
Aizha menatap pria itu dengan raut wajahnya yang pias, dia jatuh terduduk dengan lemas di kursi sembari menatap lembaran kertas yang dirinya pegang.
"KTP gak ada, dompet gak ada, identitas gak ada. Terus, tau namanya dia dari mana." Batin Aizha.
Cklek!
Dokter datang untuk memeriksa keadaan oria itu, dengan segera Aizha bangkit dan mengadukan hal itu pada dokter tersebut.
"Dok! Cepat periksa dia! Masa namanya sendiri dia gak hafal. Bahkan anak bayi pun tahu namanya sendiri. Tapi lihat dia, mungkin otaknya geser. Tolong di benerin dok." Seru Aizha dengan wajah memelasnya.
"Ehm begitu? Silahkan anda tunggu di luar, kami akan segera memeriksanya." Respon sang dokter.
"Baik dok! Tapi geser yang bener yah otaknya. Biar lurus lagi, kalau tidak. Otak saya yang nantinya ikut geser." Seru Aizha sebelum dirinya beranjak pergi.
Dokter menggelengkan kepalanya, lalu dia mendekati pria yang di tolong Aizha. Sedangkan pria itu menatap kepergian Aizha dengan kening mengerut.
"Istri anda sangat random sekali tuan, sangat lucu. Anda mendapatkan dia dimana?" Ujar dokter itu.
Seketika, pria itu bergumam. "Istri?" Tanya nya.
"Ya, dia istri anda. Apa anda tidak mengingatnya?" Tanya dokter itu.
Pria itu mengerutkan keningnya, dia memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Dokter dengan segera menahan tangan pria itu yang akan mencengkram rambut kepalanya.
"Jangan di paksa, saya periksa dulu yah."
Sementara di liar ruangan, Aizha tengah mondar mandir sembari menggigit jempolnya. Raut wajahnya terlihat cemas, dia bingung dengan apa yang akan dia lakukan.
"Kalau aku pulang, nasib pria itu bagaimana? Kalau aku disini, nasibku bagaimana? Aish. .. kenapa aku harus ada di posisi sulit." Ujar Aizha. Lalu, memukul pelan keningnya.
Dertt!!
Dertt!!
Ponsel Aizha berdering, dia mengambil ponselnya yang ada di tas selempangnya. Melihat siapa yang menelponnya, seketika Aizha menepuk keras keningnya.
"Astaga, aku terlambat kerja." Gumam Aizha.
Aizha menggeser icon hijau, lalu dia menempelkan ponselnya pada telinganya.
"Ha ...."
"KAMU DI PECAT!!"
TUUUTT!!
Raut wajah Aizha berubah masam, dia kembali menarik ponselnya dan menatap sendu ke arah kantai.
"Sudah lima puluh lima kali aku di pecat. Haahh ... ternyata kerja sama sulitnya seperti kuliah." Lirih Aizha.
Jika kalian mengira Aizha bekerja di kantor, kalian salah. Aizha bekerja paruh waktu di sebuah resto, bahkan dia pernah bekerja di toko loundry. Nathan suka heran dengan Aizha, mengapa suka sekali kerja dengan orang. Padahal, Nathan sudah meminta Aizha untuk fokus kuliah sajam Tapi, sepertinya Aizha tak suka dengan kuliah. Dia sering kali bolos untuk bekerja.
"Bagaimana kehidupanku nanti, aku tidak mempunyai pemasukan lagi." Lirih Aizha. Sepertinya, dia lupa jika dirinya berasal dari keluarga kaya.
Cklek!
Pintu ruangan terbuka, Aizha buru-buru menghampiri dokter yang keluar dari ruang rawat. Rasa penasaran Aizha semakin menumpuk, dia segera bertanya pada dokter yang telah menangani pria itu.
"Bagaimana dok?" Tanya Aizha.
"Dugaan awal, pasien mengalami amnesia. Namun, amnesia banyak jenisnya. Bisa amnesia permanen, atau sementara. Saya akan segera memeriksanya lebih lanjut." Terang sang dokter.
"Yaahh begitu yah." Lirih Aizha dengan sendu.
"Tapi dok, apa gak bisa pakai cara lain? Semisal, di getok kepalanya gitu? Atau, di benturkan saja ke tembok. Rata-rata, orang amnesia kalau di benturin kan bisa pulih sendiri. Pintar kan saya!" Seri Aizha dengan tersenyum lebar.
Mendengar itu, dokter tersebut tertawa. "Nana bisa begitu, kau akan semakin menghancurkan ingatannya. Biasanya, pemulihan amnesia muncul karena di barengi dengan peristiwa masa lalu yang membuat dirinya bertekad untuk mengembalikan ingatannya. Bukan karena di benturkan ke tembok."
Aizha menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia tersenyum malu mendengarnya.
"Yasudah, saya kembali ke ruangan dulu. Kalau ada perlu apa-apa, bilang saja." Dokter pun pamit undur diri, Aizha memutuskan untuk masuk ke dalam kamar pira itu
Cklek!
Terlihat, pra itu duduk bersandar sembari menatap kedatangan Aizha. Pria tampan itu tersenyum menatapnya, membuat Aizha yang berjalan menghampirinya di buat heran dengan ekspresi yang oria itu tunjukkan.
