Find Me Daddy

Find Me Daddy
Hari spesial



Pertunangan Azka.


Marsha dan Nathan akhirnya memutuskan pulang sehari sebelum acara pertunangan Azka. Keduanya ingin menghadiri acara itu, walau besok mereka akan kembali ke Amerika karena kuliah Nathan yang tak bisa di tinggal.


Semua keluarga berkumpul di Resto yang sudah Azka sewa khusus untuk pertunangannya dan juga Azura. Tampak Azka memakai jas hitam dan Azura yang memakai dress. Keduanya terlihat sangat serasi, cantik dan tampan.


"Ayo, pasangkan cincin nya dulu." Seru Laras, sembari memberikan kotak berwarna biru pada Azka.


Azka tersenyum, dia membuka kotak itu. Terlihat, cincin berwarna silver dengan berlian di tengahnya. Cincin itu tampak sangat manis, Azura pun menyukainya.


"Ayo pasaaangg!!" Seru Ariel yang turut heboh.


Azka menatap kearah Azura, dia mengadakan tangannya. Berharap, Azura memberikan tangannya. Namun, sebelum Azura menyodorkan tangannya. Rio lebih dulu menyodorkan tangannya pada Azka membuat semua orang bingung di buatnya.


"Eh, kenapa nih om?" Pekik Ariel.


Azka pun sama, dia terlihat bingung. Namun, dia hanya diam saja. Semua keluarga pun tegang ketika melihat wajah datar Rio.


"Biar saya pakaian sendiri pada putri saya." Tegas Rio.


"Eehh si om, manan bisa begitu!! Kan tunangan kembaran saya, bukan om." Seru Ariel tak terima.


"Jadi gak nih tunangannya?!" Pekik Rio membuat Azka dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Pa." Tegur Mentari sembari menyenggol lengan suaminya.


"Kalian belum nikah, di larang sentuhan. Saya gak mau ada sentuhan fisik sebelum menikah."


Jacob menatap putranya, tampak Azka terdiam dengan kening menurut. Jacob khawatir, Azka keberatan. Namun, itu sudah menemukan syarat dari RIo. Mau tak mau, Azka harus mengiyakannya. Jika tidak, bisa jadi Rio membatalkan pertunangan ini.


Azura menatap calon tunagannya dengan tatapan lekat, dia penasaran apa jawaban Azka.


"Baiklah."


Senyum Azura mengembang, dia yakin Azka pasti tak akan mengecewakannya. Azka pun menyerahkan kotak itu pada Rio, sehingga RIo lah yang memasangkan cincin itu pada putrinya.


"HOREEE!!! AZKA UDAH SOLD OUT!!" Seru Ariel sembari mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


Jika kalian pikir keluarga sama halnya dengan Ariel, kalian salah. Justru mereka menatap Ariel dengan tatapan tak bisa di deskripsikan.


"Eh, kok pada gak heboh? Azka udah sold out loh, mana tepuk tangannya?" Tanya Ariel. Namun, tetap saja. Tatapan semua orang menatap padanya.


Karena bingung dengan keadaan, tatapan Ariel berakhir pada Javier dan juga Akash. Keduanya sama sama menatap Ariel dengan wajah terbengong.


"Eh cil! Biasanya lu berdua heboh! Ayo!! sunyi amat nih acara." Seru Ariel pada kedua bocah itu.


Sontak, keduanya menggaruk pipi gembul mereka. Keduanya menatap tak enak pada Ariel.


"Bukan itu macalahna," ujar Akash.


"Terus?" Bingung Ariel.


"Bang Acka udah laku, bang Alil kok nda laku-laku?" Tanya Javier dengan polosnya membuat tawa semuanya seketika meledak.


"Eh?! SEMPRUL!! MAU GUE PITES ATAU BEGIMANE LU PADA HAA?! SEMBARANGAN!!" Pekik Ariel tak terima.


.


.


.


Malamnya, Marsha menginap di rumah mertuanya. Awalnya Marsha ingin menginap di rumah orang tuanya, tetapi Nathan ingin pulang ke rumahnya. Tak mungkin Marsha enggan mengikuti suaminya. Walau ada rasa kesal di hatinya, Marsha pun tetap menurutinya.


Jadi lah saat ini, sehabis makan malam. Ketiga kembar sedang bersama Sofia dan Kenan, sementara Marsha memilih masuk kamar.


Cklek!


"Sweety, tumben jam segini udah tidur?" Tegur Nathan sembari mendekati ranjang.


