwin terdiam, tiba-tiba tatapannya menyendu. Dia mengambil tangan Aizha yang tak memegang biskuit dan menggenggamnya.
"Cicitmu pintar sekali," ujar Erwin.
"Ya, dia sangat pintar. Kau tahu, dia memiliki kembaran. Kedua kembarannya ada di rumah, sementara dia yang aku bawa."
"Ha? Kau memiliki cicit kembar tiga?!" Lekik Erwin.
Dengan bangga, Andre mengangguk. Dia menunjukkan tiga jarinya sembari berbisik, "Perempuan semua."
Erwin membulatkan mulutnya, raut wajahnya terlihat terkejut. "Serius?! Kau memiliki keturunan kembar?! Wah, Cucumu menikah dengan putri keluarga mana?" Tanya Erwin dengan heboh.
"Alexander,"
Kening Erwin mengerut, dia mengingat nama itu. Kalau dirinya tidak salah ingat, Erwin pernah bertemu dengan Aaron.
"Aaron? Putri Aaron? Apakah Marsha?" Tanya Erwin.
"Kau mengenalnya?" Bingung Andre.
"Haish ... aku pernah bertemu dengan Aaron saat pertemuan pesta bisnis. Dia membawa putrinya, aku sempat menawarkan cucu sulungku padanya. Namun, Aaron berkata jika putrinya masih ingin fokus kuliah. Dari awal aku melihat putrinya, dia perempuan yang unik menurutku. Itulah mengapa aku tertarik menjodohkan mereka dengan cucuku."
"Haha! Cucuku pemenangnya!" Seru Andre membuat Erwin menatap kesal ke arahnya.
"Pa!! Mimi." Seru Aizha sembari memukul pelan lengan Andre.
Salah satu baby sitter itu bergegas memberikan botol susu pada Aizha. Bayi itu pun menerimanya dengan baik, dia mencari posisi ternyaman dalam pangkuan sang opa.
Cklek!
Andre dan Erwin sontak mengalihkan pandangan mereka, keduanya menatap ke arah ambang pintu. Terlihat, seorang bocah berumur lima tahun tengah berdiri mematung di ambang pintu.
"Dia ...,"
"Dia cucu bungsuku," ujar Erwin. Lalu, dia beranjak berdiri menghampiri cucunya yang masih berdiri di ambang pintu.
Erwin membawa cucunya mendekat pada Andre. Sehingga, Andre bisa melihat lebih dekat wajah cucu Erwin. Andre akui, jika anak itu tampan. Wajah bule dengan campuran indonesia membuatnya sangat tampan. Apalagi mata birunya, Andre sampai tak bisa berkata-kata.
Tatapan anak itu mengarah pada Aizha yang asik meminum susunya. Bayi itu seolah tak peduli padanya, membuat anak itu semakin penasaran.
"Valerio, sapa dulu opa Andre." Pinta Erwin.
Andre tersenyum pada Valerio yang tengah menatap Aizha, sepertinya anak itu tertarik bermain dengan Aizha. Andre pun meletakkan Aizha di strollernya yang berada tak jauh darinya, agar Valerio bisa lebih dekat dengannya.
"Andre, jangan dekatkan dengan Valerio!" Pekik Erwin ketika melihat Valerio mendekati Aizha yang tengah asik meminum susunya di dalam stroller.
"Kenapa?" Heran Andre.
Erwin menahan nafasnya saat Valerio berdiri di hadapan Aizha, anak itu mengangkat tangannya lalu mengusap pipi gembul Aizha. Namun, Aizha malah menepis tangan Valerio. Sepertinya Aizha sedang mengantuk, sehingga dia tidak mau di ganggu.
"Sudah, biarkan saja. Cucumu sepertinya menyukai Cicit ku, biarkan mereka bermain." Seru Andre kembali menarik tangan temannya untuk kembali duduk.
"Kau tidak tahu kondisi nya, Andre," ujar Erwin dengan mata berkaca-kaca.
"Maksudmu?" Bingung Andre.
Saat Erwin akan menjawab, tiba-tiba pria berteriak. "VALERIO!! APA YANG KAU LAKUKAN!!" Andre tersentak kaget, saat melihat Erwin berlari ke arah Valerio.
Betapa terkejut nya Andre saat melihat Valerio menggigit tangan Aizha. Bahkan, anak itu belum melepaskan gigitannya.
"Lepaskan!! Lepaskan!! dia akan kesakitan!!" Seru Erwin sembari memukul bahu Valerio. Berharap, Valerio mau melepaskan gigitannya.
Melihat hal itu, Andre turun tangan. Dia menahan tangan tangan Erwin yang akan kembali melayangkan pukulannya.
"Biar aku saja!" Seru Andre.
Andre berjongkok, dia menatap Aizha. Bayi mungil itu tidak menangis, dia malah menatap apa yang Valerio lakukan pada tangannya. Kening bayi itu mengernyit lucu, sehingga Andre menjadi tidak panik.
"Valerio, nak ... lepaskan yah. Adeknya kesakitan," ujar Andre sembari mengelus kepala Valerio.
"Dia tidak akan melepaskannya!" Seru Erwin, matanya berkaca-kaca.
Di luar dugaan, perlahan Valerio melepaskan gigitannya. Membuat Erwin menatap tak percaya.
Andre bisa melihat jelas bekas gigitan Valerio pada tangan Aizha, lumayan dalam. Namun, bayi itu tak menangis. Dia justru diam dengan memperhatikan tangannya yang di gigit oleh Valerio.
"Cepat jauhkan Aizha!" Seru Erwin sembari menarik Valerio menjauh.
"Jangan kasar padanya!" Sentak Andre ketika melihat Erwin menarik Valerio dengan cepat.
"Kau tidak tahu!" Bentak Erwin.
"Apa?! Dia hanya anak kecil!" Sentak Andre.
"DIA AUTIS! CUCUKU AUTIS!!" seru Erwin sembari memejamkan matanya. Tangannya menggenggam kuat tangan Valerio yang berdiri di sampingnya.
"Apa?" Andre menatap ke arah Valerio, dia menggeleng tak percaya. Valerio, seperti anak normal lainnya. Bahkan, Andre malah mengira jika telinganya sudah tidak berfungsi dengan baik.
"Bagaimana mungkin." Lirih Andre, menatap sendu anak itu.
____