"Kenapa? Kayak habis di cium kerbau." Ujar Aizha dengan santai. Dia menarik kursi, berniat untuk duduk.
"Jadi, kamu istriku?"
"HAAAA?! SIAPA YANG BILAAANG?!" PEKIK Aizha dengan mata melotot.
Tubuh Aizha merosot ke lantai, dia memegangi kepalanya. Sejenak, dia menepuk pelan pipinya untuk menyadarkan dirinya dari kenyataan ini.
"Mimpi kah?" Lirih Aizha.
.
.
.
Terlihat, seorang gadis dengan wajah yang mirip dengan Aizha masuk ke dalam rumah. Wanita itu sangat anggun, dia memakai dress bunga-bunga dengan membawa beberapa paket tebal di pelukannya.
"Nadira, sudah pulang?"
Gadis itu menoleh, dia tersenyum saat mendapati Marsha berjalan ke arahnya. Gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Nadira. Kembaran Aizha, dia tengah berkuliah di sebuah universitas ternama yang sama dengan kedua kembarannya yang lain.
"Mama." Ujar Nadira sembari menghampiri Marsha.
Marsha tersenyum, "Tumben pulang kuliah jam segini, biasanya juga sore" Ujar Marsha sembari merangkul putrinya itu untuk duduk di sofa ruang tengah.
"Mata pelajarannya cuman ada satu ma, dosen satunya gak masuk." Jawab Nadira.
Setelah keduanya duduk, Marsha menatap putrinya yang bersandar di sofa. Raut wajah putrinya terlihat lelah. Lalu, dia pun mengusap sayang rambut lurus sang putri.
"Aku kesal sekali hari ini." Gumam Nadira.
"Oh ya, kenapa?" Tanya Marsha.
"Dosennya kaku, pemarah, galak! AKu gak suka pokoknya! Skripsi ku gak selesai-selesai! Di suruh ulang terus! Orangnya susah di cari! Giliran aku chat dia bilang, 'Kamu gak liat ini jam berapa? Saya lagi tidur kamu tahu?!' Padahal, aku menghubunginya baru jam satu malam. Aku rela begadang hingga jam tiga pagi hanya demi skripsi yang dia suruh buat." Adu Nadira.
"Sayangnya mama, sini peluk dulu." Marsha memeluk Nadira, putrinya itu sangat manja dengannya. Marsha sayang semua anaknya, sehingga semua anaknya pun sangat cinta dengan sang mama.
"Mungkin dia sudah lelah, wajar saja. Sudah berumur." Ujar Marsha.
"Mana ada berumur! Dia masih muda! Tapi, mukanya galak. Jadi kelihatan, tua kali yah." Gumam Nadira.
"Kalau muda, mungkin dia ada permasalahan sama dunia percintaannya. Positif thinking aja." Ujar Marsha yang mana membuat Nadira semakin cemberut.
Dertt!!
Dertt!
Ponsel Nadira berdering, dia segera mengangkat ponselnya itu. Saat melihat siapa yang menelponnya, seketika Nadira merengek.
"Maaaa!! Dia menelponku, bagaimana ini? AKu malas sekali mendengar suara jeleknya." Rengek Nadira.
"Angkat saja, kalau dia memarahimu. Mama akan memarahinya." Seru Marsha menguatkan putrinya.
Nadira menggeser icon hijau di ponselnya, belum saja dia menempelkan pada telinganya. Suara keras sang dosen membuat Nadira seketika menjauhkan ponselnya.
"KAMU DIMANA HAH?! SUDAH GAK MAU BIMBINGAN KAMU?! DARI KEMARIN SAYA DI KEJAR-KEJAR KAYAK PENAGIH UTANG AJA! SEKARANG SAYA ADA WAKTU, KAMU GAK ADA!"
Nadira menoleh pada sang mama, raut wajahnya terlihat sangat mengenaskan. "Maa ...." Bisik Nadira.
"Sayang, sepertinya ... ada masalah dengan otak dosenmu itu." Ringis Marsha.
"Nadira, kamu dengar saya tidak!" Pekik dosen itu.
Nadira menempelkan ponselnya pada telinganya, "Gak denger pak! Saya lagi mules, bapak mau bahas skripsi sambil dengerin suara cemplung-cemplung?
"KAMUU!!!"
Tuutt.!
"Haaahh ... damai sekali." Ujar Nadira setelah mematikan sambungan itu.
"Terus, bimbingannya gimana?" Tanya Marsha dengan bingung.
"Ganti dosen aja lah ma, gampang. Terlalu ribet. Dua jempol buat istrinya, pria watak begitu. Harusnya buang ke laut, menyusahkan saja."
TRING!
Nadira menatap ponselnya, ada sebuah pesan masuk. Dia pun membukanya, setelah membaca isinya. Betapa terkejutnya Nadira, saat melihat isi pesan tersebut.
"Maaa!! Dia mau mengadukan ku pada Dekan. Bagaimana ini!!" Panik Nadira.
"Kata kamu tadi suruh buang ke laut, buang lah." Ujar Marsha yang turut panik juga.
"Maaa!!!"