
4 tahun Kemudian.
Nathan sudah menyelesaikan study nya, setelah itu dia kembali memboyong keluarga kecilnya kembali ke indonesia. Dia meneruskan perusahaan sang kakek, sebagai CEO muda yang cerdas. Namanya kini sangat terkenal, apalagi di menjadi CEO di umurnya yang belum menginjak 25 tahun.
Dia juga sudah membangun istananya untuk istri dan anak-anaknya. Nathan ingin mandiri, begitu pun dengan Marsha. Setiap minggu, Sofia dan Kenan datang menjenguk. Begitu pun dengan Aaron dan Zeva.
Pagi-pagi sekali rumah Nathan sudah heboh oleh teriakan tiga anak, belum lagi suara beda jatuh dan barang-barang yang terlempar hingga ke bawah.
"ITU CEPATUKUUU!!"
"MANA ADA!! INI WALNANA UNGUU! KAMU KAN BILU!"
"BELICIK KALI LOH KALIAN INI!!"
Ketiga bocah kembar, berwajah sangat cantik. Kembar identik itu membuat ketiganya sulit di bedakan kecuali dengan warna pita yang keduanya gunakan di rambut gelombang mereka.
Cklek!
"Astagaa ... Aizha! Nadira! Belum puas berantemnya?!"
Sontak, ketiganya menatap pria dengan balutan handuk di pinggangnya. Mereka mengerjapkan matanya, menatap sang papa yang terlihat sangat mempesona.
"Loti cobek!" Seru Aizha melempar sepatu Nadira pada pemiliknya dan dengan cepat mendekat pada sang papa.
"Waaahhh." Mata Aizha berbinar saat melihat roti sobek milik sang papa.
Melihat putrinya seperti itu, Nathan memutar bola matanya malas. "Noh, roti sobek ada di dapur! Tau dari mana lagian nih anak roti sobek, pasti dari bang Ariel." Gerutu Nathan.
Nathan kembali ke kamarnya di saat ketiga putrinya sudah kembali tenang. Dia kembali memasuki kamarnya untuk memakai baju yang sempat tertunda.
Cklek!
Senyumnya mengembang kala melihat seorang wanita bertubuh berisi tengah menatap pantulan dirinya di cermin. Perutnya terlihat besar karena kehamilannya.
"Udah cantik kok gak perlu di lihat lagi." Seru Nathan membuat wanita itu terkejut.
"Ish! Aku gendutan yah?"
Nathan tersenyum, dia mendekati wanita itu dan memeluk perutnya. Dia meletakkan kepalanya di bahu wanita tersebut dan menghirup dalam aroma vanilla darinya.
"Wajar aja kalau kamu lebih berisi, kan ada anak kita di perut kamu, sayang." Ujar Nathan sembari mengelus perut bulat itu.
Marsha, kini kembali hamil. Kehamilannya sudah beranjak bulan ke enam dimana dia sudah bisaa merasakan gerakan si bayi. Kehamilannya kali ini tak seperti si kembar dulu, kehamilannya kali ini membuatnya sering merasa lapar. Akibatnya, berat badannya naik pesat. Wajahnya pun kini terkadang timbul jerawat dan mudah kusam, membuat Marsha merasa insecure.
"Aku udah gak cantik yah?"
Nathan menatap pantulan cermin, sejenak dia menghela nafas pelan. Dia akui, jika tubuh Marsha lebih gemuk saat ini. Tapi bukan berarti wanita itu tak lagi cantik di matanya. Malah, Nathan merasa senang dengan tubuh berisi Marsha apalagi di beberapa bagian yang dia senangi.
"Siapa bilang? Kamu tetap cantik kok," ujar Nathan.
"Kamu sekarang Ceo, tampan. Wajah kamu malah semakin tampan, sedangkan istri kamu sekarang udah gak secantik dulu lagi. Lihat wajahku, kusam. Kulitku juga gak seputih dulu,"
"Syuutt, sini liat aku." Nathan membalikkan tubuh Marsha, dia meraih sisi kepala sang istri. Air mata sang istri luruh, kehamilannya kali ini membuatnya begitu sangat sensitif. Sehingga, Nathan harus lebih peka terhadap perasaannya.
"Siapa yang bilang kamu jelek hm? Kamu cantik, kalau kamu ngerasa mukamu kusam. Kita tinggal pergi ke klinik kecantikan, aku biayain semuanya. Nanti juga glowing lagi. Kalau soal tubuh kamu yang semakin berisi, aku malah makin suka. Kamu tahu kenapa?"
"Kenapa?" Tanya Marsha dengan bingung.
Nathan mendekatkan mulutnya pada telinga Marsha, dia membisikkan satu hal yang membuat bola mata Marsha melebar.
"IIHHH!! NGER3S OTAKNYA!!" Pekik Marsha sembari memukul bahu Nathan.
Nathan terkekeh di buatnya, jujur saja. Tubuh istrinya yang lebih berisi membuat dia semakin mencintai istrinya itu.
