
Semua keluarga berdiri, suasana mencekam membuat semuanya tak ada yang bersuara satupun. Tatapan mereka, jatuh pada sosok pria tampan yang sedang menggandeng seorang wanita.
"Apa-apan ini Calvin?" Tanya Tuan Brighton dengan tatapan marah.
Calvin Evando Brighton, seorang pria tampan berumur dua puluh lima tahun. Satu-satunya anak Liam dan Hana.
"Papa, mama. Aku ... aku ingin membatalkan perjodohan ini." Ujar Calvin sembari menatap tegas ke arah Tuan Liam.
Tuan Liam mendekati putranya, dia mencengkram erat lengan putranya itu.
"Kamu ingin mempermalukan papah Calvin?!" Sentak Tuan Liam.
"Pa! aku mencintai Reva! aku sudah bilang, aku tidak mau lagi melanjutkan perjodohan ini!" Sentak Calvin.
Semua orang mendengar sentakan Cavin, tentunya Aaron marah setelah mendengarnya. Dia menyerahkan Javier pada Varo dan maju mendekat pada Calvin.
"Apa maksudnya ini tuan Brighton? Kalian ingin mempermainkan putri kami?" Ujar Aaron dengan tatapan dingin menusuk pada Calvin.
"Maaf tuan Alexander, ini hanya kesalahpahaman. Putraku akan menikah dengan putri anda. Dia ...,"
"Pah! aku mencintai Reva! dan aku ingin menikahinya!" Sentak Calvin.
Zeva memeluk putrinya, Marsha hanya diam menatap pada Calvin yang masih menatap Aaron dengan tegar.
"LANCANG! KAU MAU DENGAN WANITA MISKIN SEPERTI NYA HAH?! TINGGALKAN DIA! PUTUSKAN DIA JUGA CALVIN!!" Sentak Nyonya Hana membuat Zeva dan Marsha terkejut mendnegarnya.
Varo lebih memilih menjauh, karena tidak ingin keributan itu mengganggu tidur adiknya
"Ck, keluarga yang toxic." Gumam Varo.
Reva, dia hanyalah anak dari seorang kuli bangunan. Dia wanita yang cantik, kulitnya kuning langsat. Terlihat saat ini, dirinya tengah tertunduk ketakutan.
"Enggak! Calvin mau menikah dengan Reva! bukan dengan yang lain, termasuk Marsha!"
PLAKK!!
Tuan Liam menampar wajah putranya dengan sangat keras, membuat semua orang pun kaget termasuk Reva.
"Tuan, tolong jangan sakiti kak Calvin. Saya yang di salahkan, jangan dia." Ujar Reva sembari menangkupkan tangannya di depan dada.
"Berani sekali kau berbicara seperti itu pada suamiku? Kau lihat? ini semua gara-gara dirimu! wanita miskin seperti mu hanya merusak acara kami!!" Sentak Nyonya Hana.
Hati Zeva mencelos, dia mengusap punggung putrinya. Tak pernah sekalipun dia membentak dan merendahkan orang. Melihat Nyonya Hana yang seperti itu, membuat Zeva terkejut.
"Jangan hina Reva mah! aku ingin menikahinya!" Kekeuh Calvin, berusaha melindungi Reva di belakang tubuhnya.
"Kamu di kasih apa sama wanita ini hah!! apa yang kamu lihat dari dia? Marsha jauh lebih cantik dari dia, kenapa kau mau dengan wanita seperti dia!" Unjuk Nyonya Hana pada Reva.
"Hei kau! apa yang telah kau lakukan lada putraku hah!! Sehingga dia mau denganmu?!" Hanya kembali membentak Reva, dia benar-benar kesal pada wanita itu.
Calvin memejamkan matanya, dia mengeratkan genggaman tangannya pada Reva.
"Reva sedang hamil anakku mah!"
JDERRR!!
Wajah Nyonya Hana dan tuan Liam mendadak pias, mereka menatap tak percaya pada putranya.
"ANAK GAK TAU DI UNTUNG!! KALIAN. ...,"
"Tuan Liam!"
Suara tegas dan berat milik Aaron, membuat Tuan Liam menghentikan bentakannya. Pria paruh baya itu, menatap Aaron dengan perasaan tak enak.
"Tuan Alexander, maafkan putra saya. Saya benar-benar ...,"
"Saya tak menyangka jika putra anda seperti ini, kalian secara tak langsung sudah mempermainkan keluarga kami. Jika dari awal Calvin sudah memiliki kekasih ... Mengapa kalian memaksanya untuk menikah dengan putriku?"
"Tuan, Calvin akan tetap menikah dengan putri anda."
"ENGGAK!"
Marsha melepas pelukan Zeva, matanya kini memerah. Dia bergerak maju mendekat pada Calvin, dan melihat bagaimana Calvin melindungi wanita itu di balik tubuhnya.
"Pertama kali saat kita bertemu, aku bertanya pada kakak. Apakah Kak Calvin memiliki seorang kekasih? kakak bilang tidak, dan aku bertanya lagi. Apakah kakak menerima perjodohan ini dengan paksaan? kakak bilang juga tidak."
Zeva ingin menghampiri putrinya, tetapi Aaron memberikan isyarat pada istrinya agar membiarkan putri mereka berbicara.
