
Nathan keluar dengan handuk putih di pinggangnya, hanya menutupi bawah pusar hingga perut. Rambutnya nasih meneteskan air, tapi dia sudah menghampiri Marsha yang sedang mengganti seprai.
Grep!!
Tubuh Marsha memegang, saat merasa ada tangan melingkar memeluk perutnya erat.
"Nathan!! basahh!!" pekik Marsha saat menyadari bajunya menyerap air.
"Biar sama-sama basah,"
Marsha berusaha melepaskan pelukan Nathan, tapi Nathan malah mengeratkannya. Sia-sia sudah usaha Marsha.
"Aku kangen banget." Bisik Nathan tepat di telinga Marsha, membuat wanita itu merinding.
"Nathan." Cicit Marsha.
Nathan membalikkan tubuh Marsha, pandangan keduanya bertemu dan mengunci satu sama lain.
Perlahan, Nathan mendekatkan wajahnya pada Marsha. Marsha yang takut, hanya bisa memejamkan matanya. Sedikit lagi, mereka takkan berjarak, hingga bunyi gebrakan membuat keduanya terkejut.
BRAK!
Sontak MArsha dan Nathan menjauhkan diri mereka, netra mereka beralih menatap Aaron yang ternyata menendang pintu kamar mereka yang belum tertutup.
"Lain kali tutup pintu! gak sopan!" Desis Aaron.
Nathan menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, Marsha pun sama hal nya dengan Nathan. Keduanya mendadak canggung.
"Marsha! ikut daddy!"
Marsha mengangguk, saat dia akan beranjak. Nathan buru-buru mencegahnya.
"Marsha gak boleh pergi, om gak boleh bawa dia pulang." Seru Nathan sembari menatap tajam Aaron.
"Heh! yang bilang mau bawa pulang Marsha siapa?! Orang tuanya mau pulang!" KEsal Aaron
Nathan membulatkan mulutnya, dia beralih menatap istrinya. Marsha tersenyum melihat wajah bahagia Nathan.
"Ayo Marsha! adikmu sudah rewel pengen ketoprak."
Marsha mengangguk, dia melepaskan tangan Nathan dan berjalan menghampiri daddy nya. Marsha melingkarkan tangannya di lengan sang daddy, keduanya berjalan menjauh dari kamar Nathan.
"Gue harus buru-buru pakai baju, nanti kalau om Aaron malah bawa Marsha gimana." Gumam Nathan dan bergegas menuju lemarinya untuk mengambil baju yang ia kenakan.
Sementara di ruang tengah, Javier tengah berada di pangkuan Rena. Sedari tadi Rena memanjakannya dengan banyak jajan, beruntung anak itu tidak rewel.
Javier rewel, hanyalah alasan Aaron saja. Bagaimana mungkin Javier rewel, ketika mulutnya tak berhenti mengunyah makanan.
"Oma, habis. Mau lagi."
"Ini, makanlah." Rena menyuapkan jelly pada Javier, ana itu menerimanya dengan baik.
"Ceneng kali jadi cucu na oma, bica kenang tiap hali Viel." Celetuk Javier, membuat Rena tersenyum gemas.
Sedangkan Zeva, dia asik berbincang dengan sofia, bahkan keduanya tengah sibuk memilih gedung untuk acara pernikahan Nathan dan Marsha nanti.
"Eh mas, kok Marsha nya di bawa turun? udah ketemu Nathan nya?" Heran Zeva, saat melihat keduanya datang menghampirinya.
Aaron mendudukkan dirinya di samling sang istri, dia menghela nafas panjang.
"Kalau aku gak datang, udah bablas lagi mereka. Memang yah, Nathan itu bahaya. Gak boleh deket-deket sama Marsha." Gerutu Aaron.
"Maksudnya putraku bahaya gimana yah?" Seru Kenan tak terima.
"Putramu itu senengnya main nyosor aja! Gak bisa di biarkan ini, sebelum acara nanti. Lebih baik Marsha tinggal di rumah aku aja." Pekik Aaron.
Marsha tak terima, dia ingin tinggal bersama dengan Nathan. Keduanya baru bertemu, kenapa harus di pisahkan lagi.
"Dad."
"Kenan! putriku baru saja keguguran. Aku takut mereka kebablasan, karena mereka belum boleh melakukannya. Tapi putra mu, seperti nya sudah tidak sabar."
Kenan mengangguk mengerti, dia menatap istrinya meminta persetujuan. Jika Nathan memaksa Marsha, mereka juga kasihan dengan Marsha.
"Daddy. Aku yang akan membatasi Nathan." Seru Marsha.
"Halah! bukan membatasi malah masuk rayuannya kamu!" KEsal Aaron.
Marsha mengerucutkan bibirnya, baru juga bertemu. Apakah mereka akan di pisahkan lagi?
