Find Me Daddy

Find Me Daddy
Bumil Bumil(S2)



Beberapa minggu telah berlalu, semenjak Marsha mengetahui tentang kehamilannya.


Tak seperti kehamilan pertama, kehamilan kedua ini Marsha menjalaninya dengan rasa bahagia.


Apalagi Nathan, selalu berada di sampingnya. Bahkan peka ketika dirinya merasa tidak enak pada tubuhnya.


"Laper lagi gak?" Nathan datang menghampiri istrinya yang sedang duduk selonjoran di sofa.


"Enggak." Sahut MArsha dengan singkat, dia kembali menonton acara TV yang menayangkan berita perselingkuhan.


"Nathan! sini!" Marsha menarik Nathan duduk di sebelahnya.


Dengan bingung, Nathan menurut saja. Dia menatap acara yang istrinya itu tonton.


"Tega banget sih suaminya, kalau aku jadi istrinya sudah aku giling pake mesin cuci!" Seru Marsha.


Nathan menghela nafas pelan, "Memangnya kamu mau jadi istrinya?" Tanya nya.


"Ya enggak sih, tapi kalau kamu jadi kayak dia ...." Marsha mengambil buah pisang yang kebetulan ada di meja di hadapannya.


Tak!


Marsha memotong pisang itu menjadi dua bagian, membuat Nathan meneguk ludahnya kasar.


"Ja-jangan gitu dong Sweety, kan dia yang selingkuh. Kenapa aku juga yang kena." Cicit Nathan.


"Kalian kan satu kaum! sama-sama kaum laki-laki!" Sery Marsha.


Nathan menggaruk kepalanya yang gatal, apakah wanita hamil memang seperti ini? di saat tak ada masalah, wanita selalu mencari masalah.


"Sweety, aku ke kantor sebentar yah." Pamit Nathan.


Mendengar hal itu, Marsha yang tadinya sedang memakan pisang seketika mendelik menatap Nathan.


"Sekarang jam lima, kamu baru pulang jam dua tadi. Ngapain ke kantor?!" Sewot Marsha.


"Astaga Sweetyy!! Seharusnya aku pulang jam lima, tapi karena kamu kepengen aku di rumah akhirnya aku di rumah. tapi, pekerjaanku yang ada di kantor belum beres semua. Berkas-berkas penting semuanya ada di ...,"


"Sana berangkat." Usir Marsha dan kembali menatap layar TV.


Nathan melongo, dia pikir Marsha marah padanya.


"Sweety, jangan marah. Oke! aku gak akan ke kantor!" Pasrah Nathan.


"Aku gak marah," ujar Marsha dengan cuek.


Nathan menghela nafas pasrah, kehamilan istrinya yang kedua ini membuat dirinya frustasi.


"Oke, sekarang. Kamu maunya gimana hm?" Nathan mencoba untuk menyenangkan hati sang istri.


Namun, di luar dugaan. Marsha justru menangis, moodnya benar-benar hancur saat ini.


"Sweety?! Kenapa menangis?!" Pekik Nathan.


Nathan meraih tubuh istrinya, dia memeluk Marsha dengan erat. Seketika, tangis Marsha semakin tumpah.


"Kamu ke kantor terus hiks ... Di rumah aku selalu sendiri hiks ... kamu sibuk terus." Isak Marsha.


Nathan mengerti, istrinya ingin di perhatikan. Padahal, Nathan merasa tidak pernah lembur. Bahkan di rumah, dia selalu ada di samping istrinya.


"Kamu capek hm? tidur yuk." Ajak Nathan.


Marsha menghapus air matanya. Nathan membantu Marsha bangun, keduanya pun pergi ke kamar mereka.


"Aku buatkan susu dulu yah, tunggu sebentar." Baru aja NAthan akan keluar kamar, Marsha malah menarik tangannya.


"Gak usah, disini aja." Rengek Marsha.


Nathan menghela nafas pelan, dia memutuskan menaiki ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


"Ayo, tidur." Ajak Nathan. Meraih pinggang istrinya agar lebih dekat dengan dirinya.


Padahal waktu masih sore, tapi Nathan malah meminta Marsha untuk tidur. Jelas, Marsha tak kunjung tertidur. Dia hanya meletakkan kepalanya di dada sang suami sembari jarinya menggambar pola abstrak di sana.


"Kamu cinta aku gak?" Tanya Marsha.


"Cinta." Jawab Nathan dengan singkat.


"Buktinya apa?" Tanya Marsha sembari mendongak menatap sang suami yang ternyata malah memejamkan matanya.


"Nathan! ihh!! kok malah tidur!" Kesal MArsha.


Nathan kembali membuka matanya, dia menatap wajah garang istrinya yang terlihat bertambah cantik ketika marah.


"Kamu tanya buktinya?" Marsha mengangguk cepat.


Nathan tersenyum, dia malah memasukkan tangannya ke dalam kaos over size yang Marsha kenakan. Lalu, dia mengelus perut Marsha yang sudah tampak buncit itu.


"Ini, buktinya. Aku simpan anakku di tempat yang tepat," ujar Nathan dengan mengerlingkan matanya.


