Find Me Daddy

Find Me Daddy
Ervin yang misterius



Aizha mengantar Ervin ke depan rumah, pria itu akan pamit untuk pulang. Sementara Aizha, dia tengah memikirkan sesuatu.


"Ervin." Panggil Aizha.


"Hm?" Sahut Ervin sembari menghentikan langkahnya dan menoleh pada Aizha.


Aizha mengangkat pandangannya ke arah Ervin, gadis itu menatap lekat mata biru milik Ervin.


"Bukankah kamu amnesia? Lalu, kemana kamu pulang? Kamu tidak mengingat namamu, bahkan rumahmu bukan?" Tanya Aizha dengan penuh selidik.


"Atau ...." Aizha menyipitkan matanya, dia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ervin hingga Ervin harus memundurkan wajahnya.


"Kau berpura-pura amnesia yah!" Pekik Aizha sembari menunjuk ke arah wajah Ervin.


Ervin menggeleng, "Tidak, dokter Javier meminjamkan apartemennya padaku." Sahut Ervin dengan tatapan polosnya.


"Iya kah?" Aizha melirik sinis ke arah Ervin, dia melihat ponselnya dan segera menghubungi Javier.


Tak butuh waktu lama, Javier pun mengangkatnya. Terdengar paman kecilnya itu sedang menguap, dalam artian Aizha sudah menganggu tidur paman kecilnya itu.


"Haloo ... apaaa!! Nagih utang? Sana, sama bapakku! Aku miskin."


Mendengar itu, Aizha mengerjapkan matanya bingung.


"Om!" Sentak Aizha.


"Eh, bocil jembatan. Kenapa? Kangen sama om tampanmu?"


Aizha menjauhkan ponselnya, raut wajahnya terlihat geli dengan apa yang Javier katakan. Bukan hanya Aizha, bahkan Ervin tak menyangka dengan apa yang Javier katakan.


"Om yang pinjamkan apartemen ke Ervin?" Tanya Aizha.


"Oh, oya. Kau itu b0doh, gimana caranya dia tinggal huh? Untung kau memiliki om yang cerdas dan baik hati. Selama dia amnesia, dia bisa tinggal di apartemenku. Setelah lukanya sembuh, kamu tinggal benturkan lagi kepalanya biar otaknya kembali lurus."


Aizha menjatuhkan rahangnya, dirinya hampir lupa jika dia memiliki om yang sangat luar biasa cerdasnya. Sangking cerdasnya, bahkan om nya itu di juluki si pintar yang selalu membuat kekacauan.


"Yah, pintar sekali. Aku perlu benturkan lagi kepalanya nanti." Ujar Aizha sembari menatap ke arah Ervin yang tengah mengerutkan keningnya.


"Yasudah, terima kasih om atas perhatiannya." Ujar Aizha, dirinya berniat untuk mematikan sambungan itu. Namun, Javier justru berkata hal yang membuat Aizha mengurungkan niatnya.


"Eits! Tentunya ada imbalan dong! Kamu pikir, jaman sekarang ada yang gratis huh? Masuk WC umum aja bayar, apalagi persoalan cinta." Seru Javier yang mana membuat Aizha memutar bola matanya malas.


"Oke! Om mau apa? Ketoprak?" Sahut Aizha dengan malas.


"No! kali ini, om enggak mau ketoprak." Jawab Javier yang mana membuat Aizha protes.


"Kok di kasih hati minta jantung yah! Cepet deh maunya apa! Kesel kali loh!" Greget Aizha.


Melihat raut wajah kesal Aizha, membuat Ervin tersenyum tipis. Matanya menatap penuh cinta ke arah wajah cantik Aizha yang terlihat menggemaskan begitu marah.


"Om mau ... kamu bilang sama opa Aaron untuk tidak meminta om mengurus perusahaannya. Kalau kamu berhasil, om akan membantu semua rencana mu. Bagaimana?"


"Eh?! Kenapa aku?" Heran Aizha.


"Kan kamu cucu tersayangnyaaaa!! Ama anaknya aja lupa kali! kalau sama kamu, biar pulau yang kamu minta pun dia kasih. entah apa lah kelebihan kamu, cuman bisanya tidur makan tidur makan aja kayak kebo begitu."


"OOOMM!!" Kesal Aizha, wajahnya kini sudah memerah menahan kesal.


Secara mengejutkan, Ervin mengambil ponsel Aizha. DIa menempelkan ponsel itu di telinganya, matanya melirik ke arah Aizha yang menatap bingung ke arahnya.


