
Sofia dan Kenan bergegas datang ke kediaman Aaron, setelah di beritahu oleh Zeva jika putra mereka tengah berada di sana dan sedang sakit.
"Bagaimana dengan putraku Zeva?" Tanya Sofia ketika Zeva menyambutnya.
"Ada di kamar Marsha mbak, kayaknya lagi tidur." Jawab Zeva.
Zeva membawa Sofia ke kamar Marsha, sedang Kenan. Dia lebih memilih menunggu di ruang tamu bersama Aaron yang mengajaknya berbincang.
Cklek!
"Makanlah, sesuap saja. Kamu harus minum obat,"
"Mual, lo tau gak sih!"
"Tapi harus di paksa!"
Narsha sedang berusaha membujuk Nathan agar suaminya itu makan. Namun, tetap saja. Nathan tak ingin membuka mulutnya. Dia malah asik memeluk pinggang Marsha dan menenggelamkan wajahnya pada perut Marsha.
"Nathan."
Nathan dan Marsha tersentak kaget, mereka baru menyadari kehadiran ibu dan mertua mereka.
"Eh, tante." Pekik Marsha.
"Kok tante sih!" Pekik Nathan tak suka dengan cara panggilan Marsha.
Marsha menghiraukan Nathan, dia bergegas bangkit dan menyapa mertuanya itu dengan sopan.
"Maaf tante, gara-gara Marsha. Nathan jadi ...,"
"Tante? harus berapa kali mami bilang hm? Mulai sekarang, panggil nya itu mami. Sama seperti Nathan," ujar Sofia dengan gemas. Pasalnya, hal itu sudah berulang kali dia ucapkan ketika dirinya menelpon Marsha. Namun, tetap saja. Menantunya belum terbiasa memanggilnya dengan sebutan mami.
Natha beranjak duduk, dia menatap sinis ke arah Sofia. Melihat tatapan putranya, tentu saja Sofia menatap heran.
"Aku gak mau pulang!" Ketus Nathan.
Sebelah alis Sofia terangkat, seakan bertanya. "Yang suruh kamu pulang siapa?" Bingung nya.
"Halah, pasti mami kesini ingin geret aku pulang kan? pokoknya, aku gak mau!" Kekeuh Nathan.
Sofia menatap bingung ke arah Marsha. Saat mendapat tatapan seperti itu, Marsha hanya mengangkat bahunya.
"Mami kesini ingin melihat kondisi kamu, kok bisa sampai hujan-hujanan sih." Omel Sofia.
Nathan diam saja di tegur seperti itu, dia malah kembali merebahkan dirinya dan menarik Marsha untuk kembali berbaring.
"Udah sana, mami pulang aja! aku mau tidur lagi!" Usir Nathan.
Jelas saja, Sofia menganga melihatnya. Dirinya di usir, oleh putranya sendiri.
"Anak gak ada akhlak kamu yah! kamu usir mami hah?! gak akan mami masakin kamu lagi!" Ancam Sofia.
"Hais, aku udah nikah kalau mami lupa. Gak dapet makan di rumah, aku bisa ke rumah istriku." Jawab Nathan dengan enteng.
Sofia beralih menatap Zeva dengan tatapan tak percaya, sedangkan yang di tatap pun turut merasa kaget.
"Nathan!" Kesal Marsha Karena Nathan memaksanya untuk tidur. Apalagi, ada mertuanya.
"Apa sih! udah tidur aja! kepala aku masih sakit ini, kamu gak kasihan apa!"
Sofia bergegas keluar, Zeva pun mengikuti besannya itu. Sedangkan para anak mereka, kembali tidur dengan berpelukan.
"Mas! mas!" Heboh Sofia sembari memukul bahu suaminya.
"Apa sih!" Pekik Kenan.
"Nathan kayaknya kesurupan deh!" Panik Sofia.
"Ha?" Kenan masih belum mengerti ucapan istrinya.
Aaron menatap sang istri meminta penjelasan, Zeva pun hanya mengangkat bahunya saja.
"Masa dia ngusir aku?! terus ... terus, dia manja banget ke Marsha. Kayak bukan Nathan, dia kan tembok. Gak bisa romantis dikit, kayak kamu!"
"Lah, kok aku? lagian, Nathan juga udah punya istri. Wajar dia manja ke istrinya."
"Tapi ini bedaaaa!!!" Greget Sofia.
Sementara di kamar, Nathan mendapat omelan dari Marsha. Sedari tadi, Marsha tak berhenti menegurnya.
"Kamu gak liat raut wajah mami pas kamu usir? jangan kayak gitu! mau aku pecat jadi suami hah?!"
