Find Me Daddy

Find Me Daddy
di terima?



Ervin tengah menatap ke arah Nathan yang duduk di hadapannya. Mata tajam kedua pria itu saling menyorot, bahkan jarang berkedip. Tak ada suara yang keluar, membuat Aizha serta Marsha yang duduk di samping kiri dan kanan Nathan pun menjadi gugup.


"Sudah siapkan apa yang saya minta?" Tanya Nathan dengan alis terangkat satu.


"Sudah." Jawab Ervin sembari menyodorkan sebuah berkas pada Nathan.


Aizha dan MArsha langsung melongo, keduanya saling menatap seakan bertanya lewat isyarat.


"Ervin kan amensia, dari mana dia dapat tanah 200 hektar itu? Apa dia tengah mempermainkan papa." Batin Aizha.


Nathan mengambil berkas itu, lalu dia membukanya. Ternyata, berkas itu berisikan surat tanah yang sudah menjadi atas nama Aizha. Seketika, mata Nathan membulat sempurna.


"Berarti, anak ini dari keluarga kaya raya. Tidak buruk, setidaknya putrinya tidak akan kesusahan nantinya." Batin Nathan.


Aizha meraih berkas itu dengan gerakan cepat, bahkan Nathan terkejut dengan tingkah putrinya. Terlihat, Aizha membuka lembaran demi lembaran kertas yang ada di dalam berkas itu dengan mata melotot.


"Ervin! Kamu dapat dari mana tanah seluas ini?! Satu hektar saja aku tidak percaya jika kau bisa mendapatkannya, apalagi dua ratus. Apa kau telah merampok bank?! Astaga, jangan bilang ...."


"Kenapa kamu terkejut begitu? Bukankah bagus? Berarti, kau tidak akan hidup susah jika bersamanya," ujar Nathan dengan heran.


"Iya tapi ...,"


"Oke, saya terima lamaranmu untuk putriku." Seru Nathan yang mana membuat Aizha sontak langsung menjatuhkan rahangnya.


Senyum Ervin mengembang, dia menganggukkan kepalanya ke arah Nathan sebagai tanda terima kasih. Nathan tersenyum tipis, dia beranjak berdiri di ikuti oleh Ervin.


"Kita makan siang dulu, setelah itu kita main golf. Kau bisa main golf kan?" Seru Nathan sembari menghampiri Ervin dan merangkul lehernya.


"Bisa om." Sahut Ervin.


"Bagus!" Seru Nathan dan mengajak Ervin pergi dari sana.


Sementara Aizha, dia masih syok dengan berkas yang saat ini dirinya pegang. Lalu, perkataan Ervin yang bisa bermain golf. Sejenak, Aizha memukul pipinya dengan sedikit keras. Hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.


Plak!!


"Aw ... sakit. Bukan lagi tidur aku." CIcit Aizha.


"Kamu kenapa sih?! Kok keliatannya syok banget?!" Seru Marsha dengan heran.


Aizha memasang raut wajah frustasi, "Maaa!!" Rengek Aizha.


"Apa?" Dengan santainya, Marsha mengambil gelas teh yang ada di atas meja dan menyeruputnya perlahan.


"Ada masalah sama Ervin," ujar Aizha.


"Masalah apa? Dia kaya, tampan, keturunan bule, dimana masalahnya? Dengar Aizha, kamu merupakan satu orang dari seratus ribu orang yang beruntung menikah dengan pria tampan dan kaya. Lagian, mama lihat Ervin ini orangnya kayak papa kamu. Kalau udah cinta, manja nya minta ampun." Sahut Marsha dengan santai.


"Masalahnya buka. itu maaa." Rengek Aizha.


"Terus masalahnya apa?" Tanya MArsha dna kembali menyeruput tehnya.


"Masalahnha, si Ervin ini amensia!"


Teh yang Marsha minum tersembur hingga mengenai wajah Aizha. Dengan helaan nafas panjang, Aizha meraih tisu dan membersihkan wajahnya.


"Yang bener kamu! Kok bisa?!" Pekik Marsha.


"Jadi gini ceritanya ...."


Aizha menceritakan dari awal hingga akhir mengapa dirinya bisa bertemu dengan Ervin. MArsha yang mendengar penjelasan putrinya mendadak menjadi bingung.


"Terus kamu maunya gimana? Apa di batalin aja, terus jadi sama pilihan papamu?" Tanya MArsha.


"AKu gak mau." Rengek Aizha sembari mengguncang lengan sang mama.


"Terus maunya gimana? Kalau kata mama, gantengan si Ervin dari pada pilihan papamu. Dia mah, gak ada apa-apanya di banding si Ervin. Cuman memang keluarganya aja yang merupakan teman papamu," ujar Marsha yang justru mendukung keputusan putrinya.


