
DOR!
DOR!
DOR!
"BULUAAANN!! NDA TAHAN INI!!!"
Javier menggedor pintu kamar mandi di kamarnya dengan keras, sebab dirinya ingin buang air besar.
"AKAAAASSS!! BULUAAANN!! BELAKNA MAU KELUAL LOH INI!!"
DOR!
DOR!
Javier memegang b0k0ngnya, dia ingin sekali buang air besar. Namun, kebetulan Akash lun sama. Sepertinya Javier lupa jika di rumah itu ada banyak sekali kamar mandi.
DOR!
"CABAAAALL!! BALU KELUAL CETENGAH! DI GEDOL TELUS MACUK LAGI NANTI BELAKNA!"
Javier menendang pintu dengan keras, dia sudah tidak tahan lagi malah di suruh sabar.
Javier akhirnya muter-muter di dalam kamar, agar mulesnya berangsur hilang. Tapi, bukannya menghilang mulesnya malah semakin bertambah.
"AKAAAASSS!!"
Cklek!
Akash telah selesai, dia menatap Javier dengan wajah merengut sebal.
"Cabal! di bulu-bulu belakna malah nda mau kelual! Lempong kali mulutna!" Ketus Akas dan melangkah keluar.
Javier bodo amat, dia memasuki kamar mandi dan tak lupa menutupnya. Dia bergegas membuka celananya dan berniat akan menaiki closet mini tersebut.
"Eh, aoa ini ... belakna belum di cilam?!"
Javier memejamkan matanya, tangannya terkepal kuat. Seketika, teriklah Javier yang mana membuat seisi rumah mendengarnya.
"AKAAAAASSSSHHH!! JOLOK KALI KAU YAAAHH!!"
Cklek!
"Kenapa Vier?" Adinda mendatangi keponakannya itu, bukan hanya Adinda. Bahkan Laras pun turut memasuki kamar mandi.
"Liat Onty, belakna nda di cilam." Unjuk Javier.
"Kok gak di siram? siramlah, tinggal di pencet tombolmya.
Perkataan Adinda membuat JAvier semakin kesal.
" Bukan belakna Viel itu! tapi puna Akasshh!" Pekik Javier.
Adinda pun turun tangan, dia membersihkan bekas Akash. Mungkin anak itu lupa, maklum saja. seseorang pasti pernah lupa kan?
"Sudah, ayo. Nanti kalau sudah panggil Aunty," ujar Adinda.
Javier yang baru saja duduk di closet mengerutkan keningnya. "Bunda kemana?" Tanya Javier.
"Bunda sama daddy lagi ke rumah sakit sebentar." Jawab Adinda.
Javier membulatkan mulutnya, dia mulai mengedan berusaha mengeluarkan sesuatu yang membuatnya tersiksa sedari tadi.
"EUNGGHHH!! KAN! KELAS! AKASH CIH! HIKS ... KELAS KALI!! EUNGHHH!!! HMMM BELAKNA DAH KELAS HIKS ... "
Javier merasakan sakit di perutnya, matanya lun berkaca-kaca bersiap akan menangis.
"Sudah?" Adinda kembali, dia seketika panik melihat JAvier yang kesakitan.
"Eh, kenapa?!" Buru-buru Adinda mendatangi Javier.
"Kelas belakna, cakit hiks ...."
Adinda berusaha membantu posis Javier agar anak itu bisa buang air besar dengan nyaman.
"EUNGHH!!!"
PLUNG!!
"Haaahhh!! leganaaa!!"
.
.
.
Di kantor, Nathan sibuk berkutat dengan kerjaannya. Dia bahkan melewatkan waktu jam istirahatnya, agar pekerjaannya cepat selesai.
"Nathan."
NAthan mengalihkan pandangannya, di lihatnya Kenan datang menghampirinya dengan sebuah bekal makan.
Alis Nathan terangkat, seakan bertanya tentang bekal itu.
"Dari istrimu." Jelas Kenan sembari meletakkan bekal itu di meja kerja NAthan.
"Ha? Marsha kesini?!" Pekik Nathan.
"Enggak, tadi mami kesini. Sekalian ngasih titipan Marsha buat kamu." Jawab KEnan.
Nathan tersenyum dan mengangguk, dia lalu membuka bekal itu. Terlihat nasi dengan lauk telur dadar yang di hiasi oleh saos sambal.
"Ha? HAHAHAHA!! TELUR? DOANG? HAHAHA!!" Kenan tertawa melihat putranya yang hanya makan nasi dengan telur saja.
"Biarin! dari pada papi, gak pernah di masaki. Wleee!!"
Tawa Kenan terhenti, dia menatap kesal pada putranya itu.
"Istriku baik hati sekali, walau hanya telur dadar. Serasa makan di restoran paling mahal, karena buatnya pasti penuh dengan cinta." Puji Nathan sembari menyendokkan nasi itu ke mulutnya.
Hap!
Nathan yang tadi menikmatinya, seketika membulatkan matanya. Bergegas Nathan mengambil plastik dan meMunt4hkan nasinya.
