
CKIIITT!!
Sebuah mobil berdiri arna putih dengan lambang S terparkir di halaman kediaman Alexander.
Tak lama, mobil berwarna hitam pun turut berhenti. Terlihat, dua orang pria turun dari mobil mereka.
"Selamat datang, tuan Azka dan Ariel."
Keduanya bergegas masuk, wajah mereka merah padam. Mereka bahkan menghiraukan sapaan bodyguard.
"Eh, Azka? Ariel? kalian. ..."
Bahkan, Zeva pun tak mereka hiraukan. Keduanya berjalan menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Zeva yang melihatnya pun turut mengikuti keduanya.
Ternyata keduanya berjalan menuju kamar Marsha. Tanpa berkata-kata, Azka membuka kamar itu dengan satu gerakan.
BRAK!!
Azka dan Ariel mematung, saat melihat seorang pria tidur dengan memeluk Marsha. Bahkan, Marsha pun memeluk pria itu.
"Kurang 4jar!" Sentak Azka.
Azka bergegas menuju ranjang, dia menarik kerah Nathan hingga membuat keduanya terkejut.
"Azka!!" Pekik Marsha.
Azka menghempaskan tubuh Nathan ke lantai, membuat pemuda itu merasakan sakit di punggungnya.
"Apa-apaan ini?;" Seru Nathan tak terima.
Azka menarik kerah Nathan, hingga remaja itu berdiri dan menghadap kearahnya.
"Berani-beraninya lo jebak adek gue!" Desis Azka.
Marsha turun dari ranjang, dia bergegas memisahkan keduanya.
"Lepasin Nathan bang!!" Pekik Marsha.
"Minggir!" Tatapan tajam Azka membuat nyali Marsha menciut.
"Bang, jangan apa-apakan Nathan." Pinta Marsha dengan nada memelas.
Zeva yang ada di sana pun turut panik, dia ingin mencegah keduanya. Namun, Ariel malah menahannya.
"Ariel, halangi Azka. Jangan biarkan mereka bertengkar," ujar Zeva.
"Sebaiknya tante keluar." Linta Ariel, raut wajahnya pun kini berbeda. Biasanya dia berwajah usil, tapi kini. Raut wajahnya menyorot kemarahan.
BUGHH!!
"AAA!!" Marsha menutup telinganya saat Azka berhasil melayangkan satu pukulan pada wajah Nathan.
Saat Azka akan kembali memukul Nathan, Marsha menarik lengan Nathan dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Dia memejamkan matanya, bersiap menerima pukulan dari sang abang.
Tangan Azka melayang di udara saat menyadari jika bukan lagi Nathan yang ada di hadapannya. Tapi Marsha.
Marsha kembali membuka matanya saat tak merasakan sebuah pukulan yang mengenai wajahnya. Dia menatap mata memerah Azka yang menatapnya dengan sorot mata kekecewaan.
"Abang, jangan sakiti Nathan. Aku mohon." Lirih Marsha.
Kalau kalian mengira Azka akan berhenti, kalian salah. Pria itu tetap menahan egonya, dia menarik Marsha menyingkir dan kembali melayangkan pukulan pada Nathan.
"ABANG!!" Teriak Marsha saat Azka bertubi-tubi memukul wajah Nathan.
Marsha berusaha menarik tangan Azka, tapi sayangnya. Secara tak sadar, Azka malah mendorong tubuh Marsha hingga wanita itu menabrak meja rias.
"Arghh!!".
"MARSHA!!" Teriak Nathan saat melihat tubuh Marsha terjatuh.
Nathan mendorong kuat tubuh Azka, dia bergegas menghampiri Marsha yang sedang memegang pinggangnya.
"Lo baik-baik aja?" Tanya Nathan dengan panik.
Marsha menahan nyeri di pinggangnya, dia memegang tangan Nathan dengan erat.
"Marsha." Lirih Azka.
Melihat putrinya kesakitan, Zeva bergegas mendekat. Ariel pun turun mendekati mereka.
"Bangun pelan-pelan nak." Pinta Zeva.
"Sakit bun." Lirih Marsha.
Nathan bergegas menyelipkan tangannya di leher dan lipatan lutut Marsha. Lalu, dia menggendongnya dan membawanya ke ranjang.
"Bun, apa perlu kita bawa ke rumah sakit saja?" Tanya Nathan menatap khawatir pada Marsha.
"Enggak mau." Cicit Marsha.
Zeva duduk di samping putrinya, tangannya memegang pinggang sang putri yang baru saja menabrak meja rias.
"Apa sakit sekali?" Tanya Zeva.
MArsha menarik nafas nya dan menghembuskannya perlahan.
"Enggak, udah enggak papa." Jawab Marsha.
"Beneran?" Tanya Nathan.
Nathan menatap Azka dengan tatapan nyalang. "Lo liat!! lo hampir aja nyelakain istri dan anak gue!"
Azka kembali meradang, dia menarik Nathan keluar dari kamar Marsha. Nathan yang di perlakukan seperti itu tak terima, dia berusaha melawan.
"Licik lo, lo sengaja kan ngejebak adik gue!" Sentak Azka.
"Adik?" Bingung Nathan.
"Azka!!"
Azka berbalik, dia mendapati Aaron yang jalan terburu-buru menghampirinya.