"Dokter tidak perlu khawatir, semua biaya hidup saya yang dokter tanggung akan saya gantikan dua kali lipat. Tentang permintaan dokter tadi, Aizha akan melakukannya."


"Kau ...." Belum sampai Aizha protes, Ervin sudah menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Aizha. Membuat gadis itu tak mampu berbicara.


"EKHEEEMMM!! BELACA DUNIA MILIK CENDILIII!! MYLO MAH CUMAN NUMPANG DOANG. CEDIH KALI LACAANAAA!!"


Aizha terkejut, dia langsung menepis tangan Ervin. Gadis itu terlihat salah tingkah. Sedangkan Ervin, pria itu menatap datar pada Mylo yang sedang berdiri menatap ke arah mereka. Baju yang anak itu kenakan sidah berganti, kini anak itu memakai pakaian yang baru.


"Ngapain sih kamu?! Udah sanaa!! Ganggu aja sih!" Kesal Aizha sembari mendorong Mylo.


Padahal dorongan Aizha tak kuat, tetapi bisa membuat Mylo sengaja menjatuhkan dirinya.


"EKHEEE!! PAAAA!!"


"Eh anak pick me. Gak ada aku dorong kencang, kenapa malah nangis rupanya." Bengong Aizha.


"PAAA!!! HIKS .... PAAA!!"


Karena kesal, Aizha mencubit pipi gembul anak itu dan menariknya dengan gemas. Tangisan Mylo pun semakin kuat, hingga membuat mukanya memerah.


"HUAAAA!!!"


"Nah! nangis tuh begitu! Yang kencang! Jangan pura-pura! Kesal kali aku." Ledek Aizha sembari melepaskan cubitannya dari pipi Mylo.


Melihat tanda-tanda sang mama akan datang, Aizha langsing menarik Ervin keluar rumah. Taksi yang Ervin panggil ternyata sudah sampai, dia mendorong cepat pria itu memasuki taksinya.


"Eh Aizha ...."


Belum sempat Ervin berbicara, Aizha sudah menutup pintu taksi itu. Lalu, gadis itu berbalik, meninggalkan Ervin yang menatapnya yang berjalan semakin jauh.


"Kita kemana tuan?" Tanya supir taksi itu.


"Ke apartemen X." Pinta Ervin.


Supir itu mulai melakukan mobilnya. Di saat bersamaan, raut wajah ramah Ervib berubah menjadi datar. Supir taksi itu tak sengaja melihat kaca spion, dirinya terkejut dengan perubahan ekspresi dari Ervin yang terlihat menyeramkan untuknya.


CKIITT!!


Karena tak fokus, supir itu hampir saja menabrak sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. Sebuah mobil hitam, dan tak lama setelahnya keluarlah beberapa orang berpakaian hitam dan berjalan mendekati mobil mereka.


"Sial." Desis Ervin.


Ervin menepuk bahu supir itu yang terlihat ketakutan, mata birunya menatap tajam pada pria berumur itu.


"Pindah!" Titah Ervin.


Supir taksi itu menurut, dia pindah ke samping pengemudi tanpa keluar dari taksi. Ervin melompat ke arah kursi kemudi, tanpa memasang sabuk pengaman dia segera memundurkan mobil itu.


CKIITT!!


Para orang berpakaian hitam itu terpukul mundur saat Ervin melajukan mobilnya ke arah mereka. Ervin berhasil membawa mobil taksi itu pergi, sementara para pria berpakaian hitam itu segera kembali ke mobil mereka untuk menyusul Ervin.


AKhirnya, terjadi kebut-kebutan di jalan. Bahkan, Ervin menerobos lampu merah agar dia bisa lolos dari mobil yang mengejarnya.


"Tuan! Saya bisa di pecat!" Seru sang supir taksi dengan ketakutan.


"Saya akan memberikan kompensasi yang lebih. Apa anda mau m4ti bulat-bulat di tangan mereka?" Tanya Ervin sembari melirik sekilas ke arah supir taksi itu


"Ya enggak lah tuan! Belum kaya saya, masa udah m4ti aja." Rengek supir taksi itu.


Ervin memutar bola matanya malas, dia membelokkan mobil itu ke arah jalan yang lebih kecil. Beruntungnya, dirinya berhasil kabur dari kejaran mobil yang ada di belakangnya.


"Ternyata, mereka sudah tahu keberadaan ku. Secepat ini." Batin Ervin.