Marsha cuek, dia hanya diam. Dia sengaja membelakangi pintu, agar dirinya tak melijat Nathan. Hati Mahesa benar-benar merasakan kesal saat ini.


"Sweety, honey ... sayang ...,"


Marsha tak merespon, Nathan pun seketika menghentikan langkahnya. Dia mulai memahami, jika sang istri tengah merajuk padanya.


"Kamu marah?" Nathan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Sebelum dia sampai pada Marsha, istrinya itu langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Sayang?! Kamu marah kenapa?!" Pekik Nathan.


Nathan duduk di tepi ranjang, dia berusaha menarik selimut yang Marsha kenakan. Tenaga Nathan tentunya lebih kuat dari Marsha, sehingga pria itu berhasil menarik selimut yang istrinya kenakan.


SREEKK!!


"IHHH APAAN SIHH!!" Kesal Marsha sembari mendudukkan dirinya.


"Apaan ... apaan ... kamu marah kenapa? Ngomong tuh yang jelas! Aku mana tau kamu kenapa!"


Bentakan Nathan membuat Marsha seketika terdiam, matanya menatap Nathan dengan tatapan berkaca-kaca. D4danya terasa kembang kempis menahan sesak yang menusuk.


"Mau nangis hah? Gak suka pulang ke rumah orang tuaku?! Iya?" Sentak Nathan.


"Nathan." Marsha benar-benar tak percaya jika Nathan membentaknya. Seketika, air matanya luruh. Marsha tak sanggup menahannya lagi, bentakan Nathan membuat hatinya sakit.


"Mau ke rumah orang tuamu kan? Ayo!! AKu antar!" Nathan menarik tangan Marsha hingga membuat istrinya itu berteriak.


"ENGGAK!! HIKS ... NATHAN, MAAF ... TANGANKU SAKIT!!"


Mendengar ada suara keributan dari kamar Nathan, Sofia dan Kenan pun seketika berlari ke kamar putranya.


"Ada apa ini Nathan?!! Kamu apakan istrimu!!" Pekik Sofia.


"Mami gak usah ikut campur, dia gak mau disini. Dia mau nginap di rumah orang tuanya!"


Nathan membawa Marsha keluar. Sofia semakin panik, dia ingin mengikuti putranya yang membawa menantunya pergi. Namun, saat dia melihat suaminya yang masih santai saja membuat Sofia emosi.


"Kok papi malah diem aja sih!! Cegat dong anaknya!! Itu Marsha mau di bawa kemana!! Mantu satu-satunya itu loh pi!!" Panik Sofia.


Saat Sofia akan menyusul Nathan, justru Kenan mencegah nya. Dia menggelengkan kepalanya pelan, memberi isyarat agar sofia tak turut ikut campur.


"Pii!!"


"Itu urusan mereka," ujar KEnan.


"Kalau sampai Marsha kenapa-napa gimana." Panik Sofia.


"Enggak, Nathan gak mungkin nyakitin Marsha."


"Ha?" Sofia benar-benar tak mengerti, apa maksud dari suaminya itu.


Sedangkan Nathan, dia mendorong masuk Marsha ke dalam mobilnya. Setelah itu, dia bergegas memasuki pintu kemudi.


"Nathan, maaf. Maafkan aku, aku salah. AKu tidak akan marah lagi padamu, aku akan menerima keputusanmu. Tapi jangan seperti ini hiks ...,"


Nathan menghiraukan tangisan permohonan Marsha, dia hanya diam fokus menyetir mobilnya. Nathan menyetir dengan kecepatan sedang, tangisan Marsha membuat Nathan menoleh sekilas.


"Diamlah, atau ku turunkan di jalan."


Seketika, Marsha langsung diam. Dia berusaha menahan tangisnya sembari memejamkan matanya, wajahnya pun memerah. Tak lama, Marsha merasa jika mobil terhenti. Bergegas, dia kembali membuka matanya. Lalu, beralih menatap ke sekeliling.


"Nathan, ini dimana? Kamu mau buang aku? Ini hutan Nathan!" Pekik Marsha dengan panik.


Nathan hanya diam, dia keluar dari mobil. Lalu, mengitari mobilnya. Kemudian, pria itu membuka pintu Marsha.


"Nathan!! Aku mau pulang! Hiks ... aku takut!!" Pekik Marsha saat Nathan menarik tangannya keluar dari mobil.


Nathan menariknya memasuki hutan, tak peduli MArsha sedari tadi memohon padanya untuk berhenti. Tiba-tiba langkah Nathan terhenti, dia membalikkan tubuhnya dan menatap Marsha dengan tatapan datar.


