Find Me Daddy

Find Me Daddy
Bawa istri, tapi bukan kamu



Aizha berangkat sekolah dengan senyum mengembang, dia berhasil menyelesaikan tugasnya. Walau harus mengorbankan ayam Javier, yang terpenting tugasnya selesai.


"Yala gambal apa?" Tanya Aizha pada kembarannya itu.


"Gambal lingkalan lah, emang apa lagi. Kan guluna culuhna lingkalan cemua." Perkataan Nayara, sontak membuat mata Aizha membulat.


"Kan ayam! Kok lingkalan!!" Pekik Aizha tak terima.


"Emang lingkalan kok, guluna kan cuman bilang gambal lingkalan kayak telul ayam. Bukan ayam,"


Raut wajah Aizha pias, dia menatap kedua kembarannya dengan tatapan tak percaya. Matanya beralih menatap gambaran miliknya, apakah usahanya semalam sia-sia?


Sementara di depan, Nathan dan Marsha saling melirik. Lalu, keduanya menghela nafas pelan.


"Papa hiks ... gambalna Izha caaalaaaahh hiks ... gimana ini! gimana ini! gimana!! huaa!!"


"Salah Aizha ceroboh," ujar Nathan membuat tangisan Aizha semakin memekik telinga.


Marsha menghela nafasnya pelan, dia menolehkan sedikit tubuhnya agar bisa melihat putrinya. Namun, sebelum itu terjadi. Nathan justru malah menahan perutnya dengan tangan kirinya yang tak memegang stir.


"Aduh Yang! Liat perutmu itu loh, nanti ke gencet sama sabuk pengaman!" Pekik Nathan.


"Iya-iya!" Seru Marsha, kembali memeriksa sabuk pengamannya.


"Gak usah memiringkan badan, kamu tuh." Omel Nathan. Bukan apa-apa, Nathan hanya takut sabuk pengaman itu membuat perut istrinya tertekan.


"Papa, nanti guluna malah gimana hiks ... nanti izha nda boleh macuk gimana." Panik Aizha.


"Nanti mama bantu ngomong yah." Bujuk Marsha.


"Tapi ... tapi ...."


"Lagian, gulu ngomong itu didengelin! Jangan cibuk gombalin anak olang!" Ketus Nadira.


"Dira." Tegur Marsha. Khawatir, Aizha akan semakin menangis keras.


"Ciapa yang gombalil hah?! Izha cuman ngomong ici hati doang! calahna dimana?" Pekik Aizha.


Mobil Nathan terhenti di pelataran sekolah putrinya, dia bergegas turun untuk membuka pintu sang istri.


" Ayo." Ajak Nathan.


Namun, Marsha terlihat ragu. Matanya menatap ke seliling sekolah yang terlihat sangat ramai. Ada dasa cemas di hatinya, Marsha tak dapat jelaskan rasa itu.


"Sudah, ayo. Sama aku." Kekeuh Nathan.


Marsha memegang kedua lengan suaminya, lalu Nathan pun menarik dirinya. Maklum saja, perut Marsha yang besar membuatnya kesulitan untuk bangun dari mobil sedan milik suaminya.


Nathan berjalan sembari merangkul pinggang istrinya, sementara si kembar mengikuti keduanya dari belakang. Namun, sedari tadi Aizha diam menunduk. Kepalanya berpikir, apakah dia harus mengulang gambarnya?


"Nda ucah cedih, gambalanna lingkalan doang. Bukan gambal maca depan yang begitu culit." Celetuk Nadira sembari menepuk bahu adiknya itu.


Aizha menghela nafas pelan, "Menggambal maca depan nda begitu culit, Izha dah kaya dali lahil. Yang mau jadi pacal Izha banak, maca depan izha dah teljamin." Sahut Aizha, membuat Nadira seketika menatap datar padanya.


Saat akan memasuki kelas putrinya, langkah Nathan terhenti saat ponselnya berdering. Dia lun, sejenak melihat siapa yang menelponnya.


"Siapa?" Tanya MArsha.


"Papi." Sahut Nathan.


"Angkat saja." Suruh MArsha.


Nathan mengangguk, dia melepaskan tangannya dari pinggang Marsha. Saat mengobrol, keningnya mengerut. Dia menatap istrinya dan berbisik pelan.


"Sayang, aku tinggal sebentar. Nanti kalau udah selesai, Langsung ke mobil ya." PEsan NAthan, dan bergegas beranjak pergi.


MArsha menaikkan bahunya, acuh. Sudah biasa Nathan seperti itu, jika suaminya menjauh. Maka, ada hal yang di bicarakan dengan serius.


"Oh, halo. Apa kau istri tuan Nathan?"


Seketika, MArsha menoleh. Menatap wanita modis di hadapannya, bahkan kaca mata hitam wanita itu seakan menutup setengah wajahnya.


"Ya?"


"Putriku juga sekolah disini, apa kau lupa denganku nona?" Tanya wanita itu.


Marsha mengerutkan keningnya, dia kerasa asing dengan wanita di hadapannya ini.


