Find Me Daddy

Find Me Daddy
Nasehat sang bunda



Marsha memasuki rumahnya, setelah Nathan pergi ke kantornya. Karena tiba-tiba saja, ada rapat penting pemegang saham.


Tatapan Marsha menangkap sosok anak laki-laki yang tengah duduk di tangga dengan piring ketoprak di tangannya. Siapa lagi kalau bukan Javier.


"Hem, enak kali. Harusnya beli tiga tadi, nyesel beli dua."


Mendengar itu, Marsha menggelengkan kepalanya. Kebiasaan adiknya tak pernah berubah, ketoprak dan ketoprak.


"Vier." Panggil Marsha.


Javier berhenti mengunyah, pipinya masih membulat karena terisi lontong. Tatapannya melebar saat melihat sang kakak yang datang. Buru-buru Javier menelan ketopraknya itu hingga habis.


"Kakak ngapain kesini?" Tanya Javier membuat senyum Marsha luntur seketika.


"Kok pertanyaannya kayak terkesan kakak gak boleh main kesini yah." Sinis Marsha.


Javier terkekeh, "Tumben aja, biasanya betah banget di rumah. Oh ya, bunda lagi di kamar. Mau Vier panggilkan?" Tanga JAvier.


Marsha mengangguk, dia melihat adiknya rela menaruh piringnya demi memanggil sang bunda. Adiknya yang dulu cadel kini sudah bisa mengatakan huru R. Walau tingkah usilnya masih ketara sampai sekarang.


"KAKAK!!"


MArsha menoleh, dia mendapati bocah seumuran putranya berlari datang menghampirinya. Keduanya berjalan cepat dan langsung memeluk kaki Marsha.


Zidan Roni Alexander sebagai kakak. Dan Ezkiel Ryan Alexander sebagai adik. Keduanya memiliki sifat tak sama seperti Marsha dan Javier, justru kedua bocah itu dingin terhadap orang baru dan hangat terhadap keluarganya. Keduanya tak sama seperti Javier kecil, hanya kadang-kadang Ezkiel usil pada Zidan.


"Kalian gak sekolah?" Tanya Marsha dengan kening mengerut.


"Kita cekolah, tapi becok. Kata daddy, pindah cekolahna ke cekolah Tiga kembal. Iya kan Loni?" Tanga Azkiel pada sang abang yang melotot ke arahnya.


"Loni ... Loni ... ZIDAAANN!! NAMA KU ZIDAAANN!!" Kesal Zaidan.


"Iya, tapi kan ada Loni nya. Cucah loh manggil Zidannya." Cetus Ezkiel.


Marsha terkekeh, dia sedikit terhibur dengan kedua adik kembarnya ini. Wajah Ezkiel dan Zidan tak kembar identik, keduanya berbeda. Ezkiel yang memiliki wajah manis, sedangkan Zidan memiliki wajah yang judes. Padahal saat bayi, keduanya hampir terbilang mirip. Hanya saja, setelah beranjak menjadi anak-anak. Ternyata keduanya tidak kembar identik seperti ketiga putrinya.


"Eh, Marsha ... kemu kesini nak?"


Marsha mendongakkan kepalanya, terlihat Zeva menuruni tangga sembari menatapnya dengan penuh kelembutan. Marsha tersenyum, dia merentangkan tangannya ketika Zeva sampai di hadapannya.


"Kangen bunda." Lirih Marsha, memeluk erat tubuh ibunya.


Zeva tersenyum, dia memeluk putri tunggalnya itu. Dia sangat merindukan putrinya, hanya saja dia belum sempat menjenguk Marsha karena kerepotannya mengurus anak-anaknya.


Zeva dan Marsha melepas pelukan mereka, Zeva memperhatikan tubuh anaknya yang semakin berisi. Hati Zeva menjadi tenang, dia yakin jika menantunya memberikan makan putrinya dengan sangat baik.


"Nathan kayaknya berhasil ngurus kamu dengan baik yah. Bunda seneng kalau ngeliat kamu berisi begini, itu tandanya asupan nutrisi kamu selama hamil bagus. Kalau pas hamil si kembar, kamu kelihatan kurus. Bunda sedih lihatnya," ujar Zeva sembari merangkul putrinya menuju ruang tengah.


Marsha terdiam, bundanya malah senang melihatnya berisi seperti ini. Tapi, kenapa orang tak mengenalnya malah justru jahat kepadanya.


"Sini duduk." Ajak Zeva.


Marsha duduk di sebelah Zeva, bundanya itu mengelus perutnya dengan sayang.


"Sudah di USG lagi?" Tanya Zeva.


Marsha menggeleng, "Belum, lusa baru jadwal USG nya." Terang Marsha.


