Find Me Daddy

Find Me Daddy
Balasan Javier



Sore hari, Marsha pulang dengan keadaan wajah yang lelah. Seharian dia menemani mertuanya belanja, bukan dia yang belanja. Dia merasa gak mood belanja karena terus kepikiran dengan anak kembarnya.


Di saat dia sampai ke dalam rumah, matanya melihat Nathan yang sedang menggendong salah satu anak mereka di ruang tengah.


"Nathan." Panggil Marsha.


Nathan berbalik, dia tersenyum mendapat istrinya yang sudah pulang. Dia bergegas menghampiri sang istri dengan membawa bayinya.


"Sudah pulang sayang? gimana? Seneng gak?" Seru Nathan, dia berpikir istrinya bersenang-senang.


"Senang apa?! istrimu baru lima menit perjalanan sudah minta pulang, mami ajakin shopping perlengkapan anak kalian kerjaannya bengong aja." Sahut Sofia yang baru saja masuk dengan bawaan paperbag di kedua tangannya.


Nathan mengerutkan keningnya, dia beralih menatap istrinya yang tengah memegangi tangan bayinya.


"Sayang, kok gitu?" Tanya Nathan.


"Perasaan aku gak enak terus, ini yang kamu gendong siapa? Aku masih kesulitan bedainnya kalau gak di urut," ujar Marsha.


Memang bayi mereka sangat terlihat mirip bahkan hampir tidak ada bedanya, bahkan Nathan harus memasangkan gelang nama agar tidak tertukar nantinya.


"Ini, Aizha. Nih liat gelangnya." Unjuk Nathan.


Marsha mengangguk paham, dia meminta Aizha pada Nathan. Namun, Nathan malah menjauhkan dirinya.


"Eh ngapain? kamu bersih-bersih dulu sana, kan baru dari luar." Tegur Nathan


Marsha tersadar, dia bergegas pergi tampa banyak berkata. Sementara Nathan, dia datang menghampiri Sofia yang tengah duduk di sofa sembari mengeluarkan belanjaannya.


"Mami belanja gak pake duit papi? istriku gak ada bawa belanjaan tuh!" Sewot Nathan.


Wajah Sofia yang tadinya tersenyum cerah seketika merengut sebal, dia menatap sinis putranya itu. "Memang kamu pikir, mami matre? Ini semua baju anak kamu! Bando, liat deh! bandonya lucu kan. Buat ganti-ganti, terus ini nih! baju boneka, ih gemes. Sepatunya, lihat! Nanti kalau ada acara cucu mami harus pake."


Nathan melongo saat dirinya menatap belanjaan sofia yang begitu banyaknya isinya hanya perlengkapan bayi mereka.


"Mam! Baju mereka masih banyak yang baru, kenapa harus beli lagi?!" Pekik Nathan.


"Kamu tuh jangan pelit-pelit sama anak!" Kesal Sofia.


"Iya tapi, sayang mam bajunya. Mereka cepat besarnya." Seru Nathan.


"Apa lah kamu ini, ngomong sama kamu mah gak ada guna. Orang cucu mama seneng kok pale baju baru, iya kan Aizha? Seneng kan nenek beli baju baru untuk Aizha?"


Aizha yang di gendong menghadap ke arah neneknya, hanya menanggapi celotehan Sofia dengan tersenyum lucu hingga menampakkan gusi-gusinya.


"Tuh! Aizha aja senyum, kamu aja yang pelit. Udah lah! mami ke kamar dulu, capek. Kamu suruh bibi bawakan belanjaan ke kamarmu."


Nathan hanya terbengong setelah kepergian sofia, belanjaannya sangat banyak. Dia belum melihat berapa total yang sang ibu habiskan untuk keperluan ketiga bayi kembar itu.


"Boleh gak sih ganti mami, kok bisa papi tahan ama mami yang boros begitu." Gumam Nathan.


Malam harinya, Nathan di minta ke ruang kerja Kenan. Sepertinya, Kenan ingin membicarakan suatu hal yang serius.


Cklek!


"Ada apa papi manggil Nathan kesini?" Seru Nathan sembari berjalan menuju meja kerja Kenan.


"Duduk lah." Titah Kenan.


Tanpa membantah, Nathan duduk di hadapan Kenan. Dia bersandar pada kursi sembari mengetuk meja.


"Kakek memintamu untuk kuliah di Harvard."


"Oohh, bukankah sedari dulu kakek sudah katakan jika dia ingin aku kuliah di Harvard? tapi sekarang, sudah tidak lagi ada pembahasan itu."


"Justru itu! Kakek memintamu kuliah di Harvad tanpa membawa istri dan anak-anakmu."


"APA?! ENGGA BISA GITU DONG PI!" Pekik Nathan.


"Dengerin dulu! kamu tuntaskan kuliah kamu di sana, biar istri dan anak-anakmu berada disini. Sebulan sekali, papa akan mengantar istri dan anak kembar kalian menjengukmu di sana."


