Find Me Daddy

Find Me Daddy
Wani pilo?(S2)



Hari demi hari telah berlalu, Marsha dan Nathan tinggal terpisah. Keduanya sempat sesekali bertemu, itu pun hanya satu jam hingga dua jam saja.


Aaron dan keluarganya masih tinggal di kediaman Smith, sesuai permintaan Laras yang ingin dekat dengan cucu bungsunya.


Maklum, cucunya sudah pada besar, hanya Javier yang masih kecil dan membuat suasana rumah ramai. Dia menyukainya.


Nathan sibuk dengan ujiannya, sementara Marsha. Sesekali dia keluar hanya untuk mengunjungi kantor Aaron dan melihat para pegawai.


Karena Marsha tak minat bekerja di bidang bisnis, Aaron mengusulkan agar Marsha membuka sekolah. Namun, Marsha belum menyanggupinya. Dia hanya ingin mengajar, tanpa memiliki sekolah itu sendiri. Karena merasa sebentar lagi pernikahan nya dan Nathan akan berlangsung, Marsha akan menunda keinginannya dulu.


Hingga tak terasa, Nathan sudah menyelesaikan ujiannya. Sore ini, dia berniat akan langsung ke rumah Marsha dan mengatakan tentang ujiannya yang sudah selesai.


Baru saja dia menaiki motornya, teriakan seorang wanita membuat Nathan menoleh.


"Nathan! Gue nebeng yah!" Seru Gita, yang datang dengan nafas memburu.


"Gak!" Jawab Nathan cuek.


"Ish! jahat banget sih lo! cuman nebeng doang!!" Rengek Gita.


Nathan menulikan pendengarannya, dia bergegas memakai helmnya dan menarik gas motornya. Meninggalkan Gita yang kesal dengan kepergiannya.


"Ish! gue di cuekin jih ceritanya?" Gerutu Gita.


"Makanya, jadi cewek jangan gatel. Kalau gatel, perlu di kasih obat. biar gatelnya hilang." Celetuk salah seorang teman Nathan, yang kebetulan ingin mengambil motornya.


"Ish! Farhan! Kok lo gitu sih!" Kesal Gita.


"Gak usah ganggu Nathan, dia udah ada cewek. Bentar lagi mereka nikah, tunggu undangannya aja." Cetusnya.


Penjelasan Farhan, membuat Gita menganga lebar. Tak mungkin Nathan menikah semuda itu, dia sepertinya tidak percaya.


Para rombongan teman Nathan pergi meninggalkan Gita yang terdiam di tempat.


"Yah, gagal sebelum berjuang." Lirihnya.


Sementara Nathan, dia mampir ke sebuah supermarket. Dia ingin membelikan Marsha jajanan, biasanya para wanita suka sekali jajan.


Bahkan, Nathan memborong coklat yang ada di rak kasir. Tak tanggung-tanggung, dia membeli tiga pack kind3r j0y karena bentuknya yang menurutnya lucu.


"Ada lagi mas?" Tanya mas-mas kasir.


"Engga aa ...." Perkataan Nathan terhenti, saat dirinya melihat sebuah benda berbentuk kotak merah dengan awalan S.


"Kalau kamu lulus ujian, aku akan kasih hak kamu."


Perkataan Marsha terngiang di pikirannya, seketika senyumnya menjadi melebar. Nathan memajukan wajahnya, dia berbisik pada mas kasir sembari tangannya mengambil benda tersebut.


"Sama ini yah mas."


Melihat itu, mas kasir langsung menatap Nathan dengan kening mengerut. Wajar saja dia bingung, saat dia melihat celana Nathan yang berwarna abu-abu.


"Masnya masih sekolah, gak boleh mas." Kasir itu menolak, membuat Nathan mengerucutkan bibirnya.


"Anak orang itu di jaga mas, bukan di rusak." Bijak sang kasir.


"Gimana mau di rusak mas, udah kebobolan juga." Kesal Nathan.


Perkataan Nathan membuat sang kasir melototkan matanya.


"Mas! kalau saya jadi abang ceweknya, saya lempar mas ke kali. Serius mas, perempuan kok di rusak! perempuan tuh di jaga! masih sekolah, gak punya adab!" Pekik mas kasir.


Nathan sontak membulatkan matanya, dia menatap ke belakang dan ternyata sudah banyak yang mengantri.


"Kenapa mas?" Tanya ibu-ibu yang berada di belakang Nathan pada sang kasir.


"Ini loh bu, masih sekolah sudah beli ginian. Kamu punya ibu toh dek? kalau ibumu di posisi cewekmu gimana?!" Pekik Mas kasir.