"Lalu, setelah dua bulan berlalu. Kini, kakak datang membawa kekasih dan bilang bahwa dia sedang hamil? itu artinya, selama ini kakak anggap perjodohan kita hanya main-main?"
"Marsha, maafkan aku ... aku ...,"
Marsha mengangkat tangannya, lalu netranya beralih menatap Reva yang tak berani menatapnya.
"Kau Reva anak fakultas ekonomi kan? Salah satu dari ketiga murid beasiswa yang di berikan donasi oleh perusahaan AR. Hm ... kabar kehamilan di luar nikahmu ini, pasti akan membuat beasiswamu tercabut kan?" Pertanyaan Marsha membuat Reva menegang.
"Hais, sebelum kau memberikan mahkotamu untuk pria sepertinya. Seharusnya di pikir dulu dengan otakmu bagaimana kerugiannya. Apa kau tak memiliki otak?"
"Marsha! jangan hina Reva!" Sentak Cavin.
Marsha mengangkat sebelah sudut bibirnya, dia menatap Calvin dengan tatapan kecewa.
"Aku tak menghinanya, aku hanya berkata sesuatu fakta. Apa itu salah? Lihat wanita yang kau jaga? dia berikan mahkotanya padamu dengan cuma-cuma, dimana harga dirinya?" Tanya Marsha sembari menatap rendah pada Reva.
"Marsha, om pastikan Calvin akan menikah denganmu. Kita bertemu disini karena ingin menentukan tanggal pernikahan kalian."
"Tidak, terima kasih untuk itu om. Aku tidak ingin menikahi pria BEKAS wanita lain."
"Dan kau! Ambillah pria ini, aku tidak sudi menikah dengan oria bekas sepertinya. Mungkin kamu adalah salah satu wanita yang di tidurinya. Bukan hanya satu-satunya, pria yang menjij1kkan." Sindir Marsha tepat pada wajah Reva dan Calvin yang semakin malu.
Marsha kemudian berbalik, dia melenggang pergi dengan anggun. Meninggalkan kedua orang tuanya yang masih ada di sana.
"Perjodohan ini batal! dan begitu pun kerja sama bisnis kita Tuan Liam Brighton!"
"APA?!"
"Tuan! kita bisa bicarakan ini kembali!! Argh!! Si4l! Semua ini, gara-gara kalian!!" Bentak Tuan Liam pada kedua anak muda itu.
Aaron langsung bergegas merangkul pinggang sang istri dan pergi dari sana. Tak peduli panggilan dari Liam dan istrinya.
Marsha berjalan menuju parkiran dengan air matanya yang mengalir setiap dirinya melangkah. Rasanya sangat sesak, melihat pria yang dia harapkan menghamili wanita lain.
"Kakak." Varo muncul dari dalam mobil, ternyata remaja itu lebih memilih masuk kamar dalam mobil dari pada menonton perdebatan itu.
Marsha buru-buru menghapus air matanya, kemudian dia menatap Varo dengan senyum palsunya.
"AKu sudah batal menikah, kau akan kembali memiliki teman main. Ayo pulang, kita nonton dr4kor bersama." Ajak Marsha yang kemudian masuk ke dalam mobil.
Varo masih terdiam, dia tahu kakaknya tak bisa menunjukkan rasa sedihnya pada keluarganya.
"Mana Javier?" Tanya Zeva saat tak mendapati Javier bersama putranya.
"Ada di dalam bun," ujar Varo.
Zeva mengangguk, dia pun menyusul Marsha masuk ke dalam mobil.
"Ayah." Panggil Varo, terlihat wajah ayahnya itu sangat marah.
"Aku sudah tahu tentang wanita itu, aku melihat mereka keluar dari hotel seminggu yang lalu."
Aaron menatap lekat pada putranya yang kini tertunduk. Putranya tahu kebenaran itu, tapi kenapa dia tak memberitahukan mereka.
"Maaf, aku tak mengatakannya. Sebab, aku tak memiliki bukti. Melihat Kak Marsha yang bahagia, aku tak tega menghancurkannya. Apalagi, saat ini kalian merencanakan menentukan tanggal pernikahan mereka." Lirih Varo.
Aaron menghela nafas pelan, dia menepuk pundak putranya itu dengan pelan.
"Tak apa, semuanya sudah terbongkar. Dia bukan pria yang baik untuk kakakmu. Masuklah, dan kita pulang." Ajak Aaron.
Varo mengangguk dan beranjak masuk. Tinggallah Aaron yang tengah mengatur emosinya.
Dia terdiam, dirinya seperti merasa dejavu atas kejadian beberapa tahun lalu.
"Pegang kata-kata saya! sebagai seorang ayah yang putrinya di sakiti olehmu, saya berharap agar putrimu merasakan apa yang putri saya rasakan. Dengan begitu kamu akan tahu, bagaimana rasa marah saya padamu. Camkan itu Aaron!"
Deghh!!
"Enggak, ini hanya suatu kebetulan saja. Calvin buka jodoh putriku. Ya, dia bukan jodoh putriku. Bukan karena sumpah serapah itu." Gumam Aaron, dengan ketakutan yang menyerang hatinya.
____