"Aku gak mau! aku gak mau kuliah disana! kalau kakek mau aku kuliah, aku mau kuliah disini!" Tolak Nathan.


Nathan melototkan matanya, rahangnya mengeras. Tangannya terkepal erat di kedua sisi tubuhnya.


"Hanya tiga tahun, setelah itu kamu bisa pulang dan meneruskan perusahaan kakekmu."


"Kalau Marsha dan anak-anakmu ikut, kamu tidak akan bisa mengurus mereka dan tidak bisa fokus pada kuliahmu. Pagi sampai malam kamu harus sibuk dengan kuliah dan bimbingan semacamnya. Sedangkan istrimu? apa kamu tidak kasihan dengannya?"


"Sudahlah, turuti saja. Masalah nafkah istrimu, tidak usah pusingkan itu. Sementara, papi yang akan menanggung semua keperluannya sampai kamu kembali bekerja."


Nathan menghela nafas pelan, dia berat harus berpisah dari anak-anaknya. Apalagi, saat ini anak-anaknya sedang masa lucu-lucunya. Mana tega dia meninggalkan ketiganya dan melewatkan tumbuh kembangnya.


"Apa tidak bisa di tunda? Sampai anak-anakku berusia dua tahun?" Tanya Nathan dengan ragu.


"Kakekmu memintamu berangkat bulan depan, bukan tahun depan. Lakukan saja, papi akan sering-sering bawa istri mu dan si kembar menjengukmu di sana."


Nathan terdiam, bagaimana dia bicarakan hal ini pada istrinya?


.


.


.


Javier bermalam di kediaman Smith, Laras benar-benar tak mengizinkan Aaron membawa JAvier pulang. Jadilah Zeva memaksa Aaron untuk nginap di kediaman Smith sampai Javier mau kembali pulang.


"Besok pagi pulang yah." Bujuk Aaron, menatap putranya yang sedang bermain dengan kucing milik Azka.


"Nda mau! Mau dicini aja! Tukang ketoplakna lewat telus, nda pelna kehabican." Seru JAvier.


Aaron menghela nafas pelan, dia ingin kembali ke rumahnya. Sebab, kalau disini. Istrinya selalu mengobrol bersama kakak iparnya. Membuat Aaron merasa tak dapat perhatian dari istrinya itu.


"Tukang ngambek, dasar!" Sindir Varo.


Javier yang tadinya anteng seketika kembali meledak-ledak. "CITU MULUTNA MAU DI PLESTEL HAH?! ENTENG KALI NGOMONGNA! BEBAN NEGALA DACAL!!" Seru Javier dengan emosi.


Varo menahan tawa, dia kembali melihat ponselnya dan menghiraukan tatapan tajam adiknya.


"Awac aja yah." Gertak Javier.


Javier berdiri, dia berjalan keluar rumah. Aaron membiarkannya, karena di luar ada penjaga yang akan mengawasi putranya. Javier tidak akan main jauh, dia pasti hanya akan main di teras.


"Varo, bujuk adikmu pulang sana! Daddy mau pulang!" Titah Aaron.


"Dih, ogah! enakan disini, ada bang Azka dan bang Ariel. Gak sepi kayak di rumah, adanya cuman si bocil meresahkan doang tuh di rumah." Enggan Varo.


Aaron merengut, dengan cara apalagi dia membujuk Javier. Putranya tak seperti Marsha kecil dulu, di bujuk mainan langsung mau. Jika Javier, dia harus membujuknya dengan segala macam cara.


"TUAN!! TUAN!!"


Bodyguard berlari mendekati Aaron dan VAro dengan raut wajah panik. Sontak, keduanya pun ikut-ikutan panik.


"Kenapa pak? anak saya keluar?!" Pekik Aaron, dia pikir Javier hilang dari pengawasan mereka.


"Enggak! Itu ... knalpot motor den Varo di isi air!!"


"APA?!" Tanpa berpikir apapun lagi, Varo bergegas berlari dengan kencang.


Dia bisa melihat, Javier memasukkan selang air ke dalam knalpot motor mahalnya.


"JAVIEEERRR!!! MINTA DI JUAL KAMU YAAAHH!!"


Javier tersentak kaget, dia bergegas berlari ke dalam rumah untuk menghindari amukan sang abang. Bajunya sudah basah karena air, bajunya pun terdapat banyak bercak tanah.


Varo buru-buru melepas selang itu dari knalpot motornya. Dia bergegas menyenteri knalpotnya dengan senter ponselnya dan mengarahkannya pada lobang konalpotnya.


"Diih si bebek, motor gue bukan cuman di masukin air doang ama dia. Tanah juga ikut di masukin, emang bener-bener yah. Mau bilang anak ghost , tapi bapaknya satu." Kesal Varo.


___


Huhu maaaf, semalem pulang acara langsung tidur😭😭😭 baru buat lagi ini.