"Kenapa kamu bisa disini?" Tanya Aaron dengan heran.
"Aku yang beri tahu abang." Seru dari arah yang berbeda.
Mereka semua menatap ke arah Varo, remaja itu berjalan santai seakan tak memikul beban.
"Aku yang memberitahu abang, aku tidak setuju dengan pernikahan kak Marsha." Seru Varo.
"Varo." Aaron benar-benar tak percaya dengan apa yang putranya lakukan. Mereka sudah sepakat untuk menyembunyikan hal ini sampai resepsi di adakan.
"Apakah aku tidak berhak untuk tahu? aku abangnya, aku berhak tahu! Seperti apa pria yang telah menjebak adikku," ujar Azka menatap sinis pada Nathan.
"Om, lebih baik beri mereka penjelasan. Siapa sebenarnya yang menjebak, aku ingin melihat Marsha dulu." Dengan cuek, Nathan kembali masuk ke kamar istrinya. Biarkan ayah mertuanya yang menjelaskannya.
"Ayo, akan om jelaskan."
Aaron mengajak Azka dan Ariel ke ruang kerjanya, dia akan menceritakan semua yang terjadi pada keduanya.
Nathan melihat istrinya yang sepertinya kembali terlelap, dia menatap Zeva yang mengisyaratkan pada dirinya agar tak berisik.
"Apa benturan tadi berpengaruh pada janinnya bun?" Tanya Nathan dengan lirih.
"Bunda tidak tahu, besok akan bunda bawa dia ke dokter kandungan. Lagian ini sudah malam, sebaiknya kamu pulang." JElas Zeva.
"Tidak, aku ingin menginap." Kekeuh Nathan.
Zeva menghela nafas pelan, dia mengajak Nathan keluar dari kamar sang putrinya.
"Kita bicara di luar saja." Titah Zeva.
Terpaksa Nathan meninggalkan istrinya, walau dia enggan berpisah dari Marsha.
"Pria yang memukulmu tadi, bernama Azka. Dia sepupu Marsha, tapi ayahnya dia dengan daddy itu saudara tiri. Beda ayah dan ibu, jadi bisa di bilang ... sepupu tiri. Namun, Marsha sudah menganggapnya sebagai kakak kandung, sama juga seperti Azka."
"Kalau yang satunya lagi, namanya Ariel. Kembarannya Azka, keduanya sama-sama menyayangi MArsha seperti adik mereka sendiri. Maaf, jika Azka memukulmu. Dia merasa kamu telah menyakiti adiknya, jadi dia tidak terima,"
Nathan mengangguk mendengarkan penjelasan dari ibu mertuanya. Namun, dirinya merasa khawatir.
"Apa Azka menyukai Marsha? bukankah mereka hanya sepupu tiri?" Batin Nathan.
"Maaf yah, muka kamu jadi kembali luka begitu." Ringis Zeva.
Luka lebam hasil Kenan saja belum sembuh, dan harus di tambah dengan pukulan Azka.
"Enggak papa bunda, aku mengerti." Tulus Nathan.
"Sebentar, bunda ambilkan obat dulu."
"Eh, enggak usah bunda! Nathan mau pulang aja." Pamit Nathan.
"Oo gitu, yasudah. Hati-hati yah." Zeva menepuk pelan bahu Nathan.
Nathan mengangguk dan tersenyum, dia melirik ke arah kamar Marsha sejenak. Terlihat, istrinya masih memejamkan mata.
Nathan pun beranjak pergi, dan saat dirinya sampai di pintu utama. Suara Azka membuat langkahnya terhenti.
"Tunggu!"
Nathan berbalik, dengan santai. Dia memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya.
"Walaupun bukan lo yang jebak Marsha, tapi gue yakin ... lo punya maksud tersendiri untuk meneruskan pernikahan ini!" Sentak Azka.
Nathan terkekeh dan menyeringai, dia menatap Azka dengan alisnya yang terangkat satu.
"Ya itu karena bayi gue, apakah gue harus lepas tanggung jawab pada darah daging gue sendiri?" Tanya Nathan.
"Gue gak yakin hanya itu, remaja kayak lo itu ... hanya memikirkan soal keuntungan yang lo dapat." Desis Azka.
"Kalau iya, emang kenapa?" Balas Nathan dengan tersenyum meledek.
"Kau!!"
Nathan bergerak maju, sehingga kini keduanya saling mengikis jarak. Mata mereka, saling menatap tajam.
"Marsha cantik, anak seorang pengusaha terkenal dan jangan lupakan ... aku adalah pria pertama untuknya." Mendengar perkataan Nathan, membuat kemarahan Azka kembali bangkit. Tangan pria itu terkepal erat di kedua sisi tubuhnya.
"Kurang 4jar!" Desis Azka.
Salah satu sudut bibir Nathan kembali terangkat, dan menepuk bahu Azka pelan.
"Yang kurang ajar itu bukan gue, tapi lo. Memangnya, baik menaruh hati pada seseorang yang sudah lo anggap adik?"
Perkataan Nathan membuat raut wajah Azka berubah, dia menatap NAthan dengan tatapan penuh selidik.
"Jangan jelaskan apapun, dari cara lo marah ... sudah menjelaskan semuanya."