
Mylo tengah berjalan sembari memegangi bonekanya, anak itu berniat ingin pergi ke kamarnya karena sudah waktunya dia mandi sore. Namun, saat melewati dapur. Langkahnya terhenti, matanya menyipit ketika melihat seseorang yang tengah berada di depan kulkas. Namun, orang itu tampak awas pada sekitar.
"Penculi lupana. hehe." Mylo mendekati orang itu, lalu dengan sengaja dia mengejutkannya
"HAYOOO!!! MINUM CODA KAU!!" Pekik Mylo yang mana mengejutkan seorang remaja pria yang tengah meminum soda.
"UHUK! UHUK!"
Tampak pria itu panik, dia segera menatap awas ke sekitar takut ketahuan oleh yang lain.
"Haaaa ... Abang Nopan minum coda. Balu kau cembuh amandelmu, minum coda lagi. Mylo bilangin Mama yah!"
Naufan, kini anak itu sudah tumbuh menjadi remaja yang tampan. Bukan hanya tampan, wajah Naufan terkesan imut untuk ukuran laki-laki. Dimana dia memiliki kulit yang putih dan pipi yang chubby membuatnya terlihat menggemaskan.
"MAAAA!! ABANG HMPP!!" Naufan menyodorkan minuman soda itu pada mulut adiknya hingga membuat Mylo terpaksa meminumnya. Bahkan, minuman itu tumpah mengenai bajunya.
"Rombeng kali mulutmu! Nah! Minum!" Seru Naufan.
"Ekhee!! Jahat kali, kenapa di minumkan hiks ... telcedakna aku! Cama mama nda boleh minum juga!" Omel Mylo ketika Naufan menarik kembali botol itu.
"Sengaja! Biar di omelin bareng kita! Masih berani kau ngadu pada mama. Habislah kita berdua." Ancam Naufan.
"Ekheee!!"
"Eh, kenapa?"
Secara mengejutkan, Marsha datang setelah mendengar suara kencang putranya. Melihat kedatangan sang mama. membuat keduanya panik. Naufan langsung memberikan botol soda itu pada Mylo. Parahnya lagi, Mylo memegangnya.
"Astagaaaa!! Mylo minum soda?!" Pekik Marsha saat melihat Mylo yang memegang botol soda.
Raut wajah Mylo sudah panik, bibirnya melengkung ke bawah yang menandakan dirinya akan menangis.
"Ekheee ... abang yang minum." Ujar Mylo dengan suara lirih sembari menunjuk Naufan dengan botol yang ia pegang.
Marsha mau mempercayai Mylo, tetapi melihat baju Mylo yang basah membuat Marsha mengurungkannya.
"Kok salahin abang hm? Mylo lagi pengen soda yah? Kan mama sudah bilang, gak boleh meminum minuman soda. Papa juga sudah belikan Mylo susu kotak. Kenapa malah minum soda." Omel Marsha sembari berlutut di hadapan putranya.
Marsha mengambil botol itu, lalu dia mengecek baju Mylo yang ternyata basah sampai ke baju dalamnya. Sementara Mylo, dia tengah menatap Naufan yang tengah meledeknya.
"Ekheee!! Jadi tumbalna abang." Cicit Mylo.
Nafian meledeknya dengan memel3tkan lidahnya, setelah itu remaja itu pergi meninggalkan adik dan mamanya.
Malam pun tiba, Nathan tengah uring-uringan di teras. Sebab, salah satu anaknya tidak ada di rumah. Siapa lagi kalau bukan Aizha.
"Haish, kemana anak itu." Gumam Nathan. Sejak tadi, Nathan berusaha menghubunginya. Tapi, tetap saja telponnya sama sekali tak putrinya balas.
Tak lama, terdengar suara mobil. Kening Nathan mengerut saat melihat mobil yang memasuki area rumahnya. Mobil itu berlambangkan A, dalam artian milik keluarga mertuanya.
"Itu mobil Javier kan? Ngapain dia kesini." Gumam Nathan.
Mobil itu terhenti di depannya, tak lama keluarlah Javier. Dengan perasaan bingung, Nathan menatap Javier yang beralih membuka pintu penumpang.
"Loh, Aizha?!" Pekik Nathan saat melihat putrinya keluar dari dalam mobil.
Javier menarik lengan Aizha agar maju ke depan, dia greget karena Aizha yang melangkah terlalu kecil untuk menghampiri sang Papa. Tak peduli jika saat ini Aizha tengah ketakutan atas respon yang sang Papa berikan atas kepulangannya.
"Omelin nih bang anaknya! Seharian main di rumah sakit!" Seru Javier.
"Ngapain?!" Tanya Nathan dengan tatapan tak percaya.
"Entah, nyari dokter muda dia. Bosen jomblo katanya." Ujar Javier ngelantur, hal itu membuat Aizha seketika melototkan matanya pada Javier.
"Yasudah, terima kasih Vier sudah mengantar Aizha pulang." Ujar Nathan setelah Aizha berdiri di sebelahnya.
Javier mengangguk, bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.
"Yaudah bang, aku pamit dulu. Takut di carikan bunda." Pamit Javier.
