Find Me Daddy

Find Me Daddy
Karena Demam



Nathan kini sibuk dengan bayinya yang rewel karena habis di imunisasi. Sudah enam bulan berlalu sejak kelahiran putranya. Kini, bayi Naufan sudah bisa mengoceh dan merangkak.


"Ekheee!! hiks ... hiks ...."


Nathan menatap Marsha yang sepertinya lelah, wanita itu menatap sedih ke arah bayinya.


"Kata dokternya suntikannya gak bakalan buat demam, tapi kok Naufan demam yah than." Lirih Marsha.


"Mungkin imun tubuhnya memang lagi lemah aja sayang. Udah, kamu mending tidur aja, ini juga udah jam dua malam." Pinta Nathan, sembari mengelus kepala istrinya.


"Kamunya kasihan, dari tadi gendongin dia. Kamu juga pasti capek, besok harus kerja lagi." Sahut Marsha.


Nathan tersenyum tipis, "Enggak, kamu juga capek kan seharian ngurus empat anak. Udah yah, tidur. Biar kita bisa gantian istirahat," ujar Nathan. Menenangkan istrinya itu.


Akhirnya Marsha menurut, dia mau tidur. Sementara Nathan, dia masih menimang putranya yang rewel.


"Ekheee hiks ....,"


"Iya boy, papa ngerti badanmu sakit. Makanya tidur, ayo papa kelonin." Lirih Nathan, dia juga tak tega melihat keadaan putranya.


Nathan akhirnya menurunkan Naufan di ranjang, lalu dia membuka kaosnya dan juga baju yang Naufan kenakan. Kemudian, dia kembali mengangkat Naufan dan menempelkannya pada tubuhnya.


Tangisan Naufan mereda, dia malah anteng walau wajahnya sembab karena menangis sejak tadi. Nathan menimangnya dengan sabar, pria itu bisa merasakan suhu tubuh putranya yang sangat panas.


"Nanti kalau gak turun juga, bawa ke rumah sakit aja lah." Batin Nathan.


Selang beberapa menit, putranya tertidur. Nathan yang menyadari putranya tertidur pun tersenyum kebar. Dia mendudukkan dirinya di sofa, dengan Naufan yang masih tertidur di dadanya.


"Haahh akhirnyaaa bisa istirahat juga." Gumam Nathan.


Tak sadar, Nathan tertidur dalam kondisi terduduk dengan Naufan di tubuhnya. Hingga pagi menjelang, tak ada yang berubah dari posisi mereka.


Pagi hari, Marsha terbangun dengan terkejut. Dia segera mengambil ponselnya untuk melihat jam.


"Jam lima!" Pekik Marsha. Matanya langsung mencari keberadaan sang suami dan juga putranya. Tatapannya jatuh pada sosok pria yang tengah memeluk bayi di dadanya.


"Nathan." Gumam Marsha.


Marsha segera menyingkap selimutnya, dia berjalan cepat menuju Nathan yang masih terlelap. Melihat pengorbanan suaminya untuk keluarga kecilnya, membuat Marsha jadi terharu. Apalagi melihat wajah lelah suaminya itu.


Marsha mengambil putranya dari pelukan Nathan secara perlahan. Berniat, agar suaminya tidak terbangun. Namun, dugaannya salah. Hanya gerakan sedikit saja, sudah membuat Nathan membuka matanya.


"Sweety." Panggil Nathan dengan siara seraknya.


"Pindah ke ranjang than." Ujar Marsha sembari memindahkan putranya ke dalam box bayinya.


Naufan sedikit terusik ketika di letakkan, tetapi Marsha bisa membuatnya tenang kembali. Karena tak kunjung melihat Nathan pindah, Marsha pun kembali memintanya.


"Than, pindah. Gak pegel apa disitu?" Seru Marsha.


Namun, bukannya pindah Nathan malah menatap istrinya tanpa berniat menjawab. Hal itu justru membuat Marsha gregetan di buatnya.


"Nathan." Ujar Marsha dengan penuh penekanan.


Marsha bergegas menghampiri suaminya itu, dia menarik tangan Nathan berniat untuk menuntunnya ke ranjang. Namun, saat tangannya menyentuh kulit sang suami. Marsha tertegun.


"Kamu demam?" Tanya Marsha dengan keterkejutannya.


Marsha duduk di sebelah Nathan, dia memegang pipi suaminya dan juga lehernya. Tangan Marsha kurasakan hangat, matanya juga menangkap wajah pucat suaminya.


"Pindah ke ranjang yah, aku buatkan teh anget sebentar." Pinta Marsha, dia bahkan sudah akan beranjak untuk membantu suaminya ke ranjang.


Akan tetapi, justru Nathan malah menarik tangannya hingga Marsha jatuh terduduk di pangkuan sang suami. Tubuhnya yang hanya memakai pakaian tidur tanpa lengan tak sengaja menyentuh kulit hangat suaminya.


"Nathan!" Pekik Marsha.


