
Nathan mengikuti mobil MArsha sampai ke rumahnya, terlihat Marsha keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Nathan.
"Ini rumah lo?" Tanya Nathan.
Marsha mengangguk singkat, dia sebenarnya ingin bicara sesuatu.
"Yaudah, ayo." Ajak Nathan dan langsung membuka helmnya.
"Sebentar." Marsha memegang tangan Nathan, membuat raut wajah suaminya itu mengerut heran.
"Lebih baik, kamu datang setelah hasilnya jelas."
"Maksudnya?" Nathan menatap MArsha dengan alis terangkat satu.
"Kalau ternyata aku belum hamil, kita bisa bercerai kan?"
Raut wajah Nathan berubah datar, membuat MArsha menatap nya dengan rasa bersalah.
"Nathan, masa depan kamu masih panjang. Kita tidak saling mencintai, bagaimana bisa kita meneruskan pernikahan ini?" Tanya Marsha dengan suara lirih.
"Please, biarkan aku cek dulu. Kalau. ..,"
"Kalau lo hamil, lo gak akan bisa lepas dari gue Sha."
Degh!!
Marsha menatap sorotan tajam Nathan, perkataan tegas Nathan membuat Marsha tak lagi berkutik.
"Kali ini, gue ikutin kemauan lo lagi. Setelah ini, jangan halangi gue untuk bertindak. Apapun itu," ujar Nathan dengan suara dingin.
Nathan kembali memakai helmnya, Marsha pun memundurkan langkahnya tak ingin menghalangi laju kendaraan Nathan.
"Mana ponsel lo." Pinta Nathan.
Tanpa pikir panjang, Marsha menyerahkan ponselnya. Terlihat, Nathan mengetikkan sesuatu dan kembali mengembalikan ponsel miliknya.
"Itu nomor gue, kalau hasil testpack menunjukkan dua garis. Segera hubungi gue, gue akan datang dengan orang tua gue," ujar Nathan.
Marsha mengangguk kaku, dia tetap berdiri di sana sampai Nathan pergi menggunakan motornya.
Marsha berbalik memasuki rumahnya, saat masuk ke dalam. Tubuhnya di buat menegang kala melihat adiknya yang berdiri di ambang pintu sembari menatapnya tajam.
"Lo kenal sama dia kak?" Tanya Varo dengan wajah yang datar.
"Eng-enggak, memangnya lo kenal?"
Varo terdiam, dia menelisik mata sang kakak. Mencari kebohongan yang kakaknya ucapkan.
"Lo bohong." Lirih Varo.
"Var, dia hanya antar kakak pulang saja. Kami gak saling kenal, karena tadi di jalan. Kakak dapat sedikit masalah," ujar Marsha berusaha meyakinkan adiknya.
"Udah yah, kakak masuk ke kamar dulu." Pamit Marsha. Sebelum pergi, dia menyempatkan diri menepuk pundak adiknya itu.
Varo menatap kepergian kakaknya dengan pertanyaan di dalam hatinya. Dia jelas melihat Nathan, pemuda yang ia temui malam itu.
Di kamar, Marsha bergegas memakai testpack berbagai macam merk itu. Bahkan mencoba semuanya dan menunggu hasilnya.
Semua testpack dia jejerkan di atas wastafel. Netranya bergerak gelisah dan perasaannya kini tak karuan.
"Hasil ini semua, menentukan kehidupanku kedepannya. Semoga, kejadian itu tak menghasilkan benih yang tumbuh di rahimku." Batin Marsha, tak sadar tangannya mengelus perutnya yang masih rata.
Sepuluh menit menunggu, Marsha kembali untuk melihat hasil. Testpack pertama yang Marsha lihat, membuat tubuh nya sangat lemas.
"Apa ini? garis dua? enggak ... pasti salah, pasti ada yang garis satu." Gumam Marsha.
Marsha mengecek yang lain, dan menunjukkan hasil yang sama. Seketika, tubuh Marsha merosot. Bahkan, garis merah itu terang. Tidak samar lagi, membuat dirinya ketakutan.
"Enggak, enggak mungkin hiks ... enggak ...." Tangan Marsha bergetar, dan mengarah menyentuh perut.
Marsha memikirkan, bagaimana tatapan kecewa orang tuanya. Rasa kecewa abangnya dan juga adiknya. Marsha tak sanggup untuk menyaksikan itu semua.
Dia merasa seakan dunianya runtuh saat itu juga, dia memukul-mukul kepalanya merutuki kebodohan yang dia buat sebelumnya hingga menghasilkan kehidupan yang tumbuh di rahimnya.
Tok!
Tok!
"Marsha!"
