
Sofia dan Rio masih asik mengobrol, hingga pertanyaan Rio membuat raut wajah sofia berubah murung.
"Ngomong-ngomong, kamu sudah menikah?" Tanya Rio sembari menyeruput es kopi nya.
"Belum, seharusnya sudah." Lirih Sofia dengan tersenyum getir.
Kening Rio mengerut, dia menatap raut kesedihan dari wajah sofia.
"Kenapa?" Tanya Rio.
"Ternyata dia sudah menikah dan lebih memilih mempertahankan rumah tangganya," ujar Sofia.
Rio mengangguk-anggukan kepalanya, "Kamu pasti akan dapat pria yang lebih baik, percayalah. Memangnya, siapa pria itu?" Balas Rio.
"Kamu ingat Aaron? siswa yang paling populer di sekolah kita dulu?"
"UHUK! UHUK!
Rio tersedak minumannya, dia menatap tak percaya pada Sofia yang sepertinya sama-sama terkejut.
"Aaron?" Tanya Rio sekali lagi.
"Iya, aku tidak tahu ternyata dia sudah menikah."
Rait wajah Rio berubah drastis, "Jadi, mereka belum bercerai." Batin Rio dengan geram.
"SOFIA!"
Sofia terkesiap saat melihat orang tuanya datang menghampirinya, Sofia pun langsung beranjak berdiri menyambut mereka.
"Pi, mi. Kenalkan, dia temanku. Rio Evandra," ujar Sofia.
Rio pun berdiri dan menyalami orang tua Sofia, bagaikan anak yang baik. RIo melakukannya dengan begitu mudah.
"Halo om, tante. Saya Rio Evandra," ujar Rio.
Andre menatap RIo dengan tatapan penuh selidik.
"Sofia, ayo pulang!" Andre langsung menarik tangan putrinya pergi.
Tentu saja RIo menjadi bingung, tapi tak lama raut wajah RIo berubah tajam.
"Itu artinya, Zeva berada di kota ini. Hais, sudah cukup lama aku mencarinya, ternyata dia kembali lagi pada Aaron."
RIo kembali duduk, dia memegang gelas es nya dengan erat. Tatapannya menajam, melihat kurus ke depan.
"Kalian tidak boleh rujuk, tidak akan aku biarkan kalian kembali bersama."
PRANG!!
Rio menyalurkan emosinya dengan memegang erat gelas itu hingga pecah.
Sedangkan di parkiran, Sofia berusaha untuk lepas dari cengkeraman sang ayah.
"Pi lepas! papi kenapa sih!" Sentak Sofia.
Andre membuka pintu mobil, dia menyuruh putrinya masuk ke dalam. Sofia yang takut dengan tatapan sang ayah segera menurut.
Rena juga sudah menyusul masuk, dan saat suaminya masuk ke dalam pintu kemudi. Rena memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa sih pi?" Tanya Rena.
"Sofia dengarkan papi, jangan dekati pria itu lagi. Papi gak suja!" Titah Andre.
"Tapi kenapa? bukannya bagus kalau aku punya teman?" Ujar Sofia.
Andre menoleh pada putrinya. "Gak semua laki-laki bisa kamu jadikan teman, dari dulu papi gak suka kamu berteman dengan laki-laki. Apalagi pria tadi, papi merasa dia bukan pria yang baik." Jelas Andre.
"Pi! semua orang papi bilang gak baik, terus siapa yang baik!" Kesal Sofia dengan tangan yang berlipat di atas perutnya.
"Kenan, dia baik. Papi sudah atur perjodohanmu dengan dia." Sahut Andre, lalu menyalakan mesin mobik.
"PI!!" Pekik Sofia tak terima.
Andre tak peduli, dia yakin pilihannya yang terbaik. Dia akan menikahkan putrinya dengan Kenan, putra keluarga Alvarendra.
"Kenan baik, dia pria yang tampan dan mapan. Gak kalah dari Aaron, sudah diam! Kita akan pulang!"
Sofia tak lagi berkata, dia menatap luar jendela. Dirinya masih belum bisa lepas dari Aaron, dia masih menyukai pria itu.
"Lupakan Aaron, istrinya sudah menolong papi. Jika bukan karena perantaranya, kamu tidak lagi melihat papi bersamamu seperti ini." Tegur Andre setelah melihat wajah murung putrinya dari spion tengah mobilnya.
"Ya sofia, benar yang papi mu katakan. Mereka akan kembali memiliki anak, lupakan Aaron. Biarkan dia bersama keluarga kecilnya." Sahut Rena.
"Jika dia sudah menikah, kenapa dia memberiku harapan? rasanya, dunia tidak adil padaku." Batin Rena, menahan sesak di d4d4nya.
***
"Wahh!! lihat, ini kantung janinnya. Selamat yah, usia kehamilan sudah memasuki enam minggu."
Aaron mengabadikan momen itu di ponselnya, dia sangat terharu melihat pergerakan janin di layar USG itu.
"Dok, apa tidak kembar?" Tanya Aaron.
"Tidak pak, lihat. Hanya ada satu kantung dan satu janin, memangnya kalian memiliki gen kembar?" Tanya dokter.
"Enggak sih, tapi saya maunya kembar. Apa kurang lama waktu pas buatnya yah?"
Ingin rasanya Zeva tenggelamkan mukanya saat ini juga, dirinya merasa sudah tak ada muka lagi di hadapan dokter yang menatap mereka dengan menahan tawa.
