
Kini semua keluarga Smith berkunjung ke rumah Aaron, setelah Aaron mengabari mereka jika Zeva telah hamil.
"Wih serempak dong yah ini, si kembar sama Marsha juga gak jauh beda kan." Seru Adinda sembari mengusap perut rata Zeva.
"Haha iya kak, paling beda beberapa bulan." Sahut Zeva.
Laras benar-benar memanjakan menantunya setelah dirinya di kabari bahwa menantunya itu hamil. Seperti Saat ini, Laras menyuapi Zeva buah. Zeva pun tak menolak, dia dengan lahap memakan buah suapan mertuanya.
Sedangkan para laki-laki, sedang ada di taman memantau ketiga anak yang sedang bermain kelinci.
"Marsha! jangan di tarik buntutnya sayang! jewer telinganya, jangan buntutnya!" Aaron meringis ketika putrinya dengan tak berperasaan menarik ekor kelinci itu.
Aaron segera melepaskan kelinci itu dari tangan Marsha, dia mengajar kan Marsha untuk memegang kelinci tersebut.
"Gendongnya begini, nah coba." Aaron menyerahkan kelinci itu ke pelukan Marsha.
"Aku juga! aku juga!" Seru Ariel mencoba untuk mengambil kelinci itu dari pelukan Marsha.
"Cabal dulu!" Tolak Marsha.
Ariel memonyongkan bibirnya, dia kesal karena Marsha tak meminjaminya kelinci itu.
"Raihan bener-bener yah! masa beli kelinci cuman satu, udah tau keponakannya ada tiga." Gerutu Jacob. Sayang sekali, orang itu tidak ada di rumah. Kemana lagi kalau tidak mengajak jalan si pujaan hati.
Aaron tersenyum saat melihat putrinya berlari kecil menghindari kejaran Ariel. Sedangkan Azka, dia lebih memilih memakan puding di ayunan.
"Ah, cegelna. Nda ada yang enak dali puding," ujar Azka dengan senyum mereka kembali menyendokkan puding itu.
"Aaron, daddy rasa ... Lebih baik kamu kembali ke kediaman Smith. Bersama istri dan anakmu." Celetuk Haikal.
Aaron menatap ayah sambungnya itu, dia tidak tahu apa keputusannya.
"Aku akan bertanya dulu pada Zeva, kalau dia nyaman. Aku akan ikut tinggal, kalau tidak. Lebih baik disini saja, kenyamanannya menjadi nomor satu saat ini. Dia tidak boleh tertekan, selama hamil. Aku akan berusaha untuk selalu membuatnya bahagia," ujar Aaron dengan bijak.
Haikal tersenyum, dia menepuk bahu Aaron dengan bangga. "Daddy suka jawabanmu, tapi Aaron. Bukankah lebih baik di rumah utama? Zeva bisa lebih terjaga, ada mommy dan kakak iparmu. Marsha juga gak akan kesepian, dia punya teman bermain." Terang Haikal.
Benar yang daddy nya katakan, Aaron akan sibuk di kantor. Walaupun ada pembantu, dirinya tidak bisa menjamin keselamatan istrinya.
"Nanti coba aku obrolin dengan Zeva," ujar Aaron.
"Sebaiknya kalau setuju, besok kalian pindah ke rumah utama hm." Aaron hanya mengangguk, dia masih banyak pertimbangan untuk pindah kembali ke kediaman Smith.
***
Ting! Tong!
Ting! Tong!
Di saat semuanya asik makan siang, bell rumah pun berbunyi. Aaron yang sedang memang ku putrinya sembari menyuapi dia makan berniat akan beranjak.
Mengerti suaminya kesulitan, Zeva memegang bahu Aaron. "Biar aku aja," ujar Zeva.
Aaron mengangguk, dia kembali menyuapi Marsha. Karena tumben sekali anak itu tidak mau makan sendiri.
"Kok makanna di cuapi? kan udah besal!" Protes Ariel.
"Cuka-cuka malcha lah! kok citu cilik!" Seru Marsha tak terima.
"Mulut melcon dacal!" Kata Ariel membuat Marsha melotot tajam.
"CAPI HUTAN DACAL! MAU MALCHA COLOK MULUTNA HAH! BIAL HMPP!!"
Aaron segera menutup mulut Marsha, memang benar yang di katakan oleh Ariel. Mulut putrinya seperti mercon, sangat berisik.
Zeva membuka pintu utama, di lihatnya seseorang mengantar paket atas nama dirinya.
"Benar ini rumah mbak Zeva?" Tanya tukang paket itu.
"Iya, saya sendiri," ujar Zeva.
"Ini paket atas nama mbaknya." Zeva menerima paket itu, dia melihat-lihat paket itu dan benar atas nama dirinya.
"Perasaan aku gak pesan paket apapun, bahkan aku belum hafal alamat rumah ini." Batin Zeva.
Zeva tak memusingkan hal itu, dia berniat ingin berterima kasih pada orang itu. Namun, setelah di lihat, orang itu sudah tidak ada.
"Oh iya, terima ... loh. Orangnya kemana?"
