
Seorang pemuda memarkirkan motor sportnya di garasi rumahnya, lalu kemudian dia mencopot helmnya.
"Argh ...." Pemuda itu tak sengaja menyentuh luka di bibirnya.
Tak berlama-lama, dia bergegas masuk ke dalam rumahnya. Banyak lampu ruangan yang sudah mati, hanya lampu tangga saja yang menyala.
Tak!
Tiba-tiba, lampu ruang tengah menyala. membuat pemuda itu seketika membalikkan tubuhnya.
"Berantem lagi? apa gak bosan kamu berantem terus?" Berdiri, sosok wanita muda dengan rambut bergelombang.
Pemuda itu hanya diam menatap tanpa berniat membalas. Membuat si wanita menghela nafas pelan.
"Niel ...,"
"Berhenti memanggilku dengan panggilan itu!" Sentak pemuda itu dengan sorot mata menajam.
Nathaniel Oliver Alvarendra, putra sulung Sofia Rafassyah dan Kenan Oliver Alvarendra. Keluarga Alvarendra dan Brighton saling berbesan, karena nyonya Liam adalah kakak kedua dari Kenan.
"Nathan, sampai kapan kamu akan terus begini?" Lirih wanita itu.
"Claudia, kau belum tidur? eh ... Nathan,"
Seorang wanita berumur 45 tahun mendekati kedua anaknya, netranya menatap terkejut ke arah sang putra yang baru saja pulang.
"Nathan, ada apa dengan wajahmu? kau bertengkar lagi nak?" Kaget wanita itu.
Wanita itu yang tak lain adalah Sofia, dia menikah dengan putra pertama keluarga Alvarendra.
Saat Sofia akan menyentuh luka Nathan, pemuda itu menjauhkan wajahnya. Dia bergegas berbalik dam lanjut pergi ke kamarnya.
"Haaahh ...." Sofia menghela nafas panjang, putranya yang dulu ceria. Kini berubah menjadi dingin, tanpa alasan yang tidak dia ketahui.
"Tidurlah mom, aku yang akan mengobati luka Nathan," ujar Claudia sembari mengusap bahu ibunya.
"Terima kasih sayang," ujar Sofia.
Claudia menganggukkan kepalanya, dan setelah Sofia kembali ke kamar. Dia pun bergegas ke kamar Nathan dengan membawa sebaskom air hangat dan juga kotak p3k.
Cklek!
Claudia membuka pintu kamar Nathan. Di lihatnya adiknya sedang teetidur dengan baju yang sama seperti tadi. Pemuda itu menaruh lengan kanannya di keningnya.
Perlahan, Claudia melangkah mendekat. Dia duduk di bibir ranjang dan berniat akan membersihkan luka itu.
Srek!
Merasa ada pergerakan, Nathan spontan langsung duduk. Dia menatap kaget ke arah Claudia yang berada di kamarnya.
"Ngapain kakak disini?!" Tanya nya dengan suara dingin.
"Nathan, lukamu perlu di bersihkan," ujar Claudia.
"Biarkan! lebih baik kakak keluar! aku bisa membersihkan dan mengobati luka ku sendiri!" Usir Nathan.
Claudian menaruh baskom itu di atas nakas beserta obat yang ia bawa. Lalu, dia menatap sendu sang adik yang enggan menatap ke arahnya.
"Apa kita tidak bisa kembali seperti dulu? kita adik kakak Nathan, sampai kapan kamu trus memusuhiku?" Lirih Claudia.
Nathan hanya diam, dia tak ingin menjawab perkataan sang kakak.
"Perasaanmu padaku salah, tak sepatutnya kamu menaruh rasa pada kakakmu sendiri!" Seru Claudia dengan suara bergetar.
Barulah Nathan menatap Claudia dengan sorot mata yang tajam. "Kita tidak memiliki hubungan darah! Ingat itu! perasaanku tidak salah! karena kau, bukan kakak kandungku! kau tahu itu kan!" Sentak Nathan dengan mata yang memerah.
Claudia menghela nafas pelan, memang benar yang di katakan Nathan. Sebenarnya dirinya adalah sepupu Nathan, dia anak dari kakak pertama ayah Nathan. Orang tuanya meninggal akibat kecelakaan pesawat, sehingga dirinya di urus oleh sang paman.
Yaitu, ayah Nathan.
Dirinya tinggal bersama keluarga sang paman, sejak usia sepuluh tahun. Dimana Nathan sudah memasuki usia empat tahun. Tak ada yang aneh dari keduanya, hanya saudara pada umumnya.
Namun, ketika beranjak remaja. Nathan, merasakan. Ada hal yang berbeda pada dirinya. Dia mencintai kakaknya, seperti seorang pria yang mencintai wanita. Bukan adik pada kakaknya.