"Mas!! iihh!! Kamu buat aku malu!!" Cicit Zeva.
"Loh, aku kan cuma tanya. Apa nya yang salah?" Bingung Aaron.
Zeva tak tahu harus apa, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pipinya sudah seperti kepiting rebus.
"Ooh gitu, kalau gak punya genetik. Apa bisa hamil kembar dok?" Tanya Aaron.
"Bisa ikut program pak," ujar dokter itu.
"Programnya bagaimana? mungkin sehabis ini lahir, kami akan ikut program bayi kembar."
Zeva yang tak tahan dengan Aaron segera memukul lengan suaminya, dia mengeluarkan tatapan tajam untuk suaminya itu.
"Mas!" Peringat Zeva.
"Hahaha, gak masalah bu. Mungkin suaminya sangat ingin anak kembar, tapi lebih baik di jeda ya pak. Sangat beresiko apabila hamil setelah melahirkan dalam waktu dekat,"
Aaron mengangguk-angguk saja, pokoknya dia ingin anak kembar. Selepas itu, dokter membersihkan perut Zeva.
Marsha yang tadinya hanya diam memperhatikan layar pun akhirnya angkat suara.
"Daddy, kita lagi nonton apa? kok dali tadi Malcha tundu nda ada gambalna," ujar Marsha.
Aaron meraih putrinya, dia mengangkat tinggi-tinggi putrinya lalu m3ngecup pipi bulatnya.
"Itu adik Marsha yang di dalam perut, sebentar lagi Marsha jadi kakak loh!" Seru Aaron.
"Adik?" Tanya Marsha yang masih belum sadar.
"Iya, adik bayi. Nanti lahir, Marsha punya temen."
"Adik? adik?" Netra Marsha melebar kala tersadar akan ucapan sang daddy.
"DADDY KACIH MALCHA ADIIK?!!"
Zeva, dokter dan Aaron tentu syok dengan reaksi Marsha. Anak menggemaskan itu menangis sangat kencang sembari memukuli pipi sang daddy.
"EKHEE HIKS HUAAA!!! DADDY JAHAT! JAHAT KALI! MALCHA BILANG JANAN BUAT ADEK! JANAN BUAT ADEK! KENAPA DADDY BUAT CIIHHH!!"
Aaron menangkap tangan Marsha, dia tak marah. Netranya menatap lembut putrinya yang menatapnya dengan linangan air mata.
"Kenapa Marsha gak mau adek? kan adeknya lucu," ujar Aaron.
"TULUNIN!" titah Marsha.
Karena takut Marsha mengamuk dan berakhir jatuh, Aaron menurunkan Marsha.
"Daddy nda cayang lagi cama Malcha, iya? makana daddy buat anak balu!" Sentak Marsha.
"Cakit kali lacana, daddy na tega cama Malcha." Ujar Marsha dengan dramatis.
Aaron akan menggapai tangan putrinya, Marsha malah menghindar dengan memeluk tangannya.
"Janan centuh-centuh, daddy udah nda cayang Malcha lagi. Nda ucah centuh Malcha," ujar MArsha.
Bukannya sedih, Aaron dan Zeva malah menahan tawa. Marsha menyadari jika orang tuanya malah menertawai dirinya.
"Malcha malah ini loh! Malcha malah!" Seru Marsha dengan mata memerah menahan tangis.
"Yasudah, marah saja. Adiknya udah jadi, gak bisa di cancle," ujar Aaron.
Bibir Marsha melengkung ke bawah, matanya menyipit. Tak lama, akhirnya dia menangis keras.
"Hiks ... HUAAA!!!"
"Mas! kasihan Marsha nya, malah di ledek!" Tegur Zeva yang merasa kasihan dengan putrinya.
Aaron terkekeh gemas, dia lalu menggendong putrinya. Beruntung Marsha tak menolak, karena dia sibuk membuka mulutnya lebar-lebar untuk menangis sekeras mungkin.
"MALCHA BUANG ADEKNA NANTI POKOKNA! MALCHA BUANG!! HUAAAA!!"
"Dih, kalau adeknya di buang. Marsha di jual." Ledek Aaron.
Marsha menghentikan tangisannya, dia menatap Aaron yang malah mengerutkan kening karena bingung dengan ekspresi putrinya yang berubah dalam sekejap.
"Mau jual belapa?" Tanya Marsha.
"Lima M," ujar Aaron.
"Nol na belapa itu?" Tanya kembali MArsha sembari mengusap 1ngusnya.
"Banyak," ujar Aaron.
"Bisa beli Mall nda?" Tanya MArsha.
"Masih kurang lah," ujar Aaron.
Marsha ber-oh ria, dia menepuk bahu Aaron dengan pelan.
"Ciap-ciap yah, Malcha mau nanis lagi." Lirih Marsha.
Benar saja, Marsha kembali menangis keras.
"HIKS HUAAAA!!!"
"Kenapa malah nangis lagi nih anak?" Gumam Aaron dengan bingung. Gumaman Aaron membuat Marsha lagi-lagi menghentikan tangisannya.
"Bial tambah cepuluh M. HIKS HUAAA!!"
Zeva menepuk keningnya, bahkan putrinya bisa berakting nangis seperti aslinya.
"Entahlah dok, nurun dari siapa sikapnya itu." Ujar Zeva pada sang dokter yang sama-sama bingung.
____
Double up gasik nih😄
Jangan lupa dukungannya 🥰🥰🥰