Aizha terdiam, dia juga mengagumi ketampanan Ervin. Pria berwajah bule dan memiliki sifat yang royal. Tentu saja, Aizha merasa tertarik dengan Ervin. SIapa yang tak tertarik dengan pria tampan di tambah kaya?


"Nah tuh! Amensianya bisa kita obati, soal identitas kan bisa di cari tahu. Tenang aja, yang penting dapet dulu orangnya sama restu papamu." Dukung Marsha.


Bagaimana Aizha tak bahagia? Memiliki seorang ibu yang sudah seperti sahabatnya sendiri.


"Tapi Aizha belum siap jilah ma." Rengek Akzha.


"Helehh!! Kamu nikah sama pria mapan, semuanya sudah siap. Perempuan cuman dandan, pake baju yang suami seneng. Tinggal gerak model di atas kasur. Uuudaah! Uang bulanan masuk, tinggal rebahan sambil scrol sosmed. Makanan ada yang siapin. Terus, galau nya dimanaaaa!!" Aizha yang mau nikah, malah justru Marsha yang greget pada putrinya.


"Ya enggak si, tapi kan ... tetep aja belum siap." Lirih Aizha.


.


.


.


Sementara di ruang makan, MAthan mempersilahkan Ervin untuk makan. Dengan santai, Ervin dan Nathan mengibrol sembari menikmati makan siang mereka. Bahkan, keduanya menghiraukan kehadiran Marsha dan Aizha di sana.


"Oh ya, irang tuan.y masih kerja atau bagaimana?" Tanya Nathan.


Gerakan sendok Ervin terhenti, matanya nasih tertuju ke arah piringnya. Tingkah Ervin, membuat Nathan, Marsha serta Aizha menatap ke arahnya dengan tatapan seakan bertanya.


"Orang tuaku sudah tiada." Jawab Ervin dengan tersenyum tipis.


Aizha mengeritkan keningnya dalam, "Oh, mungkin Ervin berkata seperti itu agar papa tak banyak bertanya tentang orang tuanya. Lintar sekali dia berbohong." Batin Aizha.


"Begitu yah, maaf jika om menyinggung tentang orang tuamu." Ujar Nathan tak enak hati.


"Tak masalah om, aku terbiasa tinggal sendiri. Hidup sendiri, walaupun banyak krang di sekitarku. Tapi, bukankah lebih baik kita mencintai diri kita sendiri? Tak peduli apapun kekurangan yang kuta miliki." Sahut Ervin dengan santai.


"Ya, kau benar sekali." Seru Nathan.


entah mengapa, Marsha merasa ada sesuatu di balik perkataan Ervin tadi. Dia merasa jika perkataan Ervin bukanlah hanya sekedar omong kosong. Namun, menyimpan maksud lain.


"EKHEEE!! MAAAA!!"


Lamunan MArsha buyar, tatapannya langsung tertuju pada Mylo yang memegangi bok0ngnya.


"Kenapa?" Tanya Marsha ketika Mylo sampai di dekatnya.


"Mylo Belaaakk." Rengek Mylo.


"Ha? Sudah?" Pekik Marsha dengan tatapan terkejut.


"Cudah, ini belakna ada di dalam. Mylo pegangin bial nda jatuh. Ekheee. .. gimana ini mama. Gimana ini." Panik Mylo.


Seketika, orang yang mana di meja makan langsung menghentikan acara makanya. Tatapan mereka beralih menatap Mylo yang sedang panik.


"Kan! Mama tadi suruh pake popok! Gaya gayaan gak pake. Sudah dewasalah, mau cari pacar masa pake popok. Haahh. ..." Marsha mencoba mengatur emosinya yang meluap karema tingkah ajaib putranya.


"Ekheee ... ngomelna nanti, ini belakna takut jatoh." Rrngek Mylo.


"Yasudah, ayo." Ajak Marsha dengan beranjak lebih dulu.


Marhsa berjalan duluan, meninggalkan Mylo yang masih memegangi celana belakangnya.


"Ekheee maaaa ... telus gimana ini belakna Mylo." Rengek Mylo dengan menghentakkan kakinya kesal.


Marsha berbalik, "Peganglah, nanti jatoh gimana? Ayo, ke kamar mandi. Mama bersihin. Gak mungkin mama gending kan? Nanti jatuh dia." Sahut Marsha dengan santai, yang mama membuat Mylo menangis.


"Hiks ... ekheee ... jahat kali." Isak Mylo sembari berjalan dengan sedikit melebarkan kakinya karena merasa mengganjal.


Aizha beralih menatap Ervin yang sepertinya terkejut dengan daram yang ada di keluarganya.


"Maaf, ini belum seberapa." Ringis Aizha.