"Lagian, aku yang seharusnya merasa bersalah. Kamu merasa tubuh kamu rusak, itu juga karena aku. Aku yang menitipkan benihku padamu, maaf sayang."
Marsha menghapus air matanya, dia mempunyai suami yang hebat. Untuk apa dia merasa sedih? Selama ini yang dia tahu, Nathan begitu setia padanya. Pria itu, selalu menenangkan hatinya.
"Jangan bilang begitu, ini juga anakku." CIcit Marsha.
"Kalau gitu senyum dong, nanti kita antar si kembar sama-sama. Setelah itu, aku akan antar kamu ke klinik kecantikan."
"Emangnya kamu gak kerja?" Tanya Marsha.
"Dasar!" Pekik Marsha dnegan senyum mengembang.
"Udah sana, pakai baju." Usir Marsha.
Bukannya menuruti, Nathan malah meraih pinggang istrinya. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Tatapannya menyorot mata cantik Marsha dengan tatapan lekat.
"Gimana kalau ... sekali lagi?" Tanya Nathan dengan lirih.
"Kan tadi malam udah, nanti si kembar telat," ujar Marsha.
"Haaahh baiklah, kali ini kamu lolos." Pasrah Nathan.
Saat suaminya berganti pakaian, Marsha kekoiar kamar. Dia ingin melihat keadaan ketiga putrinya yang tengah bersiap.
Marsha memasuki kamar putrinya, di lihatnya kamar itu super berantakan. Seketika, Marsha menghela nafas panjang. Untung saja, di rumah ini sudah ada tiga pembantu. Kalau tidak, entah bagaimana keadaan mental Marsha saat ini.
"Kenapa berantakan seperti ini?" Tegur Marsha kepada tiga putranya yang sedang menyiapkan tas mereka.
"Si ijah mama, dia belantakin kamal. Tegul aja, dali tadi cibuk cali cepatu, tauna ada di kolong tempat tidul." Sewot bocah berpita pink, dia adalah Nayara. Ciri khas dari Nayara adalah, bocah itu memiliki lesung di pipi kanannya. Membuat orang lain bisa sedikit membedakan antara dia dan kedua kembarannya.
"Heh! Ijah ... ijah ... AIZHAAA!!" Sewot Aizha tak terima. Dia antara kedua kembarannya, dia yang paling aktif. Kulitnya lebih putih dari kedua kembarannya, dan juga rambutnya lebih berwarna coklat Terang. Sedangkan rambut kedua kembarannya, berwarna coklat kehitaman. Itulah ciri khas yang bisa membedakan antara Aizha dan kembarannya.
Marsha beralih menatap Aizha yang melirik sinis pada Nayara.
"Mama sudah bilang berapa kali, taruh sepatu itu di tempatnya." Tegur Marsha, tetapi tatapannya tetap menatap dengan penuh kelembutan.
Aizha tertunduk, "Izha lupa mama." Cicit Aizha.
Marsha menggelengkan kepalanya, putrinya selalu menjawab seperti itu. Karena tak ingin memperpanjang masalah, Marsha menyuruh putrinya untuk turun sarapan.
"Yasudah, kalian ke bawah yah, sarapan. Sebentar lagi papa nyusul." Pinta MArsha.
Ketiganya mengangguk, dan berlalu keluar. Saat sampai di pintu, Aizha menarik pita milik Nayara hingga membuat kembarannya itu memekik kesal.
"IJAAAAAHHH!!!"
"GATEL TANGANAAA!!"
Marsha menggelengkan kepalanya, dia mendekati Nayara yang hampir menangis karena tatanan rambutnya rusak.
"Sini, mama benerin." Ajak MArsha.
"Ijah nakal." Lirih Nayara dengan siara bergetar.
"Iya, nanti mama tegur yah. Jangan menangis, nanti bengkak matanya."
Selesai Marsha membenarkan pita milik Nayara, dia menggandeng anaknya itu turun untuk sarapan.
Walau kembar, ketiganya memiliki warna kesukaan yang berbeda. Aizha menyukai warna biru, Nayara menyukai warna pink, dan Nadira menyukai warna ungu.
Ketiga kembar sudah mendapat kan sarapan mereka masing-masing, dan tak lama Nathan pun datang dengan pakaian biasa membuat ketiga anaknya menatap heran.
"Papa nda kelja?" Tanya Aizha.
"Papa libur," ujar Nathan dan mengambil roti untuknya.
"Enak kali, libul coba. Izha juga mau libul kalau gitu." Seru Aizha dengan senyum mengembang.
"Boleh, selamanya libur yah. Papa adakan homeschooling di rumah, bagaimana?" Seketika, raut wajah Aizha berubah kesal.
"Galak kali, kayak bang Lojali. Cuman minta libul doang, nda di ...,"
"Ngomong apa kamu?" Seru Nathan, mendengar gerutuan anaknya itu.
"Ndaaaa papa." Kesal Aizha.
___
Masuk alur baru yah, konfliknya gak berat kok. Tenang aja😌
jangan lupa dukungannya 🤩🤩