
Nathan tengah menutup pintu kamar putrinya secara perlahan, agar tak membangunkannya. Setelah berhasil menutup, senyum pria itu mengembang.
"Sudah tidur mereka?" Tanya Marsha yang menghampiri suaminya.
Nathan tersentak kaget, dia menoleh sembari meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Syutt, nanti mereka bangun. Sudah ayo, kita ke kamar." Bisik Nathan.
MArsha terlihat bagong, walau begitu dia tetap mengikuti langkah sang suami yang membawanya masuk ke dalam kamar.
Cklek!
Tak!
"Kok di kunci than? Kalau si kembar nangis gimana?" Kaget Marsha saat melihat suaminya yang mengunci pintu kamar mereka.
Nathan tersenyum, dia menaik turunkan alisnya membuat MArsha bertambah bagong di buatnya.
"Kenapa si? Alis kamu gatel?" Tanya MArsha.
"Is!" Senyum Nathan luntur seketika, bibirnya maju.
"Sekarang jatah aku loh Sweety, udah dua hari gak dapet jatah." Lirih Nathan.
Marsha membulatkan mulutnya, jadi itu alasan mengapa suaminya meminta putri mereka tidur cepat.
"Yasudah, aku ke kamar mandi dulu."
Nathan mengangguk cepat, senyumnya kembali merekah. Dia tak sabar menantikan istrinya keluar dari kamar mandi dengan baju kesukaannya.
Sembari menunggu, Nathan duduk di tepi ranjang. Sedari tadi, dia sudah tak sabar.
"SWEETY!! MASIH LAMA GAAKK?!" Seru nathan.
"Sabar!!" Pekik Marsha.
Sedangkan di kamar, Aizha yang tadinya sudah tertidur pukas tiba-tiba terbangun. Sontak, dia terduduk dengan mata melotot.
"HEEE!! PE EL KU BELUM CELECAI!!" PEkik Aizha.
Aizha turun dan ranjang, dia berlaro menuju ranjang kedua kembarannya.
"Yalaa!! bangun Yalaa!! kita belum keljain pe el!" Seru aizha.
Tak lama, Nayara terbangun dengan mata sayunya. "Apa ciiihh!! Aku cama Dila udah keljain cole tadi. Kamu cih, manin hamstel telus. Udah cana, keljaan ndili!" Sewot Nayara.
Aizha melotot tak percaya, keduanya tak mengajaknya mengerjakan pr nya. Anak itu seketika menjadi kesal, apalagi melihat Nayara yang tertidur kembali tanpa merasa bersalah.
"J4hat kali nda ajak-ajak Izha, aduh ... gimana coba ini jadina." Pekik Aizha dan bergegas berlari menuju meja belajar.
Aizha mengeluarkan bukunya, dia membaca perintah yang di berikan oleh gurunya.
"Dapet ayam dimana lagi, papa nda pelihala ayam. Gimana ini gimana, ini gimana ini hiks ...." Seru Aizha sembari mengepakkan tangannya sambil meloncat kecil.
Aizha memutuskan keluar kamar, dia berlari ke kamar orang tuanya. Lalu, dia menggedor pintu kamar itu dengan keras.
DORR!!
DORR!!
"PAPAAAAA!!! PAAAA!! HIKS. .. PAPAAA!!"
Nathan yang akan menerkam istrinya pun berdecak kesal, dia menatap istrinya dengan tatapan sendu. Baru saja mereka mau memulai, tapi Aizha malah menggagalkannya.
"Biarin aja lah yang."
"Gak boleh gitu! Nangis itu anaknya, udah. Sempurna dulu!!"
Dengan kesal, Nathan bangkit dari ranjang. Bajunya sudah ia lepas, dia memutuskan keluar tanpa memakai baju. Hanya celana pendek yang ia kenakan saja saat ini.
Cklek!
"Eh, kenapa kamu?" Bingung Nathan saat melihat putrinya menangis.
"Papa, Izha butuh ayam. ayo beli ayam, becok di kumpulin. Izha lupa kalau ada Pe el. Gimana ini, gimana ini hiks ...,"
"Kenapa kamu baru bilang sekarang." Greget Nathann. Apalagi, sudah jam sepuluh malam. Dimana yang menjual ayam?"
"Nda tau, jangan calahin Izha. Calahin juga Yala cama Dila. Meleka buat tugas na nda ajak-ajak. Hiks ... ayo cali ayamna."
Nathan menggaruk rambut belakangnya, melihat putrinya yang menangis. Dia pun juga tak tega. Tak lama, Marsha keluar. Wanita itu sudah mengganti pakaian nya dengan piyama tidur.
"Aizha kenapa nak?" Tanya Marsha.
"Izha butuh ayam mama, lupa buat tugas cekolah. Hiks .... ayo cali ayamna hiks ... nanti becok di hukum ama guluna gimana." Rengek Aziah.
"Sweety, ini sudah malam. Pasar juga tutup, mau cari ayam dimana?"
"Supermarket kan masih buka." Sahut Marsha.
"Bukan ayam m4tiii mama, tapi yang macih ada buluna." Sontak, perkataan Aizha membuat keduanya melongo.
