Find Me Daddy

Find Me Daddy
Memilih melanjutkan pernikahan(S2)



Sofia menatap Marsha, dia melangkah mendekati Marsha dengan langkah pelan. Dia takjub dengan keberanian Marsha mengakui kesalahannya.


"Mi! jika mami menyuruhku untuk berpisah dengan Marsha, lebih baik aku pergi dari rumah! aku akan menikahi Marsha kembali dan ...,"


"Kenapa kamu begitu heboh? mami belum mengatakan apapun." Seru Sofia dengan kesal.


Aaron dan Zeva pun penasaran dengan keputusan Sofia, tangan Zeva melingkar pada pinggang suaminya.


"Mas, bagaimana jika mereka berpisah?" Tanya Zeva dengan berbisik pelan.


"Suamimu kaya sayang, menambah satu anggota keluarga tak membuatku miskin." Bisik Aaron.


Marsha menatap suaminya itu dengan tatapan kesal.


Sedangkan Kenan, dia menyerahkan segala keputusannya pada sang istri. dia yakin, istrinya akan memutuskan dengan bijak.


"Apakah kamu bisa mencintai putra saya?" Tanya Sofia dengan menatap lekat mata Marsha.


"Saya tidak bisa berjanji akan hal itu, tapi saya pastikan. Saya hanya membuka hati saya, untuk suami saya." Tegas Marsha.


"Putra saya sangat nakal, dia sering berkelahi di jalanan. Bahkan, dia di juluki anak berandalan. Di tambah, dia pengangguran. Apakah kamu masih ingin bersamanya?"


Nathan tak terima di jelekkan, dia bergegas maju dan mengajukan keberatan pada sang ibu.


"Mi! apa mami ingin membuat ku di tolak!!" Rengek Nathan.


"Marsha, bagaimana?" Tanya Sofia.


Zeva menatap Nathan, "Jangan dengarkan mami, aku bisa cari kerja demi kamu dan bayi kita. Aku bukan anak berandalan, itu hanya omongan orang-orang yang tak berdasar." Seru Nathan dengan cepat.


Aaron greget dengan Nathan, dia menarik pemuda itu untuk menjauh.


"Diamlah! putriku yang di tanya, bukan kamu!" Kesal Aaron.


"Kalau aku jadi putriku, aku tidak mau menikah dengan pria pengangguran seperti mu! makan cinta, ck. Mana kenyang makan cinta!"


"Om! aku putra tunggal, warisan ayahku akan jatuh ke tanganku."


Kenan menatap tak percaya pada putranya, bahkan dirinya belum membuat surat wasiat. Tapi putranya, sudah mengharapkan warisan.


"Kalian, diamlah!" Kesal Zeva.


Marsha menatap Sofia, senyumnya pun terbit.


"Jika dia membuktikannya, maka aku akan percaya. Saat dia berkata akan menikahiku, aku merasa dia punya rasa tanggung jawab yang besar. Kalian mendidiknya dengan baik, alasan apalagi yang aku cari untuk bertahan dengannya?"


Perkataan Marsha membuat senyuman Nathan mengembang, tapi tidak dengan Aaron.


"Tapi, yang ku sayangkan masa depan Nathan. Masa depannya masih panjang, tak seharusnya di umurnya yang masih muda ... dia harus memikul tanggung jawab seberat ini." Lirih Marsha.


Sofia mengusap lengan Marsha, tatapannya yang tadi datar berubah lembut.


"Nathan adalah orang yang selalu memikirkan dampak yang dia perbuat. Saat kamu mengajaknya, dia mungkin sudah memikirkan bagaimana kedepannya. Dia sudah memikirkan bagaimana hasil yang akan dia dapatkan. Jadi, kamu jangan merasa bersalah."


"Justru, tante yang mau minta maaf. Mungkin, kamu akan kesulitan menghadapinya." Lanjut Sofia.


"Jadi, tante. ...,"


Sofia mengangguk, Nathan bergegas memeluk sang ibu. Sofia yang mendapat pelukan dari putranya mendadak terdiam.


Setelah sekian lama, Nathan memeluknya dengan perasaan bahagia. Sofia rindu momen seperti ini.


"Terima kasih mami, aku sayang mami." Seru Nathan.


Pelukan Nathan terlepas, dia beralih memeluk sang papi. Kenan pun terkejut dengan pelukan putranya.


Zeva mendekat pada Sofia, begitu pun dengan sofia. Kedua wanita itu berpelukan, menyalurkan rasa bahagia mereka.


"AKu pikir, kamu masih menyimpan dendam pada suamiku." Lirih Zeva.


"Ya, aku masih kesal padanya. Dia mempermainkan perasaanku, tapi sekarang ... aku telah menemukan pria yang jauh lebih baik dari padanya." Balas Sofia.


"Sebenarnya, aku juga takut kalau Aaron benar-benar tak mengizinkan putraku menjadi suami putrimu. Bayi Itu tetap cucuku, aku tidak mau berpisah dari cucuku." Lanjut Sofia.


Kedua keluarga itu bahagia, Varo yang sebenarnya menguping pembicaraan mereka hanya diam tanpa ekspresi.


