Find Me Daddy

Find Me Daddy
Perpisahan



Nathan serta Marsha keluar dari mobil, sedari tadi Nathan menggenggam tangan Marsha. Bahkan sampai memasuki bandara. Sedangkan Sofia dan Kenan, mereka ikut mengantar kepergian Nathan. Keduanya mendorong ketiga stroller milik si kembar.


"Aku pergi dulu yah, kamu baik-baik. AKu usahakan selesai cepat, biar kita kembali bersama." Bisik Nathan. KEdua kening Marsha dan Nathan menempel, membuat keduanya terlihat sangat dekat.


"Setelah sampai, langsung telpon aku yah. Jangan telat." Pinta Marsha.


Nathan mengangguk, dia meng3cup sekilas bib1r istrinya sebelum menjauhkan kening mereka. Kedua orang tua Nathan memaklumi, jika putranya itu tengah melepas rindu. Beruntung, tidak ada yang memperhatikan mereka.


Marsha tak kuasa menahan tangisnya, sebelum air matanya terjatuh. Dia bergegas menghapusnya, khawatir Nathan malah mengkhawatirkannya.


"Gih, pamitan sama si kembar," ujar Marsha.


Nathan mengangguk, dia berjalan menuju Stroller dimana ketiga anak kembarnya berada. Nadia dan Nayara sama-sama tertidur, berbeda dengan Aizha yang menatap Nathan dengan mata jernihnya.


"Papa berangkat dulu yah sayang, enggak lama kok. Nanti kalian main ke sana yah, jenguk papa. Oke princess." Nathan meng3cup kening dan kedua pipi Nayara beserta Nadia.


Hal itu, dia lakukan pada Aizha. Namun, saat Nathan memegang pipi Aizha. Jari-jari mungil Aizha menangkap telunjuk Nathan. Dia menggenggamnya erat, bahkan sampai Nathan kesulitan melepasnya.


"Papa berangka dulu yah, Aizha disini dulu sama mama." Pinta Nathan.


Aizha enggan melepaskan, Nathan pun terpaksa melepas paksa tangan putrinya. Yah, sesuai dugaan. Aizha menangis kencang hingga membuat kedua saudaranya pun turut terbangun dan menangis karena kaget.


"Cup! cup! maafin papa yah, nanti kita bertemu lagi." Seru Nathan berusaha memenangkan ketiga bayinya.


"Nathan! Cepatlah! Kau akan ketinggalan pesawat nantinya!" Seru kenan, dia yang sengaja memesankan tiket pesawat agar tidak membuat heboh awak media di bandara sana.


Nathan mengangguk, dia memeluk orang tuanya dengan erat. Sofia menangis sebentar, sebab kali ini dia akan jauh dari putranya.


"Jangan lupa makan, sering-sering telpon istrimu yah. Kasihan dia," ujar Sofia sembari mengelus lengan kekar putranya.


"Iya mam, mami tenang aja." Sahut Nathan.


Nathan pun menarik kopernya, dia mulai melangkah menjauh dadi keluarganya. Sementara Marsha, dia tak sanggup melihat kepergian Nathan. Dia berpura-pura menggendong Aizha dan menenangkannya.


"Yasudah, ayo MArsha. Mami sudah buat janji dengan dokter kandungan." Ajak Sofia.


Mendengar perkataan istrinya, Kenan seketika mengerutkan keningnya. Tanpa berlama-lama, dia langsung menatap menantunya itu.


"Kamu hamil lagi?!" Pekik Kenan.


"Belum tau pi, makanya mami ajak periksa. Udah ayo!" Sofia mendorong stroller cucunya kembali menuju mobil.


Sedangkan Kenan, dia menatap kepergian putranya dengan perasaan yang tak karuan. "Kalau memang Marsha hamil lagi, gimana ini. Nathan pasti minta pulang kalau tahu." Batin Kenan.


"PAPI! AYO!!" Sentak Sofia hingga membuat Kenan membuyarkan lamunannya.


Setelah mobil mereka pergi, datanglah sebuah mobil Alphard tepat di belakang mereka. Terlihat, Aaron yang turun sembari mengoceh dan Javier yang berada di gendongan Zeva.


"Nathan sama keluarganya mana? Coba kamu telpon Marsha, sekarang posisi mereka lagi dimana?" Pinta Zeva.


Aaron mengangguk, dia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi sang putri. Tak lama, Marsha mengangkatnya.


"Halo sayang, kalian belum sampai? Ini udah jam berapa? Kalian telat atau gimana?!" Putrinya belum menjawab, tapi Aaron sudah heboh.


"Daddy, Nathan sudah berangkat. Maaf, tadi waktu penerbangannya sangat mepet. Aku juga lupa kalau daddy akan menyusul." JAwab Marsha.


Raut wajah Aaron seketika berubah menjadi bertambah kesal, dia langsung menatap Javier yang sepertinya tak kerasa bersalah itu.


"Oh, oke kalau gitu. Pulangnya hati-hati yah sayang, besok daddy akan mengunjungimu."