"Bun, kenapa yah tubuh Marsha pas kehamilan ini berubah? Padahal pas si kembar dulu tubuh Marsha yang berubah cuman perut aja. Bahkan tanpa perawatan kulit Marsha sudah mulus," ujar Marsha dengan tatapan sendu.


"Padahal Marsha hamil anak laki-laki, katanya kalau lagi hamil anak laki-laki justru terlihat cantik. Auranya beda, kok aku malah kebalikannya yah? Malah jelek banget sekarang." Ucap Marsha dengan suara bergetar. Wajahnya sudah tidak bisa di kondisikan lagi, bibirnya sudah bergetar menahan tangis.


"Syuutt, kata siapa kamu jelek? Cantik kok, kamu juga gak gendut. Cuman berisi aja, malah bagus. Yang penting kamu dan bayinya sehat, gak usah pikirin macam-macam." Nasehat Zeva. Tangannya mengelus bahu Marsha dengan sayang.


"Aku takut Nathan jadi ilfeel sama aku. Lihat bun, kulit aku enggak seputih dulu. Leher aku jadi agak gelap, hidung aku juga gak kelihatan mancung lagi hiks ... hiks ...,"


Zeva menarik putrinya ke dalam pelukannya, melihat Marsha yang menangis dia pun turut merasakan kesedihan putrinya itu.


"Enggak kok, Bunda lihatnya kamu yang biasa. Jangan over thinking gitu lah. Bunda yakin, Nathan suami setia kok." Perkataan Zeva tak membuat tangisan putrinya mereda. Marsha justru semakin terisak dengan ketakutan yang memeluk hatinya.


Marsha menarik dirinya dari pelukan Zeva, dia memegang tangan Zeva dengan erat.


"Apalagi Marsha lebih tua dari Nathan, masih banyak wanita muda yang cantik. Bertubuh ideal, kulit mulus, banyak wanita seperti mereka yang mengincar suami Marsha. Nathan masih muda, dia bisa dapat wanita yang ia mau."


"Kok pikirannya begitu sih sayang. Dengerin bunda nih, bukan salah perempuan. Kadang, sudah perawatan semahal apapun tapi kalau karena kehamilan kamu itu sulit. Sabar sebentar lagi yah, dua bulan lagi kan lahir. Nanti kamu bisa diet lagi, bisa mulus lagi. Kalau laki-laki yang selingkuh karena istrinya gak cantik setelah lahiran, itu namanya laki-lakinya yang gak bersyukur." Berbagai upaya Zeva menjelaskan agar Marsha tak lagi bersedih. Hati ibu hamil memang sangatlah sensitif, untuk itu Zeva berusaha berbicara apa-apa yang mendukung putrinya.


"Gitu ya bun, tapi omongan orang-orang gimana?"


"SIAPA YANG BERANI NGOMONG GITU SAMA KAMU?!"


Marsha dan Zeva terkejut saat mereka mendengar suara berat seorang pria dari belakang mereka. Sontak, keduanya menoleh, menatap pria setengah baya tengah berjalan mendekatinya dengan tatapan dinginnya.


"Daddy."


.


.


.


Di sekolah, bell istirahat sudah berbunyi. Aizha, Nayara dan Nadira membuka bekal mereka. Keduanya tersenyum saat melihat isi bekal mereka yang di buat langsung oleh sang mama.


"Waahh kembal! Kalian makanan na kok cantik kali ... enak kayak na." Seru seorang anak perempuan berambut pendek.


Mendengar itu, Aizha langsung menutup bekalnya. Dia tidak ingin di minta, takut dirinya tidak kenyang. Apalagi Nathan belum membiasakan memberikan uang jajan pada ketiga putrinya.


"Culuh lah bikin mamakmu lampee ... janan bicana liptikan aja." Sewot Aizha.


"Ish pelit!" Kesal anak itu.


"Bialin! Caya nda hidup dali gaji bapakmu." Sewot Aizha sembari membuang wajahnya.


Tatakan sinis Aizha berubah menjadi berbinar saat melihat seorang anak laki-laki tengah mengeluarkan kue bolu dari dalam kotak bekalnya. Tanpa berlama-lama, Aizha berjalan ke meja anak itu.


BRAK!


Anak laki-laki itu tersentak kaget, bahkan kue yang ia pegang jatuh kembali ke tempatnya. Bagaimana tidak, Aizha memukul kotak bekalnya di atas meja dekat dengan bekal anak itu. Hingga membuat dentuman yang keras.


"Heh Lojali! Bial Cilatuhlami kita nda putus, belikan dulu kue mu!"


"Aizha!!" Pekik Nayara dan Nadira melihat kelakuan ada mereka yang sudah seperti preman pasar.


__


Mana komennya🥳🥳🥳