"Dia bukan laki-laki yang baik, aku takut kakak akan di kasari olehnya." Lirih Varo dan beranjak menuju kamarnya.


Mereka kembali sibuk berbincang sembari menikmati kopi dan teh. Sedangkan Nathan dan Marsha, mereka berada di taman samping. Sembari Nathan menanyakan banyak hal pada Marsha.


"Apa perut mu sakit setelah makan nanas?" Tanya Nathan.


"Tidak, aku baru makan nanas dua potong." Sahut Marsha dan kembali memakan kue yang tersaji di meja.


MArsha menaruh piring kuenya, lalu dia membersihkan mulutnya yang terdapat sisaan coklat.


"Coba kamu pikir, umurmu masih muda. Kita menikah bukan karena cinta, melainkan terpaksa. Orang tidak ada yang tahu kalau aku sudah menikah, bagaimana jika mereka menggunjing anak ini?" Tanya Marsha.


Nathan tak menjawab, dia malah meletakkan jempolnya di sudut bibir Marsha yang ternyata masih tertinggal coklat. Lalu, Nathan menghisap jempolnya yang terdapat bekas coklat dari sudut bibir Marsha tadi.


Jantung Marsha berdegup kencang, perbuatan Nathan benar-benar memporak-porandakan hatinya.


"Aduh ... gak tahan gak tahan, berdemage banget suami gue." Batin Marsha.


TAK!


"Aw!!" Pekik Marsha saat Nathan menjitak keningnya. Buru-buru dia mengusap kening yang terasa sakit.


"Berhentilah membuat asumsi sendiri, apa yang ada di pikiranmu bukan berarti juga ada di pikiranku. Benih itu hasil dalam pernikahan, bukan di luar nikah. Kenapa kamu takut? aku juga mau tanggung jawab kan? apa yang kamu khawatirkan lagi hm?"


Marsha mengerucutkan bibirnya, dia kesal dengan Nathan karena berani menjitak keningnya.


"Hei! kau tidak sopan! aku lebih tua darimu!" Kesal Marsha.


"Tapi gue suami lo!"


Perkataan Nathan, membuat Marsha tambah-tambah kesal.


"Kak."


Marsha terkesiap, dia menatap Varo yang ternyata datang menghampirinya.


"Gue pernah liat dia tawuran sama geng motor lain, bahkan orang di sana bilang jika dia sering berkelahi dengan geng lain." Adu Varo.


Marsha menatap Nathan meminta kejelasan, sementara Nathan. Dengan entengnya dia berdiri dan menepuk bahu Varo.


"Ikut masuklah ke dalam geng kakak iparmu ini, kau akan tahu mengapa kami bertengkar," ujar Nathan.


"Tidak mau, buang-buang waktu saja! kak! Kakak dengar sendiri kan? dia itu kasar! suka memukul," ujar Varo.


Marsha berdiri, dia menatap adiknya yang sepertinya masih keberatan dengan pernikahannya.


"Kakak gak boleh sama dia!" Sentak Varo.


"Lo siapa, ngatur-ngatur istri gue?" Tanya Nathan dengan tatapan tak suka.


"Heh! kodok darat! gue itu adik ipar lo! berani sama gue hah?!" Seru Varo dengan kesal.


Marsha tambah pusing dengan kelakuan mereka berdua.


.


Sementara di ruang tamu, Sofia dan Zeva masih asik berbincang.


"Bunda ...."


Zeva dan sofia mengalihkan tatapannya menuju tembok, terlihat bocah gembul tengah memunculkan kepalanya.


"Eh, sini dek." Panggil Zeva.


Javier menghampiri Zeva dengan malu-malu, dia menggigit dot botolnya dan berlari cepat dengan tangan terentang. Bahkan pipi gembulnya ikut bergoyang karenanya.


"Anak ke berapa Zev? ternyata, kamu masih punya anak kecil?" kaget Sofia.


Zeva mengangguk pelan, dia membawa Javier ke pangkuannya. Putranya menidurkan kepalanya di d4da sang bunda tempat ternyamannya.


"Anak terakhir." Jelas Zeva


"Aku mau punya lagi, gak boleh sama paksu. Katanya, ngeri ngeliat aku lahiran." Ujar Sofia sembari memainkan pipi Javier.


"Wah, kalau mas Aaron malah enggak. Dia pokoknya mau rumah rame," ujar Zeva.


"Bunda, Viel mau ketoplak." Cicit Javier membuat Zeva mengalihkan tatapannya.


"Ketoprak? jam segini mah udah gak ada yang jual dek," ujar Zeva saat melihat jam yang menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Telus, viel makan apa? lapel loh." Cicit JAvier sembari mengerucutkan bibirnya.


"Gak kenyang kamu minum susu lima botol? lihat perutnya, udah bisa nampung keranjang buah itu." Ledek Zeva.


"Kelanjang? hali ini cucu cuma lima kali doang, biacana cembilan!!"


"Kamu harus menguruskan badanmu yang terlalu gendut sayang." Gemas Zeva.


"VIEL NDA DENDUUUTT!! Cuman banak lemakna doang!" Seru Javier tak terima.