
Aaron tengah mengadakan rapat penting dengan para rekan bisnisnya, dia mengamati salah seorang rekan bisnisnya yang sedang menyampaikan sebuah saran.
"Jadi, penyaluran dana akan kita ...,"
DERTT!!
DERTT!!
Aaron menghentikan ucapannya, dia melihat sekilas ponselnya yang bergetar di atas meja. Tertera nama MY LOVE sedang melakukan panggilan masuk terhadap nya.
"Tumben Zeva menelpon di jam segini. Tadi chat bilang lagi di luar." Batin Aaron setelah melihat jam tangannya.
"Bagaimana tuan Aaron?" Tanya salah seorang di antara mereka.
"Hmm jadi begini, kita akan meluncurkan dana sebesar. ..."
Ponsel Aaron bergetar kembali, mendadak perasaannya menjadi cemas.
"Maaf, apakah saya boleh mengangkat telpon sebentar? tak biasanya istri saya menelpon hingga seperti ini, takutnya ada hal penting." Izin Aaron, bagaimana pun. Dia harus menghormati para rekan bisnis bisnisnya..
Mereka semua saling pandang, hingga Aaron bisa mendapat persetujuan dari mereka.
"Baiklah tuan, kami bisa menunggu. Siapa tahu, istri anda ingin menyampaikan kabar yang darurat."
"Terima kasih." Sahut Aaron dan bergegas keluar.
Aaron menggeser icon terima pada ponselnya, lalu dia menempatkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo, kenapa sayang?" Tanga Aaron dengan lembut.
"Daddy hiks ... daddy hiks ...,"
Raut wajah Aaron berubah menjadi khawatir, dirinya mendengar putrinya menangis histeris.
"Marsha? princess? Kenapa kamu menangis? dimana bunda? berikan ponselnya pada bunda!" Cemas Aaron.
"Bunda nda cadal, Malcha cama olang bawa bunda ke lumah cakit. Daddy kecini cepat, Malcha takut hiks ... bunda nda buka-buka matana hiks ...,"
Deghh!!
Jantung Aaron berdebar kencang, rasa panik menyelimuti relung hatinya.
"Tenang yah sayang ... Tenang ... Marsha sama bunda sekarang ada dimana? daddy akan kesana sekarang!" Tanya Aaron berusaha menenangkan putrinya yang berusaha menangis.
"KAMI MAU KE RUMAH SAKIT HARAPAN PAK! BAPAK NANTI SUSUL SAJA, KAMI AKAN MEMBAWANYA KE SANA!"
Karena Aaron kepalang panik bukan main, dia langsung mematikan ponselnya. Aaron bergegas memasuki kembali ruang rapat untuk menemui para rekan bisnisnya.
"Mohon maaf, untuk rapat kali ini saya tidak bisa melanjutkannya lagi. Istri saya sedang di larikan ke rumah sakit, untuk itu saya akan segera ke sana." Ujar Aaron pada rekan bisnisnya.
"Tapi tuan Aaron, kami juga memiliki jadwal yang padat. Bagaimana bisa anda membatalkan rapat penting senilai milyaran ini?" Ujar salah seorang rekan bisnis bisnis Aaron.
Aaron menatap pria itu dengan tatapan dingin dan menusuk.
"Apa yang anda lakukan jika anda mendapat kabar bahwa istri anda tengah di larikan ke rumah sakit? apakah anda bisa tenang menjalani rapat ini? sedangkan istri saya hanya bersama putri saya, bagaimana bisa anak umur 3 tahun menangani ibunya yang sedang tidak sadarkan diri?"
rekan bisnis bisnis Aaron mendadak bungkam, perkataan Aaron benar. Namun, mereka merasa bahwa sikap Aaron tidak professional.
"Kalau kalian ingin membatalkan kerja sama ini, silahkan. Masih banyak perusahaan lain yang berharap bekerja sama dengan perusahaan saya. Permisi." Tegas Aaron.
Tak menunggu lama lagi, Aaron bergegas menyusul ke rumah sakit. Dia mengkhawatirkan kondisi istrinya, apalagi yang dia tahu jika istrinya sedang ada di luar.
Sedangkan di rumah sakit, Marsha masih menangis sesenggukan di depan ruang UGD. Tangan kecilnya mencengkram ujung dress miliknya dengan erat.
" Apa kamu takut hm?"
Pria setengah baya itu berjongkok di hadapan Marsha dan mengelus rambutnya dengan sayang.
"Takut, nanti bunda pelgi. Kayak di cinetlon ikan telbang hiks ...,"
Pria setengah baya itu menggaruk pelipisnya, baru kali ini dia jumpai bocah seperti Marsha.
"Daddy lama banget datang na, Malcha takut." Lirih Marsha.
Karena kasihan, pria setengah baya itu membawa Marsha ke pangkuannya. Dia memutuskan untuk duduk di kursi tunggu sembari menunggu dokter ke luar.
"Oh, namamu Marsha yah." Ujar pria itu.
"Iya, om namana ciapa?" Tanya Marsha dengan sesenggukan.
"Jangan panggil om, saya gak semuda itu. Panggil opa Andre."
Yup, pria itu setengah baya itu adalah ANdre. Pria yang sudah Zeva tolong. Andre memang memiliki wajah turunan bule di tambah campuran indo, wajahnya masih terlihat sangat muda. Bahkan, Marsha sampai mengira jika Andre masihlah muda.
