
Di kamar, Aaron tengah menegur putranya yang habis berbuat ulah. Dia menatap tajam putranya bungsunya itu, baru saja dia pulang dari kantornya. Sudah di hadapkan dengan kenakalan putranya.
"Siapa yang pesan ketopraknya?" Tanya Aaron dengan nada dingin.
"Viel." Cicitnya, sembari memilin jari tangannya.
"Siapa yang bayar?"
Javier tak menjawab, sesekali dia mencuri pandang ke arah sang daddy. Namun, tatapan sang daddy membuat dirinya takut.
"Javier, daddy tanya. Siapa yang bayar!" Sentak Aaron.
"Daddy lah! capa lagi!" Seru Javier, dia kesal karena Aaron membentak dirinya.
"Yang makan kamu kok yang bayar daddy!" Pekik Aaron.
"Mickin kali loh daddy ini, ketoplakna bayalna belapa lebu cih. Cuman ...,"
"Kamu beli satu gerobak buah yang lain juga, harganya berapa ribu? mau daddy sentil ginjal kamu hah?"
Javier memajukan bibirnya, dia sungguh kesal dengan daddy nya itu.
"Mas, sudah. Biar aku ganti saja uangmu." Zeva tak tega melihat putranya di tegur seperti itu.
Mendengar perkataan istrinya, membuat Aaron menghela nafas kasar.
"Ini bukan persoalan duit, tapi kalau setiap hari dia ngelakuin hal ini. Bagaimana? sikapnya akan terbawa sampai dia besar. Beli habis itu tidak bayar, untung saja aku pulang. Kalau tidak, pasti pak satpam yang bayar. Memangnya dia punya duit buat bayar?"
Zeva menghela nafas pelan, dia berjongkok di depan putranya dan mengambil kedua tangan sang putra untuk ia genggam.
"Dengerin bunda, kenapa Vier beli ketoprak gak bayar?" Tanya Zeva dengan lembut.
Javier paling tidak bisa di hadapkan dengan sang bunda, dia tidak bisa menatap mata sang bunda ketika dirinya sedang merasa bersalah.
"Biacana yang bayal daddy kok, makana Viel nda bayal." Cicit Vier.
"Kan! kamu denger sendiri yang? anak ini ... ck! dia gak tau salahnya apa!" KEsal Aaron.
"Diem kamu mas! mending kamu keluar sana! aku mau ngomong sama putraku!" Omel Zeva.
Aaron benar-benar menatap tak percaya pada sang istri, dirinya di usir? salah apakah dirinya?
Akhirnya Aaron pun keluar dengan perasaan yang penuh dengan kekesalan.
"Jangan hiraukan daddy. Javier, begini ... Kalau Javier mau traktir orang. Jangan tipu orang itu, kalau daddy gak bayar. Kasian pak satpam yang bayar semua, Javier paham?"
"Nda." Jawab Javier dengan polosnya membuat Zeva menepuk keningnya.
"Huuhh ...." Zeva membuang kasar nafasnya.
"Viel nda calah, Viel cuman tawalin mau di pecenin nda. Bukan mau di beliin nda. Viel nda calah bunda,"
Zeva seketika mengerutkan keningnya, jadi ... siapa yang salah? pak satpam yang salah paham? atau Javier yang mengerjainya?
"Yasudah, ayo tidur siang." Ajak Zeva yang mulai pusing dengan kelakuan putranya.
"Bunda gak pelcaya Viel?" Tanya Vier dengan tatapan kesal.
"Bunda percaya, di kurangin nakal yah nak. Capek bunda." Sahut Zeva dengan resah pada tingkah putranya itu.
Sedangkan Aaron, dia mengomel sembari berjalan menuju pintu utama. Dia berniat akan kembali ke kantor siang ini, karena sorenya dia memiliki rapat penting.
"Apa sih, aku yang suaminya apa Javier? Anaknya mulu yang di bela. Lah, akunya enggak. Emang bener kata orang yah, istri lebih sayang anaknya dari pada yang buatnya." Gerutu Aaron.
Langkah Aaron terhenti, bibirnya pun turut berhenti berceloteh. Netranya menyipit kala melihat gerbang terbuka lebar. Sebuah mobil limousine dan beberapa mobil tesla dan juga dua buah pajero sport memasuki halaman kediaman Smith.
Ckiitt!!
Mobil itu terhenti di depan Aaron. Saat melihat plat nomornya, Aaron menajamkan matanya. Auranya menjadi mencekam dan dingin.
Terlihat, beberapa bodyguard yang berada di mobil pajero keluar untuk membukakan pintu untuk sang pemilik mobil.
Keluarlah sepasang suami istri paruh baya, keduanya tampak memakai kaca mata dan baju mahalnya. Membuat Aaron mengenal siapa kedua orang itu.
"Selamat siang Tuan Alexander, boleh kami mengobrol dengan anda sebentar? ada hal yang perlu kami bicarakan."
