
Sore hari, Nathan membawa istri dan ketiga anaknya ke pantai. Mereka ingin menikmati sunset di sore itu. Ketiga anak kembarnya mereka taruh di stroller, sementara keduanya sibuk berpelukan di belakang stroller ketiga anak kembarnya.
"Kamu ngajak aku kesini karena ingin nunjukin kecantikan sunset sama aku?" Tanya Marsha. Tangannya memegang lengan kekar Nathan yang memeluk perutnya dari belakang.
Nathan meletakkan dagunya di leher sang istri, dia mencari posisi nyaman sembari memeluk perut istrinya itu.
"Bukan." Jawab Nathan.
Kening Marsha mengerut, dia menjauhkan kepalanya untuk bisa menatap Nathan dari samping.
"Kok bukan? Terus kesini ngapain? Ngeliat bule gak pake baju hah?!" Sewot Marsha.
Melihat kekesalan istrinya, membuat Nathan tersenyum. Dia meng3cup singkat pipi sang istri, dan kembali menatap sunset yang begitu indah.
"Aku ngajak kamu kesini, karena aku ingin nunjukin kecantikan kamu pada sunset."
Degh!!
Mata Marsha berkaca-kaca, dia meremas tangan suaminya. Hatinya sudah tak karuan, lagi-lagi Nathan berhasil membuatnya jatuh cinta untuk ke sekian kalinya.
"Kamu wanita terhebat dalam hidupku setelah mami, jika kamu mau mengambil jantungku sekalipun. Aku akan rela, karena kamu duniaku. Aku berharap, semoga saat tua nanti. Aku yang lebih dulu kembali,"
"Jangan ngomong begitu hiks ... aku gak sanggup tanpa kamu. Bagaimana duniaku tanpa kamu? Aku gak bisa." ISak Marsha.
Mengetahui istrinya yang menangis, Nathan melepas pelukannya. Dia membalikkan tubuh istrinya, lalu menangkup wajahnya.
"Kamu bisa hidup tanpa aku, tapi aku tidak bisa hidup tanpa kamu." Lirih Nathan.
"Aku ....,"
Nathan membungkam b1bir MArsha dengan bibirnya. Keduanya saling menyalurkan rasa takut kehilangan. Hanya sebentar, mereka kembali menjauhkan wajah mereka. Nathan pun menempelkan keningnya pada kening sang istri. Keduanya saling mengatur nafas yang sempat tertahan.
"Jangan pernah tinggalkan aku, mengerti?" Lirih Nathan.
Marsha menjauhkan keningnya, tangannya terangkat dan mengelus rahang tegas Nathan dengan lembut.
"Jika kamu tidak menyuruhku pergi, aku tidak akan pergi. Selama kamu tidak bermain api dalam rumah tangga kita, aku akan terus berada di sisimu. Dalam keadaan suka maupun duka, sakit maupun sehat. Aku akan tetap berada di sisimu."
"AKu pegang janjimu sayang." Sahut Nathan dan kembali merangkul pinggang sang istri. Keduanya kembali menikmati sunset, dengan Marsha yang memeluk pinggang Nathan. kepala bersandar nyaman di d4da bidang suaminya.
Sedangkan anak-anak mereka, ketiganya menatap sunset sembari memainkan mainan mereka. Tak peduli apa yang orang tuanya obrolkan, ketiganya sibuk menikmati pemandangan yang ada.
Tiga hari kemudian.
Ting Tong!
Ting Tong!
Nathan baru saja bangun dari tidurnya, dia bergegas keluar kamar setelah mendengar suara bel berbunyi.
"Awss!!" Ringis Nathan ketika dia tak sengaja menginjak mainan salah satu putrinya.
"Astaga, aku lupa membereskannya." Gumam Nathan.
Nathan tak memperdulikan mainan itu, dia lanjut berjalan menuju pintu apartemennya. Tak peduli, penampilannya saat ini tak menggunakan pakaian kecuali celana pendeknya.
"Siapa sih, pagi-pagi buta udah dateng aja ke tenpat orang. Ganggu aja." Gerutu Nathan.
TING! TONG!
TING TONG!
"IYAAAA SABAAR!! PENGEN GUE LEMPAR SANDAL APA GIMANAA!"
Cklek!
"Eh ... opa?!" Nathan meneguk kasar lud4hnya saat dia tahu siapa yang datang ke unit nya saat ini.
"Cucu gak ada akhlak! Opa nya dateng bukan langsung di bukain malah di omelin! Minta di pecat jadi ahli waris kamu yah!" Kesalnya, yang tak lain dan tak bukan adalah Andre.
Nathan menggaruk belakang lehernya, dia menjadi tak enak dengan opa nya itu. Sementara Andre, dia menatap Nathan dengan mata menyipit.
"Habis ngapain kamu?" Tanya Andre dengan raut wajah dinginnya.
