
Nathan bergegas memegang lehernya, wajahnya menjadi panik.
"Ck, Marsha." Geram Nathan dalam batinnya.
"Pantas saja sebelum aku pulang, dia tersenyum seakan merahasiakan sesuatu." Batinnya.
"Jawab Nathan!" Desak Claudia.
"Alergi gue kambuh, puas? udah lah, gini doang di ributin!" Nathan bergegas naik ke kamarnya, meninggalkan Claudia yang terkejut atas jawabannya.
Sofia menghela nafas pelan, dia menepuk bahu putrinya itu.
"Sudah, jangan di perpanjang. Lebih baik, kamu kembali ke kamar. Istirahat." Pinta Sofia.
Claudia mengangguk pelan, dia kembali ke kamarnya dengan perasaan tak bisa dia jabarkan.
"Pi, kayaknya resepsinya harus di percepat. Bisa bahaya nanti." Ringis Sofia, sebab dia tau tanda merah itu hasil karya sang menantu.
Sementara di kamar, Nathan bergegas melalukan panggilan video pada Marsha.Terlihat di sana, Marsha tengah menyembunyikan wajahnya. Tetapi dia bisa melihat wajah kesal Nathan saat ini.
"Bagus yah! lo ngerjain gue!" Kesal Nathan.
"Aku kan udah bilang, kalau kamu gak boleh pulang. Tapi, tetep aja ngeyel." Dengus Marsha.
Marsha masih khawatir dengan Nathan, dia tidak memperbolehkan Nathan berangkat sekolah. Namun, suaminya itu masih ada ujian di sekolahnya.
"Tapi kan gue harus sekolah, sayang." Ujar Nathan sembari mengambil handuk yang tergantung.
Mendengar kata sayang yang Nathan ucapkan, seketika Marsha jadi tak karuan. Dia melempar ponselnya begitu saja dan menggulingkan tubuhnya di kasur.
Sementara Nathan, yang melihat layar menjadi gelap. Membuat dirinya bingung.
"Marsha, Are you okay?" Tanya Nathan.
"Hem,"
Nathan menghela nafas lega, dia pikir Marsha kenapa. Ternyata, wanita itu tengah tersipu malu.
"Gue mandi dulu," ujar Nathan.
"Terus?" Pertanyaan polos Marsha membuat Nathan terkekeh gemas.
"Lo mau liat gue mandi?" Tanya Nathan sembari menatap istrinya yang hanya memunculkan setengah wajahnya saja.
"Dih, enggaklah!"
TUUTT!
Sambungan terputus, sepertinya Marsha tengah salting saat ini. Apalagi, Nathan mencoba meledeknya.
"Hais, dia menggemaskan." Gumam Nathan, dan langsung melanjutkan mandinya.
.
.
.
Nathan mengendarai motornya memasuki lingkungan sekolah, dan berlanjut menuju parkiran. Terlihat di sana, para teman-temannya sudah menunggunya di atas motor mereka.
"Eh pak bos, baru dateng?"
"Cieee habis ngecas yah pak bos? wajahnya berseri-seri gitu,"
Nathan menghiraukan ledekan teman-temannya, dia bergegas membuka helmnya ketika Selesai memarkirkan motornya.
"NATHAN!"
Nathan menoleh, dia menatap seorang perempuan yang berlari mendekat padanya.
"Nathan, ini ...,"
Siswi itu memberikan Nathan sebuah kotak makan, dia memberikannya dengan malu-malu.
"Gue udah makan, kasih yang lain aja." Jawab Nathan dengan datar.
"Than! kasian Gita, dia pasti udah berusaha buat makanan itu untuk lo," ujar teman Nathan yang berada di sampingnya.
"Gue gak minta." Sahut Nathan dengan cepat dan berlalu pergi.
Gita, siswi yang merupakan teman sekelas Nathan.Terdiam di tempatnya, dia menatap kosong kearah bekal yang Nathan tolak.
"Udah sini, buat gue aja!" Celetuk teman Nathan yang mempunyai lesung pipi.
"Enak aja, ini buat Nathan. Bukan buat lo! Aerox!" Ketus Gita.
"Eh, nama gue Arion bukan Aerox! sembarangan lo!" Pekik nya dengan kesal.
Namun, Gita tak memperdulikannya. Dia bergegas masuk ke dalam sekolah, tak memperdulikan Arion yang menatapnya kesal.
Sebelum ke kelas, Nathan lebih dulu masuk ke ruang kepala sekolah. Dengan tidak sopan, dia bergegas duduk di depan meja kepala sekolah.
"Nathan!" Kagetnya saat melihat Nathan yang tiba-tiba duduk di depannya.
"Halo, om. Apa kabar?"
"Kenapa lah adik saya bisa punya anak kayak kamu! gak ada sopan-sopannya!" Kesal pria itu.
"Saya juga keponakan om loh, keponakan tunggal kesayangan,"
"Tunggal mbah mu! to the poin, ngapain kamu kesini?!"