Tuutt!


Aaron mematikan ponselnya, matanya masih menatap Javier yang kini menatapnya dengan tatapan polos.


"Apa liat-liat? mau di colok matana hah?! Main pelelok Viel. Emangna, citu doang yang bica? Nih! Viel juga bica!" Seru Javier melototkan matanya pada sang daddy.


"Kamu!! Rempong bawa kamu yah, udah buang air lah. Mules lah, laper lah. Vieerr!! kenapa sih kamu ini nantangin daddy!! Beneran mau di jual hah?! Jadi telat kita kan! Belum sempat kan daddy ngomelin abang iparmu itu!" Geram Aaron pada tingkah putranya.


"Loh, namana juga panggilan alam. Emangna, daddy bica tahan? Nda bica kan? Kalau pelut Viel meledak gimana? Gini-gini, Viel belhalga tau." Sahut Javier.


"Kalau daddy mau jual Viel, jualna cama abang ketoplak kemalen aja. Udah danteng, kaya, jualan ketoplak. Aman pelut Viel, nda kayak daddy! Lemak na Viel di buang, jadi lata pelutna."


"Sayang, taruh di pegadaian aja. Pasti banyak yang minat." Pasrah Aaron sembari menatap istrinya dengan merengek manja.


.


.


.


Marsha kembali merasakan dinginnya Gell dan alat yang bergerak di perutnya. Hatinya merasa was-was, apakah benar dirinya hamil?


"Baru operasi sesar sekitar tiga bulan yang lalu yah bu?" Tanya sang dokter.


marsha mengangguk pelan, "Saya lupa pasang kb bu dokter. Apa beneran hamil? Bahaya gak dok nantinya? Saya takut." Sahut Marsha dengan suara bergetar.


Dokter tersenyum tipis, dia paham kekhawatiran Marsha. Matanya dan tangannya masih fokus memeriksa keadaan rahim Marsha.


"Ini sudah ada kantongnya." Gumam dokter, membuat jantung Marsha dan Sofia berdetak kencang.


"Saya hamil dok?" Tanya Marsha dengan suara bergetar.


"Maaf bu, mungkin ini berita yang membuat ibu syok. Tapi, ibu sudah hamil. Pembuahan bisa terjadi di saat masa subur seorang wanita, bisa jadi ibu melakukannya di saat ibu mengalami masa subur. Dan lagi, usia kandungan sudah menginjak empat minggu di lihat dari besar titiknya."


Marsha tak sanggup menahan tangisnya, dia memeluk ibu mertuanya dengan erat sembari menangis keras. Sofia juga bingung ingin melalukan apa, dia juga terkejut mendengar fakta itu.


"Bu dokter, bisa di batalin gak? Kan kalau bahaya bagi ibu, sebaiknya di gugurkan. Menantu saya baru dapat tiga bayi kembar, saya takut psikisnya gak kuat." Pinta Sofia.


Sofia bukan bermaksud ingin menggugurkan calon cucunya, hanya saja dia mengkhawatirkan kondisi Marsha. Menantunya itu baru saja melahirkan, dia khawatir dengan rahim menantunya yang tak kuat nantinya. Apalagi psikis Marsha yang belum siap menerimanya.


"Enggak bisa bu, saya akan terkena pasalnya nantinya. Ibu Marsha ini dalam keadaan sehat janin dan rahimnya. Jadi, saya tidak bisa melakukan kuretase padanya." Jawaban Dokter membuat Marsha tak sanggup menahan air matanya.


"Mi, gimana ini hiks ...Marsha gak mau hamil! Marsha gak mau hiks. GUGURIN AJA!! GUGURIN DOKTER!! SAYA GAK MAU HAMIL HIKS ... SAYA GAK MAU!!"


Sofia memeluk menantunya, dia juga bingung ingin melakukan apa. Semuanya sudah terlambat, nasi sudah jadi bubur.


BRUGH!!


"MARSHAA!!"


.


.


.


.


Marsha membuka matanya, dia melihat sekelilingnya. Ternyata dia tengah duduk di dalam mobil sembari kepalanya di pangku oleh Sofia.


"Mi." Marsha bergegas duduk, tangannya langsung menyentuh perut ratanya.


"Kamu kenapa teriak kayak tadi?" Heran Sofia.


"Aku hamil mi, aku hamil!!" Histeris Marsha, kembali mengingat kejadian tadi.


"Heh! Belum aja di periksa! Kamu tuh tadi ketiduran, pas sampe kamu malah ngamuk-ngamuk. Panik mami, mimpi buruk yah?" Terang Sofia.


Marsha terdiam, jadi ... tadi cuman mimpi?


___


Maaf kalau banyak typo, author gak tega udah janji bab ini sama kalian. Gak mau kecewain pembaca setiaku😍 walau tangan gemetar, kadang nulis kadang merem karena mata panas akibat demam😅


Gak papa, terima masih atas doa kalian🤗🤗 semoga sehat selalu🤗🤗