"Lihat, rambut opa sudah ada yang putih," ujar Andre menunjuk berapa helai rambutnya yang sudah memutih.
"Tapi kakek Malcha lambutna udah putih cemua, kalau belum putih nda boleh di panggil kakek." Sahut Marsha sembari mengamati wajah Andre.
Andre tertawa, baru kali ini dia melihat anak yang begitu pintar dalam memuji seseorang.
"Bicaramu memang manis sekali nak, kau sangat pintar memuji." Gemas Andre mencubit gemas pipi Marsha.
Seketika Andre menoleh, Sofia beserta Rena menyusulnya dengan raut wajah yang panik.
"Papi gak papa? gak ada yang luka?" Panik Rena mengecek kondisi suaminya.
"Papi gak papa mi, cuman agak keseleo aja linggang. Tapi, yang nolong papi sedang di periksa oleh dokter karena tidak sadarkan diri," ujar Andre.
Rena menghela nafas lega, lalu dirinya terfokus pada Marsha yang menatap keduanya dengan kening mengerut.
"Anak siapa pi?" Tanya Sofia.
"Oh, ini anaknya wanita yang tolong papi," ujar Andre dengan tersenyum lebar.
Sofia sedikit menundukkan tubuhnya, dia mencubit gemas pipi putih kemerahan Marsha.
"Cantik sekali, siapa namanya sayang?" Tanya Sofia dengan lembut.
"Malcha, pake L bukan L." Jawab MArsha membingungkan.
"Namanya Marsha," ujar Andre mewakili.
Sofia ber oh ria, dia tetap memainkan pipi Marsha. Walau sebenarnya anak itu tidak suka pipinya di mainkan, tetapi dirinya sedang berada bersama orang asing. Jadi, dia harus menjaga sikap bukan?
"Kamu gemas padanya bukan? papi juga, coba saja kalau kamu dan Samuel sudah menikah dari dulu. Pasti sekarang papi main sama cucu," ujar Andre dengan cemberut.
Sofia terdiam, dia kembali menegakkan tubuhnya dan beralih menatap Rena yang menatap putrinya dengan sedih.
"Pih, kok di ingetin lagi sih? kan kasihan sofia," ujar Rena.
"Papi bilang kan, lupakan Aaron. Papi sudah menawarkanmu dengan pria lain, tapi kamu tidak mau juga." Sepertinya Andre berusaha keras agar putrinya kau melupakan Aaron, tetapi Sofia belum berhasil move on dari Aaron.
Marsha tadinya sedang menonton perdebatan itu, lalu tatapannya beralih menatap seorang pria yang berlari menuju ke arahnya.
"DADDY! DADDY!!" Pekik Marsha berusaha untuk turun dari pangkuan Andre.
Marsha berlari, dan masuk ke dalam pelukan Aaron. Ketiga orang itu tertegun setelah tahu kalau ayah bocah yang bersama mereka, adalah Aaron.
"Marsha gak papa? gak ada yang luka?" Tanya Aaron sembari mengecek kondisi putrinya.
"Malcha nda papa, tapi bunda na ...,"
Tatapan Aaron kini beralih menatap tiga orang tersebut yang tengah mematung, sama halnya seperti mereka. Aaron juga merasa terkejut.
Cklek!
"Keluarga pasien?"
Aaron langsung bergegas menghampiri dokter yang baru saja keluar sehabis memeriksa keadaan Zeva.
"Saya suaminya dok!" Seru Aaron.
Sofia mengamati Aaron yang menggendong Marsha, dirinya masih tak menyangka jika pria yang dia sukai ternyata sudah memiliki istri. Bahkan kini menggendong seorang anak.
"Sabar." Bisik Rena mengusap bahu putrinya.
"Gimana keadaan istri saya dok?" Tanya Aaron dengan khawatir.
"Pasien mengalami benturan pada pinggangnya, hingga perutnya mengalami keram. Beruntung, janinnya masih bertahan. Pasien hanya mengalami pendarahan kecil, tidak parah. Anda tidak perlu khawatir." Keterangan dokter membuat Aaron mematung beberapa saat. Ini adalah kabar mengejutkan bagi dirinya.
"Hamil? janin?" Tanya Aaron dengan suara bergetar.
Dokter pun menjadi paham, ternyata Aaron belum mengetahui perihal kehamilan istrinya
"Istri anda sedang hamil tuan, teruntuk berapa usianya. Anda bisa membawa pasien di rujuk ke dokter kandungan."
Betapa bahagianya Aaron mendengar kabar kehamilan istrinya, inilah saat yang dirinya tunggu-tunggu. Kehamilan kedua sang istri.
Sementara Sofia, hatinya semakin hancur. Dia memilih pergi dari sana di banding kan harus melihat kebahagiaan Aaron.
BRUGH!!
Karena melamun, Sofia tak sengaja menabrak seseorang.
"Aduh, maaf mas. Mas nya gak papa?" Sofia segera membantu pria yang tak sengaja dirinya tabrak.
"Enggak papa." Sahut Pria itu cepat.
"Eh? Sofia?!"
Sofia tampak mengernyit bingung ketika oria itu malah mengenali dirinya, padahal Sofia merasa jika dirinya sama sekali tak kenal dengan pria itu.
"Maaf siapa yah?" Tanya Sofia.
"Lo lupa? Gue temen SMA lo, Rio! masa lo lupa sih?"
"Rio?"
___
Jangan bosen bosen yah kawan🤗