"Jangan lupa Zha, besok ketopraknya. Om tunggu di ruangan." Ujar Javier. Lalu, kembali masuk ke mobilnya. Meninggalkan Nathan yang tengah menatap tajam Aizha.
"Om cuman minta di bawakan doang kok." Cicit Aizha.
"Halah, gak mungkin. Om mu itu pecinta Ketoprak. Pasti ada hal yang kalian janjikan kan? Sehingga om mu itu minta bayaran? Jujur kamu sama papa." Desak Nathan.
Aizha meneguk kasar lud4hnya, papa nya pandai mengamati sekitar. Bagaimana dia memberi tahu Nathan tentang kejadian siang tadi. Apalagi, pria bernama Ervin itu tetap menganggapnya sebagai istri. Walaupun, dia sudah menjelaskannya berulang kali.
"Itu tadi siang ...,"
"Aizha! Pulang juga kamu!!" Aizha menoleh, dia menghela nafas lega saat melihat Nadira datang menghampirinya.
Nadira secara mengejutkan merangkul lehernya dan menariknya masuk. "Ada yang mau ku ceritakan padamu!" Seru Nadira.
Nathan hanya bisa menghela nafas berat, kali ini putrinya bebas. Lain kali, dia akan lebih ketat lagi menjaga putrinya yang satu itu. Di bandingkan dengan putrinya yang lain, Aizha lebih sulit di atur. Dia memiliki pandangannya sendiri terhadap dunia, berbeda dengan Nayara dan Nadira.
"EKHEEE!! PAPAAA!!"
Nathan tertegun heran saat melihat putra bungsunya menangis sembari berjalan ke arahnya dengan dot susu yang tersumpal di mulutnya.
"Kenapa?" Tanya Nathan sembari membawa putra nya itu ke gendongannya.
"Abang." Adu Mylo dengan menatap mata sang Papa dengan mata jernihnya yang berkaca-kaca.
"Iya, abang kenapa?" Heran Nathan.
"Di jadikan telus Mylo tumbalna bial nda di omelin mama huaaa!!"
Mendengar itu, raut wajah Nathan berubah datar. Dia sudak hafal dengan sikap Naufan yang cenderung jail. Apalagi pada Mylo, entahlah. Nathan heran, mengapa ke empat anaknya tidak ada yang mirip tingkahnya dengan dirinya. Apakah gen istrinya jauh lebih kuat?
"Jewer nanti abangnya yah," ujar Nathan.
"Janan." Ujar Mylo sambil menghentikan tangisnya.
"Loh, kok jangan?" Bingung Nathan, mungkin Mylo kasihan dengan abangnya itu. Namun siapa sangka, hal mengejutkan yang Mylo katakan mampu membuat Nathan melongo.
"Ganti abang balu caja, yang itu buang. Bial damai hidupna Mylo."
.
.
.
Pagi sekali, Aizha siap-siap akan kembali ke rumah sakit. Dia ingin melihat Ervin, dan mengetahui keadaannya. Aizha merasa, dia harus bertanggung jawab terhadap Ervin sampai pria itu mengenali siapa dirinya.
"Pa, bisa kau mencari tahu tentang kecelakaan kemarin?" Tanya Aizha sembari menghampiri Nathan yang sedang menikmati kopinya di depan kolam.
"Untuk apa? Apa kau yang menyebabkannya kecelakaan?" Seru Nathan dengan kening mengerut.
"Ehm bukan, lupakan." Ujar Aizha ketika dia tak dapat apa yang dia inginkan.
Saat Aizha berbalik, tiba-tiba suara Nathan menghentikannya.
"Besok malam akan ada pertemuan dua keluarga, Papa harap ... kamu tidak mengulangi kejadian yang sama. Aizha," ujar Nathan dengan ekspresi yang serius.
Aizha berbalik, dia menatap mata tajam sang papa. Suasana yang tadinya hening berubah mencekam.
"Perjodohan lagi? Pa, aku sudah besar. Nanti aku bisa mencarinya sendiri." Ujar Aizha dengan tatapan kesal.
"Dia antara kedua saudaramu, Papa lebih mengkhawatirkan kamu Aizha. Papa mau, kamu dapat pria yang tepat. Papa mohon, jalanin aja dulu. Papa yakin, kamu dan dia cocok. Dia pria yang mapan dan baik, kamu akan bahagia bersamanya." Ujar Nathan dengan menatap lekat mata sang putri.
"Baiklah, akan Aizha coba." Lirih Aizha. Aizha kemudian berbalik pergi, meninggalkan Nathan yang menatapnya dengan tatapan yang sulit.
"Papa hanya ingin terbaik untukmu sayang, papa juga belum rela melepas mu. Tapi, pilihan ini harus kita terima. suatu saat kamu pasti mengerti mengapa Papa melakukan ini." Lirih Nathan.
___
Oh ya, untuk nama anak bungsu Rio. Author nya lupa sama Mario si suami Claudia😭😭 terima kasih yang sudah mengingatkan. Author revisi nama anak bungsu Rio jadi Mars yah. Maaf atas ketidaknyamannya.