"Oh ya, besok jadwal kamu ketemu dokter kandungan yah," ujar Nathan.


Marsha mengangguk, "Iya, kamu bisa temani aku kan?"


Nathan berpikir sejenak, dia tidak tahu bisa atau tidak menemani Marsha. Dia sudah pulang lebih cepat hari ini, jika besok seperti itu lagi. Nathan khawatir pegawai lain akan meniru dirinya.


"Sayang, sama mami dulu yah periksa nya. Aku gak bisa izin gitu aja, kan tadi sudah izin." Jawab Nathan, mencoba memberi pengertian.


"Oh gitu yah, apa papi gak bisa kasih kamu izin?" Tanya Marsha dengan tatapan sendu.


Nathan tak bisa melihat tatapan itu, dia selalu luluh pada tatapan Marsha.


"Kalau malam gimana? aku akan buat janji dengan dokter kandungan. " Nathan mencoba memberi saran, berharap agar Marsha mau.


"Oke deh." Akhir dari keputusan Marsha.


.


.


.


Sedangkan di kediaman Smith, Zeva tengah terbaring sakit. Beberapa hari Ini dia mengalami masuk angin. Suhu tubuhnya terasa hangat, dan selalu muntah.


Aaron sudah menyarankan agar istrinya di periksa dokter, hanya saja Zeva tidak mau. Dia hanya menganggap ini hanyalah angin biasa.


Namun, karena sudah berhari-hari. AKhirnya, Aaron tak tahan lagi. Dia menghubungi dokter kenalannya untuk datang ke rumah.


"Sayang, ada dokter yang akan memeriksamu." Jelas Aaron, datang menghampiri istrinya yang terbaring lemah di ranjang.


Mendengar hal itu, Zeva langsung menatap kesal pada suaminya.


"Aku kan sudah bilang, ini hanya masuk angin mas. Masuk angin, bukan sakit parah. Kenapa harus panggil dokter." Kesal Zeva.


"Gak di suntik sayang, cuman periksa aja." Bujuk Aaron


"Gak mau!" Pekik Zeva.


"Tapi dokternya sudah datang, kasihan kan di suruh pulang?"


Akhirnya, Zeva mau juga di periksa. Dokter itu segera memeriksa keadaan Zeva, dia juga memeriksa suhu tubuh Zeva.


"Seperti ini dari kapan Nyonya?" Tanya sang dokter.


"Ada kali satu mingguan dok. Setiap makan selalu di munt4hkan lagi, kepalanya sering sakit katanya." Bukan Zeva yang menjawab, melainkan Aaron yang berada di belakang sang dokter.


Dokter mengangguk pelan, "Umur sekarang berapa?" Tanya dokter itu kembali.


"Empat puluh empat dok, kenapa?" Zeva heran, kenapa dokter menanyakan tentang umurnya.


"Masih datang bulan?"


Zeva mengangguk pelan, dia belum mengalami menopause. Aaron pun turut penasaran dengan maksud sang dokter.


"Maaf, saya periksa perut nya boleh yah?"


Zeva mengangguk pelan, saat bajunya di singkap oleh dokter itu. Perutnya di tekan-tekan olehnya, dan tak lama dokter itu pun mengangguk.


"Kapan terakhir datang bulan?"


Pertanyaan dokter yang seperti itu sudah umur terjadi. Tanpa di jelaskan, Zeva pun sudah menebak.


"Datang bulan saya memang gak lancar. Tapi, Saya pakai IUD dok. Gak mungkin hamil." Seru Zeva.


"Dugaan saya, jika nyonya tengah hamil. Untuk memastikannya, silahkan di testpack. Kalau mau yang lebih pasti, ke dokter kandungan yah. Saya tidak bisa meresepkan obat, karena takut jika Nyonya beneran hamil. Akan berdampak bagi janinnya." Terang sang dokter.


Aaron masih nge lag, dia mematung menatap istrinya. Dia terkejut atas penuturan sang dokter, apakah istrinya beneran hamil?


"Hamil lagi? beneran kah?!" Batin Aaron.


selepas kepergian dokter, Zeva marah-marah pada Aaron. Dia sungguh kesal pada suaminya itu, entah mengapa emosinya naik turun.


"Kamu bilang nya kalau gak mau aku hamil lagi! tapi kenapa kamu masih hamilin aku!!!" Seru Zeva, dengan air mata yang membanjiri pipinya.


"Sayang, kamu kan pake IUD. mungkin dugaan dokternya salah kali," ujar Aaron mencoba menenangkan nya.


"Aku tuh udah tua! apa kata orang nanti hiks ... malu aku!" Zeva menutup wajahnya, air matanya.


Aaron segera memeluk istrinya, dia juga tidak tahu jika istrinya bisa hamil kembali.


"Gimana coba? gimana? Kita tuh mau punya cucu, kenapa malah aku yang hamil hiks ... gimana ini." ISak Zeva.


"Sayang tapi ... kamu hamil kan ada suaminya, kenapa juga harus malu?" Perkataan Aaron membuat wajah Zeva yang tadinya sedih seketika berubah datar.


"Eh, siapa tahu ini cewek yang. Gak papa lah, namanya rezeki. Gak boleh di tolak kan, iya kan?"


____