Find Me Daddy

Find Me Daddy
Ngambek



Perjalanan pulang, di mobil Nathan hanya diam. Sesekali, Marsha melirik raut wajah suaminya itu. Terlihat jika rahang pria itu mengeras, tatapannya sangat tajam. Ingin sekali MArsha bertanya, kenapa suaminya seperti itu. Namun, rasa takutnya lebih besar.


Dertt!!


Nathan mengambil ponselnya yang ada di pangkuannya, melihat sejenak siapa yang menelpon dirinya. Tak lama, Nathan memasangkan earphone di telinganya.


"Halo, ya. Putuskan kerja sama dengan perusahan Bagaskara." Seru Nathan.


"Saya tidak main-main! Putuskan sekarang, atau kamu yang saya pecat!"


Marsha menciut ketakutan, utu artinya suaminya dalam mode marah. Jika pria itu sudah marah, adalah hal yang paling marsha takuti dari suaminya itu.


"Marsha."


Degh!!


Marsha menoleh, tak biasanya suaminya itu memanggilnya tanpa panggilan sayang. DI tambah, intonasi yang pria itu berikan terkesan menekan.


"Apa wanita itu yang sebelumnya membuatmu bersedih?" Tanya Nathan, tanpa menatap istrinya.


Marsha memainkan jari-jarinya, dia tak akan lupa bagaimana wajah yang membicarakannya pada orang lain.


Tak kunjung mendapat jawaban, Nathan pun berdecak sebal. "Ck! Kalau aku tanya itu jawab! Jangan diam aja!" Bentak Nathan.


Marsha sangat terkejut dengan bentakan suaminya, hatinya teriris perih. Matanya berkaca-kaca, menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.


"Kamu bisa gak si gak usah bentak!" Seru Marsha dengan suara bergetar.


Suaminya hanya diam, membuat MArsha bertambah kesal di buatnya. Dia memilih untuk diam, begitu pun dengan Nathan yang sudah terlanjur emosi. Keduanya terdiam cukup lama hingga mobil Nathan memasuki pekarangan rumahnya. Ketika mobil itu terhenti, Marsha buru-buru keluar sembari menahan tangis. Sedangkan Nathan, dia mencoba mengatur emosinya.


BRAK!!


"DASAR SUAMI GAK PEKA! TUKANG NGAMBEK! TUKANG MARAH! JE ... jelek si enggak, tapi ngeselin." Sesampainya di kamar, Marsha hanya bisa ngomel-ngomel sendiri.


"Awas aja, kalau dia ngebujuk. AKu gak akan luluh, liat nanti." Seru Marsha.


Baru mengancam Nathan dengan percaya dirinya, Marsha sudah di kagetkan dengan mobil suaminya yang tiba-tiba pergi. Buru-buru dia mendekat pada jendela, dan melihat mobil suaminya yang berjalan pergi keluar gerbang.


"TUH KAAAANN!!! GAK PEKAAAA!! HIKS ... MAU PULANG KE TEMPAT DADDY AJA!" Marsha mengeluarkan kopernya dari dalam lemari, dia berniat ingin kembali ke rumah sang daddy.


Baru saja dia menempatkan koper itu di atas kasurnya, sosok yang tengah ia kesali telah berdiri di sisi ranjang. Sembari menatapnya dengan bersedekap d4da.


"NATHAN?!" Pekik Marsha dengan tatapan tak percaya. Karena tak percaya jika sosok yang berdiri itu suaminya, Marsha kembali menatap jendela. Dia jelas-jelas melihat jika suaminya pergi begitu saja dari rumah.


"Mau kabur?" Tanya Nathan dengan intonasi yang rendah.


"Ini setannya kali yah, orang suami Marsha lagi pergi." Cicit Marsha dengan takut. Apalagi ekspresi datar pria itu.


"Bagus yah, suaminya udah di bilang setan."


"Eh?! Beneran Nathan?! Kok bisa? terus yang bawa mobil siapa?" Bingung Marsha.


Nathan menghela nafas pelan, dia kembali menyimpan koper milik istrinya ke dalam lemari. Tak peduli jika nantinya Marsha akan mengamuk padanya.


"Kok di masukin kopernya?! Aku mau pulang ke rumah daddy!!!" Pekik Marsha.


"Pulang ... pulang. Heh! Perempuan setelah nikah itu, rumahnya ya di rumah suaminya. Mau pulang ke rumah daddy, mau jadi tamu kamu?"


"Tapi kamu masih istri aku." Sahut Nathan.


