Find Me Daddy

Find Me Daddy
Nathan hanya mencintai Marsha



Siang hari, Nathan telah kembali setelah menjemput ketiga putrinya. Dia datang ke kediaman sang mertua untuk menjemput istrinya.


"LONIIII!!! AIZHAAA DATEENG NIHH!!" pekik Aizha sembari mencari paman kecilnya itu.


Sementara Nayara dan Nadira, keduanya lebih memilih memasuki ruang keluarga untuk menonton TV. Karena sebentar lagi, ada kartun kesukaan mereka.


Nathan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aizha, putrinya yang satu itu sangat ajaib kelakuannya.


Puk!


Nathan terkesiap kala seseorang menepuk bahunya, bergegas dia menoleh. Melihat siapa yang menepuk bahunya, Nathan pun tersenyum.


"Bun." Sapa Nathan.


"Mau jemput Marsha?" Tanya Zeva dnegan ramah.


Nathan mengangguk, "Iya, Marshanya mana?" Tanya Nathan karena tak melihat keberadaan sang istri.


"Lagi tidur di kamar, lagi manja sama daddy nya."


Nathan membulatkan mulutnya, dia tidak marah dengan sikap istrinya itu. Marsha memang sedang di fase manja-manjanya, wajar jika istrinya itu meminta perhatian lebih terhadap sang daddy.


"Yaudah bun, nanti pulangnya tunggu bangun aja. Kasihan," ujar Nathan.


Zeva mengangguk, dia juga tadinya ingin meminta izin pada Nathan tentang hal itu. Namun, ternyata menantunya peka sendiri.


"Oh ya, Nathan. Ada yang mau bunda bicarakan,"


"Apa ini tentang Marsha?" Tanya Nathan dengan sebelah alisnya yang terangkat.


"Iya, ayo kita ke ruang tamu. Sekalian nanti bunda suruh bibi buatkan kopi untukmu." Ajak Zeva.


Nathan menurut, dia mengikuti Zeva hingga ke ruang tamu. Tak lama, datanglah seorang Maid menaruh kopi serta teh di meja. Untuk di suguhkan pada keduanya.


"Terima kasih bi." Ujar Zeva pada maid yang membawa minuman mereka.


"Sama-sama Nya." Sahut nya dan bergegas pergi.


Zeva kembali fokus pada Nathan, menantunya itu seakan sangat menanti apa yang mau dia bicarakan padanya.


"Ini soal istrimu, apa Marsha ada cerita sama kamu tentang dia Insecure dengan fisiknya saat ini?" Tanya Zeva.


Dengan mantap, Nathan mengangguk. Belakangan ini, Marsha memang sangat sensitif soal fisiknya yang berubah semenjak hamil.


"Iya bun, aku sudah bilang sama dia untuk tidak memikirkan tentang fisiknya. Niatnya, setelah antar si kembar tadi Aku ingin mengajaknya ke klinik kecantikan. Dia pun bersemangat, tapi entah mengapa. Setelah mengantar si kembar, dia menjadi murung. Aku sudah bertanya, tapi Marsha tak mau menjelaskan apa yang dia rasakan."


Zeva mengangguk mengerti, dia sudah mendengar cerita putrinya dan juga menantunya. Dapat Zeva simpulkan, jika orang luar lebih berpengaruh terhadap keadaan mental putrinya itu.


"Nathan, Marsha sudah menceritakannya pada bunda. Dia ...."


Zeva menceritakan sesuai dengan apa yang Masa katakan tadi padanya. Tanpa Zeva lebih-lebihkan, dia benar-benar menjelaskannya secara rinci.


"Itu sebabnya Marsha murung, mungkin bagi kita itu hanyalah omongan orang. Tidak perlu di ambil pusing. Tapi, Marsha yang merasakan nya. Dirinya sedang kaget karena mengalami perubahan bentuk fisiknya, di tambah lagi dengan perkataan orang-orang. Jadi Nathan, bunda minta sama kamu. Tolong, kamu jangan tinggalkan Marsha apapun keadaannya. Dia satu-satunya putri kami, bunda sangat menyayanginya."


Nathan menghela nafas berat, dia tengah menahan kesal. Bukan pada Marsha, tapi mulut orang-orang yang menghina fisik istrinya.


"Bunda, dapetin putri bunda itu butuh perjuangan yang tidak mudah. Bodoh jika Nathan melepaskan Marsha hanya karena fisiknya saja. Nathan sudah bilang berkali-kali sama dia, Nathan suka dengan perubahannya. Sungguh, dia bertanah cantik di mata Nathan. Tak peduli seberapa cantik wanita di luar sana, Nathan hanya melihat istri Nathan sebagai wanita tercantik yang pernah ada." Tegas Nathan.