Arjuna Rafassyah, merupakan abang dari sofia. Dia turut membantu bisnis orang tuanya, termasuk mengelola sekolah ini. Jadu, jangan heran jika dia menjadi kepala sekolah di sekolahan milik orang tuanya.
Barulah senyum Nathan terbit, dua menegakkan tubuhnya dan menatap om nya yang menatapnya dengan tajam.
"Aku mau ... kelulusanku di percepat,"
"APA?! YA GAK BISA GITU DONG!" Pekiknya dengan kesal.
"Kok gak bisa? ini kan sekolah kakek, jadi terserah aku dong mau lulus kapan?"
Tampak Arash memijat keningnya, dia tak tahu mengapa adiknya memiliki putra seperti Nathan.
"Kenapa lah sofia gak buang nih anak terus bikin yang baru, bisanya cuman jadi beban aja." Gumamnya.
"Om bilang apa?" Seru Nathan dengan tatapan datar.
"Oh enggak, nanti om sampaikan pada kakekmu. Tergantung otakmu juga sih, kalau pinter yah bisa cepat. Tapi kalau bodoh si ...,"
"Aku gak bodoh yah! kalau aku bodoh kalian juga bodoh! secara kita masih satu darah!" Pekik Nathan tak terima.
Arash mendengus sebal, terserah keponakannya lah. Tapi, dirinya menjadi berpikir. Bagaimana keponakannya yang malas sekolah ini, ingin lulus cepat.
"Udah kebelet nikah kamu yah? makanya pengen lulus cepat?" Tuduh Arash.
"Kalau iya, kenapa?" Balas Arash dengan santai, dia menaikkan satu kakinya menumpu pada kaki lain.
"Jangan aneh-aneh kamu! ingat, opa mu itu si tuan Alvarendra. Dia memintamu untuk masuk kuliah di Harvard, apalagi kamu penerus tunggalnya!"
"Aku enggak peduli, bahkan aku ingin menunda kuliahku dua tahun ke depan. lagian masih ada si Calvin. Suruh dia aja." Santai Nathan.
Semua rencana tentang kehidupannya bersama Marsha, sudah Nathan susun sebaik mungkin. Dia akan menunda kuliahnya ke luar negri selama dua tahun. Sampai bayi mereka sedikit besar, agar dia bisa membawa Marsha sekaligus bayi mereka ke sana.
Arash mengelus wajahnya kasar, ingin sekali dia menepuk kening keponakannya.
"Penerus Alvarendra itu kamu! usaha oma opa mu itu buat kamu! Kamu ngerti gak sih! usaha mereka bukan cuman usaha warungan doang! tapi perusahaan! enak banget di serahin ke yang lain, kalau om sih gak mau yah. harta adalah harta, harta tahta wanita. gak ada harta gak ada wanita, mengerti maksud om?"
Krik! krik! krik!
Nathan menatap om nya dengan wajah cengo, apakah omnya lupa? jika mereka sudah kaya dari lahir? bahkan, harta Alvarendra masihlah di bawah Rafassyah.
"Enggak."
Jawaban Nathan membuat Arash seketika menepuk keningnya.
"Nathaaaann!! hiihh! untung bukan anak om kamu yah! kalau jadi anak om, udah om tukar kamu dengan bayi lain! heran deh, bisa-bisanya sofia punya anak kayak kamu! lupa doa kayaknya si Kenan pas proses buat kamu!" Gerutu Arash.
.
.
.
Sesuai janjinya, Nathan pergi menjemput Marsha, dia juga sudah melepas seragamnya dan menggantinya dengan pakaian santai.
"Maaf, gue gak bawa mobil." ujar Nathan sambil menyerahkan helm pada Marsha.
"Gak papa," ujar Marsha dengan santai.
Nathan membantu Marsha menaiki motornya, tak lupa dia mengecek kaki Marsha.
"Sudah?" Tanya Nathan.
"Sudah!" Seru Marsha dengan perasaan senang.
"Pegangan." Linta Nathan, tak hanya omongan. Bahkan, Nathan menarik kedua tangan Marsha dan meletakkannya di pinggangnya.
Marsha tersenyum, dia meletakkan dagunya di bahu lebar sang suami. Walaupun Nathan masih sekolah, tubuh pemuda itu sudah seperti orang dewasa. Bahkan, dia memiliki roti sobek yang banyak di sukai para wanita.
"Ayo, kita ja ...,"
"TUNDUUU!!!"
Keduanya menoleh, melihat sosok kecil yang berlari dengan terburu-buru. Raut wajahnya terlihat panik.
"Apaan?" Ketus Marsha, baru saja dia ingin romantis. Adiknya sudah datang mengganggunya.
"Titip ketoplak yah." Pinta Javier.
"Ya." Sahut Marsha cuek, dia kembali fokus ke depan.
"Beli tiga." Seru Javier membuat netra Marsha melotot.
"KAMU LAPER APA RAKUS HAH?! BANYAK AMAT! KETOPRAK TERUS! AMPE NTUH PERUT IKUT JADI KETOPRAK!"
____