
Kenan dan Aaron menatap ketiga bayi mungil itu, wajah mereka terlihat bahagia.
"Akhirnya, keinginan kita terwujud juga." Pekik Aaron
Kenan mengangguk membenarkan, "Aku sangat ingin anak perempuan, tapi di ganti dengan cucu perempuan. Mereka sangat menggemaskan." Seru Kenan.
"Eh, tapi ... kok wajahnya sama semua? gimana cara bedainnya?" Bingung Aaron
Kenan baru berpikir, dia berbalik menatap istrinya sedang mengobrol bareng Zeva di dekat brankar Marsha. Tampak kandungan Zeva sudah membesar, hanya tinggal menunggu kelahiran saja.
"Sayang! ini cara bedainnya gimana!" Seru Kenan.
Sofia menghentikan acara obrolannya, dia memilih mendekati sang suami di ikuti oleh Zeva.
"Kan gelang itu, di tulis anak satu ... dua tiga ...." Unjuk Sofia.
Melihat Zeva yang menghampiri nya, Aaron bergegas merangkul istrinya itu.
"Lihat yang, cucu kita mirip semua. Kembar identik," ujar Aaron.
"Iya yah, wajahnya campuran Marsha dan Nathan. Tapi, lebih dominan Nathan," ujar Zeva.
"Kandunganmu sudah masuk bulan sembilan kan Zev?" Tanya Sofia dengan kening mengerut.
Zeva mengangguk sembari mengelus perutnya, "Iya mbak, tinggal nunggu waktu lahir aja."
"Waahh, sudah di USG?" Tanya Sofia ikut mengelus perut Zeva.
"Sudah, laki-laki semua." Lesu Zeva.
Sofia mengangguk sembari tersenyum, dia ingin mempunyai anak banyak. Hanya saja, Kenan takut melihatnya melahirkan.
"Gak papa, biar rumah makin rame." Sahut Sofia.
Sedangkan Nathan, dia sedang bermain ponsel sembari duduk di tepi brankar sang istri.
"Oh ya, sayang. Nanti sepupuku dari jerman datang." Sahut Nathan.
"Eum? kamu punya sepupu? dia datang gak pas kita nikah?" Tanya Marsha dengan bingung.
Nathan meletakkan ponselnya di atas nakas, tangannya beralih merangkul Marsha.
"Dia gak datang, sepupuku dan juga ibunya ada di jerman. Mereka baru bisa datang hari ini,"
"Sudah menikah?" Tanya MArsha.
Aaron mengangguk, "Sudah, bulan kemarin istri sepupuku melahirkan di sana. Tapi, bayinya meninggal. Aku ingin menjenguknya, tapi gak tega ninggalin kamu pas hamil besar."
Tatapan Marsha berubah sendu, "Kasihan sekali, mereka pasti sedih." Lirih Marsha. Dia pernah merasakan kehilangan, walau dia belum pernah melihat calon anaknya itu.
"Nathan! jangan pacaran terus! ini bayinya mau di kasih nama siapa!! Keburu para kakek nenekmu datang!!" Seru Sofia.
Nathan tersenyum, dia melepas rangkulannya pada Marsha dan berjalan mendekati bayi-bayinya.
"Ekhem, para kakek gak mau sumbang nama gitu?" Tanya Nathan.
"Eh? kita?" Unjuk KEnan.
"Iya lah! Harus bantu dikit napa." Kesal Nathan.
Kenan meraih cucu pertamanya, dia meng3cup pipi sang cucu dengan penuh kasih sayang.
"Dulu, saat mami hamil kamu. Papi kira kamu perempuan, maka dari itu papi menyiapkan nama perempuan untukmu. Namun, sayangnya yang keluar malah laki-laki. Jadi, papi mau namain dia Nayara Aulia Alvarendra."
Aaron mengambil cucu keduanya, dia melakukan hal yang sama persis seperti yang Kenan lakukan pada Naura.
"Nadia Elysia Alvarendra, selamat datang di nia cantik." Zeva tersenyum, tak menyangka jika suaminya menyiapkan nama untuk cucu mereka.
Selanjutnya, Nathan mengambil bayi yang paling kalem di antara keduanya.
"Aizha Arumi Alvarendra. Dia akan menjadi sosok anak yang kuat dan mandiri. Di saat kedua kakaknya menangis karena haus, dia hanya terdiam sambil menunggu gilirannya di berikan susu. Bayi ini, seperti mengerti jika ibunya hanya sanggup memberikan nutrisi dua bayi saja." Terang Nathan dengan haru, netranya berkaca-kaca menatap bayi Aizha yang masih tertidur dengan pulas.
