Find Me Daddy

Find Me Daddy
HARI H(S2)



Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat, pernikahan antara putri keluarga Alexander dan putra Alvarendra di adakan sangat megah.


Saat ini, Nathan merasakan sangat gugup. Tangannya terasa dingin, dia tidak tahu mengapa dirinya seperti ini.


"Gugup yah?" Bisik Raihan yang duduk di samling Nathan.


Dengan polosnya, Nathan mengangguk. Raihan pun menepuk bahu pemuda itu.


"Cuman lima menit kok, habis itu dapat hadiah." Bisik Raihan.


"Hadiah apa?" Bingung Nathan.


Raihan mendekatkan telinganya, dia membisikkan sesuatu pada Nathan hingga membuat pemuda itu melotot kaget.


"Nanti malam, tenang." Seringai Raihan.


Nathan meneguk kasar lud4hnya, tak lama Aaron datang dan duduk di depan Nathan. Penghulu pun datang, dan duduk di samping Aaron.


"Tolong di tanda tangani suratnya mas." Titah sang penghulu.


Nathan pun menandatanganinya, lalu menyerahkan kembali pada sang penghulu.


"Wah, masih umur delapan belas yo mas. Muda sekali, kenapa mau menikah semuda ini?" Tanya Penghulu itu dengan canda.


"Kebelet dia pak! takut kebobolan!" Seru Raihan membuat para tamu undangan tertawa.


Nathan pun menunduk malu, ingin sekali dia melempar Raihan keluar. Sayangnya, pria itu adalah paman dari istrinya.


Marsha yang berada di sebelahnya mencubit gemas Nathan, pipinya sudah memerah saat ini.


"Jabat tangan calon mertuanya."


Nathan menjabat tangan Aaron, tatapan keduanya bertemu. Aaron menarik nafas dan menghembuskannya secara halus.


"Sebelumnya, saya ingin bertanya. Apa kamu siap membahagiakan putri saya? mencintainya dengan seluruh jiwa? menjaganya dan membimbingnya dengan baik?"


Nathan mengangguk tegas, "Saya bersedia! saya, Nathan Alvarendra bersedia mencintai putri anda dengan segenap hati saya. menyayanginya dengan tulus, dan menjaganya dengan segenap raga dan jiwa."


Raihan berbisik pada Haikal yang berada di belakangnya.


"Kayak jaga negara aja." Bisiknya.


"Hus!!" Tegur sang daddy.


Aaron kembali fokus, dia menatap tangannya yang telah di jabat oleh Nathan.


"Saya nikahkahkan engkau dengan putri saya, Marsha Aruna Alexander dengan mas kawin ...."


"Ehm maaf permisi, ini catatan mas kawinnya."


Kenan datang dengan membawa secarik kertas dan memberikannya pada Aaron. Aaron menerimanya tanpa banyak kata, dia pun mengulang kalimatnya.


"Saya nikahkan engkau, dengan putri saya Marsha Aruna Alexander. Dengan mas kawin seperangkat perhiasan lima puluh gram, tanah sepuluh hektar, mobil ...."


Suara Aaron semakin pelan, sebab dia kaget dengan apa yang tertulis di kertas tersebut.


"Mobil Lamborghini merah sebanyak dua buah, apartemen sebanyak tiga unit dan kapal ... kapal pesiar satu buah di bayar tu-nai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Marsha Aruna. binti Alexander dengan mas kawin tersebut. Tunai!"


Semua saksi berkata sah, tapi tidak keluarga Aaron termasuk Marsha yang menganga di sebelahnya setelah mendengar mahar yang di sebutkan.


"Eh! bus3t! beneran tunai? bukan ngutang!!" Pekik Raihan.


Aaron pun sama terkejut nya, kalau begini putrinya kaya mendadak tanpa bekerja.


"Silahkan, di cium kening istrinya." Titah sang penghulu.


Nathan menatap penghulu dengan pipi memerah.


"Langsung di bawa ke kamar, boleh pak? Takut kebablasan."


"LOH! LOH! LOH!!! GAK BAHAYA TAAHHH!!" Heboh Raihan dan para tamu setelah mendengar permintaan Nathan.


.


.


.


Seorang gadis menatap Nathan yang berada di pelaminan bersama istrinya, sedari tadi menghela nafas pasrah.


"Beneran nikah, mana sama sama kaya." Lirihnya.


"Nih!"


Gita, gadis itu tersentak kaget saat seseorang menyodorkan semangkuk bakso padanya.


"Sakit hati juga butuh tenaga, makanlah. Dari tadi gue liatin lo cuman ngeliat ke arah pelaminan.


Gita menatap pria memakai jas navy itu dengan kening mengerut, tapi tak urung dia menerima mangkuk tersebut.


" Terima kasih," ujar Gita.


"Gue Ariel, kakak sepupu mempelai wanita."


"UHUK!! UHUK!!" Gita yang baru saja menyuapkan baksonya, seketika tersedak.