Ibu-ibu yang berada di belakang Nathan spontan menepuk bahunya, membuat Nathan mengelus bahunya yang terasa nyeri.


"Sekolah tuh belajar yang pinter! bukan beli gituan!"


"Bu! saya sudah menikah! wajar beli gituan!!" Pekik Nathan yang terlanjur kesal.


"Halah, mana buku nikahnya?!"


Nathan terdiam, dia tidak memiliki buku nikah. Karena terlanjur malu, dia bergegas keluar dengan wajah kesal.


"Awas yah, kalau gue sama MArsha sudah ada buku nikah. Gue jembreng lebar-lebar, bahkan kalau bisa masuk semua stasiun TV sekalian." Kesalnya


Nathan akhirnya tak jadi membeli jajanan untuk Marsha, dia melanjutkan perjalanan menuju rumah mertuanya.


Sesampainya di sana, terlihat Javier tengah memainkan balon gelembung di halaman rumah.


"Vier! kakakmu mana?!" Seru Nathan, menghampiri adik iparnyanya itu.


Javier menatap sekilas Nathan, dan kembali melanjutkan acara mainnya yang tertunda.


"Javier! kakakmu mana?!" Kesal Nathan.


Javier menghela nafas pelan, dia berbalik menatap Nathan dengan alis terangkat satu.


"Wani pilo?"


"Hah?!"


"Citu mau tau kakakna Viel ci? wani pilo? Viel kacih tau, bayalanna apa tapi?"


Ingin sekali Nathan menepuk kening Javier saat ini. Namun, dia harus menjaga image nya sebagai abang ipar yang baik.


Nathan mengeluarkan dompetnya, dia menarik uang biru dari sana dan memberikannya pada Javier.


"Adik manis, kakaknya dimana?" Tanya Nathan sembari menyodorkan uang itu.


Javier melirik sekilas uang tersebut, dan kembali menatap ke arah gelembungnya.


"Udah cali belum kakakna?" Bukannya menjawab, Javier malah bertanya balik


Nathan menghela nafas kasar, dia kembali menarik uang seratus. Total, di tangannya ada uang sebesar seratus lima puluh ribu.


"Abang belum cari, makanya. Bisa Vier panggilkan?"


Vier melirik uang itu, dia beralih menatap Nathan dengan kening mengerut.


"Kakakna nda aaa ..."


Nathan kembali menarik uang merah tiga lembar, dan di satukan dengan uang yang tadi.


"Kakaknya dimana hm?"


Javier meneguk ludahnya kasar, doa sudah di minta pada Aaron agar tak mengizinkan Nathan menemui Marsha selama daddynya itu berada di luar.


Pantas saja Nathan datang siang, agar Aaron tak mendapati dirinya berada di kediaman Smith.


"Kakakna di ...."


Lagi-lagi Nathan mengeluarkan uangnya, total sudah delapan ratus ribu yang Nathan sodorkan.


"Nda kuat hatina Viel, menggiulkan kali uangna." Batin Javier.


Senyum Javier merekah, dia menarik cepat uang itu dan menghitung nya.


"Kakakna lagi di kamal, lagi bobo. Bunda cama daddy lagi ada acala kondangan. Abang macuk aja langcung, daddy pulangna duga malem katana. Abang kembal duga lagi di lual kota, om galak duga lagi di lumah cakit. Ante tantik lagi di calon, telus ... kakek cama nenek lagi di lumah citu."


Nathan tersenyum puas, Javier memberikan informasi yang sangat detail untuknya. DIa sudah tahu sifat Javier, harus ada sogokan agar anak itu mau membocorkannya.


"Terima kasih adik manis!" Seru Nathan sembari mengacak rambut JAvier.


Nathan pun bergegas pergi menuju kamar Marsha. Dia tak sabar lagi ingin memeluk putrinya itu.


"Marsha, i'm coming!" Pekik Nathan.


Sementara Javier, dia sudah membayangkan apa saja yang mau dirinya beli.


"Lumayan, bica beli ketoplak cebulan." Seru Javier sembari menaruh uang itu di saku celananya hingga membuatnya menggembung.


Namun, dirinya teringat satu hal. Membuat matanya membulat dengan wajah yang pias.


"Eh! abang Valo kan tidul di kamal kak Malcha." Pekik Javier, menatap ke arah pintu utama dan sudah tidak ada Nathan di sana.


___


Maaf terlambat yah, hari ino jadwal padet banget😭😭 sore baru pulang😭