"Nathan, maafkan aku. Aku janji tidak akan marah lagi padamu. Biarkan aku pulang hiks ... aku tidak akan mengadu pada daddy Biarkan aku pulang." Isan Marsha sembari menangkupkan tangannya.


DUAARRR!!


"AAA!!" Marsha menutup telinganya sembari memejamkan matanya. Bunyi kembang api membuat dirinya terkejut.


Setelah tenang, Marsha kembali membuka matanya. Hutan yang tadinya gelap sekarang justru menjadi terang. Di sekelilingnya ternyata banyak lilin dan rangakaian bunga mawar. Lalu, matanya menatap Nathan dengan tatapan terkejut dengan apa yang dirinya lihat saat ini.


"Nathan ... ini ...." Marhaba tak bisa melanjutkan kata-katanya kala melihat Nathan yang berdiri di hadapannya dengan memegang sebuket bunga besar. Mawar merah, bunga kesukaan Marsha.


Wajah datar Nathan berubah lembut, senyumnya merekah lebar.


DUAARR!!


MArsha mendongak, kembang api itu menuliskan kata Happy Anniversary Sweety. Air mata Marsha kembali luruh, matanya lalu kembali menatap Nathan yang masih tersenyum padanya.


"Selamat hari ulang tahun pernikahan Sweety." Ujar Nathan sembari memberikan buket itu.


Marsha mengambilnya, lalu dia memukulkannya pada tubuh Nathan dengan kesal.


"Hiks ... j4hat banget kamu tau gak!! Hiks ... tega banget hiks ...." Melihat Marsha yang kembali menangis membuat Nathan meraih istrinya. Kemudian, memeluknya erat.


"Maaf sayang, aku ingin buat suprise buat kamu. Tapi aku bingung caranya gimana. Maaf yah, telah buat kamu nangis." Sesal Nathan


Marsha kembali menarik dirinya, dia menghapus air matanya. Saat dirinya mengeringkan pipinya yang basah, tiba-tiba sesuatu benda yang dingin menyentuh lehernya. Tangan Marsha pun bergerak menyentuh benda itu.


"Kalung, kamu beli kalung buat aku?! Ini berlian loh than!! Mahal!!" Kaget Marsha.


Nathan tersenyum, dia memasangkan kalung pada leher Marsha dengan telaten. Setelah beres, dia kembali ke hadapan wanita itu.


"Gimana? Suka? Aku membelinya dengan uang hasil kerjaku saat menjadi pegawai papi. Walaupun tidak semahal yang daddy mu berikan, kau tetap menyukai nya kan? Tanya Nathan.


Marsha mengangguk, dia kembali memeluk Nathan Nathan pun memeluk erat istrinya itu.


"Apapun yang kamu kasih, aku suka." Bisik Marsha.


"Aku cinta kamu sayang, sampai kapanpun. Jangan pernah meragukan kesetiaanku, di mataku ... hanya kamu satu-satunya wanita yang ku cintai."


"AKu juga cinta kamu, suami berondong. Hahaha."


"Dasar!" Gemas Nathan mencubit hidung Marsha.


Nathan meraih sisi wajah Marsha, kedua mata mereka menatap dalam. Perlahan, Nathan mendekatkan wajahnya pada Marsha. Mengerjai kode Nathan, Marsha pun memejamkan matanya.


DUAAARR!!


Nathan dan Marsha kaget mendengar suara letusan kembali, keduanya sama-sama mendongak melihat kembang api di langit.


"Gagal deh yang, sewa hotel aja yuk." Ajak Nathan.


"Si kembar gimana?" Khawatir Marsha.


"Alah, gampang itu. Ada papi dan mami, mereka juga udah minum sufor. Sekarang waktunya kita. Aku sengaja taruh mereka pada orang tuaku agar kita ada waktu berdua." ujar Nathan.


"Yok!" Seru Marsha membuat senyum Nathan mengembang. Dia bergegas menggendong istrinya dan membawanya ke mobil.


"NATHAAAANN!!"


___


Partnya panjang nih, jangan lupa like dan komennya yah 🥳🥳🥳


Oh ya, author udah baca komenan kalian sebelumnya. Terima kasih atas saran dan jawabannya. Maaf belum bisa bales satu satu. Kaget si katanya ada yang sampe 700 bab😭😭


Yaudah yaudah, jadi lanjut aja nih yah. Oke, author lanjutkan🥳🥳