Find Me Daddy

Find Me Daddy
baby's gender



Malam hari, Marsha tak mau lepas dari Zeva. Dia ingin tidur di kamar orang tuanya, tidak mau di kamar si kembar. Padahal, Aaron sudah menyiapkan tempat tidur dekat dengan ranjang si kembar.


Zeva senantiasa menepuk d4da putrinya dengan lembut, memberi kenyamanan untuk sang putri. Sementara, Marsha sudah tertidur pulas sejak tadi.


"Sayang, mas mau tanya." Bisik Aaron yang merebahkan dirinya di sebelah Marsha.


Zeva mengangguk, dia memfokuskan tatapannya pada sang suami.


"Apa yang sudah Rio perbuat padamu?" Tanya Aaron.


Zeva terdiam, menurutnya Rio tak menyakitinya. Hanya saja, Zeva membuat pria itu marah.


"Rio enggak apa-apakan aku mas, cuman ... aku membuatnya marah. Sehingga dia kasar. Dia ingin menikahiku, tapi itu tidak mungkin," ujar Zeva.


"Tapi, kau menerima cincin pemberiannya," ujar Aaron dan mengerucutkan bibirnya.


Zeva menatap cincin yang tengah dia kenakan.


"Mas juga memberikan aku padanya, kita sama saja." KEsal Zeva.


"Hais, kenapa kita jadi meributkan hal itu. Sudahlah, ayo kita tidur." Ajak Aaron.


Aaron menarik selimut, dia menatap wajah teduh istrinya. Marsha berada di tengah-tengah mereka, membuat penghalang bagi mereka saling berpelukan.


"Dedek rewel gak di dalam?" Tanya Aaron sembari melirik perut istrinya.


Zeva menggeleng, "Enggak, dia pengertian sama bundanya." Jawab Zeva sembari mengelus perutnya.


Akhirnya, ketiga orang itu bisa tertidur dengan lelap. Setelah berbagai masalah banyak menimpanya.


***


Tujuh bulan kemudian.


Aaron memutuskan untuk mempublikasi kan istri dan putrinya, bertepatan dengan pesta tentang gender calon anak keduanya yang di selenggarakan semewah mungkin.


Para tamu, banyak yang dari para pemimin perusahaan besar. Banyak juga kerabat, teman dan yang lainnya.


Aaron banyak sekali mengundang orang-orang penting dalam pestanya.


Kini, pria itu sudah tampan dengan balutan jas biru muda. Sementara Zeva sudah cantik dengan gaun merah mudanya. Lalu, Marsha kini ... memakai gaun merah muda.


Semua tamu tebak menebak gender. Jika mereka menebak perempuan, maka mereka harus memakai pakaian merah muda. Kalau menebak laki-laki, maka harus memakai pakaian biru.


Keluarga Aaron kompak memakai warna merah muda, mereka ingin ada anak perempuan kembali di tengah keluarga mereka. Sebab, sebulan lalu Adinda telah melahirkan seorang bayi laki-laki kembali.


"Adinda, mana Vero?" Tanya Laras ketika tak melihat cucunya yang masih bayi.


"Ada bersama ibuku mom," ujar Adinda.


Adinda ingin lebih leluasa heboh nantinya, kebetulan ibunya ingin menggendong cucunya.


"HALO, PERHATIAN SEMUANYA!!"


Aaron berada di atas panggung, di sebelahnya ada istri dan putrinya. Dan juga, balon berwarna hitam yang bertuliskan Boy or Girl.


"Terima kasih atas kedatangan kalian, saya Aaron Alexander. Pemilik AR Group, disini saya ingin mengatakan tentang status saya."


"Sata telah menikah hampir 7 tahun lalu, di samping saya ... wanita cantik ini adalah istri saya. Saya sangat mencintainya, maka dari itu saya menyembunyikannya untuk sementara dari publik. Dan ... anak cantik yang sedang memakan pie ini, dia putri saya." Unjuk Aaron pada Marsha yang berdiri di depannya.


MArsha merasa orang-orang pada membicarakannya, dia menatap kamera yang mengarah padanya. Senyuman Marsha mengembang, hingga para orang yang melihatnya terpesona dengan senyumannya.


"Astaga, dia lucu sekali,"


"Benar, bukan hanya lucu. Tapi juga sangat cantik,"


"Wah, ibu dan ayahnya saja sangat cantik. Apalagi anaknya, perpaduan yang sangat pas."


Aaron dan Zeva hanya menanggapinya dengan senyum tipis.


Singkatnya, inti acara akan di lakukan. Aaron meminta Marsha untuk menusukkan balon itu dengan sebuah jarum.