Pria paruh baya itu menatap Aaron dengan wajah datarnya, membuat atmosfir sekitar berubah menjadi mencekam.
Seorang wanita paruh baya berjalan menyusul suaminya, netranya menatap Aaron dengan lembut.
"Tuan Alexander, kami adalah kakek dan nenek dari Nathan. Bolehkah kami berbicara?"
Netra Aaron beralih menatap belakang kedua orang tua itu, Sofia dan suaminya berada di sana. Yang membuat Aaron lebih terkejut, Claudia bersama suaminya pun ikut.
"Urusan keluarga kita sudah selesai, ngapain kalian kesini?" Ketus Aaron.
"Nak, bisakah kita bicara? Sebentar saja, ada hal yang ingin kami sampaikan." Ujar seorang wanita paruh baya.
Aaron tetap diam, dia sepertinya enggan untuk memperbolehkan mereka berbicara. Namun, dia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya sebagai tuan rumah.
"Masuklah." Titah Aaron.
Semuanya pun lega mendengarnya, hingga mereka mengikuti langkah Aaron ke ruang tamu.
"Kalian?"
Laras menatap Rena, sudah lama sekali keduanya tak bertemu. Seketika Rena mendekati Laras, keduanya pun saling berpelukan.
"Sudah lama kita enggak ketemu, apa kabarmu?" Tanya Rena.
Laras bingung, mengapa keluarga Rafassyah dan juga Alvarendra kesini?
"Kalian kesini, ada perlu dengan siapa yah?" Bingung Laras.
"Kami ada perlu dengan Aaron, kami ingin berbicara dengannya." Ujar Andre, tatapan pria itu masih sama seperti dulu. Tajam dan dingin.
Aaron menghela nafas pelan, dia mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu. Haikal yang kebetulan berada di rumah pun keluar dari kamar nya karena mendengar suara asing yang berada di dalam rumahnya.
"Andre?" Haikal benar-benar tak menyangka, jika teman lamanya berkunjung kembali ke rumahnya.
"Cepatlah bicara, aku tidak punya waktu banyak!"
Haikal menarik istrinya duduk, keduanya menatap Aaron dan keluarga besar Nathan.
"Sebelumnya, maaf jika kedatangan kami menganggu kalian. Saya Anggun Alvarendra, yang merupakan nenek dari Claudia dan juga Nathan. Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan cucu kami, Claudia. Kami juga baru tahu jika Nathan dan putra anda, sudah menikah karena paksaan. Kenan sudah menceritakan semuanya, jadi kami kesini ingin meminta maaf,"
Aaron beralih menatap datar Claudia yang tertunduk. Kemarin, Claudia di nyatakan bebas dari tuntutan. Karena Aaron mencabut tuntutannya terhadap wanita itu, karena keinginan sang putri.
Berita tentang di tahannya putri keluarga Alvarendra membuat berita heboh. Kedua orang tua kenan bahkan sampai mengetahuinya dan mendesak putranya untuk memberitahunya tentang semua hak yang tidak dia ketahui sebelumnya tentang cucu-cucunya.
Bukan hanya orang tua Kenan, bahkan saat berita itu sampai di telinga orang tua Sofia, Andre dan istrinya bergegas ke kediaman putrinya. Dari sana lah mereka mengetahui semua hal yang cucunya sembunyikan.
"Yang salah, harus yang meminta maaf. Dia, yang harus meminta maaf pada putri saya. Bukan kalian!" Tegas Aaron.
Semua pasang kata menatap ke arah Claudia, melihat itu ... Sofia langsung menepuk p4ha putrinya.
"Cepat minta maaf!" Bisik Sofia.
Claudia memberanikan diri menatap Aaron, "Om, Maaf. Saya benar-benar menyesal, saya tidak pernah berniat untuk mencelakai Marsha. Saya tidak sengaja, karena saat itu saya sedang dalam keadaan marah. Maaf atas perilaku saya yang membuat putri anda keguguran. Say ... saya mengakui kesalahan saya." Suara Claudia bahkan sampai bergetar, dia benar-benar menyesal atas apa yang telah dia perbuat pada Marsha.
Aaron mengangguk, dia melihat ketulusan di kata Claudia. Jika putrinya tak memintanya untuk membebaskan Claudia, Aaron tak akan mencabut tuntutannya itu. Walau dia harus berhadapan dengan kedua pengusaha sukses sekalipun. Dirinya tidak takut.
Namun, Aaron baru menyadari sesuatu. Bahwa mereka datang, tanpa satu orang yang belakangan ini membuat darah tingginya naik.
"Dimana Nathan?"
____
HALOOO DAH PADA RINDU YAHđź¤
HARI INI KITA CRAZY UP YAH, MUNGKIN 4-5.
Kita kencengin up nya, biar minggu depan bisa selesai 🤩