Nathan berjalan ke arah sofa, dia melonggarkan dasinya sembari menatap istrinya yang masih cemberut. Kemudian, Nathan menepuk sebelahnya. Mengisyaratkan agar istrinya duduk di sana.


Bukannya duduk di samping suaminya, Marsha malah duduk di tepi kasur. Dia membuang mukanya, tanpa mau menatap suaminya.


"Gak boleh buang muka gitu sama suami." Seru Nathan.


"Emangnya bentak istri boleh apa?!" Kesal MArsha.


Nathan tersenyum tipis, istrinya sedang dalam mode merajuk. Jika sudah begini, Nathan merasa istrinya terlihat sangat menggemaskan. Akhirnya, Nathan mengalah. Dia memilih menghampiri istrinya itu dan duduk di sebelahnya.


"Maaf soal tadi, aku kelepasan. Aku marah dengan wanita itu, dan juga kesal dengan kamu yang menutupi masalahmu dariku."


"Aku gak bisa dengar kamu di hina, mereka gak tahu siapa kamu. Aku dihormati di kalangan masyarakat, dari kalangan mana pun. Kamu istri aku, gak sepatutnya dia merendahkan kamu begitu. Wajar bukan kalau suamimu ini marah?"


Nathan menjelaskannya dengan penuh kelembutan, tapi tidak membuat Marsha menatapnya. Hatinya masih kesal karema bentakan Nathan tadi.


"Sayangku masih marah? Aku harus apa biar sayangku ini tidak marah, hm?"


Mendengar hal itu, seketika raut wajah Marsha berbinar. Muka yang tadinya kusut terlihat kembali ceria. Dia berbalik, menatap suaminya dengan antusias.


"Nginep di rumah daddy yah, sebulan aja." Seru Marsha.


Nathan menghembuskan nafasnya kasar, "Kamu kenapa sih, betah banget tinggal di rumah daddy? Bahkan, rumah ini udah aku desain semirip rumah orang tuamu. Biar kamu betah disini," ujar Nathan dengan raut wajah datarnya.


Marsha terdiam, dia menunduk. Raut wajahnya terlihat sedih, hal itu membuat Nathan tak tega.


"Ada apa? Kau tidak mau cerita pada suamimu ini, Sweety?"


Nathan menghela nafas pelan, dia menatap suaminya dengan tatapan sendu. "Disini aku kesepian. Kamu berangkat kerja, dari pagi sampe malam. Si kembar juga pulang siang, kalau di rumah daddy kan ada bunda. Kita bisa cerita bareng, masak bareng, bercanda bareng. Aku gak kesepian," ujar Marsha.


padahal, Nathan merasa jika dirinya sudah banyak meluangkan waktu untuk istrinya. Seperti hari ini, dia meluangkan waktu untuk membujuk istrinya. Tak peduli tumpukan kerjaan yang menantinya di kantor.


"Sweety jujur saja, aku gak nyaman tinggal di rumah orang tuamu. Bukan apa-apa, tapi aku sebagai laki-laki merasa tak pantas tinggal di rumah mertua. Makan di sana, menggunakan air dan segala macamnya. Oke, hanya satu bulan. Tapi, apakah satu bulan itu aku harus menumpang di sana? Kamu tahu kan, bagaimana aku mempertahankan harga diriku?"


Marsha terdiam, dia mencerna pemikiran sang suami. Jika itu yang menjadi alasan suaminya, maka Marsha tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Kita bisa nginap di sana, tapi jangan sampe sebulan juga. Kalau mau, setiap akhir pekan kita gantian menginap. Seperti dulu, saat si kembar kecil. Bagaimana?"


"Seminggu di rumah mami papi, dan seminggu di rumah daddy bunda." Lanjutnya.


"Yaudah." Putus Marsha.


Nathan tersenyum, dia yakin istrinya akan mengerti dirinya. Nathan meraih tubuh Marsha, dan memeluknya dnegan erat. DIa menyempatkan untuk meng3cup pipi istrinya itu dengan sayang.


"Nanti adek lahir juga kamu gak kesepian. Mungkin, nanti saat mendekati waktu HPL. Aku akan bekerja dari rumah, untuk menemanimu kamu." Putus Nathan.


Nathan melirik ke arah jam dinding, yang menunjukkan pukul sepuluh. Entah mengapa, di otaknya tercetus sebuah ide.


"Sweety, berenang yuk!" AJak Nathan, yang mana membuat Marsha reflek menarik diri dari pelukan Nathan.


"Hah? Jam segini?!" Pekik Marsha, membuat senyum Nathan mengembang. ENtah apa yang suaminya itu rencanakan, tapi yang ia yakini jika Nathan merencanakan sesuatu.


__