Apalagi setelah tahu, jika Claudia bukan kakak kandungnya. Nathan merasa jalan cintanya akan berjalan mulus. Namun, sayang. Perasaan itu hanya dia miliki seorang diri. Claudia, telah memiliki tunangan. Bahkan, bulan depan adalah pernikahan mereka.
"Sudahlah, lebih baik kakak keluar. Dan jangan dekati aku, itu lebih baik," ujar Nathan dengan suara rendah.
"Cintamu memang tidak salah dek, tapi yang salah ... pada siapa cintamu itu berlabuh. Aku menganggap mu adikku, sampai kapanpun itu. Hubungan kita, akan tetap adik kakak walau kita tidak sedarah." Lirih Claudia.
Sementara di dalam kamar, Nathan melihat baskom air hangat beserta handuknya.
"Jangan baik padaku kak, perlakuanmu membuatku semakin sulit menghilangkan mu dari hatiku. Aku mohon, jangan pedulikan aku. Agar rasa ini, menghilang dengan cepat. Aku juga tersiksa dengan perasaan ini" Batin Nathan.
***
Sebulan sudah Marsha menutup diri, dia berencana untuk liburan bersama teman-temannya ke sebuah desa.
Aaron mengizinkannya, dia tak ingin putrinya terus berlarut dalam kesedihan.
Marsha dan kedua temannya menggunakan mobil Fortuner milik salah satu temannya, mereka akan berlibur di sebuah desa yang terkenal akan keindahannya.
"Ini desanya?" Tanya Marsha, ketika menatap desa yang bangunan rumahnya masih sangat terlihat seperti jaman dulu.
"Iya, disini tuh masih asri. Beberapa kali sih gue kesini sama bonyok gue. Apalagi air terjunnya, cantik parah." Seru Marsha yang sedang menyetir bermana Aurelia Anderson. Putri dari seorang dokter ternama.
"Bagus sih, tapi agak serem yah," ujar teman Marsha yang duduk di kursi belakang. Dia adalah Siska Halil Abraham, putri seorang pengusaha di bidang tekstil.
"Lo takut siska?" Tanya Aurel.
"Iya, gue takut." Jawab Siska dengan jujur.
"Halah, payah lo!" Sery Aurel.
Marsha yang duduk di samping Aurel, masih melihat keadaan sekitar. Memang jalanan kampung itu terlihat rusak dan bahkan belum pernah di aspal.
"Lo ... gak salah jalan kan?" Tanya Marsha dengan ragu.
"Enggak, tenang aja." Seru Aurel.
Saat asik-asiknya menikmati pemandangan sekitar, rombongan motor sport membuat ketiganya terkejut. Pasalnya, mobil mereka berada di kerumunan motor itu.
"Ck, gila nih orang." Gerutu Aurel.
Aurel membuka kaca mobilnya, dia mengeluarkan setengah badannya dan berteriak pada mereka.
"WOY! GILA YAH LO PADAA YAA!!" Seru Aurel dengan keras.
Namun, karena kebisingan motor, membuat mereka tak mendengarkan apa yang Aurel teriakkan tadi.
"Udah Rel, ini kampung orang. Gak baik teriak-teriak," ujar Marsha.
"Gak waras mereka orang!" Gerutu Aurel dan kembali menjalankan mobilnya.
Akhirnya mereka sampai di sebuah kamar penginapan, mereka pun turun dan menatap bangunan itu.
"Kok kayak kos kosan yah?" Tanya Siska dengan bingung.
"Emang iya, disini tempat penginapan ya ... disini doang. Satu kamar satu tempat tidur. Tapi, gue udah pesan, satu kamar buat tiga orang," ujar Aurel.
Marsha dan Siska membulatkan mulut mereka. Tak lama, mereka masuk dan di sapa oleh penjaga kamar.
"Kamu Aurel?" Tanya penjaga itu.
"Eh mang cecep, apa kabar mang?" Tanya Aurel mengenali pria itu.
"Baik meng, mau liburan yah? sama temannya?" Tanya mang Cecep.
"Iya mang, kamar buat tiga orang. Ada kan?" Tanya Aurel.
"Waduh, adanya buat dua orang neng. Buat tiga orang, udah di ambil sama yang lain."
"APA?!"
Siska langsung memegang tangan Marsha, "Sha, gue tidur sama lo yah. Gue takut tidur sendiri,"
"Apaan sih! masa gue yang tidur sendiri!" Pekik Aurel tak terima.
Karena tak mau ada keributan, akhirnya Marsha pun yang mengalah. "Gue aja yang tidur sendiri! dari pada ribut aja kalian," Omel Marsha sembari meraih kunci yang mang Cecep berikan.
______
JANGAN SKIP LIKE YAH🥰🥰 HARI INI TRIPLE UP🥳🥳🥳