Find Me Daddy

Find Me Daddy
Jangan cerai yah, nanti gue ganti sama yang baru, gimana?(S2)



Tubuh Nathan menegang kaku, dia menatap ke segala arah.


"Apakah dia tahu kalau aku mencintai kak Clau." Batin Nathan.


Melihat Nathan yang gugup, Aaron tersenyum tipis. "Tidak bisa memilih kan? Kamu tidak mencintai putri saya, tapi kamu mencintai keluargamu. Dua cinta yang berbeda, kamu akan kesulitan untuk memilih mana yang akan kamu pilih."


Mendengar itu, Nathan bernafas lega. Dia pikir, Aaron mengetahui rahasia dan Claudia. Ternyata, yang di maksud Aaron adalah cintanya pada keluarganya.


"Om, aku sudah menyayangi Marsha. Aku menyayanginya, sebentar lagi ... pasti aku mencintainya." Kekeuh NAthan.


"Saya sudah kasih pilihan untuk kamu, kamu lebih pilih keluargamu. Atau putri saya. Terlepas dari masa lalu saya dan orang tuamu, saya adalah seorang ayah. Saya sakit melihat putri saya seperti sekarang ini. Saya hanya menyingkirkan penyebab putri saya menjadi sakit seperti ini."


"Dan penyebabnya, adalah kakakmu! Dari keluargamu! Saya harus menyingkirkan orang yang sudah menyakiti putri saya, dan memberikannya efek jera. Saya bisa memaafkan, tapi hukum tetap berjalan."


Aaron menangkupkan tangannya pada Nathan, netranya yang tadi menatapnya tajam berubah menjadi sayu.


"Saya mohon, kamu sudah tahu bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak. Saya tidak ingin kehilangan putri saya. Jika kamu tidak bisa menjaganya, lepaskan dia. Saya lebih bisa menjaganya, di banding kamu."


"Enggak om, aku gak mau. Aku gak mau bercerai dengan Marsha!" Sentak Nathan.


Teriakan Nathan membuat semua orang menghampiri keduanya, Azka dan Ariel langsung mendekati Nathan dengan tatapan marah.


"Apa yang udah lo buat pada Marsha hah?! kenapa bisa adek gue seperti itu!" Sentak Ariel.


Jacob, istrinya dan orang tuanya tak tahu mengenai Marsha yang sudah menikah. Mereka tampak bingung, dan tak mengenal siapa Nathan


"Tunggu, ini sebenarnya ada apa Aar?" Bingung Karas.


"Nanti aku jelaskan, secara garis besarnya. Dia adalah suami Marsha,"


Perkataan Aaron, membuat semuanya terkejut. Menatap tak percaya pada sosok ayah Marsha.


"Kenapa bisa ...,"


"Jangan tanyakan sekarang. Saat ini, aku tengah memintanya untuk menceraikan putriku!"


Nathan menggeleng, dia menatap Laras dengan sorot matanya yang sendu.


"Aku sangat menyayangi Marsha, aku tidak akan melepaskannya. AKu tidak mau menceraikannya, tolong bujuklah putramu nyonya." Lirih Nathn.


DERTT!!


DERTT!


Ponsel Nathan berdering, dia bergegas mengangkatnya setelah tahu jika sang ayah kembali menelpon.


"Nathan! kau dimana hah?! apa kau bersama mertuamu?! cepatlah ke rumah sakit, kakakmu belum juga sadarkan diri. Dia mengalami pendarahan!"


Air mata Nathan luruh saat itu juga, entah mengapa dia yakin jika kandungan kakaknya tidak selamat.


Netranya menatap Aaron yang tersenyum tipis padanya.


"Naik lah, dan temui putriku. Cerai kan dia saat itu juga,"


Tangan Nathan meremas ponselnya dengan erat, urat-urat tangannya pun tampak semakin terlihat.


Keputusan ini, adalah keputusan yang sangat sulit menurutnya. Dia tak mungkin membiarkan Claudia mendekam di penjara dalam keadaan seperti ini. Dan dia juga, tidak ingin bercerai dari Marsha.


"Om, jangan beri aku pilihan sulit seperti ini." Lirih Nathan.


"Jika kakakmu kehilangan calon anaknya, dan dia masuk penjara. Om yakin, tak sampai satu bulan. Dia akan kehilangan kewarasannya." Ujar Aaron dengan nada dingin.


Nathan memejamkan matanya, dia berusaha untuk menguatkan keputusannya. Tak berselang lama, dia kembali membuka matanya.