"Tugas apan begitu? Mana ada tugas begitu!" Seru Nathan.
Nathan menepuk keningnya, dimana dia harus mencari ayam hidup. Jika ayam m4ti, mungkin bisa beli di supermarket.
"Aizhaaa ... gak ada tugas begitu sayang." Bujuk Nathan.
"Adaaaa!!" Kekeuh Aziha.
"Sudah-sudah than, kita siap-siap aja ke rumah daddy. Ayo." Ajak Marsha, seketika membuat Nathan menatapnya bingung.
"Ngapain? Daddy kan gak mirip sama ayam," ujar Nathan.
Raut wajah Marsha berubah datar, "Yang bilang daddy mirip ayam siapa?!"
"Lah, terus? ngapain ke rumah daddy?" Bingung Nathan.
"Javier punya ayam peliharaan, pinjam aja sama dia. Gak mungkin juga gurunya bawa tuh ayam."
Nathan membulatkan mulutnya, dia lupa jika adik iparnya sangat senang merawat ayam. Bukan hanya ayam, segala jenis kucing ras pun dia punya.
"Yasudah, ayo siap-siap. Biarkan Nayara sama Nadira tidur, di titipin ke bibi saja." Usul Marsha.
"Tundu dulu, OZha ambil buku gambal ama oencil walnana " Pekik Aziha, buru-buru dia berlari ke kamarnya.
Sontak, Narsha dan Nathan saling tatap dengan raut wajah bingung
.
.
.
Sesampainya ketiganya di kediaman Aaron, Aizha segera berlari masuk ke dalam dengan cepat. Buku gambarnya dia peluk erat, rait wajah nya terlihat sangat panik. Bahkan, Nathan memekik keras saat melihat putrinya hampir terjatuh.
"Aizhaaa!! pelan-pelan sayang!" Seru Marsha.
Aizha menghiraukannya, dia bergegas ke halaman bekalang. Dimana tempat kandang hewan milik Javier.
"Eh, kalian kesini kok gak bilang?" Tegur Aaron yang sepertinya baru turun dari kamar atas.
"Iya dad, mau pinjam ayam Javier. Besok, katanya Aizha ada tugas sekolah." Ujar Nathan dengan sopan.
"Tugas sekolah? Kok bawa ayam? Emang tugasnya ngapain?" Bingung Aaron.
"Gak tau, tadi sih dia kesini bawa buku gambarnya juga." Sahut Marsha.
"Bawa buku gambar?" Gumam Aaron sembari berpikir.
POK!! PoK! POK!!
"AYAAAMM!! AYAM VIEERR!!"
Keduanya menoleh ke arah tangga, dimana Javier berlari dengan raut wajah paniknya setelah mendengar suara ayamnya yang begitu keras.
"Javier, Aizha pinjam ayamnya."
Langkah Javier terhenti, dia menoleh menatap sang kakak dengan raut wajah yang pias.
"Aizha di kandang ayam?" Tanya Javier.
"Iya," ujar Marsha dengan bingung."
"Oh, tidak!" Javier berlari ke halaman belakang, dimana dia menyimpan ayamnya di sana.
Aaron, Marsha, serta Nathan pun mengikutinya dari belakang. Belum juga sampai ke tempat yang mereka tuju, sontak keduanya menghentikan langkahnya saat mendengar pekikan Javier.
"ASTAGAAAA!! AIZHAAAA!! ITU AYAM, BUKAN BENDA!!" Pekik Javier.
BErgegas, Nathan dan Aaron berjalan cepat. Sementara Marsha, karena perutnya yang besar dia hanya bisa berjalan pelan.
"Vier, kena ...." Nathan terbengong melihat apa yang putrinya lakukan.
Bagaimana tidak? Putrinya tengah duduk di lantai, dia menempelkan ayam pada buku gambarnya. Sembari pensilnya menggambar garis ayam itu di sana.
"Aizha, jangan bilang kamu butuh ayam buat cetak gambarnya." Jawab Nathan dengan raut wajah yang pucat.
Aizha menegakkan tubuhnya, dia melebarkan senyumnya saat melihat tatapan kaget semua orang. "Papa lupa? Izha nda bisa gambal, jadi Izha pake ayam benelan buat cetak gambalna. Cucah kalau gambal cendili."
"Iya, tapi ... bukan gitu juga maksudnya. Izhaaa ...." Greget Nathan.
ayam itu masih ia tempelkan pada buku gambarnya, sepertinya raut wajah ayam itu sudah terlihat pasrah dengan perlakuan Aizha padanya.
"Udahlah, papa nih celewet kali. Yang penting gambalna celecai, ayamna juga nda Izha bawa. Lempong kali." Sungut Aizha.
"HEH TUYUL! TUH AYAM TERTEKAN!! LIAT NOH!!" pekik Javier, menunjuk ayamnya yang sudah pasrah.
Aizha melihat ayamnya, kepala ayam itu masih tertempel pada buku gambarnya.
"Bial belguna jadi ayam, jadi keljana nda makan tidul makan tidul aja beltelul aja. Tapi bantu olang juga, bial nda jadi beban lumah."
"AIZHAAAA!!!"