Nathan malah asik menatap wajah kesal Marsha, istrinya sangat lucu ketika marah.
"Lo cantik."
Omelan Marsha terhenti, dia menatap suaminya dengan tatapan tak terbaca. Jantungnya berdegup lebih keras.
"Jangan gombal!" Kesal Marsha.
"Enggak, mana pernah gue gombal. Cuman ke lo aja kok, gue bilang cantik," ujar Nathan.
Marsha mengerucutkan bibirnya sebal, dia berbalik hingga memunggungi Nathan. Tak di sangka, Nathan meletakkan dagunya di bahu sang istri.
"Gue kayaknya mulai suka sama lo deh,"
Perkataan Nathan, membuat tubuh Marsha lemas seketika. Ini kali pertama Nathan berbicara mengenai hati padanya.
"Maaf soal tadi siang, aku lupa jadwal periksa bayi kita. Seharusnya aku menemani kamu lebih dulu," ujar Nathan dengan rasa bersalah.
"Gak papa, kamu kan antar kakak kamu," ujar Marsha.
Nathan menghela nafasnya, sebenarnya dia ingin bilang pada Marsha jika Claudia bukanlah kakak kandungnya. Tapi, bagaimana?
Bulu kuduk Marsha merinding saat merasakan tangan suaminya menyelinap masuk ke dalam piyama yang ia kenakan.
"Nathan." Lirih Marsha dengan takut.
"Aku ingin menyapanya tanpa penghalang, bolehkan?"
Entah mengapa, Marsha malah mengizinkan suaminya untuk melakukannya. Namun, bukan hanya sekedar elusan, seperti nya Nathan ingin hal lebih.
Tersadar, Marsha bergegas menahan tangan suaminya yang akan membuka kancing atas bajunya.
Marsha bergegas memandang Nathan, dia menatap Nathan dengan tatapan tajam.
"M-maaf, gue gak bermaksud ...,"
Marsha mengangguk dengan cepat. Keduanya pun sontak menjadi canggung.
"Aku akan memberikannya, tapi setelah kamu lulus ujian nanti. Kalau sekarang, jangan dulu." Lirih Marsha.
Mendengarnya, membuat angin sejuk menerpa wajah Nathan.
"Beneran! janji loh yah!" Lekik Nathan heboh.
"Itu pun, kalau kamu lulus." Ujar MArsha sembari berbalik kembali memunggungi Nathan.
"Kalau gue gak lulus?" Tanya Nathan dengan penasaran.
"Jangan harap aku mau sama kamu."
"Ish! Mulai nakal lo yah!!" Nathan mencuri kecupan di pipi Marsha, membuat wanita itu memekik kesal.
"NATHAN!!".
.
.
.
Claudia terbangun di tengah malam, dia melihat suaminya yang sedang tidak ada di kamarnya.
"Kemana dia." Gumam Claudia.
Claudia bergegas turun dari ranjang, dia mencari suaminya di ruang kerja. Dan benar saja, Mario ketiduran di meja kerjanya.
"Hem, kebiasaan." Dengus Claudia dengan tersenyum tipis.
Claudia menghampiri suaminya, berniat akan membangunkannya. Namun, netranya malah menangkap gambar di laptop suaminya yang masih menyala.
"Dia ...."
Seketika, air mata Claudia luruh. Melihat foto sang suami dengan seorang wanita. Keduanya bahkan tersenyum lebar ke kamera.
Karena penasaran, dengan perlahan Claudia membuka galeri. Dan betapa terkejut nya dia saat melihat banyaknya foto wanita yang sama.
"I ... ini ...."
"Eungh!!"
MArio terbangun, dia renggangkan ototnya yang terasa kaku. Netranya mengerjap pelan saat melihat silet bayangan istrinya.
"Claudia!" Kaget Mario.
Tatapan Mario beralih menatap laptopnya yang berisikan banyak foto wanita lain. Spontan, dirinya bergegas menutup laptopnya.
"Br3ngsek kamu yah." Lirih Claudia dengan air kata yang menggenang di pipinya.
"Clau, ini enggak seperti yang kamu bayangkan."
"Terus apa?! Apa yang aku bayangkan hah?; siapa wanita itu!!" Sentak Claudia.
Mario tak menjawab, dia malah berusaha memegang tangan Claudia. Walau istrinya itu menghindar.
"Kamu salah paham,"
"Salah paham gimana? aku lihat galeri kamu, isinya foto dia semua! siapa dia hah?! Dan ada hubungan apa kamu sama dia hah! jawab!!"
Mata Mario bergerak gelisah, membuat Claudia geram di buatnya.
"Dia ... dia ...,"