Sedangkan di lantai atas, Marsha bisa melihat dan mendengar percakapan mereka. Dengan duduk di kursi roda, tangannya meremas pagar pembatas dengan perasaan yang tak menentu.


Tiba-tiba Nathan dan Aaron menaiki tangga, seketika itu pula tubuh Marsha lemas. Dia seperti sudah tahu apa yang Nathan pilih.


Tatapan keduanya bertemu, hati mereka seperti tersengat aliran listrik. Keduanya saling menatap dan menguncinya.


"Bicarakanlah di kamar, kami akan menunggu kalian di luar." Titah Aaron.


Aaron merangkul pinggang istrinya dan melenggang pergi, meninggalkan dua sejoli yang sedang di landa kesedihan itu.


Marsha memutus kontak mata terlebih dahulu, dia mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kamar.


Nathan mengikutinya di belakang, tak lupa juga dia menutup pintu itu.


"Sekarang, ceraikan aku." Lirih Marsha, tanpa menghadap kearah Nathan.


BRUGH!


Marsha terpekik saat Nathan bersimpuh di depannya, pemuda itu mencium1 tangan Marsha dengan air matanya yang terus mengalir.


"Maaf. maafkan aku. Maaf." Isaknya.


Marsha pun tak kuasa menahan tangisnya, dia turut menangis menahan sesak di dadanya.


Sedangkan di ruang keluarga, semua orang berkumpul meminta penjelasan pada Aaron. Aaron pun menceritakan seluruh kejadian yang ada, sampai Marsha di nyatakan keguguran.


"Masalah sebesar itu, dan kamu tidak menceritakannya pada kami?!" Pekik LAras dengan tatapan tajam.


Aaron tertunduk, dia menyalahkan dirinya sendiri. Dia bukan tidak ingin mengatakan hal itu, hanya saja. Dia mencari waktu yang pas. Terlebih, mereka khawatir berita ini sampai pada orang yang salah dan menyebarkan berita bohong demi mencapai rating.


"Aaron gak mau Marsha menjadi berita gosip karena menikahi seorang anak SMA, jadi Aaron memutuskan agar berita pernikahan di sebarkan setelah Nathan lulus. Namun, semuanya di luar prediksi."


Laras memijat keningnya, dia sungguh kesal dengan putra nya itu.


"Penyakit kamu dari dulu gak sembuh sembuh juga yah! suka banget nyimpen rahasia! nyimpen istri lah! Dan kamu juga Zeva, sama aja! nyimpen anak dan sekarang kalian ... nyimpen suami cucu mamah sendiri! hebat sekali kalian yah!" Kesal Laras.


"Susahnya apa bicara sama keluarga sih." Kesal Laras.


Aaron menghela nafas pelan, "Aku yakut kalian membocorkannya, secara tidak sadar. Lebih baik, setelah Nathan lulus dan menjelaskan semuanya."


"Mamah enggak bocor kok! masa mamah bocor rahasia cucu sendiri!" Pekik Laras.


Haikal menepuk tangan istrinya, "Cara aku tidur aja kamu ceritain ke teman sosialitamu, apalagi suami cucumu sendiri."


Perkataan Haikal, membuat Laras melotot kesal. Suaminya sedang mencari gara-gara dengannya, di kepalanya sudah menyiapkan balasan untuk suami tercintanya itu.


"Nathan, kondisi Marsha sedang tidak baik-baik saja. Mentalnya terguncang, kenapa kamu menekannya dengan menyuruh Nathan untuk menceraikannya?" Tanya Jacob dengan tatapan serius.


"Dari pada putriku sakit lebih lama, aku tidak kuat melihatnya seperti itu." Lirih Aaron.


Sementara di kamar, Nathan dan Marsha masih sama-sama menangis. Hingga Marsha menghentikan tangisannya dan berkata.


"Jangan kenceng-kenceng nangisnya, Javier lagi tidur. Nanti kacau, gak jadi cerai kita."


Entah mengapa mood nangis Nathan langsung hancur seketika, dia beralih menatap ranjang dimana Javier tidur.


"Jangan cerai yah, nanti gue ganti ama yang baru gimana? kita buat lagi, mau?" Ujar Nathan sembari menatap Marsha yang menganga setelah mendengar permintaan nya.


"Hah?!"


____


Javier nya belum muncul, abang ketopraknya belum lewat🤡


Siapa yang kemarin udah emosi🤡