"Marsha mau adik cewek apa cowok?" Tanya Aaron ketika putrinya sampai di gendongannya.


"Cewek, nda mau cowok." Seru Marsha.


"Kenapa?" Balas Zeva.


"Nakal, kayak Alil."


Ariel menatap dirinya, dan beralih pada sang abang. "Marsha selalu berkata jujur." Jawab Azka ketika tahu kalau kembarannya pasti akan bertanya.


Wajah Ariel tertekuk sebal, memangnya seberapa ngeselinnya dia? salah Marsha tidak mau memiliki saudara laki-laki.


Marsha tersenyum lebar ketika meledakkan balon itu, karena dia berpikir. Adiknya pasti perempuan.


DOR!!


Mendadak suara tepukan tangan terhenti, semuanya hening. Kecuali orang yang berpakaian biru.


Senyuman Marsha luntur, dia menatap datar isian balon yang ternyata berwarna biru itu.


"Selamat untuk tuan Aaron dan Nyonya Zeva, kalian akan mendapatkan anak laki-laki! wah, seorang penerus rupanya!" Seru MC.


Bibir Marsha melengkung, Aaron yang mengerti jika anaknya akan menangis segera meletakkan kepala Marsha di pundaknya.


"Hiks ... HUAAA!!!"


Semua orang bingung melihat Marsha menangis, bocah itu melihat sebentar ke arah isi balon yang tersebar di bawah dan kembali menangis.


"Kok kakak Marsha nangis nih, kenapa yah?" Tanya MC melontarkan candaan.


Bukannya menjawab, Marsha malah memukul baju Aaron dengan tatapan kesal.


"Daddy tenapa bikinna cowok!! tadikan malcha bilang kalau malcha mau cewek!! kecel! kecel!! kencel aja adekna! ganti yang cewek!!!" Kesal Marsha.


Zeva mengelus bahu putrinya, dia tahu jika putrinya kesal. Maka, dia akan mengatakannya di banding memendamnya.


Mendengar celotehan Marsha, semua orang tertawa. Tak menyangka jika putri dari pemilik AR group itu akan menangis lantaran gender adik yang tak sesuai harapan.


"OOHHH MARSHA MAUNYA CEWEK YAH?" Seru MC.


Marsha menoleh pada MC, pipi putih memerah dan mata yang masih mengeluarkan air mata.


"Lucu banget nih anak, pengen gue bawa pulang." Batin MC tersebut, bahkan dia menggigit bibirnya lantaran gemas.


"Ekhem, Marsha kesel sana daddy yah?" Tanya MC yang di balas anggukan oleh Marsha.


MC berjalan mendekati MArsha, dia menatap Marsha dengan ekspresi yang lucu.


"Minta daddy buatkan lagi saja yang cewek!!"


Semua tamu undangan tertawa mendengar lelucon dari MC yang terkenal sebagai pelawak itu.


"Iya, betul. Nanti abic adekna blojol buatkan Malcha lagi, tapi bikinna yang cewek yah."


Aaron menatap istrinya dengan ekspresi pasrah, memangnya dia bisa memperagakan cara bikin agar jadi perempuan? tidak bukan?


"Ya, nanti daddy cari tahu caranya." Pasrah Aaron.


Lagi-lagi orang tertawa mendengarnya, tak menyangka jika Aaron bisa bercanda juga.


Acara selesai, Aaron menemui kolega bisnisnya. Sementara Zeva, dia lebih dulu istirahat di kamar karena lelah berdiri.


Sedangkan Marsha, dia dan Ariel sibuk mengambil pie buah di atas meja.


"Ambilna yang banak, nanti kebulu habic." Bisik Marsha.


Ariel mengangguk, dia berusaha menggapai pie buah lainnya. Tinggi mereka sama dengan tinggi meja tersebut, sehingga mereka kesulitan untuk mengambilnya.


"Dapet nda?" Tanya Marsha. Gaunnya sudah penuh dengan pie.


"Belum, mana cih." Kesal Ariel.


Raihan yang sedang mengobrol bersama temannya langsung mengalihkan perhatian nya.


"Ngapain tuh dua bocah." Gumam Raihan.


"Talik kainna, bial dapet." Seru Marsha.


Netra Raihan membulat, ketika Ariel akan menarik alas meja itu. Jika alas itu di tarik, maka semua gelas yang tersusun akan hancur berantakan.


"MARSHA! ARIEL!"


sontak keduanya terkejut, mereka berdua berlari mengindari kejaran Raihan


BRUK!!


"MARSHA!"


"HIKS ... CAKIT! CIAPA YANG NALUH TANGGA DICINI CIIHHH!!!"


____


Lunas yah🥳