"Sombong sekali yah, mentang-mentang jadi istri seorang CEP muda tampan. Belagu banget." Sinis nya.


"Apa ada yang salah dari ucapan saya? Jika anda orang kenting, maka saya akan mengingat anda. Nyonya," ujar Marsha dengan kesal.


Tampaknya, wanita itu berd3cih lirih. Sedangkan ketiga kembar, menatap kedua wanita yang sedang berdebat itu dengan tatapan bingung.


"Makin gemuk yah, hati-hati loh. Nanti suaminya malah selingkuh sama sekretarisnya."


"Saya dulu pas hamil, badan tetep langsing. Apa anda mau minum obat diet yang saya jual? Kebetulan, saya menjual obat diet. Biar suami gak kena kelakar." Ujarnya, membuat Marsha semakin jengah.


"Enggak, saya tidak mau." Sahut Marsha.


"Eh, nona. Liat badan saya, langsing dan terawat. Suami jaman sekarang, gampang kepincut sama pelakor. Memangnya anda tidak takut?" Ancam wanita itu membuat MArsha sedikit terpengaruh.


Ketiga kembar menatap wanita lalu, dan beralih menatap mama mereka dengan kening mengerut.


"Citu pengalaman kali kayakna ama pelakol yah?"


"Heh! gak sopan kamu yah! Tante ini cuman mau nasehatin mama kamu aja! Lagian, kasian kan kalau papa kalian justru malah selingkuh." Sindir wanita itu.


"CYUTT!! NDA UCAH JADI KOMPOL, KATA OPA KALAU CANTIK YA NAPAIN TAKUT? KALAU CITU MELACA JELEK, BALU HALUSNA TAKUT!" sewot Aizha dengan berkacak pinggang. Mata bulatnya menatap wanita itu dengan tajam.


"KAu ...."


"LAMPEEEE!!! AJAK PULANG MAMAKMU! LUSUH KALI! MACAM PETASAN ENTUT, BELICIK KALI!"


"Dasar, hak sop ...." Wanita itu ingin mendaratkan tangannya pada Aizha. Namun, sebuah tangan lebih dulu mencegah tangannya sampai pada bocah lucu itu.


Tatapan wanita itu mengarah pada Marsha, mata tajam MArsha menghunus tepat pada matanya. Raut wajah datar Marsha, membuat wanita itu terkejut.


"Saya diam, bukan berarti saya setuju Dengan ucapan mu. Saya hanya ingin melihat, sampai mana 4njing menggonggong." Ujar Marsha dengan suara rendah.


Wanita itu menarik tubuhnya, matanya menatap tajam Marsha yang menatap santai ke arahnya.


"Saya hanya mencoba menasehati anda, itu pun demi kebaikan anda." Ujar wanita itu.


"Bedakan antara menasehati dengan memerintah seseorang. Kau seakan memegang kendali penuh atas hidupku. Tubuhku adalah milikku, jadi terserah aku ingin melalukan apapun. Aku juga makan tidak dari duitmu. Kenapa kau terlihat keberatan?"


Wanita itu menatap kesal ke arah Marsha, sedangkan Marsha. Dengan santainya dia meminta ketiga putrinya untuk duduk.ketiganya Namun, ketiganya tidak mau.


Tak lama, datang seorang anak berambut pendek dengan tubuh yang gemuk. Anak Itu memegang bungkusan ciki di pelukannya.


"Tante lombeng, dali pada mikilin hidup mama Izha. Mending ngulucin anakna, lawat anakna. Jangan liptikaaaan aja," Sewot Aizha.


"kau!! Jika suamimu selingkuh, aku orang pertama yang akan menertawakan mu!!" Unjuk wanita itu tepat di hadapan wajah MArsha.


"Sebelum itu terjadi, aku yang akan menertawakanmu lebih dulu."


Degh!!


Wanita itu menoleh, wajahnya langsung pucat ketika tahu siapa yang menegurnya tado.


"Tu-tuan Nathan."


Nathan dengan dengan ekspresi yang dingin, tangannya merangkul cepat pinggang istrinya untuk mendekat ke arahnya.


"Suamimu Bambang Dermawan kan? Pemilik perusahaan tekstil?" Tanya Nathan.


"Betul tuan, dia suami saya!" Seru wanita itu dengan bangga.


Satu sudut bibir Nathan terangkat, membuat senyuman sinis tercetak di bibirnya.


"Seharusnya, kamu yang harus lebih khawatir dengan diri kamu sendiri." Ujar Nathan, membuat senyum wanita itu luntur.


"Maksudnya?" Bingung wanita itu.


"Dia sering membawa istrinya ke acara rapat kami. Tapi, sayangnya. Wanita itu, bukan anda."


"APA?!"


___


Oh ya, maaf banget baru bisa up. Kembar genius besok yah up nya. Author baru pulang dari urusan di luar kota😅 jadi belum sempat buat. Jadi, jangan di tunggu oke. Kembar genius up lagi hari senin dengan 4 chapter. DI tunggu besok yah🥳🥳