Pekikan Marsha hanya Nathan hiraukan, dia justru memeluk istrinya itu sembari menaruh wajahnya di leher sang istri.


"Nathan! Badan kamu demam loh! Ayo istirahat, kenapa aku di peluk begini!!" Omel Marsha.


"Sebentar Sweety." Lirih Nathan.


Marsha bisa merasakan nafas Nathan yang terasa hangat di lehernya. Tangan Marsha pun tak tinggal diam, dia mengelus rahang tegas suaminya itu.


"Demam Naufan malah pindah ke kamu yah," ujar Marsha dengan rasa bersalah.


"Gak papa, imun ku lebih kuat di banding Naufan. Sebentar lagi juga sembuh, aku hanya butuh pelukan." Lirih Nathan.


"Ke ranjang aja yuk." Ajak MArsha, tak tega melihat suaminya yang jutsru malah memangkunya seperti ini.


Akhirnya, Nathan menurut. Dia merebahkan dirinya di kasur, Marsha pun menyelimuti suaminya itu.


"Mau buat teh sama sarapan, biar kamu enakan. Kenapa?" Ujar Marsha dengan bingung.


"SIni." Titah Nathan.


Marsha mendekat dengan kening mengerut. Tanpa dirinya duga, Nathan justru menarik tangannya hingga jatuh ke ranjang. Lalu, suaminya itu menariknya masuk ke dalam selimut.


"NATHAAANN!!" Pekik Marsha dengan kesal.


"Udah, disini aja. Belakang ini kamu cuek sama aku, aku kan juga mau di manja." Cicit Nathan, sembari menduselkan wajahnya pada d4da sang istri.


Marsha hanya mengusap rambut suaminya, di peluk seperti ini membuat Marsha gerah. Apalagi suhu tubuh Nathan yang masih tinggi.


Nathan meng3cup dagu istrinya, Marsha hanya pasrah dengan perilaku suaminya itu. Setiap sakit, Nathan akan selalu seperti ini. Manja dan tidak mau di tinggal.


"Sweety, semisal aku selingkuh. Kamu gimana?" Tanya Nathan.


Tidak ada angin dan hujan, Nathan malah menanyakan hal yang sangat sensitif bagi Marsha. Membuat wanita itu menatap mata suaminya dengan lekat.


"Apa kamu jatuh cinta dengan wanita lain?" Tanya balik Marsha.


Nathan terdiam, tak kunjung menjawab. Melihat keterdiaman suaminya Marsha menghela nafas pelan.


"Kalau kamu memang berniat ingin menikah lagi, aku gak masalah. Dari pada kamu selingkuh. Asalkan, kamu lepas aku dulu."


"Aku gak mau." Seru Nathan dengan suara bergetar.


Marsha tersenyum, dia mengusap pipi suaminya dengan lembut.


"Gak boleh serakah Nathan." Omel Marsha.


"Aku gak serakah kok! Cuman jatuh cinta lagi aja." Ujar Nathan dengan tampang polosnya.


Marsha ingin sekali memukul suaminya, tetapi karena suaminya masih sakit. Marsha lebih memilih menahan kekesalannya.


"Terserah kamu deh, kamu nikah lagi aku nikah lagi lah. Kamu selingkuh aku juga seling ...." Ujar Marsha dengan tersenyum nakal.


"Sweetyyy!!" Rengek Nathan.


"Loh kok nangis? Kan kamu yang mau selingkuh,"


Nathan menduselkan wajahnya di leher sang istri, dan memberinya k3cupan kecil di sana.


"Cuman tanya doang." Cicit Nathan.


"Tanya apa tanya nih?" Sindir Marsha.


"Ish!! Tanya doaaangg!!" Nathan mengigit leher Marsha hingga membuat wanita itu meringis.


"Arghh!! sakit nathan!!" Pekik Marsha dengan kesal.


"Lagian, kamunya." Cicitnya.


Walau kesal, Marsha tetap mau di peluk oleh suaminya itu.


"Aku mau nikah lagi, tapi sama kamu."


"Maksudnya?" Bingung Marsha.


Nathan tersenyum, dia mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri hingga membuat Marsha memilih untuk menahan nafas.


"Karena ... aku terus jatuh cinta. parah nya lagi, aku sellau jatuh cinta pada orang yang sama. Wanita yang selalu buat hatiku berdebar, walau dengan tatapan matanya. Siapa lagi kalau bukan, kamu."


deghh!!


Jujur saja, hati Marsha berdebar tak karuan. Apalagi melihat tatapan cinta suaminya itu. Tolong, siapapun bantu Marsha. Rasanya, saat ini Marsha ingin segera menyelam untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti udang rebus.


"Sweety, skin to skin yah! Biar aku sembuh." Seru Nathan sembari menaik turunkan alisnya.


"Enggak mau!! Udah pagi ini!!" Tolak Marsha.


"Kalau enggak mau ya udah, aku ...." Nathan menarik selimut hingga menutup tubuh keduanya.


"NATHAAAANN!!"


__


Si cadelnya di part yang akan datang, hari ini kok🥰