Hati Zeva terenyuh, dia bersyukur putrinya mendapat pria seperti Nathan. Sangat jarang ada, pria seperti menantunya itu. Kalau di bilang Nathan terlalu sempurna, ya Zeva akui. Beruntung sekali putrinya menikah dengan Nathan, bukan dengan Calvin. Entah apa jadinya saat ini, jika Marsha menikah dengan Calvin.


"Bunda pegang janjimu yah nak, bunda titip putri bunda. Jika memang kamu tidak mencintai putri bunda lagi, kembalikan saja dia nak. Jangan selingkuhi dia, kembalikan dia pada kami dengan cara baik-baik. Dia masih punya keluarga, kami siap jika kamu ingin mengembalikannya."


Nathan menggeleng, dia bergegas beranjak duduk di karpet. Lalu, dia memegang kedua lutut Zeva dengan tatapan berkaca-kaca.


"Enggak bun, jangan berkata seperti itu. Marsha sudah sebagian dari hidupku, aku tidak bisa jika tidak bersamanya. Bunda tahu apa kelemahanku, aku tidak mungkin menyerang kelemahan sendiri." Lirih Nathan.


"Bunda percaya padamu."


Sedangkan di ambang pintu, tampak Aaron berdiri dengan kedua tangannya yang berada di saku celananya. Matanya menatap Nathan dengan tatapan lekat.


.


.


.


Sore hari, Nathan berhasil membawa Marsha pulang. Di perjalanan, sikap Nathan membuat Marsha kebingungan. Selama perjalanan, pria itu selalu menanyakannya. Tentang, apa yang mau dia beli.


"Itu ada batagor, kamu suka batagor kan?" Seru Nathan. Namun, lagi-lagi Marsha menggeleng.


"Enggak lah, tadi di rumah bunda aku udah makan banyak." Sahut Marsha.


"Emangnya kenapa? Kan biar kamu mood nya bagus." Seru Nathan.


Marsha menggeleng, dia memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada jok mobil dan berlanjut memejamkan matanya.


"Papa papa!" Panggil Aizha.


"Hm." Sahut Nathan.


"Kalau oma cama mama belantem, ciapa yang papa bela?" Tanya Aizha membuat Nathan melirik ke arah Marsha. Nampaknya, istrinya itu sedang tak ingin di ganggu.


"Ya oma lah." Sahut Nathan, seketika membuat Marsha kembali membuka matanya.


Mata Aizha mendelik sinis, Nathan bisa melihat ekspresi putrinya itu dari spion tengah.


"Mama nanti cedih, papa ini nda ada hati nulani na yah!" Pekik Aizha.


"Jadi papa harus bela mama?" Tanya Nathan, dia masih berusaha untuk fokus menyetir.


"Oma nanti cedih, papa ini nda ada belbaktina cama cekali!" Seru Aizha membuat Marsha tersenyum gemas.


Kening Nathan mengerut, siapa yang sebenarnya harus dia bela?


"Terus, papaa harus bela siapa?" Tanya Nathan.


Aizha berusaha berpikir keras. Hingga berapa waktu kemudian, dia kembali berkata hal yang membuat tawa Marsha pecah.


"Papa jadi gak mau bela ciapa-ciapa ?"


"Hahahaha!!" Marsha tertawa lepas, sedangkan Nathan merengut kesal.


"Kamu mencoba untuk mengerjai papa lagi kan?!" Tuduh Nathan.


"Sekarang papa tanya, kalau papa sama mama bertengkar. Kamu mau bela siapa?" Balas Nathan membuat Aizha terjebak dengan pertanyaannya sendiri.


Aizha melirik ke arah Nayara dan Nadira yang berpura-pura tak melihatnya.


"Calah ini peltanyaan na, apa mamaku pelu bantuan?" Tanya Aizha membuat senyum Nathan luntur seketika.


"Papa nda bica lawan mama kok ya! Kan papa bukan lawan na."


"HAHAHAH!!!" Marsha tertawa keras melihat wajah pias suaminya itu.


Nathan menghela nafas pelan, biarlah dia seperti kalah di depan anaknya sendir. Melihat tawa lepas istrinya, membuat hati Nathan sedikit tenang.


"Terserah kamu lah Ijaaah, papa setress punya kamu."


"IZHAAAA!! BUKAN IJAAAAHH!! Emang na Aizha anakna tukang ketoplak na om Viel apa." Sengit Aizha membuat Nathan terkekeh gemas.