Marsha bergegas membuka pintu. Saat melihat kondisi putrinya yang berantakan, membuat Zeva bertanya-tanya.
"Sayang, ada apa? kenapa wajahnya sembab seperti itu?" Tanya Zeva dengan penuh kelembutan.
Marsha segera memeluk sang bunda, dia menumpahkan tangisannya.
"Bunda hiks ... hiks ... maafkan aku, maaf." Isak Marsha.
"Ada apa? hm, cerita sama bunda," ujar Zeva.
"Aku hamil bunda."
JDEERR!!
"Hamil?! KAMU HAMIL?! SIAPA YANG MENGHAMILI KAMU HAH?!"
"Bunda ...." Marsha sungguh kaget dengan kemarahan bundanya.
"Katakan! kenapa kamu tega mempermalukan kami!! mau taruh dimana muka kami atas kehamilan kamu ini hah!!"
Deghh!!
"MARSHA!!!"
Marsha tersadar dengan nafas tersenggal-senggal, keringat dingin membanjiri keningnya.
Tok!
Tok!
"Marsha! kamu baik-baik saja nak?"
Marsha mengusap keringatnya, dia bergegas mencuci mukanya di wastafel. Lalu, dia memandang pantulan wajahnya di cermin.
"Hah ... ternyata cuman khayalan ketakutan saja." Gumam Marsha.
"Tapi, bagaimana jika ketakutanku akan menjadi kenyataan? Bunda akan matah padaku, aku telah membuat mereka kecewa." Lirih Marsha.
Tok!
Tok!
"Sha!! buka sayang, kamu kenapa?!"
Karena tak ingin membuat Zeva lebih khawatir, Marsha bergegas membuka pintu.
"Bunda." Panggil Marsha.
"Haahh ... bunda kira kamu kenapa," ujar Zeva dengan menghela nafas lega.
Zeva memeluk Marsha, tubuh Marsha seketika menegang. "Jangan Buat bunda khawatir," ujar Zeva.
Lalu, Zeva melepas pelukannya. Dia mengusap wajah Marsha yang basah. Terlihat, bibir putrinya itu sangat pucat.
"Eh, kenapa bibirmu pucat? Wajahmu juga terlihat lesu, apa kau sakit?" Tanya Zeva.
Marsha dengan cepat menggeleng, dia memaksa senyumnya untuk terbit menghiasi wajahnya.
"Enggak bun, cuman lagi gak enak aja perutnya." Lirih Marsha.
"Bunda pijet yah perutnya," ujar Zeva.
"Eng ...,".
"Udah! kamu nurut aja, kalau masuk angin di biarkan juga gak baik. Apalagi kamu punya asam lambung. Ayo tiduran, bunda ambil minyak anginnya dulu!" Titah Zeva.
Saat Zeva keluar kamar Marsha, mencari minyak angin. Bergegas Marsha merapihkan testpacknya, dia menyembunyikannya di laci stok penyimpanan sabun.
"Eh, kok masih di sana. Ayo tiduran!" Pekik Zeva saat mendapati putri masih ada di kamar mandi.
Marsha menurut, dia merebahkan dirinya di ranjang miliknya. Sedangkan Zeva duduk di tepi ranjang, dan mengangkat baju putrinya hingga ke atas perut.
"Makanya, kalau bunda suruh makan tuh makan. Jangan diet terus, jadi sakit kan." Omel Zeva.
Marsha hanya diam, dia menikmati omelan bundanya dengan perasaan yang campur aduk.
Minyak telah di teteskan ke perut putrinya, Zeva pun mulai mengurutnya.
"Buang airnya lancar gak?" Tanya Zeva.
MArsha mengangguk, "Lancar bun." Lirih Marsha, merasakan enaknya pijatan sang ibu di perutnya.
Saat tangan Zeva mengarah ke bawah, dia menghentikan gerakannya. Keningnya mengerut, dia menatap perut putrinya dan sedikit menekannya.
"Kok keras yah? kamu udah berapa hari gak buang air besar?" Tanya Zeva.
"Baru tadi pagi bun, kenapa?"
"Perut kamu keras, sedikit nonjol juga."
"Paling angin yang terperangkap bun," ujar Marsha dengan santai.
Zeva terdiam, dia melanjutkan memijat pelan perut putrinya. Namun, ada satu hal yang dirinya ingat. Seketika, Zeva melepas tangannya dari perut sang putri.
"Eh, tapi bunda pas lagi hamil muda begini perutnya. Keras, kayak gak buang air berhari-hari."
Degh!!!
Tubuh Marsha memegang, jantungnya berdegup sangat kencang. Keringat dingin membasahi keningnya, dirinya benar-benar ketakutan sekarang.
_______
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA 🥰🥰🥰🥰