Tak lama Nathan turun dengan pakaian santainya, wajahnya terlihat segar walaupun pucat.
"Jadi bagaimana? Hanya sementara ini, biarkan Marsha tinggal di rumahku."
"APA?! ENGGAK BISA GITU DONG OM!" pekik Nathan tak terima.
Nathan mendudukkan dirinya di hadapan sang mertua, tepat di sebelah sang papi. Netranya menatap tajam Aaron, lagi-lagi pria itu akan memisahkan nya dengan Marsha.
"Pi." Rengek Nathan.
"Kakek setuju!"
Nathan dan Kenan menatap tak percaya pada Delvin, mulut mereka sampai menganga karena ucapan pria paruh baya itu.
"Kakek!" Pekik Nathan.
"Opa juga setuju."
"Opaa!!" Nathan kesal, karema opanya pun turut setuju.
"Kamu sedang ujian, jika ada Marsha disini. Pasti kamu gak fokus. Lebih baik, kalian tinggal terpisah sampai kelulusanmu. Sebentar lagi juga, kalian akan tinggal serumah." Jelas Delvin.
Raut wajah Nathan berubah datar, dia beralih menatap Marsha. Dan kini, raut wajahnya menjadi memelas.
"Nathan, kamu harus lulus dengan nilai terbaik. Jika tidak, mungkin ... pernikahan mu dengan Marsha bisa saja gagal." Ancam Delvin.
Nathan adalah seorang penerus Alvarendra, Delvin tidak ingin karena nikah dini yang terjadi pada Nathan membuat dia mengabaikan statusnya sebagai seorang penerus.
"Bagaimana Marsha, kamu setuju?" Tanya Andre pada cucu temanya itu.
Dengan pasrah, Marsha mengangguk. Anggukan Marsha, membuat Nathan bertambah kesal.
"Hanya dua minggu saja Nathan, kenapa kamu ngebet banget sih!" Sewot Anggun yang sudah kesal dengan tingkah cucunya.
"Dua minggu itu lama nenek." Lirih Nathan.
"Gak papa, nanti gak kerasa kok. Kamu pokoknya harus fokus sekolahnya dulu, baru kita kasih hadiah." Sahut Rena.
Aaron mengeluarkan sebuah map, lalu dia menyerahkan map itu pada Nathan.
"Bacalah." Titah Aaron.
Nathan mengambilnya, dia membuka map itu dan membaca isi-isinya. Dia mengangguk paham, itu hanya lah syarat yang mudah.
"Semua syarat sudah om cantumkan di sana, kamu bisa membaca dan memahaminya. Tanda tangani sekarang, om tunggu."
Nathan buru-buru mengambil pulpen, dia menandatanganinya tanpa rasa beban.
"Om, boleh aku menambahkan?" Tanya Nathan.
"Hm?"
"Untuk mahar, apakah hanya 10 hektar tanah saja yang kalian minta? Apa tidak kurang?"
Marsha memegangi dadanya, apakah sepuluh hektar itu hanya? Bolehkah Marsha berteriak saat ini juga?" Dan apa tadi katanya, kurang?
Aaron mengerutkan keningnya, dia belum mengerti apa yang Nathan inginkan.
"Saya ingin menambah mahar." Pinta Nathan.
"Justru lebih bagus! cepat tulis tambahannya!" Pekik Aaron.
Zeva benar-benar tak menyangka jika suaminya sematre itu. Apakah Aaron lupa bahwa dirinya kaya?
Nathan menulis sesuatu, setelah itu. Dia mengembalikan surat itu pada Aaron.
"Apa ini ... ru-rumah?! Ini perumahan elit baru itu kan?!" pekik Aaron, pasalnya harga satuan rumah di sana paling murah seharga tiga miliyar. Dari mana Nathan mendapatkan uang untuk membeli rumah itu?
"Ya." Sahut Nathan dengan santai.
Aaron benar-benar tak menyangka jika Nathan akan memberikan mahar begitu besar untuk putrinya.
"Nathan, ini nominalnya besar banget. Tanah aja sudah cukup." Zeva merasa tidak enak pada keluarga Nathan.
Nathan menanggapi perkataan ibu mertuanya dengan tersenyum tipis.
"Anak bunda jauh lebih berharga dari harta itu, aku justru yang merasa putri bunda sangat berlebihan untukku. Tapi, aku dengan lancang memintanya dari kalian."
Perkataan Nathan, membuat hati Marsha berdebar tak karuan.
"Dulu aku minta jodohnya gimana yah. Kok bisa dapetnya laki-laki kayak gini. Kurang nya dia dimana coba." Batin Marsha.
___
lunas yah, besok lagiđź¤đź¤
Jangan lupa dukungannya🤗🤗