Zeva celingukan di depan rumah, dia tak melihat adanya orang. Lalu, Zeva pun menaikkan bahunya acuh. Mungkin orang itu sudah pergi, pikir Zeva.
Zeva lalu menutup pintu dan berjalan masuk, orang yang mengantar paket itu ternyata masih ada di sana. Dia bersembunyi di belakang mobil Aaron dan tengah menghubungi seseorang.
"Halo bos, paket sudah di terima target." Ujarnya pada seseorang di telpon.
Zeva menatap paket itu, dia sedikit bingung karena paket itu tidak tersegel rapih. Hanya tertutup kotak biasa.
Karena penasaran, Zeva pun membukanya. Seketika matanya terbelalak lebar, tangannya bergetar di sertai tubuhnya yang mendadak lemas.
"I-ini ...,"
Brak!
Zeva menutup pintu dengan sedikit kencang, lalu dia mengunci pintu itu.
"Jangan sampai mas Aaron melihatnya." Gumam Zeva dengan suara bergetar takut.
Zeva berjalan menuju ranjang, dia membongkar isi kardus itu. Terlihat, foto-foto dirinya bersama dengan Rio. Terlebih di foto itu, keduanya tampak begitu serasi. Dimana Zeva memeluk Rio dari depan dan Rio pun memfoto mereka dari atas.
Keduanya tampak tersenyum lebar, terlihat gurat raut wajah bahagia keduanya.
Air mata Zeva jatuh, dia langsung merobek foto itu. Lalu dia kembali mengambil foto lain, dimana Rio menc1um pipinya. Bahkan di sana Zeva tersenyum lebar.
"Aku membenci diriku sendiri hiks ..."
SREK!!
SREK!!
Lagi-lagi Zeva merobeknya, bukan hanya satu foto. Ada banyak foto lainnya yang membuat Zeva marah pada dirinya sendiri.
Zeva merobek semua foto itu tanpa kembali melihatnya, dia yakin semua foto itu adalah dirinya dan juga Rio.
Saat semua foto berhasil dia robek, tatapan Zeva jatuh pada sebuah surat. Lalu, dia pun mengambil surat itu dan membukanya dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana sayang? kaget dengan kejutanku? Hahahah, aku yakin kamu kaget. Ini baru awalan Zeva, tak akan ku biarkan kamu kembali bersama Aaron.
Aku yang selalu ada untukmu, bukan Aaron. Pria itu sudah meninggalkan mu, tapi kamu tetap kembali padanya.
Ingatkah Zeva, di saat kita bersama. Berbagi kebersamaan, sayang, dan cinta. Kamu begitu bahagia bersamaku. Aku memanjakanmu, menyayangimu, memberi cinta yang tidak Aaron berikan.
Lalu, dengan mudahnya kamu kembali bersama pria itu dan melupakan perjuanganku? AKU YANG MEMBAHAGIAKANMU, BUKAN DIA! Aku yang sangat-sangat mencintai mu, aku yang selalu ada di situasi terpurukmu.
Ingat ini Zeva, aku tidak akan membiarkan mu kembali bersama Aaron. TIDAK-AKAN-PERNAH! Camkan itu!
^^^- Kesayanganmu, Rio^^^
Zeva melemparkan kertas itu, air matanya terus mengalir. Ancaman Rio membuatnya sangat takut.
CKLEK!
CKLEK!
CKLEK!
"SAYANG! KOK PINTUNYA DI KUNCI?!!"
Tok! tok! tok!
Zeva mendadak panik, dia segera membereskan kertas robekan itu. Lalu, dia kembali memasukkannya ke dalam kardus.
"Sayang! kamu baik-baik saja?! buka pintunya!! ZEVA!!"
Cklek!
Cklek!
Aaron seperti nya berusaha membuka pintu, Zeva semakin ketakutan.
"Dimana aku sembunyikan ini, dimana?" Panik Zeva.
Zeva melihat kolong tempat tidur, dia pun bergegas memasukkan kotak itu ke bawah sana. Dirinya berharap, Aaron tak melihat kotak itu.
Setelah beres, Zeva membenarkan dressnya lalu dia menghapus air matanya dan mencoba untuk bersikap biasa saja.
"ZEVA!!"
Tak! Cklek!
Saat Zeva membuka pintu, tatapan Aaron menatapnya dengan penuh selidik.
"Ngapain kamu kunci pintunya?" Tanya Aaron dengan curiga.
Zeva meremas dressnya, dia tak berani menatap Aaron. Matanya menatap ke arah lain, tubuhnya bergetar ketakutan.
"I-itu ta-tadi aku mual-mual mas! iya! takutnya kamu masuk dan melihatku muntah-muntah," ujar Zeva memberi alasan asal yang terlintas di otaknya.
Aaron menatap istrinya itu, dia melihat kening istrinya yang berkeringat. Bahkan tubuh istrinya bergetar, seperti takut melihat dirinya.
"Kamu ... tidak mencoba untuk membohongiku kan?"
DEGH!!
____
HAYO LOHHH GEMES GAK? PENASARAN?