Saat Zeva akan memegang pipi Aizha, tiba-tiba dia merasakan sakit di perutnya. Dia bergegas meraih tangan Aaron dan mencengkramnya.
"Ma-mas ... perutku ...,"
"Ha?! mau melahirkan yang?! sekarang?! gak besok aja gitu?!" Pekik Aaron.
PLAK!!
Tanpa ba bi bu lagi, Aaron bergegas menuntun istrinya keluar. Kenan membantu memanggil dokter dan suster agar Zeva segera di tangani.
Marsha mengerjapkan matanya, statusnya saat ini bukan hanya seorang ibu. Tapi dirinya kembali mendapat gelar seorang kakak dari sang bunda.
"Ini lahirannya pada barengan atau gimana sih? minggu kemarin Claudia, kemarin kamu. Terus sekarang, bundamu. pada janjian lahirnya di bulan yang sama atau pada janjian buatnya sih? Heran." Omel Sofia.
Cklek!
Mereka yang ada di dalam ruangan terdiam, menatap seseorang yang baru saja datang.
"Calvin? kalian datang?!" Sofia menghampiri Calvin
Yah, Calvin datang bersama istri dan orang tuanya. Mereka tidak terkejut melihat Marsha, tetapi Marsha lah yang terkejut melihat mereka.
"Calvin." Lirih Marsha.
Nathan yang tadinya tersenyum, seketika senyum itu surut. Dia menatap lekat pada mata sang istri, yang menatap terkejut pada Calvin.
"Kamu kenal sepupuku?" Heran Nathan.
Marsha mengangguk pelan," Dia mantan tunanganku."
"APA?!" Nathan menatap Calvin yang berjalan menghampiri mereka dengan Reva yang berada di gandengannya.
"Selamat untuk kelahiran anak-anak kalian." Ucap Calvin.
Marsha mengangguk pelan, "Terima kasih,"
Wajah Nathan berubah kusut, dia merasa cemburu dengan Calvin. Baru saja dia mengetahui jika sepupunya mantan tunangan dari istrinya, kalau tahu begitu. Dia tidak akan membiarkan Calvin datang bertemu dengan istrinya.
"Aku baru tahu kamu sepupu suamiku," ujar Marsha mencairkan suasana.
Calvin tersenyum canggung, "Maaf, saat kalian menikah. Aku tidak datang, aku malu bertemu kamu dan keluargamu." Lirihnya.
"Semua sudah berlalu, aku sudah mendapat pengganti yang lebih baik. Nathan, dia suamiku. Aku mencintainya." MArsha meraih tangan Nathan dan mengelus tangan kekar itu.
Perkataan Nathan membuat senyum Nathan mengembang. Tentu saja, dia merasa seakan melayang saat ini.
"Marsha, maafkan aku." Lirih Reva.
Marsha tersenyum, dia megambil tangan Reva dan mengelusnya pelan.
"Semoga isi lagi yah, biar anakku punya teman bermain nantinya."
Sedangkan Liam dan Hana, keduanya menatap ketiga cucu Sofia. Mereka iri dengan Sofia, yang kini begitu antusias mengenalkan cucunya.
"Nah, yang ini namanya Aizha. Dia yang terakhir," ujar Sofia.
"Beruntung yah kamu Sof, punya cucu kembar tiga. Seandainya, saat itu Calvin ..." Liam menatap tajam sang istri, dia tak ingin ada keributan disini. Hampir saja istrinya membuat sofia salah paham dengan perkataannya.
"Jangan di sesali, Marsha awalnya juga keguguran. Nih liat, dia dapet anak triple. Usaha aja dulu." Seru Sofia dengan perasaan bahagia.
Marsha yakin, jika ini adalah jawaban atas kesakitannya. Dimana Calvin lebih memilih Reva di bandingkan dengan dirinya.
Ternyata, Nathan lah suaminya. Dia mana pernah berfikir jika Nathan akan menjadi suaminya.
"Ternyata yang jadi jodohku, malah berondong." Batinnya. Senyuman Marsha terbit ketika Nathan meng3cup keningnya.
...Tamat...
.
.
.
.
Tapi boong🤪
Canda gaes, masih ada beberapa part lagi ternyata😂. Pada belum bisa ninggalin Javier nih😆. Part selanjutnya gak ada konflik berat yah, hanya cerita ringan saja.
Jadi mulai besok, karya find me daddy hanya up satu kali setiap malam. Karena authornya akan fokus pada cerita baru🥳🥳
Jadi kalau cerita baru kan konfliknya masih bikin mumet yah🤣 nah, nanti tinggal ke find me daddy aja buat liatin kelucuan Javier dengan para si bayi😉