Seketika, Nathan baru menyadari jika dirinya hanya mengenakan celana pendek saja saat ini.
"O-opa ...,"
Andre mendorong Nathan, dia bergegas masuk ke dalam rumah sembari memarahi cucu nya itu.
"Jajan kamu yah?! Mana ceweknya! Mulai nakal kamu yah!! Istri kamu nunggu di rumah, kamu malah asik tiduran ama cewek!!"
"Opa! Bukan begitu!!"
"Kalau sampe kamu selingkuhin cucu kesayangan opa, habis kamu!" Ancam Andre. Walau Marsha bukan cucunya, tapi Andre lebih sayang pada Marsha ketimbang Nathan. Dia bahkan sudah menganggap MArsha sebagai cucu nya sendiri.
Langkahnya terhenti di depan pintu kamar, dengan emosi Andre mengetuk pintu itu.
TOK!
TOK!
TOK!
"KELUAR KAMU! KELUAR KAMU DARI KAMAR CUCU SAYA!" Teriak Andre.
MArsha yang sedang tertidur pun tersentak kaget, dia buru-buru membenahi pakaian nya dan bergegas keluar setelah pakaiannya sudah kembali rapih.
cklek!
Raut wajah Andre berubah drastis, dia yang tadinya berwajah kesal. Kini, dia menunjukkan ekspresi terkejut.
"Marsha? kamu disini?!" Pekik ANdre.
Marsha terlihat bingung, dia beralih menatap Nathan meminta penjelasan.
"Syukurlah. Opa pikir, anak nakal ini menyembunyikan wanita lain. Opa takut sekali," ujar Andre.
"Tidak opa, Marsha disini sudah hampir seminggu. Maaf, Marsha lupa kasih tau opa. Marsha juga sudah izin pada kakek, dan kakek mengizinkan." Terang Marsha.
Andre mengangguk, lalu tatapannya beralih pada Natah yang berdiri di sampingnya.
"Kamu gak ada niat pakai baju apa? Gak sopan tau! Ada orang tua malah gak pakai baju!" Pekik Andre.
"Loh, kan opa yang kesini pagi-pagi banget. Bahkan matahari belum terbit, salah opa lah datengnya kepagian. Coba datengnya jam sepuluh, pasti aku sudah rapih." Kesal Natha.
"Kamuu!! Opa sudah menelponmu semalam, tapi sepertinya kamu asik menikmati duniamu." Sindir Andre.
Nathan menyadari jika Andre mengetahui alasannya tidak mengangkat telpon.
"Opa kayak gak pernah muda aja, udah punya yang halal. Kalau di anggurin kan sayang," ujar Nathan.
"Terserah kamu lah, opa kesini karena ada urusan bisnis. Kebetulan, opa nyewa apartemen di lantai lima. Opa sengaja kesini karena ingin menyapamu,"
Nathan melongo, opa nya kesini hanya ingin menyapanya. Sepagi ini? Nathan benar-benar tak habis fikir.
Selang beberapa jam, Andre turut ikut sarapan bersama dengan Nathan dan Marsha. Andre sangat bahagia karena kembali bertemu dengan cicit kesayangan nya.
"Aizha, anak pinter. Sudah mam sendiri yah hm." Seru Andre sembari memainkan pipi gembul Aizha.
Aizha menghiraukannya, dia sibuk memakan buah naga putih yang sudah Marsha potongkan untuknya. Memang, Aizha lebih senang makan sendiri dari pada di suapi. Jika makan sendiri, makannya akan banyak. Tapi jika di suapi, dia lebih sedikit makannya.
"Nayara sama Nadira masih tidur?" Tanya Andre.
"Biasalah, kayak bapaknya. Suka tidur." Sindir Marsha membuat Nathan seketika melototkan matanya.
Saat Andre memperhatikan Aizha, tiba-tiba dia menjadi kepikiran satu hal. Matanya menatap Marsha dengan serius.
"Marsha, opa boleh ajak Aizha keluar? Opa akan mengunjungi perusahaan teman opa hari ini, opa ingin mengenalkan cicit opa padanya. Dia sudah seperti saudara opa, apa kau mengizinkannya?"
Marsha menatap Nathan, begitu pun sebaliknya. Mereka percaya pada Andre, tapi mereka takut Aizha merepotkan pria itu.
"Bukan gak percaya sama opa, tapi takut merepotkan opa," ujar Marsha dengan lembut.
"Merepotkan apa? Aizha itu yang paling anteng dan gak rewel, opa juga sudah menyiapkan dua baby sitter. Kalian tidak perlu khawatir,"
"Gimana?" Tanya Marsha pada Nathan.
Nathan menghela nafas pelan, dia pun mengangguk sembari menyendokkan sarapannya.
"Yaudah, mau gimana lagi? Di larang pun, opa bakal tetep bawa kan? Izin nya cuman basa-basi aja." Sindir Nathan
"Ya itu, kamu tau!"