"Lo-lo ...,"


"Santai aja, gue gak marah. Suka itu datang pada siapapun, tanpa tahu tempat dan keadaan. Tapi, tergantung orangnya. Dia membuat cinta itu menjadi sebuah obsesi, atau cinta yang sebenarnya." Lirih Ariel.


Gita terdiam, dia melanjutkan memakan baksonya hingga habis.


"Sorry, ada ...."


"Oh oh oh. ... anak mommy sudah besar rupanya, calon mantu mommy yah?"


"E-eh?! eng-enggak!!" Pekik Ariel dengan cepat, dirinya tak menyangka jika Adinda melihat nya bersama dengan Gita.


Adinda mendorong Ariel, dia bergegas menarik Gita mendekat padanya. Gita yang di perlakukan seperti itu hanya tersenyum canggung.


"Anak tante ganteng kan? ganteng dong, masa enggak. Buatnya tujuh hari tujuh malam, hahaa. Gimana? kamu mau sama anak tante? di jamin, hidup kamu kedepannya damai dan tentram. Kalau dia macem-macem, tinggal sunat ulang aja iya gak? jadi, mau yah?!"


Jangankan Gita, Ariel yang melihat ibunya yang seperti itu pun di buat terkejut. Pasalnya, selama ini Adinda tak menanyakan soal kapan dirinya di berikan mantu.


"Mom ...." Cicit Aroel.


"Syutt, diam!"


"Mau yah sayang, kamu mau mahar apa? kapal pesiar? pulau? tambang emas? atau apa?"


"Tante saya ...."


BRUGH!!!


Ketiganya tersentak kaget saat mendengar suara yang jatuh, ternyata Javier tengah memeluk sesuatu dan Akash berusaha untuk mengambilnya.


"Balikin cepaaaatt!!" Pekik Akash.


"VIEL DULUUU!!! CALI LAGI CANA AGALNAAA!!!" Teriak Javier.


Akash menggigit b0kong Javier, membuat bocah gembul itu berteriak kesakitan.


"HUAAA!!! CAKIIITTT!!!"


Zeva dan Ayla yang sedang berbincang segera memutuskan obrolan mereka. Keduanya bergegas berlari menuju asal suara.


"Astagaa ...!! bapaknya mana lagi ini!!" Decak Zeva, tangannya berada di pinggang. Sedangkan Netranya, sibuk mencari sang suami.


Ayla menarik Akash, wajah anaknya itu terlihat kesal.


"Akash, mamah bilang apa? sampai sini, jangan nakal!" Tegur Ayla.


"Agalna, Akash mau Agal!" PEkik Akash.


Ayla melihat ponakannya, terlihat Javier duduk dan memakan agar yang selama ini dia pertahankan hingga habis tak tersisa. Membuat pipinya seketika menjadi bulat.


"Dah habic."


Mendengar itu, Akash menoleh. Dia melihat bagaimana agar itu habis di makan oleh Javier.


"CLAJIY KALI KAMU INI!!!" Pekik Akash. Tak kehabisan akal, Akash berjongkok di depan Javier.


Tangan mungilnya terentang, dan bersiap akan melakukan satu hal yang membuat Javier memekik.


PUK!!


BYURT!!


Akash menepuk pipi Javier dengan keras, hingga membuat agar yang berada di mulut Javier tersebut keluar.


"Agal viel ...."


Akasha berdiri, dia membersihkan agar bekas muntahan Javier pada bajunya.


"LACAKAN! LAKUS DACAL!" Sindir Akash dan bergegas pergi dari sana.


Zeva dan Ayla sama-sama terbengong, mereka bahkan tak menyadari jika Javier tengah bersiap akan menangis.


"Hiks ... HUAAAA!!!!"


"Kenapa rame-rame sekali disini?!"


Degh!!


Zeva mengangkat wajahnya, netranya membulat sempurna saat melihat siapa yang ada di hadapannya.


"Rio?!"


Aaron yang tengah berbincang dengan para rekannya bergegas menghampiri sang istri saat tahu Rio ada di sana.


"Wah, kau sudah sampai?!" Pekik Zeva.


Rio tersenyum, dia mengulurkan tangannya pada Zeva. Tak banyak berubah dari RIo, hanya wajahnya terlihat semakin tampan.


"Wah wah ... baru datang sudah mendekati istri orang rupanya."


grepp!!


Dengan posesif, Aaron merangkul pinggang istrinya. Matanya menatap Rio dengan tajam.


"Kau masih cemburu padaku Aar? oh, ayolah. Aku sudah memiliki tiga anak, Raden dan Azura mereka bersama istriku menghampiri pengantin. Anak bontot ku, biasa dia lagi sama abangnya."


Azka yang berada di belakang Aaron, sontak mengalihkan pandangannya ke arah pelaminan.


Di sana, berdiri seorang remaja berumur 16 tahun dengan lesung di pipi kanannya. Wajahnya terlihat sangat cantik, dengan kulitnya yang kuning langsat.


"Azura, dia kembali?" Gumam Azka.


____


Wahh berapa lagi nih mau tamat🤭🤭


Hari ini triple up yah, maaf kemarin up cuman satu. Authornya belakangan memang sibuk🤭 Maafkan🤧🤧