"Eh, kenapa di Munt4hin?!" Pekik Kenan.
"Asin banget," ujar Nathan dengan raut wajah masam.
Kenan tertawa terbahak-bahak, "Walah Than! bini kamu tandanya mau nikah lagi itu."
"APA?! MANA ADA!!" Pekik Nathan tak terima.
"Dih gak percaya."
Nathan kembali memasukkan bekalnya, doa tak jadi makan bekal itu karema sangat asin di lidahnya.
"Oh ya, kapan kamu akan memeriksa cucu appi lagi? papi ingin ikut."
"Nanti malam." Jawab Nathan dan kembali fokus lada laptopnya.
"Kok malam? kenapa gak sekarang? kasihan, angin malam gak baik buat ibu hamil. Kamu jadi suami gak peka banget sih!" Kesal Kenan.
Nathan menghela nafas pelan, "Papi ku tersayang, kamu lihat anakmu ini sedang apa hm? kerja, kerjaan ini gak bisa di tinggal. Kan papi sendiri yang ngasih kerjaan." Jelas Nathan dengan penuh penekanan.
"Eh, iya juga yah. Yasudah, nanti papi pesankan alat USG. Biar istrimu gak usah ke rumah sakit, panggil dokter saja dan periksa di rumah."
Jantung Nathan serasa lepas setelah mendengarnya, netranya membat tak percaya.
"PI!! YANG BENER AJAA!!!" Pekik Nathan.
"Ya, benerlah! Apalagi cucu papi ada tiga tambah satu kakak kamu, papi harap semuanya cewek. Papi mau rumah rame, Kalau laki-laki. Takutnya kayak kamu, datar kayak tembok." Setelah mengatakan itu, Kenan berlalu begitu saja membuat Nathan hanya bisa melongo melihatnya.
Selang beberapa jam, akhirnya pekerjaan Nathan selesai. Jam lima tepat, dia bergegas kembali ke rumah untuk bersiap-siap ke rumah sakit.
Setelah memarkirkan motornya, Nathan bergegas masuk.
"Eh, udah pulang? baru mami mau telpon, takutnya kamu lembur," ujar Sofia menyapa putranya itu.
"Marsha mana mam?" Tanya Nathan.
"Ada di kamar, habis masak badannya langsung lemes. Kecapean mungkin, apalagi masakannya gagal terus."
Langkah Nathan terhenti, dia berbalik menatap sang ibu.
"Kok mami biarin Marsha masak sih?" Kesal Nathan.
"Eh? mami gak suruh! tapi katanya dia mau kasih kamu bekal sesekali. Tapi malah kecapean," ujar Sofia.
"Yasudah mam, aku ke kamar dulu." Pamit Nathan.
Nathan pun bergegas ke kamarnya, dia khawatir dengan keadaan istrinya.
Cklek!
"Sayang! aku pu ...,"
"HWEEK!! HWEK!!"
"Marsha." Nathan bergegas berlari menuju kamar mandi setelah dia mendengar suara Marsha yang sedang Munt4h-Munt4h.
Marsha tengah meMunt4hkan cairan berwarna bening, tangannya pun berusaha bertumpu pada wastafel.
"Sweety." Nathan meraih tubuh Marsha saat hampir saja tubuh istrinya terjatuh.
"Nathan." Lirih Marsha.
Nathan beralih menggendong istrinya, dia bergegas membawa istrinya ke ranjang. Dia merebahkan Marsha di kasur dan bergegas mengambil minyak angin yang biasa Marsha kenakan.
"Dari kapan kamu seperti ini?" Tanya Nathan, sembari mengoleskan minyak angin pada perut istrinya.
"Siang." Lirih MArsha.
Nathan menarik dasinya yang terasa mencekik lehernya, lalu dia menggulung lengan kerjanya agar mudah membaluri perut sang istri.
"Nathan, ini teh hangat buat istri kamu. Biar perutnya enakan, mami lagi suruh papi kamu buat siapin mobil." Seru Sofia mendekati menantunya dan juga putranya.
Nathan menerima gelas itu, dia membantu Marsha meminumnya. Namun, baru saja beberapa teguk. Marsha kembali mual.
"HWEK!"
Tangan Nathan spontan langsung menadahkan tangannya pada Munt4han Marsha.
"MA-maaf." Cicit Marsha, ketika tahu Munt4hannya mengenai tangan dan baju kerja suaminya.
"Gak papa Sweety, aku bersihkan sebentar." Nathan buru-buru ke kamar mandi, dia membersihkan bekas Munt4han Marsha lalu membuka kemejanya hingga dirinya hanya memakai kaos hitam saja.
Sofia mengambil ember, dia membantu Marsha ketika menantunya itu ingin Munt4h lagi.
Baru saja Nathan keluar sehabis membersihkan Munt4han Marsha, tiba-tiba dirinya di kejutkan oleh teriakan Sofia.
"NATHAN!! NATHAAANN!!"
"NATHAN! ISTRIMU PINGSAN INI LOH!!"
"APA?!"